
"Bodoh!! Mengapa bisa lolos? Aku bahkan sampai rela membuat wajahku dipukul oleh kalian." teriak seorang pria.
"Tenanglah, aku juga tidak tahu kalau wanita itu bisa bela diri." jawab Garvin santai, ia bahkan menghisap puntung rokoknya dengan tenang tidak mempedulikan pria dihadapannya yang sedang marah-marah sejak tadi.
"Kau terlalu santai menanggapi hal ini Garvin!"
"Dan kau terlalu gegabah dalam menanganinya, aku melakukannya dengan caraku bukan dengan caramu. Jangan samakan aku denganmu Kevin." Garvin menekankan nama pria itu.
"Berapa lama?" tanya Kevin tidak sabar.
"Tidak tahu, mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama." Garvin menghembuskan asap dari mulutnya sambil melihat langit-langit ruangan.
Ceklek
Kedua pria itu langsung menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang. Senyum Garvin langsung merekah melihat siapa yang datang.
"Oh Garvin, kau ada disini juga?" wanita itu langsung bergelayut manja pada Garvin.
"Kau merindukanku Naomi?" Garvin mengusap wajah Naomi dengan seringainya.
"Sangat, kau terlalu lama berada ditempat itu." Naomi mengerucutkan bibirnya.
Garvin sangat gemas dengan kekasihnya, ia segera mencium bibir wanitanya dengan ganas.
"Hey, jangan lupakan keberadaan ku disini!" ucap Kevin kesal.
Naomi melirik Kevin dengan malas, bisa-bisanya Kevin mengganggu disaat ia sedang melepaskan rindunya. Garvin melepaskan ciumannya ia terkekeh.
"Kita lanjutkan nanti sayang." ucap Garvin dengan suara sensualnya, Naomi hanya mendengus kesal.
"Mengapa wajahmu kusut seperti itu Kevin?" tanya Naomi heran.
"Tanyakan saja pada kekasihmu itu." jawabnya kesal.
Naomi menoleh pada Garvin menaikkan satu alisnya, Garvin hanya menaikkan bahunya tidak peduli.
"Mungkin dia sedang PMS?" jawab Garvin asal.
"Hey!!" seru Kevin tidak terima.
"Apa?" tanya Garvin dengan wajah polos.
"Sudahlah, aku sedang malas berdebat. Jadi ada apa kau kesini Naomi?" Kevin mengalihkan topik.
"Aku hanya mampir saja kesini, dan tidak tahunya kekasihku ada disini juga." jawabnya enteng.
"Kalian berdua sepasang kekasih yang membuatku pusing saja." keluh Kevin memijat pelipisnya.
"Jadi kelanjutannya bagaimana?" Kevin kembali ke topik sebelumnya.
"Serahkan saja padaku." jawab Garvin percaya diri.
"Akira?" tanya Naomi yang sudah duduk dipangkuan Garvin.
"Hm.."
"Balaskan dendam ku sayang." ucapnya manja.
"Anything for you baby." Garvin kembali mencium bibir Naomi penuh nafsu.
Kevin hanya mendengus keras melihat sepasang kekasih didepannya.
"Kamarku ada disebelah sana." ucap Kevin sambil menunjuk sebuah pintu diruangannya.
"Oh kau sangat perhatian sekali Kevin." ucap Naomi melepaskan ciumannya.
Garvin langsung menggendong Naomi ala bride style, Naomi mengalungkan tangannya dileher Garvin dengan senyuman manisnya. Mereka berdua melanjutkan ciuman panas yang sempat terhenti sambil menuju kamar Kevin diruangan itu.
"Aku pastikan kau harus berhasil menangkapnya karena perbuatan mu ini Garvin." ucap Kevin pada dirinya sendiri.
πππ
"Akira?"
Akira menoleh pada sumber suara.
"Ada apa kau datang jauh-jauh kesini Akai?" tanya Akira, pandangannya kembali pada tumpukan dokumen-dokumen yang harus ia selesaikan hari ini juga.
"Aku sudah mendengar beritanya, mengapa kau tidak menghubungiku?" tanya Akai yang sudah duduk di sofa.
"Bawakan minuman ke ruangan ku." ucap Akira pada seseorang di telepon.
Akai memperhatikan Akira yang sibuk memeriksa dokumen dan mengetikkan sesuatu di laptopnya. Raut wajah Akira tidak berubah tetap dingin tanpa ekspresi dengan tatapan tajamnya.
"Bagaimana kabar istrimu?" tanya Akai memancing Akira.
"Buruk." jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Aku sudah menyuruh orang-orang kita untuk mencari keberadaan Garvin, dan sepertinya dia bekerja sama dengan orang lain untuk menculik istrimu. Kemungkinan ini ada hubungannya dengan kejadian beberapa waktu yang lalu saat istrimu dan Kazao diserang." jelas Akai.
"Aku tahu."
"Lalu bagaimana kelanjutannya?"
"Tentu saja menghabisinya." jawab Akira tegas, bahkan ia sampai menghentikan jarinya untuk mengetik.
"Aku tahu sebaiknya kau hati-hati, mungkin saja ini jebakan." ucap Akai menasihati.
"Bagaimana dengan proyekmu?" tanya Akira mengalihkan pembicaraan.
Tok... tok... tok...
"Masuk!" perintah Akira.
Seorang pria yang tidak lain adalah sekretarisnya masuk sambil membawa dua gelas jus dingin. Ia meletakkan dua gelas itu di meja tamu yang berada dihadapan Akai.
"Silahkan dinikmati tuan." ucapnya sopan, Akai melirik ke minuman itu.
"Tidak ada wine?" tanyanya pada sekretaris Akira.
"Tidak ada!" itu bukan suara sekretaris melainkan suara Akira.
Akai tersenyum miring mendengarnya.
"Arigatou gozaimassu." ucapnya mengambil salah satu jus tersebut.
"Dou itashimasite." jawab sekretaris sambil membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat lalu pergi dari ruangan bosnya.
Sang sekretaris sudah mempelajari bahasa dan kebudayaan negara bosnya, jadi ia tida terlalu kesulitan menanggapi tamu bosnya yang berasal dari negeri sakura tersebut.
"Sayang sekali, padahal saat ini aku sangat ingin sekali minum wine. Tapi tidak apalah, minuman ini juga menyegarkan." ucap Akai setelah menyeruput jusnya.
"Ini bukan di negara mu Akai, kau harus ingat itu. Budaya disini sangat berbeda dengan di negara kita." tegas Akira.
"Ya, ya, aku mengerti. Sangat disayangkan sekali." ucapnya melirik Akira.
"Jadi bagaimana? Kau Elim menjawab pertanyaan ku tadi."
"Tinggal sedikit lagi, hanya perlu dirapikan sedikit selesai sudah." jawab Akai bangga.
Akira melirik Akai sekilas dari balik layar laptopnya.
"Aku ingin sempurna, tanpa ada kesalahan sedikit pun." lanjut Akira.
"Kau meragukan ku?" Akai menaikkan satu alisnya.
Akira hanya melirik Akai sekilas tanpa berniat menjawab pertanyaannya. Akai tersenyum puas melihat reaksi Akira.
"Oh ya, ada satu alasan lagi aku datang ke sini." ucap Akai.
"Apa itu?"
"Setelah proyek itu selesai aku akan mengundurkan diri dari perusahaan mu." jelas Akai.
"Nande?" tanya Akira masih fokus pada layar laptopnya.
"Otosan meminta ku untuk mengelola perusahaannya." Akai menghela napasnya kasar.
"Jadi, nanti kau akan menjadi Presdir?" tanya Akira dengan tatapan mengejek.
"Itu akan sangat merepotkan, aku jadi tidak bebas melakukan sesuatu. Jika saja aku punya saudara tidak mungkin akan begini jadinya." keluh Akai menyenderkan tubuhnya di sofa.
"Aku sudah pernah bilang padamu, kejadian seperti ini akan terjadi walaupun kau berusaha keras untuk mengelaknya." kini giliran Akira yang menggurui Akai.
"Ya, kau sudah pandai menasihati seseorang sekarang." ucap Akai malas, Akira hanya tersenyum miring.
Drrtt... drrtt..
Handphone Akira bergetar, Akira mengakifkan earphonenya.
"Ya, ada apa mah?" jawab Akira.
"..."
"Apa? Baik aku akan segera kesana!"
Akira segera memakai jasnya dan membereskan meja kerjanya.
"Ada apa?" tanya Akai yang melihat sahabatnya tergesa-gesa memakai jasnya.
"Istriku! Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, mama menyuruhku kesana dengan panik." wajah Akira berubah jadi serius.
"Aku ikut!" Akai segera bangkit dari sofa mengikuti Akira.
πππ
Hai gaesss.....ππ
Maaf banget saya baru datang kembali, setelah sekian lama tidak muncul :v Ada yang kangen gak sama author yang imut ini? wkwkwk
Maaf ya saya gak bisa update setiap hari kayak novel lainnya, karena kalau saya ketahuan main hp terus sama emak bisa diceramahin tiga hari tiga malam dengan kalimat yang di ulang-ulang. Dan itu tidak menyenangkan. Padahal saya itu main hp juga bukan sekedar main hp, banyak materi yang harus saya cari dan menulis novel kayak gini. Sedih saya tuhπ₯Ίπ₯Ί
Kok malah jadi curhat sih, yaudah itu aja. Jadi karena saya udah lama gak up saya akan double update kali ini. Semoga kalian sukaπππ
Jangan lupa dukungannya ya... like, favorit, vote and ratingπππ
Salam manis dari author
πππ