My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Pernikahan



*Votenya guys*


"Aisyah, yaampun aku tidak menyangka kamu akan menikah." Reina sedang berada di kamar pengantin Aisyah. Ia diminta Aisyah untuk menemaninya sebelum pembacaan ijab kabul.


"Itu kalimat yang ke sekian kalinya aku dengar dari mulutmu." Aisyah memutar bola matanya kesal.


"Hehe... Maaf aku terlalu syok melihat kamu didandani seperti ini."


"Nanti juga ada giliranmu."


Reina hanya tersenyum mendengar ucapan Aisyah. Tiga hari lagi ia akan diposisi seperti ini. Menunggu calon suaminya mengucapkan kalimat sakral dengan hati yang berdebar-debar. Bahkan sekarang ia sudah gugup untuk m nanti apa yang terjadi esok hari.


"Reina?" Aisyah melambaikan tangannya di depan wajah Reina.


"Ah, ya ada apa?" Tanya Reina setelah sadar dari lamunannya.


"Kenapa sih akhir-akhir ini kau sering sekali melamun?"


"Entahlah aku hanya memikirkan bagaimana nasibku kedepannya."


"Ya ampun Reina, dijalanin aja terlebih dahulu. Nanti kamu juga akan suka dengan cerita hidupmu. Yang penting kamu harus sering bersyukur dan sabar dalam menghadapinya."


"Aku akan ingat ucapannmu."


***


"Akira nanti siang kamu sibuk?" Tanya Sakura.


"Ada apa mah?"


"Mama ingin mengajakmu dan Reina untuk memilih baju pernikahan kalian. Ingat tinggal tiga hari lagi pernikahanmu."


"Baik aku akan ikut."


"Kamu hubungi Reina ya, mama mau memasak dulu." Sakura meninggalkan Akira yang sedang mengetik dilayar laptopnya.


Untuk tiga hari ini Akira memilih untuk bekerja di rumah. Kalaupun ada yang meminta tanda tangannya untuk pekerjaan, ia meminta sekretarisnya datang ke rumahnya. Ia ingin masa tenang sebelum pernikahannya. Akira mulai menghubungi Reina.


"Assalamu'alaikum" jawab Reina disebrang.


"Wa'alaikumsalam"


"Ada apa kau menghubungiku." Suara itu, suara yang sangat dirindukan Akira.


"Apa nanti siang kau sibuk?"


"Tidak juga, memangnya kenapa?"


"Mama ingin mengajak kita untuk memilih baju pernikahan . Apa kau bisa?"


"Insya Allah. Jam berapa aku harus bersiap?"


"Jam dua siang aku dan mama akan menjemputmu."


"Boleh aku mengajak bunda?"


"Silahkan."


"Terima kasih."


"Kalau begitu aku putuskan sambungan teleponnya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam" sambungan telepon pun terputus.


Tiga hari lagi ia akan menjadi suami dari wanita itu. 'Reina tunggu aku untuk membuat kau menjadi mencintaiku.'


***


Reina mematikan handphonenya. Ia harus segera pulang karena sebentar lagi Akira dan mamanya akan ke rumahnya. Reina pun mendekati mempelai yang baru saja sah menjadi pasangan suami istri.


"Aisyah aku harus pulang sekarang."


"Sudah mau pulang?"


"Ya, sebentar lagi Akira dan mamanya akan ke rumahku. Mereka mengajakku untuk memilih baju pernikahan." Jelas Reina.


"Wah, diajak calon suami ternyata. Baiklah, terima kasih sudah menemaniku. Semoga kau lancar ya."


"Terima kasih, semoga kalian juga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah ya."


"Aamiin."


"Aku pamit dulu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam"


***


Reina sudah berada di butik untuk memilih gaun pernikahannya bersama Risa, sakura dan Akira.


"Kau ingin gaun yang seperti apa?" Tanya seorang penjahit pada Reina.


"Aku ingin yang sederhana dan tidak terlalu mewah." Jawab Reina.


"Baiklah. Tubuhmu ideal sekali jadi kau beruntung banyak gaun yang ukurannya pas untukmu."


Reina hanya tersenyum menanggapinya.


Akira memandang Reina yang sedang memilih-milih gaunnya. Gerak-geriknya, cara bicaranya, semua yang dilakukannya membuat Akira tak bisa berhenti memandangnya.


"Jangan dilihatin terus, tidak akan hilang." Goda sakura.


"Mama" Akira langsung mengalihkan perhatiannya saat ketahuan sedang memandangi Reina.


"Cantik kan?" Tanya Sakura.


"Cantik" jawab Akira.


"Kamu suka?"


"Sangat suka"


"Coba dari dulu kamu kenal dia, pasti sekarang sudah punya anak."


"Mama bicara apa sih?"


***


"Bagaimana disana?" Tanya Akira yang menghubungi Akai.


"Baik"


"Proyek yang kau urus sudah sejauh mana?"


"Hey.. calon pengantin tidak boleh memikirkan pekerjaan, kau fokus saja dengan pernikahanmu."


"Aku hanya memastikan semua berjalan lancar saat aku tidak ada disana."


"Kau ini, besok kau akan menikah tapi masih sempat-sempatnya menanyakan soal pekerjaan. Tenang saja semua beres dalam kendaliku."


"Aku ingin bertanya padamu."


"Silahkan"


"Apa yang kau lakukan sehari sebelum pernikahanmu?"


"Hehehe... Kau gugup ya?"


"Tidak, aku hanya bosan karena tidak diizinkan melakukan kegiatan apapun."


"Itu jelas karena kau pengantinnya."


"Itu sangat menyebalkan."


"Apa setelah menikah kau akan tinggal di sana?"


"Ya aku akan tinggal di sini, Reina menginginkannya. Aku tidak bisa menolak keinginan gadisku."


"Sepertinya kau sudah jatuh pada wanita itu."


"Aku tidak tahu, tapi dia sangat membuatku tertarik padanya. Ini juga keinginan mama."


"Sudah kuduga semua pasti berawal dari perjodohan." Tawa akai


"Diam kau. Oh ya, beberapa hari setelah pernikahanku aku ingin ke Jepang."


"Bulan madu?"


"Kau masih belum puas ya."


"Tebakanmu tepat sekali. Aku akan ikut untuk yang selanjutnya."


"Baiklah itu akan lebih baik."


Sambungan terputus oleh Akira.


***


Hari yang dinanti pun tiba. Reina sudah siap dengan gaun pengantinnya. Ia baru saja selesai di make up, ia memandangi wajahnya di cermin.


"Reina sayangku..." Peluk Aisyah dari belakang.


"Kau membuatku terkejut Aisyah."


"Maaf. Kau terlihat cantik sekali."


"Kau terlalu memuji."


"Aku tidak bohong, lihat tanpa di make up pun kau sudah cantik apalagi di dandani seperti ini. Aku yakin banyak orang yang terkesima denganmu."


"Baiklah terserah kau saja. Kau datang dengan suamimu?"


"Ya dia ada di depan."


Pembicaraan mereka pun berhenti saat ayah Reina mulai membacakan kalimat sakral.


"Ya Akira Andrylaw, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Reina Putri Ramdhani binti Ahmad Hanif Al-Ghazali dengan mas kawin cincin mas 200 gram dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Reina Putri Ramdhani binti Ahmad Hanif Al-Ghazali dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sah.."


"Alhamdulillah"


"Sekarang kamu sudah sah menjadi istrinya." Ucap Aisyah.


Reina memeluk Aisyah erat sekali.


"Hey... Nanti gaunmu berantakan."


Risa masuk ke dalam kamar Reina untuk menjemputnya. Reina mengikuti Risa bersama dengan Aisyah. Ia melihat Akira yang baru saja mengucapkan kalimat sakral, tatapan mereka bertemu.


"Ayo temui suamimu." Ucap Risa.


Reina mendekati Akira dan mencium tangannya dengan khusyu. Setelah itu Akira mencium kening Reina dengan lembut.


Untuk pertama kalinya Reina melihat wajah Akira dengan jarak sedekat ini. Ia terlihat tampan, dengan tubuh yang tinggi, alis tebal mata yang agak sipit dan kumis tipis. Akira memakaikan cincin pada jari manisnya, begitu pun dengan Rein



Mereka berdua saling menatap dengan tatapan mata yang dalam.


"Mengapa kau sangat cantik?" Puji Akira.


Reina merasakan pipinya sedang merona akibat pujian Akira. Ia mengalihkan pandangannya dengan menunduk. Tapi ternyata Akira mengangkat wajah Reina untuk melihat wajahnya. Tatapan mereka beradu.


"Jangan menunduk terus, tatap aku." Reina kembali menatap mata Akira. Mata itu, Reina suka memandangnya lama-lama.


"Sekarang kau sudah boleh melihat wajahku lebih lama, jadi jangan melihat kebawah terus." Akira tersenyum pada Reina, yang membuat pipi Reina semakin merona.


Beberapa acara sudah mereka lewati, para tamu semakin banyak yang hadir dalam pesta itu. Para kolega bisnis Akira yang berada di manca negara turut hadir dalam acara itu. Teman-teman dan para dokter kenalan Reina tak luput juga, semua ikut hadir dalam acara pernikahan mereka.


"Selamat untuk kalian berdua ya." Ucap Akai.


"Kau datang juga." Balas Akira.


"Aku sudah janji padamu."


"Reina kenalkan ini Akai rekan kerja dan sahabatku di Jepang. Dan itu istrinya Ai." Akira memperkenalkan keduanya.


"Reina" Reina memberikan senyum pada mereka berdua.


"Akai"


"Ai, senang bisa bertemu denganmu."


"Kalian serasi sekali. Reina terima kasih kau sudah mau menjadi istrinya. Tetapi maaf jika Akira agak kaku, dia memang seperti itu." Ucap Akai yang dihadiahi tendangan oleh Akira.


"Awhh... Kau ini kenapa sih?" Akai meringis.


"Mulutmu" Reina dan Ai hanya tertawa melihat keduanya.


"Tuh kan apa kubilang?"


"Bisakah kau cepat pergi? Lihat dibelakangmu sudah banyak yang mengantri untuk bersalaman." Kesal Akira.


"Baik, baik, semoga kalian selalu berbahagia." Akai dan istrinya pun pergi untuk mengambil makanan.


"Reina sahabatku tersayang, samawa ya." Aisyah memeluk Reina.


"Terima kasih"


"Kamu tidak tinggal di Jepang kan?" Tanya Aisyah. Reina melihat Akira.


"Tidak kita akan tinggal di sini, tapi sekali-kali akan main kesana." Senyum Reina.


"Wah... Beretika kita masih bisa bertemu?"


"Iya. Akira ini sahabatku Aisyah."


"Akira"


"Aisyah. Baiklah kami pergi dulu." Aisyah pergi setelah itu.


***


Acara yang sangat melelahkan untuk Reina. Sekarang ia sedang duduk beristirahat di kamarnya, gaun pengantin masih ia pakai. Ia memandang kamarnya yang sudah didekorasi seperti kamar pengantin, banyak bunga mawar terpasang disana.


"Kau tidak ingin mandi?" Tanya Akira yang baru keluar dari kamar mandi. Ia memakai celana panjang tidur dan kaus putih polos yang memperlihatkan lekak lekuk ototnya. Rambutnya yang basah dan berantakan membuatnya terlihat mempesona.


"Aku akan mandi." Ucap Reina berusaha mengontrol diri melihat pemandangan didepannya.


Hanya butuh waktu lima belas menit untuk Reina menyelesaikan aktivitas mandinya. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia melihat Akira yang sibuk dengan laptopnya di balkon kamar. Ia bingung harus bersikap bagaimana pada Akira. Akhirnya ia keluar dari kamar untuk membuatkan kopi untuk Akira.


"Dek, kamu kok disini?" Tanya Rina kakak ipar Reina.


"Aku ingin buat kopi untuk Akira mbak, Mbak Rina sedang buat susu?"


"Iya, mbak duluan ya." Reina mengangguk.


***


Akira masih sibuk dengan laptopnya, ada pekerjaan mendadak yang harus ia selesaikan.


"Akira aku buatkan kopi untukmu." Reina menaruh kopinya di meja dan ikut duduk bersama Akira.


"Arigato" Akira meminum kopi yang dibuat oleh Reina.


"Tiga hari lagi kita akan pindah ke rumahku, apa kamu keberatan?" Tanya Akira.


"Tidak, aku akan ikut denganmu." Diam-diam Akira melirik Reina. Reina sedang tidak memakai kerudungnya. Ia terlihat cantik dengan rambut hitam panjang yang dibiarkan terurai. Ia tahu kalau Reina sedang gelisah, mungkin karena ini malam pertamanya.


"Apa kamu lelah?" Tanya Akira.


"Lumayan" jawab Akira.


"Tidurlah, aku masih harus mengerjakan sesuatu." Kali ini Akira menatap Reina. Melihat Reina yang masih ragu akhirnya Akira mencium kening Reina. Sontak itu membuat Reina terkejut dan meninggalkan rona merah di wajahnya.


"Aku tahu kamu belum siap, jadi aku tidak memintanya sekarang." Akira tersenyum pada reina. Sedangkan Reina lalu buru-buru pergi ke ranjangnya untuk tidur.


Sekitar satu jam Akira baru menyelesaikan pekerjaannya. Ia menutup laptopnya dan menaruhnya di nakas.


Akira melihat Reina yang sudah tertidur pulas, walaupun sedang tidur wanita itu tetap saja cantik. Ia menaikkan selimut pada Reina dan mulai berbaring di sampingnya. Akira masih memandang wajah Reina yang tertidur.


"Jangan pergi, jangan tinggalkan Reina." Reina mengigau dan memeluk Akira.


Akira tersenyum melihat Reina yang mengigau dan memeluknya.


"Aku tidak akan pergi meninggalkanmu." Akira mencium kening Reina dan balas memeluknya.