My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Hilang



Pintu sel tahanan dibuka oleh sipir yang berjaga disana, seorang pria yang berada didalam pun keluar dituntun oleh seorang sipir yang biasa membawanya itu ke sebuah ruangan yang hanya terhalang oleh dinding kaca.


Seorang pria yang memakai kacamata terlihat sedang menunggu kedatangan pria yang berada didalam sel yang tidak lain adalah Garvin.


Garvin duduk dengan tenang di kursinya sambil memandang wajah seseorang yang berada dihadapannya dengan kening berkerut. Tentu saja Garvin bingung dengan kedatangan pria itu, pasalnya pria itu seharusnya mendatangi dirinya esok hari.


"Apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Garvin to the point.


Pria yang tadinya menatap lantai ruangan itu, kini mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Garvin yang terhalang dengan dinding kaca.


"Seperti biasa." jawabnya singkat dengan senyum penuh maksud.


"Hanya seorang diri? Tidak mungkin kau menginterogasi ku tanpa wanita itu." balasnya sinis.


Pria yang berada dihadapan garvin membetulkan kacamatanya dengan senyum miringnya.


"Anata wa chΔ«sana hanashi ga sukide wanai koto ga wakarimashita. (Ternyata kau memang tidak suka basa basi.)" ucap pria itu berbicara dengan bahasa Jepang agar tidak diketahui oleh sipir yang berjaga disana.


"Watashi wa anata ga anata no tōchaku ni yotte nani o imi suru ka shitte imasu. (Aku tahu maksud kedatanganmu.)" jawab Garvin dengan tersenyum miring.


"Kau masih sama seperti dulu, pikiranmu selalu bekerja dengan cepat." puji pria itu.


"Kau juga, masih belum bisa mengalahkan otak cerdas musuhmu." ejek Garvin.


Pria di hadapannya pun menatap garvin tajam, tetapi Garvin dengan santainya bersender di kursinya dengan senyum menawan, menantikan jawaban dari lawan bicaranya. Senyuman yang tidak pernah terlihat di tempat itu mampu membuat sipir yang berjaga disana bergidik ngeri.


"Kapan?" tanya Garvin masih dengan senyumannya.


"Esok hari, tunggu saja." jawab pria itu datar.


"Aku sangat menantikannya, KENZI.." Garvin menekankan nama pria itu dengan senyum penuh arti.


Pria yang bernama Kenzi itupun tersenyum miring menanggapinya, ia memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya sambil membetulkan letak kacamatanya.


🍁🍁🍁


Reina turun dari mobil suaminya beserta Naoki yang ikut turun juga, Naoki langsung pergi meninggalkan Reina yang masih berdiri disamping mobil Akira. Semua bodyguard Akira langsung berkamuflase, ada yang masih didalam mobil mengawasi dari sana.


Reina sebenarnya agak risih dengan ini semua, ia merasa tidak bebas dengan aktivitasnya. Tetapi ia harus menuruti keinginan Akira demi keselamatannya sendiri.


"Hati-hati sayang!" ucap Akira dari kaca jendela mobil yang terbuka.


"Itu ucapan yang kesekian kali kudengar dari mulut mas." jawab Reina kesal.


Mobil Akira pun melaju meninggalkan halaman parkir tempat Reina bekerja.


Reina bergegas menuju lift yang sebentar lagi akan tertutup, dan ia pun berhasil mengejarnya. Di dalam lift hanya ada sekitar lima orang yang menaikinya. Sambil menunggu pintu lift terbuka, Reina membuka ponselnya. Keningnya mengerut melihat sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.


"Wishing you all the best in your new life?" ucap Reina bingung setelah membaca pesan yang masuk.


Ting!!


Pintu lift terbuka, semua orang yang berada didalam lift langsung keluar menuju tujuannya masing-masing.


"Reina?" panggil seseorang membuat lamunan Reina buyar.


"Bunga?" ucap Reina menghampiri teman barunya itu.


"Mengapa kau melamun disana?" tanya bunga yang tadi melihat Reina hanya berdiam saja didalam lift yang sudah terbuka.


"Oh, tidak. Kau sedang apa disini?" elak Reina.


Mungkin hanya orang iseng.


"Aku menunggumu disini." jawabnya tersenyum manis.


"Padahal kau cukup menunggu ku di ruangan saja Bunga." balas Reina dengan senyum menawan.


Mereka pun asik berbincang-bincang hingga sampai di ruangan mereka.


"Jadi, kau masih meneliti tentang psikopat itu?" tanya Bunga yang sekarang berganti topik pekerjaan.


"Ya begitulah, aku sampai kesal sekali menanyakannya." keluh Reina.


"Mengapa?"


"Entahlah, ia seperti ingin membunuhku saat itu juga." jawabnya lesu.


Bunga terkekeh mendengar jawaban Reina.


"Itu tidak mungkin, dia dijaga oleh petugas disana bukan?" ucapnya menenangkan perasaan Reina.


"Kau benar, hah.. semoga saja cepat selesai." Reina berharap.


"Reina?" panggil seseorang.


"Ya?"


"Kau dipanggil pak Arlan di ruangannya." ucap seseorang memberitahu.


"Baik, terima kasih." balas Reina.


"Aku ke sana dulu ya?" pamit Reina pada Bunga.


"Semoga saja kau diminta berhenti menyelidiki si psikopat itu." gurau Bunga.


Reina hanya tersenyum menanggapinya.


.


.


.


Tok.. tok..tok..


"Masuk!"


"Assalamu'alaikum pak?" salam Reina sopan.


"Wa'alaikumussalam, silahkan duduk." pak Arlan menyilahkan Reina duduk di kursi yang kosong.


"Baik, karena kalian berdua sudah datang saya akan langsung saja." ucap pak Arlan sambil membenarkan posisi duduknya.


"Saya minta pada kalian berdua untuk menghentikan penelitian tentang psikopat itu." jelas pak Arlan to the point.


Reina tertegun dengan ucapan CEO rumah sakit itu, seketika ia ingat ucapan Bunga tadi sebelum memasuki ruangan ini.


"Reina?" panggil pak Arlan mengibaskan tangannya didepan wajah Reina.


"Ah, iya pak?" jawabnya masih setengah sadar.


"Kau sakit?" tanya pak Arlan, Kenzi hanya menengok pada Reina.


"Tidak, saya tidak apa-apa. Tapi kenapa dihentikan pak?" tanya Reina penasaran.


"Tahanannya hilang." jawabnya sambil memandang Reina dan Kenzi bergantian.


Kenzi tersenyum tipis mendengar kabar itu. Sedangkan Reina tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, mendadak wajahnya langsung memucat. Tangannya menjadi dingin dan bergetar, ucapan Akira mengelilingi kepalanya.


Flashback On


"Kau harus hati-hati dengan Garvin Nicholas. Dia itu orang yang sangat diburu oleh pemerintah diseluruh dunia, seorang mafia kejam dan tidak akan mengampuni siapapun yang mengganggunya. Dia juga seorang pembunuh bayaran, dia tidak akan lama berada didalam penjara *karena para mafia yang berada dipihaknya akan datang menyelamatkannya."


"Mas bercanda kan?" tanya Reina memastikan.


"Aku tidak bercanda sayang, maka dari itu aku memintamu untuk berhenti bekerja. Terlalu berbahaya jika kau melanjutkan penelitian ini." ucap Akira khawatir.


Reina menyipitkan matanya menatap wajah suaminya yang khawatir.


"Dari mana mas tahu kalau Garvin itu salah satu penelitian ku, dan dari mana juga mas tahu kalau dia itu seorang mafia kejam?" tanya Reina curiga.


Akira gelagapan mencari jawaban yang tepat. Karena pada kenyataannya, Garvin adalah salah satu musuhnya yang ingin membunuh dirinya, jika ia sudah tahu kalau Reina adalah istrinya. Tidak menutup kemungkinan Reina juga akan terseret ke dalam rencananya.


"Aku, aku menyuruh seseorang untuk mencari tahu tentangnya." jawabnya gugup.


Reina masih belum puas mendengar jawaban suaminya.


"Kau harus percaya padaku." lanjut Akira meyakinkan*.


Flashback Off


"Reina sepertinya kau sakit, wajahmu pucat sekali." tegur pak Arlan khawatir.


"Oh? Sepertinya sedikit tidak enak badan." jawab Reina membenarkan ucapan atasannya.


"Kalau begitu lebih baik kau ambil cuti saja hari ini." saran pak Arlan.


"Benarkah? Apakah tidak apa?"


"Ya, kau ambillah cuti. Sepertinya kau kelelahan."


"Baik."


"Kalau begitu itu saja yang ingin saya sampaikan pada kalian, Reina kau bawa laporan penelitiannya bukan?" tanyanya lagi.


"Ada di Kenzi pak." jawab Reina lemah. Kenzi menyerahkan laporan yang selama ini mereka selidiki di tahanan xxx.


"Baik, sekarang kalian boleh keluar." balas pak Arlan sambil membuka laporan yang diberikan Kenzi.


Reina keluar terlebih dahulu dengan tergesa-gesa, pikirannya kacau membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti.


Semoga ucapan Akira tidak menjadi kenyataan.


Kenzi keluar dari ruangan CEO itu dengan santai, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Sekarang! Arah jam sembilan." ucapnya sambil melihat keberadaan Reina yang mulai menghilang di belokan.


.


.


.


Bugh..


Reina terjatuh karena tidak sengaja menabrak seorang pengunjung saat berada di lorong.


"Maaf saya tidak sengaja." ucapnya saat berdiri.


Pengunjung itu hanya melihat Reina dengan datar.


Perlahan Reina mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa yang ia tabrak. Matanya otomatis membulat melihat orang itu, suaranya tertahan di tenggorokan ketika ia ingin mengeluarkannya hanya sekedar untuk menyebutkan namanya. Tangannya menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut seketika ia tak dapat bergerak untuk sementara.


"Nice to meet you, Miss Reina." ucap orang itu dengan seringainya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Reina tajam setelah ia dapat mengendalikan tubuhnya kembali.


"Tentu saja melakukan yang seperti biasa kita lakukan, hanya saja bedanya aku yang akan mendatangi mu." jelasnya dengan mata yang siap untuk membunuh musuhnya.


"Jangan harap!" tegas Reina.


Reina segera berbalik dan berlari menuju ruangan CEO, karena tidak memungkinkan jika meminta bantuan pada seseorang. Lorong itu sepi karena lantai itu hanya ada ruangan CEO dan rapat para petinggi rumah sakit, tetapi alangkah terkejutnya ia melihat pak Arlan dan Kenzi sudah terikat dengan kondisi tak sadarkan diri dan tubuh yang penuh dengan luka. Ia pun segera berbalik tetapi sialnya ia sudah dihadang oleh beberapa orang yang memegang senjata dengan menodongkan ke arahnya.


"Kau sudah terkepung nona!" ucap salah satu dari mereka memperingati


Reina terdiam ditempatnya, ia perlahan mengangkat tangannya.


🍁🍁🍁


Hola, hola, hola... author yang imut ini kembali lagi gaesss 😁😁


Bagaimana? Masih suka dengan cerita ku ini? Kalau iya kasih dukungan untukku ya, dengan kritik dan saran agar ceritaku bisa lebih baik lagi.πŸ˜‰πŸ˜‰


Terima kasih untuk kalian yang selalu setia membaca cerita ku yang masih kelas teri ini, mungkin ada dari kalian yang merasa ceritanya membosankan. Ya author akui mungkin juga iya πŸ˜”πŸ˜” karena author juga baru pemula dan ini adalah cerita pertama ku di noveltoon.


Tapi author juga sedang berusaha untuk membuat cerita ini semenarik mungkin agar kalian tidak bosan membacanya, do'ain author ya supaya bisa menyelesaikan cerita author.πŸ˜†πŸ˜†


Salam manis dari author


πŸ’™πŸ’™πŸ’™