
Waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB, Reina terbangun dari tidurnya. Ia merasa ada sesuatu yang berat diatas perutnya, ia pun melihatnya dan itu adalah tangan kekar Akira yang sedang memeluknya. Reina membalikkan tubuhnya agar dapat melihat wajah suaminya dengan leluasa.
Ia tersenyum memandang wajah damai suaminya saat tertidur. Dengan sangat hati-hati ia membelai wajah suaminya agar tidak terbangun. Sepertinya Akira sangat kelelahan, buktinya saat Reina mengusap wajah Akira terus menerus Akira tidak terbangun. Biasanya jika Reina bergerak sedikit saja Akira akan langsung terbangun, tapi kali ini tidak.
"Kamu tampan." ucap Reina disela-sela mengusap wajah Akira sambil tersenyum.
Reina berniat ingin shalat tahajud bersama Akira, tetapi melihat Akira yang tertidur pulas Reina tidak tega membangunkannya. Ia pun memutuskan untuk shalat sendiri. Ia melepas pelukan Akira dengan pelan-pelan, lalu bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi yang ada di kamarnya untuk berwudhu.
🍁🍁🍁
Akira meraba samping kanannya mencari keberadaan Reina untuk dipeluk, tetapi kosong. Seketika Akira langsung membuka matanya untuk memastikan. Reina tidak ada disampingnya, ia melihat ke seluruh penjuru kamar. Tidak ada.
"Sayang?" teriak Akira dengan suara khas bangun tidurnya, berharap Reina menjawab sahutannya dari kamar mandi.
Hening. Tidak ada jawaban Reina.
Akira berlari menuju kamar mandi mencari keberadaan Reina, istrinya itu ternyata tidak ada didalam sana. Lalu ia pun bergegas turun ke bawah mencari keberadaan istrinya.
Terdengar suara peralatan dapur yang saling bersahutan dari arah dapur, Akira pun bergegas menuju arah dapur. Dilihatnya Reina sedang memasak dengan tenang.
Breg..
"Astaghfirullah Al-azim...!!" ucap Reina terkejut karena Akira tiba-tiba memeluknya dari belakang.
Akira yang melihat reaksi terkejut itu hanya terkekeh, ia menghujani pipi Reina dengan ciuman.
"Akira!!!" Reina mematikan kompor, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Akira dengan wajah kesalnya.
Akira semakin gemas dengan ekspresi istrinya, ia mencubit hidung Reina hingga merah.
"Akira..." rengek Reina.
"Iya sayang, kenapa hmm?" tanya Akira dengan muka tanpa dosanya.
Melihat Akira yang masih memakai kimononya, Reina yakin Akira belum mandi.
"Kau belum mandi kan? Sudah sana mandi dulu, aku mau membuat sarapan." ucap Reina, ia pun ingin berbalik menyelesaikan masakannya.
Baru saja Reina ingin berbalik, tetapi Akira mencegahnya. Ia melihat Reina dengan senyuman manisnya.
"Ada apa?" tanya Reina.
"Tidak, aku hanya ingin melihatmu sayang." jawab Akira enteng.
Reina mendengus sebal.
"Kalau kau melihatku terus, kapan kau mandinya? Aku juga kapan selesai memasaknya?" jelas Reina.
Akira tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. Ia sangat menyukai ekspresi istrinya jika sedang kesal atau malu, terlihat sangat menggemaskan.
"Morning kiss." ucap Akira.
Reina tersenyum malu, ia membuang muka menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
"Sayang ayo!" kini giliran Akira yang merengek.
Reina mencium pipi Akira singkat, setelah itu ia kembali lagi pada posisinya semula.
"Bukan dipipi, tapi disini." tunjuk Akira pada bibirnya, Reina menggeleng.
"Tidak ada kalau kau belum mandi." alibi Reina agar ia tidak mencium bibir Akira.
Akira hanya menghela napas, kecewa tentu saja.
"Baiklah aku akan mandi." ucap Akira pasrah, ia berjalan ke atas tangga untuk mandi.
"Jangan lupa shalat subuh ya!" teriak Reina sambil melanjutkan memasaknya.
Akira menghentikan langkahnya, ia memandang Reina yang sedang asik membuat sarapan.
"Akira?" teriak Reina lagi karena tidak mendapat jawaban dari orang yang ditanya.
"Ya" jawab Akira sambil berjalan lesu ke kamar.
Tentu saja ia tidak akan melakukannya, karena ia tidak tahu bagaimana caranya. Lebih tepatnya ia tidak tahu bacaan yang harus dibaca. Selama ia menjadi mualaf, ia hanya pernah melakukannya tidak lebih dari sepuluh kali. Pertama saat ia sesudah mengucapkan kalimat syahadat, kedua dan seterusnya saat ia berada di rumah Reina itu pun karena kak Hanif kakak Reina mengajaknya shalat berjamaah di masjid dekat rumah Reina.
Untuk tata cara berwudhu, ia lumayan bisa karena ia pernah melihat cara berwudhu kak Hanif. Untuk yang lainnya, Akira menyerah.
🍁🍁🍁
Masakan Reina selesai, ia menatanya di meja makan bersama bi yumi.
"Aku panggilkan suamiku dulu ya bi yum." ucap Reina.
Yumi hanya mengangguk sambil tersenyum. Reina pun naik ke atas menuju kamarnya memanggil Akira untuk segera sarapan.
Saat masuk ke kamarnya dan Akira, pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah Akira yang baru saja keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya. Memperlihatkan tubuh bagian atasnya tanpa sehelai benang.
"Sayang, kenapa kau berdiri disana?" tanya Akira yang menyadari Reina hanya berdiri diambang pintu.
Reina yang ketahuan, membuang muka menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Anu, itu..aku.." Reina menjadi salah tingkah.
Akira tersenyum melihat istrinya yang sedang malu, rasanya gemas sekali. Padahal semalam mereka baru saja melakukannya, tetapi istrinya itu masih saja malu jika ia hanya memakai handuk seperti ini. Terlintas dipikiran Akira untuk menggoda istrinya.
Akira mendekati Reina yang masih berdiri diambang pintu, lalu ia menutup pintu kamarnya dan menguncinya rapat-rapat.
"Kenapa kau menguncinya?" tanya Reina heran melihat Akira mengunci pintu kamar rapat-rapat.
"Agar tidak ada yang melihat kita sayang." balas Akira dengan suara berat yang menggoda, Reina dibuat merinding mendengarnya.
"Memangnya kenapa kalau mereka melihat kita? Kita tidak melakukan apapun." jawab Reina. Akira tersenyum miring sambil memandang wajah istrinya.
"Kita akan melanjutkan yang semalam." bisik Akira ditelinga Reina.
Wajah Reina otomatis langsung berubah menjadi merah.
"Bukannya baru semalam kita melakukannya." ucap Reina malu-malu, ia tidak berani melihat wajah Akira.
"Aku ingin melakukannya lagi." ucapnya seperti menahan sesuatu.
Akira langsung menggendong Reina ala bride style, Reina pun otomatis mengalungkan tangannya pada Akira. Jangan ditanya soal wajah Reina, wajahnya sudah seperti udang rebus. Ditambah jantungnya yang ingin cepat pergi dari tempatnya, reina pun menyembunyikan wajah merahnya di dada bidang milik suaminya.
Akira tersenyum miring melihat istrinya, rencananya berhasil. Ia memindahkan tubuh istrinya di kasur king sizenya, lalu membuka kerudung yang menutupi rambut cantik milik istrinya dengan hati-hati.
Pandangan mereka bertemu, dengan penuh kasih sayang Akira mengusap wajah Reina menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya.
Jantung Reina sudah bersiap-siap untuk melompat dari tempatnya.
"Aishiteru" ucap Akira pelan, tetapi masih dapat didengar oleh Reina karena jarak mereka yang hanya beberapa jengkal.
Akira mendekatkan wajahnya ke bibir Reina, Reina yang merasa ingin dicium oleh Akira memejamkan matanya.
Ketika tinggal satu senti lagi bibirnya akan mendarat di bibir istrinya, Akira menghentikan aksinya. Ia tersenyum miring melihat pemandangan didepannya. Napas istrinya bahkan dapat ia rasakan, begitupun sebaliknya.
Dengan sekejap ia berdiri tegak dan meninggalkan Reina yang masih memejamkan matanya dengan seringainya.
Merasa Akira sudah tidak ada didekatnya, Reina membuka matanya. Dilihat Akira sedang membuka pintu lemari untuk mencari baju.
"Eh.. tidak jadi?" tanyanya dengan polos.
Akira melihat istrinya yang kebingungan dari ekor matanya. Dalam hati ia tertawa melihat ekspresi itu, sangat menggemaskan.
"Kenapa sayang? Sepertinya kau ingin sekali melakukannya lagi? " ucap Akira sengaja tanpa menengok ke arah istrinya yang sudah seperti udang rebus.
"Bu..bukan begitu.." Reina menjadi gugup karena ucapan Akira.
Tanpa memberitahu istrinya, Akira melepas handuk yang ia pakai. Reina terkejut dengan apa yang dilakukan Akira, ia segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan agar tidak melihat tubuh polos Akira tanpa sehelai benang.
Akira tersenyum penuh kemenangan saat memakai pakaiannya. Setelah itu ia mendekati istrinya yang masih menutupi wajahnya.
Ia menurunkan kedua telapak tangan istrinya agar melihatnya, tetapi Reina masih memejamkan matanya.
"Sudah selesai, bukalah matamu." ucap Akira, ia tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
Reina membuka matanya, dilihat suaminya itu sedang tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Kenapa kau menutupi wajahmu, hmm?" tanya Akira pura-pura tidak tahu.
Reina baru menyadari kalau Akira sedang mengerjainya, tanpa ba bi bu ia mencubit lengan suaminya.
"Aww... sayang sakit." keluh Akira.
"Rasain!" bukannya meminta maaf Akira malah tertawa keras, ia melepaskan tawanya yang sudah ia tahan sejak tadi.
"Aww... istriku kenapa galak sekali?" ringisnya karena Reina mencubit lengannya lagi.
Reina tak habis pikir, suaminya ini benar-benar senang sekali melihat wajahnya yang sudah seperti udang rebus.
"Mas nyebelin..." ucap Reina keceplosan.
"Kau tadi bicara apa?" tanya Akira menghentikan tawanya.
"Aku tidak bicara apa-apa." ketus Reina.
"Tidak, tadi kau mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Reina pura-pura tidak tahu.
"Ingin mengatakannya sendiri, atau aku yang akan membuatmu mengatakannya." ancam Akira.
"Coba saja." tantang Reina.
Akira mulai memajukan tubuhnya ke Reina, Reina yang tahu maksud Akira segera menjauhi tubuh suaminya.
"Oke aku akan mengatakannya." ucap Reina dengan cepat, Akira kembali pada posisi duduknya.
"Mas nyebelin." jawab Reina sambil melihat Akira dengan kesal.
"Ulangi!" perintah Akira dengan wajah datar.
"Mas nyebelin." jawab Reina.
"Ulangi!"
"Mas?" tanya Reina karena merasa ucapannya ada yang salah.
"Ulangi!"
"Akira!"
"Kenapa diubah?" tanya Akira.
"Kupikir kau tidak suka aku memanggilmu seperti itu." jawab Reina takut-takut.
"Kata siapa?" tanya Akira.
"Kataku tadi." Akira tersenyum manis melihat istrinya ketakutan seperti itu, ia mengusap kepala istrinya dengan sayang.
"Aku menyukainya, makanya aku ingin kau mengulanginya." ucapnya lembut.
Reina mendongakkan wajahnya melihat suaminya.
"Tidak marah?" Reina bertanya lagi, Akira menggeleng.
Reina pun menghambur ke pelukan suaminya, Akira mengusap kepala Reina.
"Aku suka jika mas mengusap kepalaku." ucap Reina dipelukan Akira.
"Kenapa?" tanya Akira.
"Tidak tahu, intinya aku suka." jawab Reina, Akira pun mengusap kepala Reina gemas.
🍁🍁🍁