My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Pertemuan (2)



"Assalamu'alaikum, bunda Reina pulang."


"Wa'alaikumsalam. Baju kamu kenapa banyak darahnya begitu?" tanya Risa panik melihat baju Reina yang banyak darah.


"Tadi pas pulang ada pencopet, Reina mengejar pencopet dan berkelahi dengan pencopetnya. Jadi begini deh bunda." Reina nyengir kuda sambil memperlihatkan tangannya yang diperban dengan sapu tangan.


"Kenapa dikejar pencopetnya Reina? sudah biarkan saja dia mengambil barang kamu supaya kamu tidak terluka." Risa masih saja panik.


"Bukan Reina yang kecopetan Bun, tapi tadi wanita yang sekitar lebih tua sedikit dari Reina. Lagian tadi juga ada pria yang bantu Reina."


"Ada apa ini?" Hanif keluar dari dalam.


"Ini anak mu loh mas, habis berkelahi sama pencopet." jelas Risa.


"Reina hanya menolong seorang wanita kok yah. Coba ayah bayangin kalau Reina yang kecopetan bagaimana?" Reina menundukkan wajahnya.


"Sudah tidak apa, niat kamu sudah bagus. Tapi lain kali lebih hati-hati agar tidak terluka." Hanif tersenyum pada Reina ia bangga mempunyai anak sepertinya. Walaupun anaknya perempuan tapi tidak pernah takut pada siapapun.


"Iya yah, lain kali Reina akan lebih hati-hati." ucap Reina semangat, karena ayahnya tidak memarahinya.


"Sekarang kamu bersihkan diri kamu, sebentar lagi mereka akan datang." lanjut Hanif.


"Mereka?"


"Teman ayah, kamu tidak lupa kan?" wajah Reina kembali muram.


"Iya Reina tidak lupa kok. Reina ke atas dulu ya yah, Bun." Reina menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


Sebenarnya ia tak suka pertemuan ini, walaupun hanya perkenalan saja tetap saja ayah dan bundanya menginginkan ia menikah dengan anak teman ayahnya itu. Kalau saja Reno belum menikah, ia akan memilih Reno untuk menjadi calon suaminya. Ah.. kenapa ia masih memikirkan Reno yang jelas-jelas sudah menjadi suami orang lain? Istighfar Reina, istighfar, kamu tidak boleh memikirkan orang yang sudah menjadi milik orang lain, dosa.


Reina segera mandi dan memakai pakaiannya. Ia pun mengganti perban yang sebelumnya. Rasanya sangat perih, walau sudah diobati. Lukanya lumayan dalam dan panjang juga. Ia lupa tidak bertanya siapa nama pria yang menolongnya karena terlalu terburu-buru untuk segera sampai di rumah. Sudahlah lagipula tadi hanya kebetulan tidak mungkinkan ia akan bertemu dengan pria itu lagi?


Setelah rapih Reina segera turun ke bawah untuk membantu Risa.


"Reina bantu ya Bun." tawar Reina.


"Tidak usah sebentar lagi juga selesai. Kamu duduk manis aja sana nanti pakaian kamu berantakan kalau bantu bunda." tolak Risa. Reina hanya cemberut.


"Mas Fi kemana?"


"Sebentar lagi dia datang sama mbak Lana."


Reina pun pergi meninggalkan Risa. Ia pergi ke taman yang ada disamping rumahnya. Ini adalah tempat favoritnya, ia biasa menghabiskan waktunya disini sambil membaca novel, mengerjakan tugasnya saat masih kuliah, atau sekedar ngobrol-ngobrol ringan bersama ayah, bunda, dan Kahfi. Ia pun mulai larut dengan novel yang dibacanya.


_______________________________________________________


"Akira ayo cepat, nanti mereka akan menunggu." ucap sakura dari luar kamar Akira.


"Iya mah sebentar lagi." jawab Akira dari dalam.


Akira memandang pantulan dirinya dicermin. Sudah rapih, ia akan bertemu dengan wanita itu. Entah benar atau tidak pilihannya ini, tapi untuk pertama kalinya ia merasa sangat gugup. Ia kembali mengingat, kejadian sore tadi. wanita itu, kenapa selalu berada dikepalanya? Sepertinya ia salah dalam mengambil keputusan ini. Entahlah ia sangat bimbang sekali.


"Akira apa kau sudah selesai?"


"Iya mah sebentar lagi."


"Ini sudah keempat kalinya kamu menjawab seperti itu." Sakura muncul dibalik pintu kamar Akira.


"Mama." Akira terkejut melihat sakura sudah ada didalam kamarnya.


"Apa kamu masih ragu?" tanya sakura lembut.


"Tidak, aku tidak ragu. Hanya aku merasa tidak percaya diri dengan penampilan ku." jawab Akira berbohong.


"Kamu sudah sangat rapih, apa yang membuatmu tidak percaya diri?"


"Aku merasa wanita yang mama bilang itu sangat istimewa. Jadi aku tidak percaya diri."


"Sudah dia baik kok, kamu tidak usah seperti itu. Ayo mereka mungkin sudah lama menunggu." ajak sakura.


Hanya memerlukan waktu 30 menit untuk sampai ke rumah teman papa Akira. Mereka pun turun dan menekan bel rumah. Tak lama keluarlah seorang wanita paruh baya yang seumuran dengan sakura.


"Ya ampun sudah datang, ayo silahkan masuk." ajak wanita paruh baya itu. Akira dan keluarganya pun masuk kedalam rumah itu.


Papanya sudah asik mengobrol dengan ayah Reina. Sakura pun demikian, ia hanya mengikuti sakura.


"Sudah lama tidak bertemu ya?" sakura memulai pembicaraan.


"Iya, saya rindu sekali dengan Bu sakura."


"Akira kenalkan ini bu Risa, bundanya Reina." sakura memperkenalkan keduanya.


"Akira tante" jawab Akira.


"Oh ini ternyata yang namanya Akira. Tampan ya?" puji Risa.


"Dia ini susah sekali kalau aku ajak keluar bersama. Alasannya selalu karena pekerjaan." keluh sakura.


Akira hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mendengar ucapan sakura. Sebenarnya ia malas untuk keluar rumah, karena setiap ia pergi orang-orang selalu melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan, ia tidak suka.


"Maaf ya anakku ini orangnya kaku sekali persis seperti ayahnya. Tapi kalau sudah akrab tidak seperti itu kok."


"Mah.." ucap Akira dan papanya secara bersamaan.


"Ada apa? Mama benarkan? Lihat mereka sama kan Risa?" sakura mencari pembelaan pada Risa.


"Ah iya. Tidak apa."


"Ngomong-ngomong dimana Reina? Kok tidak kelihatan ya?" tanya sakura.


"Ada kok, Kahfi coba kamu panggilkan Reina." titah Risa pada Kahfi.


"Iya Bun." Kahfi pun pergi mencari Reina.


_______________________________________________________


Reina mendengar suara mobil masuk ke rumahnya. Apa mereka sudah sampai? Reina semakin gugup untuk menemuinya. Rasanya ia ingin hilang saja dari sini.


"Dek?"


"Mas Fi, kenapa mas?"


"Dicariin ternyata ada disini. Itu tamunya sudah datang loh dek, ayo kesana."


"Mas, boleh tidak Reina tidak kesana?" mohon Reina.


"Ya tidak boleh lah dek, kan pemeran utamanya kamu."


"Mas sepertinya Reina demam. Reina tidak bisa kesana, Reina ke kamar saja ya mas?" pinta Reina.


Kahfi hanya tertawa melihat wajah Reina yang memelas seperti itu.


"Mas Fi, kok mas malah tertawa sih? Reina serius." Kahfi memegang dahi Reina, bukannya panas tapi malah dingin.


"Kamu gugup ya dek?" tebak Kahfi.


"Tidak tahu." Reina melihat bunga-bunga yang ada di taman.


"Serahkan semuanya pada Allah SWT dek, mas yakin kamu pasti bisa." Kahfi memberi semangat pada adiknya.


"Reina tidak mau berpisah sama mas, sama ayah, bunda. Reina ingin bersama kalian selamanya." Reina memeluk Kahfi erat sekali.


"Kita tidak akan berpisah." Kahfi membalas pelukan Reina. Ia tahu sebenarnya adiknya merasa sangat berat hati untuk melakukan semua ini.


"Kita temui mereka dulu yuk." ajak Kahfi. Reina menghela napas, akhirnya ia menurut juga pada Kahfi.


"Bun ini Reina." ucap Kahfi. Reina hanya menundukkan wajahnya.


"Kamu?"


_______________________________________________________


"Kamu?" Akira terkejut, karena wanita yang dibilang Sakura ternyata adalah wanita yang ia temui tadi sore.


Wanita mengangkat wajahnya melihat Akira. Ia juga sama terkejutnya dengan Akira.


"Bagaimana dengan lukamu?" tanya Akira.


"Alhamdulillah sudah diobati."


"Kalian sudah saling kenal?" tanya sakura.


"Reina pria yang kamu bilang tadi-"


"Iya itu saya tante." jawab Akira.


"Wah kebetulan yang sangat tidak biasa ya. Mungkin kalian memang jodoh." sahut Kahfi.


Reina mencubit lengan Kahfi.


"Awhh.. sakit dek." ringis Kahfi.


Baru saja Reina berfikir ia pasti tidak akan bertemu dengan pria yang menolongnya, tapi sekarang pria itu sudah ada dihadapannya. Rencana Allah SWT memang tidak bisa diketahui.


Bagaimana dengan pekerjaan kamu Akira? tanya Hanif saat mereka sedang makan bersama.


"Sejauh ini baik om, walaupun ada masalah sedikit tapi kami bisa mengatasinya." jawab Akira.


"Alhamdulillah kalau begitu." balas Hanif.


"kalau Reina bekerja atau masih kuliah?" tanya Sakura.


"Reina sudah bekerja sebagai psikolog di rumah sakit." jawab Reina sopan.


"Wah hebat, coba Reina Tante minta tolong obati anak Tante supaya tidak kaku seperti ini."


"Mah, apaan sih?"


Semua yang ada di meja makan tertawa mendengar ucapan sakura kecuali Reina dan Akira.


Selesai makan, mereka semua mengobrol. Begitupun dengan Reina dan Akira, mereka sengaja ditinggal berdua untuk mengobrol.


Tak ada yang memulai pembicaraan. Reina merasa tidak enak karena hanya berdua saja dengan Akira.


"Apa masih terasa sakit?" tanya Akira memecahkan sunyi diantara mereka.


"Sedikit, tapi nanti akan sembuh dalam beberapa hari."


"Aku kagum padamu. Baru kali ini aku melihat wanita sepertimu."


"Terima kasih, aku hanya mengikuti naluriku."


"Apa kau mempunyai orang yang kau cintai?" pertanyaan itu meluncur saja tanpa Akira sadari.


Reina terkejut dengan pertanyaan itu, ia bingung untuk menjawab apa.


"mm.. kalau sekarang tidak ada, tapi dulu ada."


"Kalian sepasang kekasih?" entah ada apa dengan dirinya ia bertanya seperti itu pada Reina.


"Tidak, dia kakak kelasku. kami saling suka, dan berniat untuk menikah setelah aku menyelesaikan kuliahku. Tapi, sebelum aku menyelesaikan kuliahku ia melamarku tapi aku menolaknya." Reina menceritakan kisahnya dengan Reno. Ia pikir mungkin lebih baik menceritakannya.


"Mengapa kamu menolaknya? Bukankah kalian saling suka?"


"Karena aku belum siap. Masih banyak hal yang ingin aku kerjakan saat itu."


"Lalu sekarang kemana pria itu?" Akira semakin penasaran dengan Reina.


"Ia sudah menikah. Saat ia melamarku ia sedang dijodohkan, makanya ia memintaku untuk menikah dengannya agar ia bisa menolak perjodohan itu."


Tidak tahu mengapa Akira senang mendengarnya. Telepon Akira berbunyi, ada panggilan dari sahabatnya Akai.


"Tunggu sebentar aku mengangkat telepon dulu." izin Akira.


"Ya, ini aku." jawab Akira


"Kau dimana?" tanya Akai disebrang.


"Aku di Indonesia, ada apa?"


"Mengapa disaat seperti ini? Kau tahu mereka menyerang markas kita yang di barat."


"Kenapa kau harus bingung? Habisi mereka semua jangan sampai ada yang tersisa."


"Baiklah."


"Ingat jangan sampai ada yang tersisa, setelah itu hancurkan tempat mereka."


"Baik, akan kami jalankan perintahmu." sambungan terputus. Akira mengepalkan tangannya kuat sekal.


'Ternyata mereka belum menyerah, menarik sekali.' Akira tersenyum dengan smirknya.


"Maaf, urusan pekerjaan." ucap Akira setelah kembali.


"Tidak apa." balas Reina.


"Aku ingin membicarakan satu hal padamu. Tapi tidak sekarang, tiga hari lagi aku akan kembali kesini. Boleh aku meminta nomormu?"


"Untuk apa?"


"Untuk bisa menghubungimu, kalau dalam tiga hari aku belum kesini." Akira menyerahkan ponselnya sebelum Reina memberikan jawabannya.


Reina ragu untuk mengambil ponsel itu, tapi akhirnya ia mengambilnya juga dan mengetikkan nomornya di daftar kontak Akira. Ia lalu mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.


"Terima kasih. Besok aku akan kembali ke Jepang karena urusan kantor yang mendadak." jelas Akira.


"Ya tak apa."


setelah itu mereka berdua bergabung bersama dua keluarga yang sudah lama tak bertemu.


"Wah sudah kembali, kenapa cepat sekali?" tanya sakura.


"Karena sudah selesai mah." jawab Akira.


"Jangan bilang kalau kamu ingin pulang sekarang Akira." tebak sakura.


"Ya aku memang ingin mengatakannya." jawab Akira.


"Kamu ini mengapa tidak mengobrol yang agak lama dengan Reina?"


"Akira sedang ada urusan kantor yang mendadak Tante." balas Reina lembut.


"Kamu ini apa tidak bisa ditunda?"


Mereka pun tertawa melihat ibu dan anak itu.


"Yasudah kalau begitu, kami pamit dulu." ucap Daniel.


"Sering-seringlah main kesini." ucap Hanif sambil memeluk Daniel.


"Akan kuusahakan." balas Daniel.


"Padahal aku ingin mengobrol lebih lama lagi." ucap sakura pada Risa sambil berpelukan.


"Lain kali kita bisa mengobrol lagi." senyum Risa


Akira menatap Reina yang sedang tersenyum melihat orang tuanya berpelukan dengan orang tuanya juga. Terlihat sangat cantik. Pandangan mereka pun bertemu, Reina langsung menunduk wajahnya merona. Tetapi Akira masih menikmati pemandangan itu.