My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Musuh



Reina dan Kenzi berjalan memasuki sebuah tahanan yang cukup terkenal di kota itu. Mereka mengikuti sipir yang berjaga disana.


Kreek


Pintu tahanan dibuka oleh sipir yang berjaga, keluarlah seorang pria yang berumur sekitar tiga puluh tahun menghampiri Reina dan Kenzi yang sudah duduk di ruang interogasi.


Pria itu duduk dihadapan Reina dan Kenzi, ia memandang sinis ke arah mereka berdua. Terutama pada Reina, pria itu menatap tajam sekali ke arahnya seperti ingin membunuhnya dengan tatapan seperti itu.


Entah hanya perasaan Reina saja atau memang kenyataannya begitu, Reina merasakan aura yang sangat dingin dan mematikan dari orang yang ada dihadapannya. Ia mengucapkan banyak dzikir dalam hatinya untuk menghilangkan perasaan itu.


Hening, belum ada yang memulai pembicaraan. Sipir yang berjaga berdiri tidak jauh dari mereka untuk berjaga-jaga kalau tahanan itu melakukan hal yang tidak-tidak, atau kabur dari tahanan. Karena pasalnya menangkap pria yang sedang berhadapan dengan Reina dan Kenzi itu butuh tenaga, waktu, dan pikiran yang ekstra untuk menangkapnya.


Untuk pertama kalinya Reina melihat ke arah Kenzi dengan tatapan serius, Kenzi yang melihat itu menganggukkan kepalanya mengisyaratkan kalau interogasi segera dimulai agar cepat selesai.


Berbeda dengan Reina, Kenzi terlihat santai seolah-olah pria yang berada dihadapannya adalah rekan kerjanya.


"Baiklah, jadi kau adalah Garvin Nicholas?" tanya Reina memulai pembicaraan.


Pria yang disebutkan namanya hanya memandang Reina dengan tatapan dingin, dengan tubuh yang ia senderkan dikursinya dan tangan yang dilipat didada.


"Kau sudah tahu, lalu untuk apa bertanya?" jawabnya dingin.


Deg


'Kenapa orang ini tak ada ramah-ramahnya sama sekali? Pantas saja dia disebut psikopat, apa memang seperti ini sifat semua psikopat?' batin Reina.


"Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan padamu." Ucap Reina ia tidak memedulikan lagi ucapan Garvin yang tidak ada ramahnya sama sekali.


Reina sudah menyiapkan alat tulisnya, ia akan mencatat setiap jawaban yang akan diucapkan oleh Garvin.


Sedangkan Garvin? Ia hanya menatap tajam keduanya, seolah ingin menerkamnya.


"Sesuai data yang kami baca, kasusmu adalah pembunuhan sepasang suami-istri. Apa itu benar?" lanjut Reina.


"Ya, sangat tepat sekali." jawabnya dengan penuh rasa bangga, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk lengkungan tipis.


Reina yang memperhatikan Garvin sedikit heran, ternyata buku yang waktu itu ia baca benar. Seorang psikopat akan merasa bangga dengan apa yang ia lakukan, bukannya merasa bersalah karena telah membuat nyawa seseorang hilang.


"Apa motif mu?"


"Motif? Hanya untuk kesenangan pribadi." jawab Garvin santai.


"Hanya itu? Jika hal itu tidak kau lakukan apa yang akan terjadi pada dirimu?"


"Aku akan merasa sangat gila karena tidak dapat memenuhi hasrat ku."


Reina menaikkan satu alisnya.


"Mengapa harus membunuh seseorang?" Sekarang giliran Garvin yang menaikkan satu alisnya.


"Aku tidak membunuhnya." jawab Garvin tegas.


"Lalu?" Kenzi yang sejak tadi diam memperhatikan, kini angkat bicara. Sepertinya ia mulai tertarik dengan Garvin.


Garvin melihat Kenzi dengan tatapan tajamnya, ia tersenyum miring.


"Sepertinya aku mengenal mu." ucap Garvin tersenyum miring pada Kenzi.


Reina ikut melihat Kenzi, apa Garvin mengenal Kenzi? Apa sebelumnya mereka pernah bertemu?


"Mungkin kau salah lihat, aku tidak mengenalmu." jawab Kenzi, ia juga ikut tersenyum miring.


Baru kali ini, Reina begidik melihat Kenzi seperti itu. Biasanya hanya wajah menyebalkan yang ia lihat dari rekan kerjanya.


"Aku yakin aku tidak salah melihat, bukankah kau dari London?" Garvin kembali bertanya.


Kenzi terdiam sejenak, ia terkejut. Wajahnya berubah menjadi datar dari sebelumnya, tetapi dengan cepat ia kembali mengeluarkan senyum miringnya.


Garvin yang melihat perubahan Kenzi tersenyum penuh arti, ia menantikan jawaban dari pria dihadapannya.


"Aku memang dari London, tetapi mungkin wajah seperti ku ini memang banyak dimiliki orang London." jawab Kenzi dengan setenang mungkin.


"Siapa namamu?" lanjut Garvin, ia terus memancing Kenzi agar mengaku.


"Kenzi." jawabnya singkat.


Garvin tersenyum simpul mendengar jawaban Kenzi.


'Ternyata kau sedang bersandiwara, aku tunggu sampai kapan kau akan menyembunyikan identitas mu. Dan apa tujuanmu menyembunyikannya.'


"Oh ternyata kau benar aku yang salah." ucapnya memperlihatkan wajah yang seolah-olah kecewa.


"Memangnya siapa orang yang kau maksud?" sekarang giliran Reina yang bertanya, ia tidak tahan jika hanya mendengarkan saja.


Kedua pria itu melihat ke arah Reina.


"Kevin Christian." Jawab Garvin menekan setiap katanya.


🍁🍁🍁


Akira melajukan mobil sportnya menuju perusahaan IT Global. Kali ini ia mengendarai dengan kecepatan sedang, sejak dari rumah ia sudah memasang earphonenya. Ia mengemudi sambil mendengarkan pembicaraan Reina dan rekan kerjanya.


"Sepertinya suasananya tegang sekali, siapa orang yang sedang diinterogasi oleh mereka?" tanya Akira bermonolog sendiri.


Deg


Akira tersentak mendengar ucapan Reina.


"Garvin Nicholas?" tanya Akira pada dirinya sendiri.


"Ia ada di Indonesia? Dan Reina sedang menginterogasinya?" Akira mengeluarkan smirknya.


"Dasar pecundang, begitu saja bisa ditangkap." Akira masih memasang smirknya.


Akira masih menyimak pembicaraan istrinya dengan Garvin.


Akira mendadak menginjak rem mobilnya.


Tiiiinnn.....tiiiiinnnn.....tiiiinnn....


Mobil yang berada dibelakang Akira mengklakson dengan kencang sekali karena Akira mendadak menghentikan mobilnya.


"Damn it." umpat Akira.


Akira segera menepikan mobilnya ke tepi jalan.


"Apa aku tidak salah dengar? Nama itu?" ucap Akira, rahangnya mengeras, tangannya memegang kemudi dengan kencang hingga tangannya memutih.


"Nama yang sudah lama tidak kudengar, sekarang hadir kembali?"


Akira segera mengambil ponselnya, ia mengetikkan nomor di ponselnya.


🍁🍁🍁


Hening cukup lama diantara mereka bertiga. Setelah Garvin mengucapkan nama itu, tidak ada yang mengeluarkan suaranya. Semua sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


Reina berniat untuk angkat bicara, agar suasana kembali seperti semula.


A'udzu illahi mina ssyaitonirrojiim


Suara murottal dari ponsel Reina berbunyi, menandakan ada panggilan masuk. Reina yang tadinya ingin berbicara, ia urungkan. Ia segera mengambil ponselnya, ia terkejut melihat nama yang tertera di ponselnya.


'Akira' nama seseorang yang sudah seminggu ini tidak menghubunginya, dan sudah sangat ia tunggu-tunggu kepulangannya.


Tanpa memedulikan dua orang yang berada didekatnya, ia segera mengangkat panggilan tersebut.


"Assala-" belum selesai Reina mengucapkan salam, Akira sudah memotongnya.


"Sayang? Apa kau baik-baik saja? Dimana kau? Apa ada yang terluka? Apa Kazao ikut bersamamu?" tanya Akira beruntun.


"Assalamu'alaikum." Reina melanjutkan salamnya.


Akira bingung dengan jawaban yang diberikan Reina, karena Reina bukannya menjawab pertanyaannya tetapi malah mengucapkan salam.


"Sayang? aku bertanya padamu? Mengapa kamu tidak menjawabnya?" Akira sungguh sangat khawatir saat ini.


"Kau sendiri kenapa tidak menjawab salam dariku Akira?" tanya Reina ketus.


"Maaf sayang, aku terlalu khawatir padamu. Oke aku jawab ya? Wa'alaikumsalam."


"Kau menghubungi ku disaat yang tidak tepat, aku sedang bekerja." ucap Reina.


"Maaf, aku sangat sibuk sekali disini. Jadi baru saat ini aku bisa menghubungi mu." lagi-lagi Akira meminta maaf pada Reina.


"Kapan kau akan pulang? kau bilang hanya seminggu, tapi ini lebih dari seminggu." cerocos Reina, ia benar-benar tidak memedulikan keberadaan dua orang yang sedang bersamanya.


"Oke aku minta maaf, aku akan pulang secepatnya. Kau baik-baik saja disana kan?" Akira masih menanyakan keadaan Reina.


"Kau tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Cepatlah pulang, aku menunggu mu." ucap Reina melembut.


Akira tersenyum mendengar penuturan istrinya, ada kehangatan yang menjalar ditubuhnya setelah mendengar ucapan istrinya itu.


"Aku akan segera pulang setelah semuanya beres, jangan membuatku khawatir." lirih Akira.


Reina heran dengan ucapan Akira, harusnya yang bilang seperti itu dirinya bukan suaminya.


"Harusnya aku yang berkata seperti itu." jawab Reina.


Akira tersenyum disebrang sana.


"Baiklah aku matikan panggilannya ya? Aku ingin berangkat ke kantor."


"Hehh.." Reina mengeluarkan nafas berat, padahal baru saja ia melepas rindu pada Akira.


"Jangan seperti itu, nanti aku tidak fokus bekerja karena memikirkan mu." hibur Akira.


"Janji kau akan segera pulang?" tanya Reina memastikan.


"Aku janji!" jawab Akira.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan, jaga kesehatanmu, aku merindukanmu. Assalamu'alaikum." dengan cepat Reina segera memutuskan panggilannya tanpa ingin mendengar jawaban Akira.


Jantungnya sudah berdetak tak karuan saat mengucapkan kalimat terakhir pada Akira. Ada perasaan hangat menjalar ditubuhnya, ia tersenyum tipis.


"Wa'alaikumsalam" jawab Akira, ia tersenyum sendiri mendengar ucapan istrinya. Bisa ia bayangkan wajah istrinya sudah merah merona seperti udang rebus. Membayangkannya saja sudah membuat ia menjadi gemas, apalagi jika ia melihatnya secara langsung.


Reina masih senyum-senyum sendiri tanpa menyadari kalau dua orang pria sedang menatapnya dengan intens.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Reina setelah ia sadar ditatap seintens itu.


"Akira?" tanya Garvin.


"Ada apa dengan suamiku?" tanya Reina bingung.


"Akira Andrylaw suamimu?" tanya Garvin memastikan.


"Ya, apa suamiku memang seterkenal itu ya?" ucap Reina polos.


Entah apa ada yang salah dengan ucapannya, seketika rahang kedua pria itu mengeras dan tangannya mengepal.


Reina yang melihat perubahan itu menjadi ngeri sendiri, apa ia sudah mengatakan sesuatu yang salah?


"Apa kau tahu siapa suamimu?" giliran Kenzi yang bertanya.


"Dia laki-laki yang baik, dan sangat perhatian padaku." jawab Reina jujur, karena memang seperti itulah Akira saat berada dengannya.


"DAMN IT!!!" umpat Kenzi dan Garvin.


🍁🍁🍁