My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Sadarlah Sayang...



Ceklek..


"Tuan muda?" Naoki segera mendudukkan tubuhnya dan menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepada Akira.


Akira dan Kazao memasuki ruang rawat Naoki. Kondisi Naoki tidak jauh lebih baik dari Reina, kepalanya diperban, bahu serta kakinya juga diperban karena luka tembak yang ia dapat tadi. Naoki meringis ketika menggerakkan tangannya.


"Jangan terlalu banyak bergerak, berbaringlah agar tubuhmu cepat pulih." ucap Akira.


Naoki pun mengangguk,Nia membaringkan tubuhnya kembali, mereka pun kembali berbicara menggunakan bahasa Jepang. Jika diartikan, kira-kira begini isi pembinaan mereka.


"Aku kesini hanya ingin bertanya, bagiamana kejadian yang sebenarnya saat di rumah sakit itu?" tanya Akira dengan sorot mata tajam.


Naoki menghela napas pelan.


"Sebelumnya saya minta maaf tuan, Karena saya tidak bisa menjaga nona Reina dengan baik." ucapnya pelan sambil memejamkan matanya.


"Langsung ke intinya, aku tidak suka berbasa-basi." sahut Akira dingin, Naoki pun tertegun dengan ucapan Akira.


"Baik, awalnya saya sedang berkeliling mengamati sekitar rumah sakit tersebut. Sampai pada akhirnya saya naik ke lantai tiga tempat dimana ruangan para dokter dan staf ada disana, saya merasakan ada yang aneh dilantai tersebut karena sepanjang saya berjalan di lorong tidak ada orang yang lewat sama sekali. Oleh karena itu saya memberanikan diri memasuki salah satu ruangan, dan betapa terkejutnya saya ketika itu ruangan yang saya masuki sudah diselimuti asap tebal dan semua orang sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Saya yang menyadari jika mereka semua dibius oleh asap tersebut segera menutup kembali pintu dan bergegas mencari nona Reina." jawab Naoki.


"Ketika saya sedang mencari keberadaan nona, seseorang menembak bahu saya dari belakang. Dan akhirnya aksi tembak-menembak pun terjadi, saya melawan mereka yang berjumlah sekitar tujuh orang. Tidak ingin menghabiskan waktu untuk mereka setelah itu saya langsung naik ke lantai selanjutnya, tetapi sepertinya setiap lantai sudah dijaga oleh beberapa orang yang mengincar nona saat itu, saat saya keluar dari lift saya sudah dihadang lagi. Perkelahian dan baku tembak pun tidak bisa saya hindari, disela-sela saya melawan orang-orang itu saya melihat nona dikejauhan sedang berlari menuju tangga ia diikuti oleh pria. Dan apa kau tahu siapa pria itu tuan? " Naoki menatap Akira tajam, sedangkan Akira mendengarkan dengan serius penjelasan Naoki tanpa berniat menjawab pertanyaannya.


"Garvin Nicholas!" ucap Naoki tegas, sorot matanya menunjukkan betapa bencinya ia pada pria itu.


Akira mengepalkan tangannya mendengar nama pria yang disebutkan oleh Naoki. Kazao? Rasanya ia ingin sekali menghajar Garvin saat itu juga.


"Garvin? Beraninya kau mengusik kehidupan ku!" ucap Akira pada diri sendiri, matanya menatap keluar jendela dengan tatapan dingin.Aura membunuh pun terpancar di seluruh ruangan itu, Naoki dan Kazao pun sampai menelan ludah karena ucapan Akira. Tetapi mereka setuju jika harus membunuh musuh dari tuan mereka sejak dulu.


"Dan sepertinya nona melakukan perlawanan dengan Garvin tuan, entah bagiamana perkelahian mereka saya tidak tahu karena saya kehilangan jejak ditambah saya harus melawan anak buah Garvin yang tiada habisnya. Saya sudah menghubungi para bodyguard yang lain, tapi tidak ada jawaban dari mereka." lanjut Naoki takut-takut Akira marah padanya.


Akira kembali menatap tajam kepada Naoki.


"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" tanya Akira.


"Saya berniat mengejar mereka lewat lift, tetapi lift tidak bisa dipakai karena ada orang didalamnya. Oleh karena itu saya pun berlari menuruni tangga untuk mengejar mereka, saat itu saya melihat nona sedang memberontak karena Garvin berusaha untuk menggendongnya dan membawanya pergi dari rumah sakit. Nona berhasil, ia segera berlari tetapi Garvin tidak ingin menyerah begitu saja. Ia mengejar nona dan saat itulah saya menembak kakinya, Garvin terjatuh dan saya menghampiri nona Reina yang terkejut karena suara tembakan. Saat saya sedang berjalan ke arahnya, nona Reina berteriak karena Garvin ingin menembak saya. Tetapi itu hanya tipuan, ternyata Garvin menembak nona. Saya sangat marah saat itu, saya pun menembakkan seluruh peluru yang ada pada Garvin. Tetapi Garvin berhasil lolos dan kabur, hingga sampailah tuan datang dan nona dibawa ke rumah sakit ini." ucapnya menyelesaikan ceritanya dengan tertunduk.


Akira benar-benar marah besar, setelah mendengar cerita dari Naoki. Ia dan Kazao serta beberapa bodyguardnya langsung pergi ke tahanan xxx tempat dimana Garvin sebelumnya ditahan disana. Ia mengamuk, berbagai umpatan keluar dari mulutnya karena menganggap mereka semua tidak becus dalam menjaga seorang tahanan yang terkenal kejam. Kantor tahanan dibuat kacau akibat kemarahan Akira, para petugas dibuat bungkam dan takut dengan kehadirannya. Bahkan Kazao pun tidak sanggup menenangkan tuannya yang sedang diliputi amarah.


"Aku tidak mau tahu, jika sampai terjadi sesuatu pada istriku. Kalian semua harus bertanggung jawab!!!" tegasnya menatap tajam semua orang yang berada disana, dadanya naik turun karena tersulut emosi.


Semua orang hanya bisa menelan ludah dengan susah payah karena ucapan pengusaha muda nomor satu se-Asia itu. Mereka tidak tahu jika Reina adalah istri dari seorang pebisnis nomor satu, dan mereka pun hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan takut-takut.


Setelah itu Akira langsung keluar dari kantor itu dengan tergesa-gesa diikuti oleh Kazao dan yang lainnya, para petugas menghela napas lega karena Akira sudah pergi.


"Arrghh.... aku bisa gila kalau seperti ini!!" teriak Jendral yang berada di ruangan itu frustasi.


🍁🍁🍁


"Bagaimana keadaannya mas?" tanya Akira dengan khawatir pada Kahfi.


Saat kejadian, Akira langsung menghubungi keluarga Reina dan keluarganya yang berada di Jepang. Tentu saja mereka yang mendengar kabar itu langsung syok, bahkan Risa bunda Reina langsung pingsan begitu mendengarnya. Semua keluarga dari pihak Akira maupun Reina langsung datang ke rumah sakit.


Akira langsung lemas mendengarnya, ia sampai jatuh berlutut karena sangat khawatir dengan kondisi istrinya yang sudah seminggu tidak sadarkan diri.


Kahfi membantu Akira untuk berdiri, ia mendudukkan Akira di kursi tunggu yang berada di depan ruangan Reina. Ingin sekali rasanya Akira memasuki ruangan ICU tempat Reina sedang dirawat, tetapi ia harus lebih sabar lagi karena kedua orang tua Reina sedang berada didalam.


"Akira?" panggil seseorang yang sangat familiar dipendengaran Akira.


Akira menoleh ke sumber suara.


"Mama?"


Akira langsung berlari dan memeluk Sakura, tangisnya pecah saat berada dipelukan Sakura. Sakura sampai terkejut karena anak satu-satunya langsung memeluknya sambil menangis, Sakura sampai tidak menyangka jika anaknya bisa menangis lagi. Seingatnya terakhir kali Akira menangis saat kejadian Ayumi yang meninggal karena kebakaran itu.


"Dia terluka, mereka melukainya, mereka melukainya, mereka ingin membunuhnya, aku harus membalasnya mah, mereka semua harus mati!" ucapnya penuh kebencian, air matanya masih mengalir di wajahnya.


Sakura mengusap-usap punggung Akira agar tenang, Akira masih setia memeluk Sakura sambil menangis. Sakura cukup yakin jika Akira sangat mencintai Reina, dan itu sangat membuatnya bahagia karena Reina berhasil meluluhkan hati Akira yang dingin seperti Daniel suaminya.


"Son? Ayah mertua mu memanggil mu." ucap Daniel menepuk pundak Akira.


Akira langsung melepaskan pelukannya, ia tidak sadar jika ayah mertuanya sudah keluar dari ruangan Reina dan memanggilnya.


"Maaf yah, aku tidak tahu jika ayah dan bunda sudah keluar." ucapnya sambil menghapus air matanya.


Hanif tersenyum mendengar jawaban menantunya itu.


"Kamu sudah makan? Seharian ini kamu pasti belum makan kan?" tanya Hanif lembut, meski ia pun juga sedih karena anaknya terbaring di rumah sakit. Ayah mana yang tidak ikut merasakan sakit jika anaknya terluka seperti itu, tetapi Hanif sangat pintar mengendalikan perasaannya ia tetap terlihat tegar meski hatinya terluka.


"Iya yah, tapi aku ingin melihat Reina terlebih dahulu." ucapnya sendu, hampir saja air matanya jatuh tetapi Akira menahannya agar tidak jatuh didepan orang tua Reina.


"Masuklah." ucap Hanif menepuk bahu Akira.


Akira mengangguk, ia segera mengganti pakaiannya untuk masuk ke ruangan.


Akira membuka pintu secara perlahan, dilihatnya Reina yang terbaring lemah dengan alat-alat yang tidak ia ketahui. Akira perlahan mendekati Reina, dirinya terasa sakit melihat kondisi istrinya yang sangat ia cintai terbaring tak berdaya. Ia menghampiri Reina yang masih nyaman memejamkan matanya.


"Sayang, bangunlah ini aku Akira." ucapnya menggenggam jemari Reina yang tidak dipasang selang infus.


"Aku sangat merindukanmu." Akira mencium tangan Reina, ia memandang wajah Reina dengan sendu. Setetes air mata pun lolos dari mata sipit Akira.


"Apa kau tidak merindukanku? Mengapa kau masih memejamkan matamu?" kini Akira meletakkan tangan Reina di wajahnya.


Hingga seterusnya Akira mencurahkan isi hatinya kepada Reina, walaupun sang istri hanya memejamkan matanya.


Semua orang yang melihatnya dari kaca ruangan tidak tega melihat Akira seperti itu, mereka tahu betapa cintanya Akira pada Reina. Sakura sampai tidak bisa berhenti menangis melihat tingkah laku anaknya yang baru kali ini ia lihat, Daniel dengan sigap menenangkan istrinya walaupun ia juga miris dengan pemandangan seperti itu.


"Aku berjanji, aku akan membunuh siapapun yang telah membuatmu menjadi seperti ini. Kau harus kuat, kau harus tetap hidup menemaniku." ucapnya lirih.


Akira mengecup kening Reina lama.


🍁🍁🍁