My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Rekan Baru



Tap tap tap


Suara langkah kaki Akira memenuhi setiap ruang televisi yang berdominasi warna hitam. Ia menekan tombol yang ada di samping rak buku tersebut, seketika rak buku tersebut terbelah menjadi dua dan menampilkan sebuah pintu yang terbuat dari besi yang sangat kuat, pintu itu memantulkan wajah Akira. Akira menempelkan telapak tangan kanannya di alat pengenal yang sebelumnya tersembunyi oleh rak buku, lalu ia menekan kode pada alat pengenal tersebut.


Pintu besi itupun terbuka setelah Akira memasukan kode, terlihatlah sebuah ruangan yang cukup luas dengan warna hitam yang mendominasi. Sebuah rak buku, layar monitor yang cukup besar, meja kerja, dan sebuah bar mini.


Tut


Udara sejuk memenuhi ruangan setelah ac di ruangan itu dinyalakan. Akira berjalan menuju meja kerjanya, ia duduk di kursi yang menghadap meja tersebut dan membaca berkas yang ada diatas meja.


Akira melihat sebelah kirinya yang terdapat sebuah bar mini.


"Oh shit, aku lupa belum membuangnya." Ucapnya saat melihat bar mini yang dimejanya terdapat banyak botol berisi minuman alkohol.


Ia menyenderkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki sambil memegang kepalanya yang terasa penat dengan kedua tangannya. Baru saja ia datang ke negara kelahirannya, tetapi ia sudah disambut dengan kejadian yang kurang menyenangkan.


"Tidak masalah bukan jika aku meminumnya sedikit?" Ucap Akira pada diri sendiri. Akira melirik lagi bar mini tersebut, tanpa pikir panjang lagi ia langsung mendekati bar tersebut dan menuangkan wine digelas.


Ia membawa gelas yang berisi wine ke depan monitor. Akira menyalakan monitor besar tersebut.


Muncullah beberapa gambar yang berada di daerah yang berbeda-beda. Salah satunya adalah di rumahnya yang berada di Indonesia. Diam-diam tanpa sepengetahuan Reina, Akira memasang sebuah cctv yang sangat kecil di rumahnya. Fungsinya agar ia tahu apa saja yang dilakukan istrinya saat ia tidak ada di rumah. Bukan hanya di rumahnya, di tempat kerja Reina pun ia memasangnya tanpa sepengetahuan siapapun.


Akira tersenyum melihat wajah tidur Reina yang terlelap, ia meneguk winenya.


"Maafkan aku yang sedikit nakal ini sayang." Akira meneguk lagi winenya.


Drrtt.. drrtt..


Ponsel Akira bergetar, ia memasang earphone bloetooth di telinganya baru mengangkat panggilan tersebut.


"Halo?"


"Akira kau belum tidur?" Ucap Akai disebrang.


"Kalau aku tidur, siapa yang sedang berbicara denganmu?" Ucap Akira dingin.


"Kupikir istrimu?" Goda Akai.


"Istriku sedang berada di Indonesia, jika kau berani macam-macam dengannya kau akan tahu akibatnya Akai." Ancam Akira


"Oke aku tidak akan menggangunya. Aku lupa memberi tahu padamu, kalau tadi aku menemukan sesuatu dari orang-orang yang menyerang kita barusan." Jelas Akai.


"Apa itu?" Tanya Akira sambil meneguk lagi winenya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya kita bisa mendapatkan informasi dari benda ini, aku akan mengirimkan gambarnya padamu."


"Baiklah, aku menunggunya." Sambungan diputus oleh Akai.


Akira segera mengganti layar gambar yang ada di monitor besar tersebut. Tak butuh waktu lama gambar yang dikirim Akai sudah ia terima. Ia memperhatikan setiap detailnya, benda itu berbentuk segi enam dengan setiap sisinya memiliki tekstur yang berbeda-beda.


Ponsel Akira kembali bergetar, ternyata itu panggilan dari Akai. Akira segera mengangkatnya.


"Apa kau sudah menerima apa yang baru saja ku kirim?" Tanya Akai disebrang.


"Aku sudah melihatnya, apakah benda itu bisa dibuka?" Ucap Akira yang masih melihat-lihat setiap sisi benda tersebut.


"Kupikir juga begitu, tetapi aku belum menemukan bagaimana cara membukanya." Jelas Akai.


"Sepertinya akan memakan waktu yang cukup lama." Tebak Akira.


"Kupikir juga begitu."


"Akai jangan kau pikirkan terus, tapi cari caralah untuk membukanya. Atau kau akan kehilangan seluruh rambut mu karena terus berpikir." Ucap Akira kesal karena Akai selalu mengucapkan kata 'kupikir'.


"Aku sedang memikirkannya." Akira meneguk winenya kasar.


"Aku beri kau waktu tiga hari untuk membuka benda ini." Perintah Akira.


"Hey, bukankah kau sendiri yang bilang kalau ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama?" Ucap Akai tak percaya dengan apa yang diucapkan Akira.


"Aku berubah pikiran, kupikir ini dapat dibuka dalam waktu tiga hari." Ucap Akira datar.


"Kau? Akira ayolah jangan bercanda?" Keluh Akai.


"Apa nada bicaraku terdengar seperti bercanda?"


"Oke, tambah sedikit waktu lagi." Akai masih bernegosiasi dengan Akira.


"Kau keras kepala sekali." Gumam Akai.


"Aku memang terkenal keras kepala dari dulu, jadi jika kau tidak ingin bekerja denganku lagi silahkan."


"Baiklah, baiklah, aku mengerti. Akan ku usahakan dalam waktu tiga hari itu." Akai langsung memutuskan sambungan.


Akira tersenyum puas mendengar Akai yang sedang kesal. Ia kembali melihat wajah Reina yang tertidur lelap.


"Kapan kau akan menjadi milikku seutuhnya? Aku sudah tidak bisa menahannya." Ucap Akira pada diri sendiri.


Ia mengetikkan nomor seseorang di layar ponselnya. Tak butuh waktu lama sambungan pun terangkat dari sebrang.


"Bagaimana dengan orang yang aku minta?" Tanya Akira setelah sambungan terhubung.


"Sesuai permintaan anda tuan." Ucap seseorang disebrang.


"Bagus, aku mau besok dia sudah bisa memulai pekerjaannya. Ingat, jangan sampai ada seseorang pun tahu termasuk orang-orang ku apalagi istriku." Perintah Akira.


"Saya mengerti tuan, akan saya jamin tidak akan ada seorang pun yang tahu tentang ini."


"Kirimkan informasinya setiap hari padaku."


"Baik" setelah seseorang yang disebrang mengatakan itu, sambungan pun diputus oleh Akira.


"Aku akan selalu mengawasi mu sayang." Ucap Akira tersenyum smirk.


🍁🍁🍁


Pagi ini Reina berangkat kerja hanya diantar oleh Kazao. Ia segera memasuki tempat kerjanya dengan cepat.


Reina pikir ini adalah hari yang benar-benar sepi. Aisyah sudah dipindah tugaskan, Akira sedang bertugas di Jepang. Orang-orang yang selalu menyayanginya sedang tidak berada disisinya. Ia merasakan kembali kehampaan yang dulu pernah menghampirinya.


Reina membuka ruangannya, beberapa rekan kerjanya sudah ada yang datang dan sedang mempersiapkan diri untuk ke pasien yang mereka tangani masing-masing. Hanya keheningan yang ada di ruangan tersebut, Reina berjalan ke mejanya.


"Hey apa kau tahu? Ku dengar akan ada dokter baru yang akan ditugaskan disini, katanya ia pengganti dokter yang dipindah tugaskan dari daerah lain." Ucap rekannya yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


"Benarkah? Apa dia laki-laki?" Rekannya yang satu lagi menyahut.


"Ya benar, aku penasaran seperti apa orangnya." Rekan-rekannya masih membicarakan dokter baru yang akan menggantikan dokter sebelumnya.


Reina tipe orang yang tidak ingin tahu urusan orang lain. Oleh karena itu, setelah apa yang ia butuhkan sudah diambil ia langsung keluar dari ruangan tersebut.


Saat membuka pintu tanpa sengaja ia menabraj seseorang, sehingga barang-barang miliknya jatuh berserakan di lantai.


Reina mendengus kesal, ia segera memunguti barang-barangnya. Tanpa ia duga, seseorang yang ia tabrak pun ikut membantu Reina.


"Maaf, saya tidak melihat ada orang lain yang lewat di depan saya." Ucap seseorang itu yang ternyata adalah pria.


Reina hanya melihat malas pada orang yang ada didepannya ini. Mungkin karena efek badmood ia jadi seperti ini.


Reina segera pergi dari pria tersebut, ia ingat apa yang diucapkan oleh Akira kalau ia tidak boleh dekat dengan laki-laki lain selain Akira.


"Eh, tunggu dulu!" Ucap pria tersebut menghentikan langkah Reina yang ingin pergi.


Reina membalikkan badannya menatap pria tersebut dengan tatapan bertanya.


"Saya ingin bertanya dimana ruangan pak Arlan?"


Pak Arlan merupakan CEO sekaligus pemilik rumah sakit ini. Sehingga siapapun pasti tahu beliau.


"Ruangan pak Arlan ada di lantai sepuluh, anda bisa naik lift disana hanya ada satu ruangan, itulah ruangan pak Arlan." Jelas Reina.


"Terima kasih, liftnya disana bukan?" Tunjuk pria tersebut.


"Kalau anda sudah tahu mengapa anda bertanya?" Ucap Reina ketus.


"Maaf, bukankah kita searah? Bagaimana kalau kita jalan bersama?" Ajak pria tersebut.


"Maaf, saya tidak bisa. Suami saya tidak mengizinkan saya dekat dengan laki-laki lain selain dirinya. Kecuali Maslah pekerjaan ia baru mengizinkan." Setelah mengucapkan kalimat itu, Reina segera pergi dari hadapan pria tadi.


Dibalik kepergian Reina pria itu tersenyum miring.


"Sudah menikah ya?" Ucap pria tadi pada dirinya sendiri.


🍁🍁🍁