
*Votenya dong guyssssss.....*
Hari ini Akira dan Reina akan pindah ke rumah baru mereka. Sebelum menikah, Akira sudah mempersiapkan rumah untuknya dan Reina tempati setelah menikah lengkap dengan isinya. Jadi, mereka hanya perlu membawa barang seperlunya saja.
"Yōkoso (selamat datang tuan)" ucap pria yang sekitar seumuran dengan Akira.
"Reina ini orang yang selalu aku andalkan namanya kazao." Akira memperkenalkannya pada Reina.
"Hajimemashite wakai aijin. (senang bertemu anda nyonya muda.)" Reina mengerutkan keningnya, ia tak mengerti dengan yang diucapkan pria itu.
Akira mengerti apa yang dipikirkan oleh Reina.
"Ka zao kun, wa Indoneshia-go o shiyō shite imasu. Kare wa anata ga hanashite iru koto o rikai shite imasen. (Kazao, gunakan bahasa Indonesia. Dia tidak mengerti apa yang kau bicarakan.)"
"Gomen'nasai. Indoneshia-go o tsukaimasu. (Maaf. Saya akan gunakan bahasa Indonesia tuan.)"
"Maafkan saya nyonya muda, saya akan gunakan bahasa Indonesia. Jika nyonya membutuhkan sesuatu, nyonya bisa panggil saya." Ucap Kazao dengan sopan.
"Terima kasih Kazao."
"Ayo kita masuk. Kazao tolong bawakan koper kami ke dalam." Ucap Akira.
"Baik"
Mereka masuk ke dalam rumah baru mereka. Saat mereka masuk, keluarlah seorang wanita paruh baya.
"Yōkoso" ucap wanita paruh baya tersebut dengan senyuman hangat.
"Dia Yumi, yang akan membantu mengurus keperluanmu. Yumi, wa Indoneshia-go o shiyō shite imasu. Kare wa anata ga hanashite iru koto o rikai shite imasen."
"Ah, gomenasai. Nyonya muda, jika nyonya butuh sesuatu anda bisa panggil saya." Reina hanya tersenyum menanggapinya. Reina rasa ini terlalu berlebihan, di rumahnya ia tak pernah memperkerjakan pembantu. Bukan berarti orang tuanya pelit, tetapi mereka selalu mengajarkan pada anak-anaknya untuk mandiri.
Akira dan Reina pun berkeliling di sekitar rumah. Rumah yang Akira beli sangat besar dengan dua lantai. Ini lima kali lebih besar dari rumahnya. Ada kolam renang, tempat olahraga, kolam ikan, taman yang sangat luas. Ini diluar perkiraannya.
"Apa kamu senang?" Akira memeluk Reina dari belakang membuat Reina terkejut.
"Aku senang, tapi apa ini tidak berlebihan?" Tanya Reina.
"Ini semua aku lakukan untukmu, aku hanya ingin membuatmu bahagia." Akira semakin erat memeluk Reina, ia pun mencium pipi Reina.
Reina masih belum terbiasa dengan Akira yang memeluknya saat ini. Ia merasakan wajahnya memanas karena perlakuan Akira.
"Akira aku malu." Reina melepaskan pelukan Akira.
"Kenapa malu? Kita kan suami istri." Lagi-lagi Akira mencium kening Reina.
"Yumi dan Kazao ada disini Akira." Reina menjauhkan Akira darinya.
"Mereka orang-orangku, tidak perlu khawatir." Akira kembali memeluk Reina, kali ini dagunya ia taruh dipundak Reina.
"Apa mereka dari Jepang?"
"Ya, mereka sudah lama bekerja padaku. Apalagi Kazao, awalnya ia bekerja pada papa tetapi setelah aku dewasa papa menyuruhnya untuk bekerja padaku."
"Dia seperti seumuran denganmu."
"Memang, papa mempekerjakannya saat ia berumur sepuluh tahun. Ia anak yatim-piatu, papa menemukannya di jalan saat ia sedang menangis. Papa merasa kasihan, ia pun mengambil Kazao dan menyekolahkannya. Kazao memiliki potensi yang bagus makanya papa suka dengannya." Jelas Akira.
"Papa menganggap Kazao seperti anak sendiri, tetapi Kazao merasa tidak enak. Makanya ia sendiri yang memutuskan untuk bekerja pada papa sebagai balas budi." Lanjut Akira.
Ternyata keluarga Akira sangat baik, tidak semua orang bisa melakukannya seperti itu.
"Papamu baik sekali." Puji Reina dengan tulus.
"Papa memang selalu begitu, ia selalu merasa tidak tega jika ada orang yang seperti itu. Ia selalu mendidiknya dengan baik sampai anak itu bisa mandiri."
Reina beruntung memiliki suami yang perhatian dan baik seperti Akira. Ia harus bersyukur mempunyai suami seperti itu.
"Apa kau lapar?" Tanya Reina.
"Ya, aku mulai merasakannya."
"Aku akan memasak untukmu." Reina berusaha melepaskan pelukan Akira, tetapi Akira malah mempererat pelukannya.
"Akira.." ucap Reina karena gagal melepaskan pelukan Akira.
"Ya?"
"Lepaskan pelukanmu, aku tidak bisa memasak jika kau terus memelukku." Rengek Reina.
Akira hanya tersenyum mendengar rengekan Reina. Ia mencium pipi Reina lama.
"Akira..." Wajah Reina semakin memerah.
"Baiklah" akhirnya Akira melepaskan pelukannya.
Akira melihat Reina yang pergi menjauh darinya. Ia senang sekali menggoda Reina sampai wajahnya memerah, itu sangat menggemaskan. Setelah Reina pergi, ia duduk di kursi yang menghadap kolam ikan. Entah kenapa ia selalu tak ingin jauh dari Reina. Reina membuatnya candu.
Drrtt.. drrtt... drrtt...
Ponsel Akira bergetar, Akira langsung mengangkat ponselnya yang ternyata itu panggilan dari Akai.
"Anata ga mō jūyōde wanai koto o iunara, watashi wa denwa o kirimasu. (Jika kau mengatakan hal yang tidak penting lagi aku akan menutup panggilannya)."
"Oioi... Ochitsuki na. Naze son'nani okoru no ga sukina no? (Hey, tenanglah. Mengapa kau suka sekali marah-marah?)"
"Sugu ni iu (Cepat katakan.)"
"Itsu Nihon ni ikimasu ka? (Kapan kau akan ke Jepang?)"
"Naze?"
"Hakai sa reta honbu o mi ni Nihon ni kuru to itte imashita. (Kau bilang kau akan ke Jepang untuk melihat markas yang sudah dihancurkan.)"
"Kanpekina taimingu o mitsukemasu. (Aku akan cari waktu yang tepat.)"
"Nagaku nari suginaide kudasai. Karera wa modotte kite iru to omoimasu. (Jangan lama-lama, kurasa mereka sudah kembali bergerak.)"
"Tawagoto... Karera wa hontōni nani o shitaidesu ka? (Shit.. sebenarnya apa mau mereka?)"
"Wakarimasenga, kore wa anata no bijinesu no mondaide wa nai yōdesu. (Aku tidak tahu, tapi sepertinya ini bukan soal bisnismu.)"
"Kojin-tekina? (Pribadi?)"
"Shiranai to itta dōshite anata mo wakaranai no? (Sudah kubilang aku tidak tahu. Mengapa kau tidak mengerti juga?)" Ucap Akai kesal.
"Watashi wa tada jibun ni hanashite iru dakenanoni, naze anata wa dōyō shite imasu ka? (Aku hanya bicara pada diriku sendiri, kenapa kau kesal?)"
Akira merasa jengkel karena Akai memutuskannya sepihak. Ia mengepalkan tangannya. Sebenarnya apa mau mereka? Mengapa mereka selalu mengincarnya? Ia harus selesaikan ini secepatnya sebelum Reina mengetahuinya. Ia tak ingin Reina terluka, mereka tidak boleh dianggap remeh.
🍁🍁🍁
Akhirnya Reina bisa pergi dari Akira, entah kenapa Akira jadi sering bermanja-manja dengannya. Membuat Reina sering menjadi seperti udang rebus. Reina pergi menuju dapur untuk memasak. Ia membuka kulkas, ternyata sudah ada banyak bahan makanan. Akira sudah menyiapkan semuanya.
"Nyonya" panggil Yumi.
"Yumi kau membuatku terkejut."
"Apa yang sedang nyonya lakukan?"
"Aku ingin membuat makan siang untuk Akira." Reina mengambil bahan-bahan yang akan dimasak dari kulkas.
"Harusnya nyonya memanggil saya, biar saya yang buatkan makanan untuk tuan." Yumi membantu mengambil bahan makanan dari Reina.
"Tidak, aku ingin membuatnya sendiri."
"Biar saya bantu nyonya."
"Baiklah" Reina bingung ingin memasak apa, karena ia tak tahu makanan kesukaan Akira.
"Yumi, apa kau tahu makanan kesukaan Akira?" Yumi tersenyum mendengar pertanyaan Akira.
"Tuan muda sangat suka seafood nyonya."
"Baiklah, ayo kita buat itu." Mereka berdua pun memasak sambil mengobrol-ngobrol ringan.
"Bolehkah aku memanggilmu bi yum?" Tanya Reina disela-sela obrolan.
"Kenapa nyonya? Padahal panggil nama saja juga tidak apa."
"Aku tidak enak memanggil seseorang yang lebih tua denganku hanya dengan nama saja."
"Baiklah kalau nyonya ingin seperti itu."
"Apa bibi sudah lama bekerja pada Akira?"
"Ya lumayan lama, saya bekerja saat ia masih kecil."
"Bi yum, aku heran mengapa semua orang berkata kalau Akira itu dingin dan kaku? Padahal saat ia bersamaku, ia tak bisa diam."
"Tuan muda saat diluar memang sangat dingin dan kaku, tapi kalau sudah bersama orang yang ia sayang akan sangat hangat. Ia sebenarnya sangat baik, nyonya beruntung bisa menjadi orang yang dicintainya." Jelas Yumi.
"Mengapa begitu?"
"Entahlah, dari kecil ia selalu begitu. Mungkin sifat yang menurun dari tuan besar."
Kalau dipikir-pikir, Akira dengan papanya memang sangat mirip. Wajah, sifat, cara bicaranya, seperti duplikatnya saja.
"Nyonya ini sudah matang." Ucap Yumi membuyarkan lamunan Reina.
"Aku akan memanggil Akira, bi yum tolong taruh di meja saja ya."
"Baik nyonya."
Reina pergi mencari Akira. Ia pergi ke tempat sebelumnya saat bersama Akira.
"Akira?" Panggil Reina. Ternyata sudah tidak ada disana. Ia pun mencari ke setiap tempat, ternyata tidak ada juga. Rumah sebesar ini membuatnya lelah jika harus berkeliling. Ia memutuskan untuk ke lantai dua. Ia memasuki ruangan satu persatu, ternyata Akira sedang di ruang kerjanya.
"Akira?" Tanya Reina hati-hati. Akira masih belum menyadari keberadaan Reina, ia masih fokus dengan laptopnya.
"Akira?" Kali ini Reina menyentuhnya.
"Ah, kamu membuatku terkejut."
"Makanannya sudah matang."
"Baik, ayo kita makan." ajak Akira, ia menutup laptopnya.
"Apa yang kamu masak?" Tanya Akira saat mereka turun.
"Seafood" Akira tersenyum mendengar jawaban Reina. Itu adalah makanan kesukaannya.
Mereka berdua makan dengan hening. Hanya terdengar suara sendok yang bersentuhan dengan piring. Akira memakan makanannya dengan lahap, bahkan ia sudah menambah yang kedua kalinya. Berbeda dengan Reina, Akira memakan menggunakan sumpit. Membuat Reina selalu memperhatikannya.
"Ada apa?" Akira bertanya saat ia merasa Reina memperhatikannya.
"Apa tidak sulit?" Reina mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi ada dikepalanya.
"Sulit kenapa?" Akira tidak mengerti dengan pertanyaan Reina.
"Kau makan dengan sumpit." Akira terkekeh mendengarnya.
"Aku sudah biasa makan seperti ini saat di Jepang. Jadi tidak sulit, mau coba?"
"Tidak sepertinya sulit jika aku mencobanya."
"Kamu akan suka jika sudah terbiasa. Oh ya apa ini masakanmu?"
"Ya, kenapa? Apa rasanya ada yang salah?" Reina khawatir masakannya tidak enak, tapi sejak tadi Akira memakannya dengan lahap.
"Tidak, seperti biasa masakannya selalu enak." Puji Akira.
Reina tersenyum mendengar pujian Akira.
"Coba lain kali kamu masak sabu-sabu." Reina melotot mendengarnya.
"Sabu-sabu? Itu tidak boleh dimakan Akira." Balas Reina.
"Kenapa? Itu sangat enak." Akira membayangkan saat ia sedang makan sabu-sabu.
"Tidak boleh, itu haram tidak bagus untuk kesehatan. Itu seperti narkoba." Jelas Reina. Reina tahu Akira seorang mualaf, mungkin ia belum tahu makanan yang halal dan yang haram.
Kali ini Akira tertawa mendengar penjelasan Reina. Ternyata Reina salah mengartikannya.
"Mengapa kau tertawa?" Reina bingung karena Akira tertawa.
"Mengapa kamu lucu sekali?" Akira masih tertawa sampai mengeluarkan air mata. Reina hanya cemberut melihat Akira seperti itu, apa ada yang lucu dengan ucapannya?
"Reina sabu-sabu yang kumaksud itu bukan yang seperti itu. Sabu-sabu itu makanan Jepang, berupa irisan sangat tipis daging sapi yang dicelup ke dalam panci khusus berisi air panas di atas meja makan, dan dilambai-lambaikan di dalam kuah untuk beberapa kali sebelum dimakan bersama saus (tare) mengandung wijen yang disebut gomadare atau ponzu. Di dalam panci biasanya juga dimasukkan sayur-sayuran, tahu, atau kuzukiri, jadi tidak haram." Jelas Akira setelah tawanya berhenti.
Sekarang Reina yakin wajahnya sudah memerah karena malu.
Sedangkan dibalik ruangan seseorang tersenyum melihat majikannya bisa tertawa lepas seperti itu. Ini sebuah kemajuan setelah Akira menikah dengan Reina.