
Seorang pria sedang duduk di kursi kebesarannya menghadap ke arah jendela yang memperlihatkan padatnya jalanan dimalam hari.
Tok...tok...tok...
"Masuk!" ucap pria tersebut.
"Permisi tuan?" sapa seseorang yang memasuki ruangan tersebut.
"Apa laporan mu?" tanya pria itu to the point tanpa melihat seseorang yang baru saja memasuki ruangannya.
"Maaf tuan, orang suruhan kita tewas semua saat sedang menjalankan misi." jawab orang itu.
"Apa?" bentak pria yang sedang duduk, seketika ia langsung memutar kursinya dan menatap orang yang ada dihadapannya dengan tatapan menusuk.
"Tuan Akira juga langsung pulang dari Jepang saat mengetahui insiden ini tuan, kemungkinan tuan Akira sudah mempersiapkan mata-mata dan orang suruhan untuk menjaga istrinya." lanjut orang itu dengan tenang.
"Shit!!! Kau bergerak dengan cepat Akira!" umpat pria itu.
"Ada kabar yang lain juga tuan." ucap orang itu.
"Apa Alice?" tanya pria itu tidak sabar.
Orang yang disebut Alice itu tersenyum tipis sekali, bahkan orang lain tidak akan menyadarinya jika ia tersenyum.
"Nona Naomi meminta kerja sama yang menarik dengan Anda tuan." jawab Alice.
"Apa akan sangat menguntungkan?" tanyanya dengan satu alis yang terangkat.
"Menurut saya sangat menarik, kita akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar tuan."
"Jelaskan!" pinta pria itu.
"Anda bisa membicarakan dengannya langsung tuan." ucap Alice.
Alice memang tipe perempuan yang sangat suka dunia gelap, ia tidak tertarik dengan dunia perempuan. Pakaiannya saja tidak pernah memakai rok, selalu celana bahan hitam dan blazer hitam.
"Masuk!" perintah Alice kepada bodyguard yang ada di luar.
Masuklah seorang wanita yang cukup seksi, matanya sipit, hidungnya mancung, bibirnya seksi dan alis yang panjang tidak terlalu tebal. Jangan lupakan kulit putih mulusnya yang menambah nilai plus pada dirinya.
"Naomi!" ucap pria itu dengan seringainya. Ia pun segera bangkit dari kursinya menghampiri wanita yang bernama Naomi itu.
"Mengapa kau sangat lama berbicara dengan sekretaris mu? Apa kau tidak tahu kalau aku lelah menunggu diluar ruangan mu?" ucapnya dengan manja.
Alice yang mendengarnya sangat muak, kalau saja ini tidak berkaitan dengan pekerjaannya sudah dipastikan ia tidak ingin terlibat dengan wanita siluman didepannya ini.
Untungnya Alice seorang yang profesional, ia tetap bersikap biasa saja. Padahal didalam hatinya sudah mengumpat habis-habisan.
"Aku tidak tahu jika Alice membawamu ke sini." jawab pria itu memegang dagu Naomi.
"Ya, sekretaris mu memang sangat menyebalkan." ucap Naomi memutar bola matanya malas.
Kau pikir kau tidak menyebalkan wahai wanita siluman? Jika saja tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaann ku tentu saja aku tidak mau berhubungan dengan mu! -batin Alice
"Jadi apa rencana mu?" tanya pria itu yang sudah duduk di sofa.
"Kau ingat kejadian delapan tahun yang lalu?" Naomi memainkan alisnya.
"Apakah kita akan melakukan hal yang sama?" pria itu balik bertanya.
"Menurut mu?"
Pria itu hanya diam memikirkan rencana mereka.
"Kita akan sama-sama untung. Aku akan mendapatkan Akira, dan kau akan mendapatkan kekuasaannya, atau perlu kau ambil saja istrinya." bisik Naomi.
"Aku tahu kau tertarik dengan istrinya bukan?"
"Kau bisa mendapatkannya dan dijadikan koleksimu." lanjutnya.
🍁🍁🍁
Akira memarkirkan mobil di garasi, Reina sudah tidur sejak tadi. Ia ingin membangunkannya tetapi tidak tega karena Reina terlihat lelah sekali, ia pun memandangi wajah damai istrinya dan mengangkatnya ala bride style.
Seharian ini ia sangat bahagia bisa berdua dengan Reina. Jarang-jarang ia mempunyai waktu luang seperti ini. Tapi, ia juga agak kesal membawa istrinya keluar. Pasalnya istrinya itu terlalu cantik, sehingga menarik perhatian laki-laki lain. Bahkan ia sering menutup mata Reina dengan tangannya agar tidak melihat para laki-laki itu, atau ia sering membenamkan wajah Reina ke pelukannya agar mereka tidak bisa melihat wajah cantik istrinya.
Seharian ini juga ia selalu menggenggam tangan Reina menegaskan kalau Reina adalah miliknya, istrinya, cintanya, dan tidak ada satupun yang boleh mengambilnya. Akira sangat cemburu dengan itu semua, padahal Reina tidak berbuat apa-apa.
Reina sendiri tidak masalah jika Akira bersikap seperti itu, bahkan ia sangat menyukai sikap posesif Akira. Karena menurutnya jika Akira bersikap posesif, itu berarti Akira sangat mencintainya.
"Oyasuminasai mase! (selamat malam tuan!)" sapa Kazao ketika ia berpapasan dengan Akira di bawah tangga.
Akira menganggukkan kepalanya.
"Anata wa nani ka wakai masutā ga hitsuyōdesu ka? (Anda membutuhkan sesuatu tuan muda?)"
"Hai, anata wa watashi no ofisu de watashi o matteimasu. Nanika ohanashi shitai koto ga arimasu! (Ya, kau tunggu aku diruang kerjaku. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!" jawabnya dengan dingin.
"Kashikomarimashita. (Baik tuan.)"
Akira meninggalkan Kazao ke atas untuk menaruh Reina. Dengan sangat hati-hati ia membaringkan tubuhnya ke kasur king sizenya, lalu menyelimutinya.
Ia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, lalu mengganti pakaiannya dengan kimono tidur.
Akira sangat menyukai kimono daripada piyama, alasannya karena kimono lebih simple dipakai.
Setelah itu ia pergi ke ruang kerjanya menemui Kazao.
Seperti yang dikatakan Akira sebelumnya, Kazao sudah menunggunya disana. Akira duduk dibalik meja kerjanya, mereka pun memulai percakapan menggunakan bahasa Jepang.
"Kazao mulai besok kau akan ikut aku ke kantor seperti sebelumnya saat kau berada di Jepang." ucap Akira sambil memeriksa berkas yang kemarin ia siapkan.
"Baik tuan muda." jawab Kazao.
"Ini berkas-berkas yang harus kau urus, aku ingin laporannya kau berikan besok saat di kantor ku." Akira menyerahkan berkas-berkas kepada Kazao.
"Ada pertanyaan lagi yang ingin aku tanyakan padamu." ucap Akira menatap Kazao dengan tajam.
"Ya tuan muda?"
"Anata Wa Kanojo O Aishiteimasu Ka? Kazao Kun?" tanya Akira dengan menekan nama Kazao dan tatapan yang membunuh.
Kazao sedikit terkejut mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Akira, ditambah tatapan yang selalu ia berikan kepada para musuhnya. Apakah Akira ingin membunuhnya atau hanya menekannya?
"Kenapa diam Kazao?" Akira mengeluarkan smirknya.
Kazao sudah menduga ini semua akan terjadi, cepat atau lambat Akira pasti akan mengetahuinya. Ia sudah lama hidup dengan Akira, jadi ia tahu kebiasaan Akira dan apa yang akan dilakukannya.
"Aku tanya Sekai lagi, apakah kau mencintainya Kazao?"
Kazao menundukkan kepalanya, ia menghela napas untuk mengendalikan emosinya. Lalu ia menatap Akira dengan tatapan tegasnya.
"Hai, watashi wa kare ga daisukidesu!" jawab Kazao jujur tanpa ragu sedikitpun.
Hal itu sukses membuat Akira geram bukan kepalang, ia mengepalkan tangannya erat menahan emosi agar tidak langsung lepas.
"Watashi wa hontōni, hontōni kare o jibun yori mo aishiteimasu!"
🍁🍁🍁