My Life My Adventure

My Life My Adventure
Pernikahan



Saya terima nikahnya Putri Nalendra binti Pramana Putra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.


Sah.. sah.. suara riuh tamu undangan yang datang membuat air mata Putri pecah seketika. Putri tak menyangka akan menikah dengan laki-laki yang dya cintai sejak lama.


Putri mengecup punggung tangan Beni dengan lembut, Beni tersenyum kemudian mencium kening Putri beberapa saat.


Putri nampak anggun dengan pakaian bernuansa putih ditambah jilbab warna gold, sedangkan Beni nampak gagah menggunakan warna senada dengan Putri. Mereka berdua nampak serasi di pelaminan.


Tamupun bergantian datang dan pergi menyalami kedua mempelai, tapi Putri terlihat sedikit lelah.


" Kamu duduk aja kalo capek Put".


" Aku pusing Ben.. kepalaku berat banget" Putri memegang kepalanya.


" Mau aku anter ke kamar? Apa mau minum obat?" Beni terlihat sedikit panik.


" Aku disini aja Ben, sebentar juga ilang pusingnya".


Karena merasa sudah baikan, Putri kembali berdiri menemani Beni manyalami tamu undangan yang datang.


Setelah selesai acara, Beni menggendong Putri masuk ke kamarnya. Beni khawatir Putri masih pusing, sementara orangtuanya tersenyum melihat perlakuan Beni pada Putri.


" Penganten baru.. belom apa-apa udah maen gendong aja, tunggu malem kenapa sih".


" Udah ga sabar yaa.. " Mamah tersenyum.


" Mamah pengen ayah gendong juga? Yuk.. ayah masih sanggup kalo cuma sampe kamar kita" Ayah bersiap menggendong istrinya, tapi mamah langsung nyubit pinggang suaminya.


" Aw.. aw.. sakit mah ayah kan cuma becanda" Ayah berusaha melepaskan tangan istrinya.


----------------


Malam hari


Beni mendekati Putri yang masih tertidur di kasurnya. Beni tak tega kalo harus membangunkan istrinya yang terlihat sangat kelelahan. Beni berniat untuk keluar kamar, tapi Putri terbangun.


" Mas mau kemana? kenapa ga bangunin Putri".


" Tadi Putri tidur lama ya" Putri turun dari kasurnya.


" Mas tunggu disini, Putri bikinin kopinya" Putri berlalu keluar kamar meninggalkan Beni.


" Yaudah aku nonton tv aja ya..".


Putri berjalan menuju dapur, membuatkan kopi untuk Beni. Terlihat bi Mun sedang mencuci piring disana.


" Non mau apa ke dapur?" Bi Mun menghentikan kegiatannya.


" Pengen bikin kopi buat mas Beni bi, biar Putri bikin sendiri aja".


" Bibi lanjutin aja kerjaannya, udah malem biar cepet istirahat" Putri mengeluarkan cangkir kopi dari lemari.


" Bibi udah selesai non, bibi masuk kamar ya. Permisi..." bi Mun berlalu meninggalkan Putri.


Setelah selesai membuatkan kopi untuk Beni Putri kembali masuk ke kamar, Putri mendekati Beni yang sedang duduk nonton tv.


" Ini mas kopinya" Putri menaruh kopi di dekat Beni.


" Sini Put, temenin nonton". Beni melirik ke arah Putri.


Putri berjalan mendekati Beni, Putri nampak salah tingkah mengingat ini malam pertamanya. Beni merangkul pinggang Putri erat, Putri terdiam tanpa penolakan. Mereka berdua asyik mengobrol sampai tak terasa sudah tengah malam.


Beni mengajak Putri tidur, jantung Putri berdegup kencang karena Beni menggendongnya menuju ranjang pengantin mereka.


Beni mulai menidurkan Putri di ranjang, setelah mematikan lampu, Beni mulai memeluk tubuh Putri dari belakang. Beni memeluk Putri erat, sampai Putri merasa kesusahan bernafas.


Tapi Putri tidak berani merusak mood suaminya, Putri bisa merasakan jantung Benipun berdegup sangat kencang. Beni mulai menciumi telinga Putri, Beni sepertinya sudah tidak kuat menahan semuanya. Tapi tiba-tiba..


" Mas, Putri lagi halangan.. Kita belum bisa malam ini" Putri membalikkan badannya, mendekatkan wajahnya ke wajah Beni sehingga mereka berhadapan dekat sekali.


" Kenapa ga bilang daritadi Put" Beni cemberut dan menutup kepalanya dengan bantal.


" Aku masih ga percaya kita udah nikah Ben".


terimakasih udah mau jadi pendamping hidup Putri" Putri mencium tangan Beni dan memeluk Beni sampai mereka berdua tertidur malam itu.