
Sore itu Mamah dan ayah Putri akhirnya kembali dari luar kota, mamah berlari masuk ke dalam rumah menghampiri Putri yang sedang menonton tv.
" Sayang.. selamat ya.. maafin mamah ga ada waktu kamu ke dokter kemaren" mamah memeluk Putri erat.
" iya.. gapapa mah, kan ada mas Beni sama bi Mun yang selalu siaga kalo Putri kenapa-kenapa" Putri mengecup pipi sang mamah.
" Ayah sebentar lagi bakal jadi kakek dong.. ayah udah ga sabar nih gendong cucu hehe.." ayah tiba-tiba masuk dengan membawa koper ke dalam kamar.
" Doain Putri sama dede bayinya sehat terus ya mah.. yah.. " Putri memeluk mamahnya erat tanpa terasa air matanya menetes.
" Jangan nangis.. nanti bayinya ikut nangis di dalem perut.. mamah ke kamar dulu ya pengen mandi bau.. hehe.. " mamah berlalu masuk ke kamar.
------------------
malam hari
Beni mendekati Putri yang sedang tiduran di kasur,
" Put.. mas mau ngomong sesuatu.. penting".
" Kenapa mas.." Putri bangun dan mendekatkan badannya ke arah Beni.
" Mas mau resign..mas pengen buka usaha sendiri, rasanya uang tabungan kita udah cukup buat buka toko hp sendiri".
" Dari dulu mas pengen punya usaha sendiri, biar lebih leluasa ngurusin kamu sama calon bayi kita" Beni memegang tangan Putri, mencoba meyakinkannya.
" Apapun keputusan mas Beni.. Putri akan selalu mendukungnya" Putri tersenyum.
" Kalo mas mau ngajuin minta jatah malam ini apa boleh?" Beni mengedip-ngedipkan sebelah matanya sambil tertawa kecil.
" Semuanya milik mas.. kapanpun mas mau boleh mas.. " Putri meraih kedua tangan Beni, membantunya membuka perlahan kancing baju Putri.
Putri melihat Beni terkulai lemas, Putri hanya tersenyum dan memakaikan selimut pada Beni dengan pelan agar Beni tidak bangun. Tak lama Putripun terlelap tidur memeluk Beni sampai pagi.
-------------------
Kantor
Hari ini rencananya Beni akan mengajukan surat pengunduran diri ke kantor. Sebelumnya Beni sudah membicarakannya dengan ayah mertuanya dan beliau mengizinkan kalo memang itu pilihan Beni.
Beni masuk ruang HRD
" tok.. tok.. Maaf Bu.. boleh saya masuk" Beni membuka pintu.
" Pak Beni.. silahkan masuk" Bu Vina mempersilahkan Beni duduk.
" Saya mau mengajukan surat pengunduran diri Bu.. saya mau buka usaha sendiri, biar lebih banyak waktu mengurus istri saya yang sedang hamil.." Beni membuka pembicaraan.
" Begitu ya Pak Ben.. memangnya tidak bisa ya usahanya itu dibuka sambil Bapak juga tetep kerja disini.."
" Perusahaan masih membutuhkan orang-orang seperti anda.." Bu Vina mulai membaca surat pengunduran diri Beni.
" Saya ingin fokus Bu.. Saat ini istri saya lebih membutuhkan saya..".
" Baiklah.. saya ACC surat pengunduran diri anda, untuk masalah gaji terakhir nanti saya akan kabari lagi.." Bu Vina bangun dari kursinya dan menjabat tangan Beni.
" Terima kasih Bu.. saya pamit" Beni berlalu keluar dari ruangan HRD.
Ada rasa haru meninggalkan Perusahaan Pramana ini, Beni mewujudkan mimpi pertamanya disini sampai dya bisa seperti sekarang. Namun Beni lebih yakin dengan semangatnya membuka usaha sendiri.
Beni hanya merasa waktunya lebih banyak di kantor bila dya masih bekerja. Beni ingin fokus mengurus istri dan calon bayinya sekarang, biarlah walopun nanti dya tidak dapat gaji yang penting Beni tidak akan melewatkan waktu bersama dua kesayangannya nanti.