My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Kemarahan Akira



"Cepat jawab ada apa dengan istriku? Jangan bilang kalau istriku pergi dan kau tidak menemukannya!" teriak Akira, ia sungguh sangat-sangat takut jika Reina benar-benar pergi meninggalkannya.


"Nyonya Reina, dia ditabrak oleh seseorang. Tetapi sepertinya Kazao, berhasil mengendalikan mobil yang ia kendarai. Masalahnya sekarang adalah Kazao membawa pergi nyonya Reina entah kemana, tapi sepertinya saya pikir itu hanya untuk mengelabui mereka yang berniat mencelakai nyonya tuan."


"Bedebah sialan.. kau cari mati ya?? Aku tidak mau tahu dapatkan kembali istriku, atau kau akan kehilangan kepalamu!!" ancam Akira.


"Ba-baik tuan, saya mengerti. Saya akan secepatnya menemukan nyonya Reina." jawab orang yang disebrang dengan gugup.


Akira menutup panggilan dengan sepihak. Sepertinya memberitahukan tentang keadaan Reina saat ini pada Akira bukanlah ide yang bagus. Orang yang baru saja menelpon Akira melihat handphonenya dengan tatapan takut.


"Seharusnya aku tidak memberitahu dia tentang kondisi nyonya Reina kalau tahu begini." ucapnya pada diri sendiri.


Ia melihat jalanan yang kosong didepannya.


"Arghh... kenapa aku bisa kehilangan jejak mereka?" orang itu memukul stir kemudi dengan keras seolah-olah stir itu adalah orang yang ingin ia hajar.


Naoki adalah orang suruhan Akira yang bertugas untuk menjaga Reina selama ia tidak ada di Indonesia. Tetapi, Naoki merasa gagal pada Akira karena tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Buktinya saja, ia bisa kehilangan jejak Reina dan Kazao.


Naoki memikirkan cara bagaimana agar ia dapat menemukan Reina dan Kazao sekarang ini.


"Sebaiknya aku jalan saja dulu, siapa tahu aku bisa menemukan jejak mereka." Naoki menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi melampiaskan kekesalannya.


🍁🍁🍁


"DAMN IT!!!!"


Prank..


Akira membanting gelas kaca dengan keras, sehingga gelas itu pecah berkeping-keping.


Akai menegakkan tubuhnya karena terkejut.


"Menjaga seorang wanita saja tidak becus." ucap Akira dengan nada tinggi. Ia mengacak-acak rambutnya kesal.


"Akira tenanglah, bagaimana bisa menyelesaikan masalah jika dirimu seperti ini." Akai berusaha menenangkan Akira.


Akira menatap Akai dengan tajam, yang ditatap tanpa sadar bergerak mundur ke belakang.


"Kita ke sana sekarang!" perintah Akira.


"Kau gila? diluar sedang ada badai dan kau ingin ke sana?" tanpa sadar Akai mengucapkannya dengan nada tinggi.


Akira mencengkram kerah baju Akai dengan kencang, membuat Akai berjinjit.


"Apa aku peduli? Istriku sedang dalam bahaya dan aku akan diam saja disini?" Ucapan Akira sudah tidak tinggi lagi, tetapi berubah menjadi dingin dengan menatap tajam manik mata cokelat Akai.


Akai berusaha mengontrol dirinya, jika api bertemu dengan api maka sampai kapan pun tidak akan pernah padam. Ia harus menjadi air agar dapat memadamkan api tersebut.


"Akira, coba kau berpikir jernih. Jika kau ke Indonesia sekarang, dalam keadaan badai seperti ini. Apa yang akan terjadi dengan helikopternya? Secanggih apapun kendaraan yang kau gunakan jika terjadi badai seperti ini tetap kau akan kesulitan menemukan jalan. Yang ada bukannya kau cepat sampai ke tujuanmu tetapi kau akan cepat sampai kepada malaikat pencabut nyawa."


Akai menghentikan ucapannya melihat apa reaksi yang Akira berikan.


"Tenanglah, percayakan kepada orang-orang yang menjaga istrimu. Yakinlah mereka akan menemukan istrimu dan menjaganya dengan baik. Berdo'alah minta keselamatan untuk istrimu, kau punya Tuhan kan?" lanjut Akai.


Ia memikirkan bagaimana cara Reina menghadapi Akira yang seperti wanita yang sedang PMS ini, kalau dipikir-pikir Akira selalu menurut dengan Reina. Bagaimana cara Reina melakukannya? Sepertinya ia harus bertanya pada Reina saat bertemu nanti.


Akira berjalan meninggalkan Akai menuju jendela ruangannya. Badai salju diluar sana memang belum berhenti, ada benarnya juga apa yang diucapkan oleh Akai. Ia akan mati sia-sia jika nekat pergi.


"Aku gagal. Aku gagal menjaga istriku sendiri." batin Akira, ia memukul tembok yang ada disamping jendela dengan keras. Darah mengucur deras dari tangan Akira akibat ia memukul keras tembok berkali-kali.


Kali ini Akai menangkap tangan Akai.


"Cukup!"


Akira melihat Akai dengan tatapan sayu, Akai agak terkejut dengan tatapan Akira padanya. Akira tidak pernah menampilkan tatapan seperti itu kepada siapapun, itu berarti Reina sangat berarti dalam hidupnya.


"Tidak ada gunanya juga kau melukai dirimu sendiri, itu tidak akan mengurangi masalah." jelas Akai.


Akira hanya menatap Akai dengan tatapan sayunya. Akai menjadi kesal sendiri dengan sahabatnya yang satu ini.


"Cobalah kau duduk dengan tenang, jangan seperti ini. Kau membuatku kesal, jadilah seperti Akira yang ku kenal." ucap Akai frustasi.


Akai menarik tangan Akira karena Akira tidak kunjung menjawab ucapannya. Akai mendudukkan Akira di sofa, Akira menurut ia tidak menolak. Akai pergi lebih dalam lagi ke ruangan Akira, Akai kembali pada Akira dengan membawa kotak P3K. Akai mengobati luka ditangan Akira akibat perbuatannya sendiri.


"Aku takut." ucap Akira tiba-tiba setelah sekian lama tidak mengeluarkan suaranya.


Akai menghentikan kegiatannya, ia melihat Akira yang memandang kosong ke depan.


"Aku takut kehilangannya, belakangan ini hidupku jadi berwarna karena Reina. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika Reina juga akan meninggalkanku seperti Ayumi. Apakah aku akan seperti sebelumnya atau lebih kacau lagi, kau tahu kan? Sejak kecil aku jarang mendapatkan kasih sayang dari orang tuaku, aku dibesarkan oleh baby sitter dan pembantu-pembantu yang ada di rumahku. Kedua orang tuaku sibuk dengan urusan mereka, setelah aku memegang perusahaan baru mereka mempunyai waktu luang." Akira menceritakan hidupnya pada Akai.


"Hehe, lucu sekali. Saat mereka sudah tidak sibuk dengan urusannya, sekarang aku yang sibuk dengan urusan ku. Aku haus kasih sayang, mereka memang memanjakanku. Tetapi hanya sebentar saja, setelah itu mereka sibuk dengan urusannya." Akira menertawakan hidupnya yang akan haus kasih sayang itu.


Akai hanyut dalam cerita Akira, ia tahu betul bagaimana kehidupan Akira sejak kecil. Karena ia sudah bersahabat dengan Akira sejak kecil.


"Aku pastikan kepala mereka akan terpisah dari tubuhnya jika gagal menemukan istriku."


"Dan ku pastikan mereka yang mengusik kehidupanku akan mendapat balasan yang tidak akan mereka duga."


Jiwa membunuh Akira sudah bangun, itu berarti apa yang diucapkannya tidak akan main-main. Tetapi, Akira memang tidak pernah main-main dengan ucapannya. Akira juga tidak pernah bercanda, jika ia mengajak Akira bercanda itu akan terasa garing. Padahal jika dengan orang lain itu akan terasa lucu.


🍁🍁🍁


Author : Akai kau masih sempat-sempatnya memikirkan itu disaat ia sedang diliputi kemarahan.😠😠😠


Akai : Author, apa kau tidak pernah memberi asupan humor padanya?πŸ€”πŸ€”


Author : Aku sudah berusaha memberikannya, tetapi dia selalu menolak😭😭


**Akai : Coba kau beritahu Reina untuk memberikannya, dia kan seorang psikolog. Dan lagi Akira tidak akan menolaknya karena dia istrinya bukan?😁😁


Author : Benar juga, oke aku akan memberitahu Reina.πŸ˜† Kau cerdas juga Akai.


Akai : Kau baru tahu? 😏😏


Author : Aku menyesal sudah mengatakan itu πŸ˜‘πŸ˜‘**