My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Melepas Rindu



Esok harinya saat pukul 17.00 dini hari untuk waktu di Jepang, itu berarti waktu di Indonesia sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Akira memulai perjalanannya untuk pulang ke Indonesia dikarenakan badai sudah berhenti. Ia tidak ingin menunda hingga matahari terbit, karena ia sudah sangat khawatir dengan keadaan Reina.


Sejak mendapatkan kabar kalau Reina dibawa pergi oleh Kazao, Akira sangat gusar, pikirannya kacau. Yang ia pikirkan hanyalah keselamatan Reina. Ia sudah menghubungi Reina dan Kazao berkali-kali tetapi panggilannya tidak juga diangkat. Ia juga sudah menghubungi orang yang ia suruh menjaga Reina, tetapi panggilannya juga tidak diangkat.


Akira sangat cemas, sehingga yang ia lakukan hanyalah mengumpat. Cincin yang dipakai Reina juga tidak berfungsi saat Akira ingin mendengar kejadian yang terjadi. Ia sudah frustasi dengan ini semua, yang ada dipikirannya adalah ia harus cepat sampai di rumahnya.


"Ayolah kenapa tidak diangkat?" itulah kalimat yang sering Akira ucapkan selama perjalanan.


Tubuh Akira berkeringat, tangannya terasa dingin. Bahkan Akira belum mengganti pakaiannya sejak di kantornya. Ia tidak sempat memikirkan itu semua, penampilannya sangat kacau sekali.


Setelah melakukan perjalanan yang sangat panjang menurut Akira, akhirnya ia sampai di Indonesia tepat pukul 20.00 WIB dengan menggunakan helikopter pribadinya. Singkat cerita ia sudah sampai di rumahnya, begitu ia melihat Kazao Akira segera berlari menghampirinya.


"Mengapa kau tidak mengangkat panggilan ku?" tanya Akira dengan nada tinggi sambil mencengkram kemeja Kazao.


Kazao yang terkejut dengan kedatangan Akira yang tiba-tiba hanya diam memandang wajah Akira yang sudah diliputi amarah.


"Jawab Kazao, kau bawa kemana istriku pergi?" Akira sudah kelewat emosi begitu melihat Kazao.


"Tuan muda tenanglah, saya tidak membawa nyonya muda kemana-mana. Ia ada didalam kamarnya belum turun sejak sore tadi." jelas Kazao.


Tanpa berniat membalas ucapan Kazao, Akira segera berlari menuju kamarnya dan Reina.


"Aku yakin tuan muda sudah menyuruh seseorang untuk memantau nyonya Reina, kalau tidak bagaimana mungkin ia datang semendadak ini?" ucap Kazao pada diri sendiri.


Akira membuka pintu kamar dengan kasar, tetapi apa yang dicari tidak ada disana. Ia bergegas menuju balkon kamar, tetapi Reina juga tidak ada disana. Ia mencari ke setiap sudut kamar, tetap tak ia temukan juga. Ia berniat keluar untuk mencari keberadaan Reina, baru saja tangannya memegang knop pintu Reina keluar dari kamar mandi dengan kimononya. Reina belum sadar dengan keberadaan Akira dikamarnya, ia masih asik mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Reina?" lirih Akira.


Tanpa aba-aba lagi, Akira langsung berlari memeluk Reina dengan erat. Reina sangat terkejut dengan hal itu, awalnya ia berontak. Tetapi begitu mendengar suara Akira, ia diam dan membalas pelukan Akira.


"Ini aku." ucap Akira pelan, hampir terdengar seperti bisikan.


Reina mengusap punggung Akira, agar Akira tenang.


"Maaf." ucap Akira masih dalam pelukan Reina. Reina bingung dengan ucapan Akira, kenapa Akira meminta maaf padanya?


Reina melepaskan pelukannya, ia melihat wajah Akira. Ia menghapus air mata yang mengalir diwajah suaminya, dilihatnya suaminya itu dengan dalam. Akira terlihat sangat kacau sekali, rambut yang berantakan, kemeja yang sudah tidak rapi, kantung mata yang terlihat hitam. Ia yakin Akira tidak tidur kemarin.


"Duduk dulu." Reina menggiring Akira untuk duduk ditepi ranjang, Akira menurut. Setelah itu Reina memberikan Akira air putih yang sebelumnya sudah ia sediakan diatas nakas. Akira meminumnya hingga kandas, setelah itu ia memeluk Reina lagi.


"Ada apa?" tanya Reina setelah ia merasa Akira sudah sedikit agak tenang, Reina sendiri juga tidak tahu ada apa dengan suaminya yang tiba-tiba seperti ini.


"Aku takut." ucap Akira.


"Aku takut kau kenapa-kenapa dan pergi meninggalkanku." lanjutnya, Reina mengusap punggung Akira. Ia menjadi pendengar setia suaminya itu.


Akira melepas pelukannya.


"Mengapa kau tidak mengangkat panggilan ku? kemana Kazao membawamu pergi? kau tidak terluka kan? Atau apa ada yang sakit? Bagian mana yang sakit, biar ku panggilkan dokter untuk memeriksanya. Kau membuatku sangat cemas." tanya Akira bertubi-tubi, Reina terkekeh pelan mendengar semua pertanyaan Akira.


"Aku akan menjawab semua pertanyaan mu." balas Reina dengan senyuman manisnya, senyuman yang selalu Akira rindukan.


"Kazao membawaku pergi entah kemana, aku dan Kazao pun tidak tahu tempat apa itu. Ia membawaku pergi hanya untuk mengelabui orang yang mengejar kami, tetapi ternyata kami terjebak. Dan jadilah pertempuran yang tidak bisa dihindari." Akira membulatkan matanya, tangannya sudah terkepal. Baru saja ia ingin membuka suara, tetapi Reina sudah lebih dulu meletakkan telunjuknya dibibir Akira, mengisyaratkan agar Akira tidak berbicara.


"Aku tidak terluka dan tidak ada bagian tubuhku yang sakit. Kau harus ingat, aku juga bisa bela diri. Jadi kau tidak perlu cemas ataupun khawatir tentang keselamatan ku, lagipula saat itu Kazao berusaha menjagaku agar aku tidak lecet sedikit pun." lanjutnya dengan senyuman.


"Lalu mengapa kau tidak mengangkat panggilan ku?" ucap Akira mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab oleh Reina.


"Itu balasanku karena kau sebelumnya tidak menghubungiku atau membalas pesanku." jawab Reina memalingkan wajahnya ke arah lain.


Akira terdiam mendengar jawaban Reina, jadi karena itu istrinya tidak mengangkat panggilannya? Istrinya sudah membuatnya khawatir setengah mati, ternyata hanya gara-gara hal sepele itu?


"Aku juga menyuruh Kazao agar tidak mengangkat panggilan mu, jadi kau jangan menghukumnya ya?" ucap Reina sambil nyengir kuda.


Demi apapun Akira dibuat gemas dengan tingkah isterinya itu, ia sudah sangat khawatir. Tetapi istrinya malah mengerjainya?


Dengan gerakan cepat, Akira meraup bibir mungil Reina. Reina memberontak, tetapi Akira tidak menghiraukannya. Akira malah memperdalam ciumannya itu, alhasil Reina larut dengan permainan Akira.


"Sayang... apakah aku boleh melakukannya?" bisik Akira dengan suara yang menggoda.


Reina refleks membuka matanya, dengan cepat ia mendorong tubuh Akira agar menjauh darinya. Reina paham dengan ucapan Akira, mungkin juga ini sudah waktunya ia menyerahkan diri sepenuhnya untuk suaminya. Tetapi, ia sangat malu untuk mengucapkannya.


"Tidak apa jika kau belum siap, aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap." ucap Akira, wajahnya berubah lesu.


"Aku akan mandi dulu." Akira bangkit dari duduknya untuk pergi ke kamar mandi.


Tetapi tangannya ditahan oleh Reina, Akira memandang wajah istrinya itu. Reina mencium pipi kanan Akira dengan singkat. Akira dibuat mematung dengan tindakan istrinya itu.


"Setelah makan malam, kau boleh melakukannya." ucap Reina malu-malu, ia enggan menatap wajah Akira saat mengatakan itu.


Dengan segera Reina berlari ke meja rias untuk merapikan rambutnya sekaligus menyembunyikan wajahnya yang ia yakini sudah memerah.


Akira tersadar dari lamunannya, ia melihat Reina sudah berada di meja rias. Akira tersenyum melihat wajah istrinya yang sudah memerah dari cermin. Ia mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Terima kasih." ucap Akira menatap wajah cantik istrinya dari cermin. Reina hanya menunduk menyembunyikan rona merah diwajahnya.


Akira mencium pipi Reina, dari pipi turun ke leher dan membuat jejak kepemilikan disana. Reina segera menjauhkan wajah Akira darinya.


"Akira, setelah makan malam. Bukan sekarang." Reina memperingati.


Akira menegakkan tubuhnya, ia masih memeluk Reina.


"Baiklah aku akan segera mandi, agar bisa cepat melahapmu." ucap Akira melihat Reina dicermin dengan senyuman jahil.


Akira pergi meninggalkan Reina yang sudah seperti kepiting rebus. Akira sangat puas menjahili istrinya. Ia sudah tidak sabar menantikan saat yang sangat ia tunggu-tunggu.


🍁🍁🍁