
Krekk...
Akira mendengar suara ranting pohon yang patah.
Dor..
"Akira? Ada apa? Mengapa kau menembak ke arah pohon itu?" Tanya Akai terkejut mendengar Akira yang tiba-tiba menembakkan pistolnya kearah pohon tanpa melihat ke pohon yang ia tembak.
Akira tidak menjawab pertanyaan Akai, matanya masih fokus menatap tajam kedepan, tetapi telinganya fokus pada pohon yang berada disebelah kanannya.
Sshh.. arrgh..
Akai yang sepertinya mulai menyadari ada orang lain selain dirinya dan Akira mulai bersiaga, ia mengeluarkan pistol yang ia sembunyikan dibalik jasnya.
Matanya awas melihat ke sekitarnya, khawatir mereka mendapat serangan secara mendadak.
"Siapapun kau keluarlah dari tempat persembunyianmu." Ucap Akai lantang, matanya masih mencari-cari sosok tersebut dikegelapan gedung yang sudah hancur tersebut.
Tak ada jawaban, hanya ada suara binatang malam yang menjawab seruan Akai.
Tap tap tap
"Tiga orang." Ucap Akira masih menatap tajam ke arah gedung yang sudah hancur.
Akai bingung dengan ucapan Akira. Apa maksudnya dari tiga orang? Apa memang benar ada seseorang selain dirinya dan Akira ditempat ini? Apapun yang akan terjadi, dirinya harus siap menghadapinya. Akai semakin memperjelas pandangannya ke segala arah, walaupun yang ia lihat hanyalah kegelapan malam dan suara binatang malam yang menemani mereka.
"Tujuh orang." Akira menyebutkan lagi.
Akai sepertinya mulai paham, dengan apa yang diucapkan oleh Akira. Ia pun mulai bersiaga membelakangi Akira, menunggu lawannya keluar dari tempat persembunyiannya.
"Dua belas orang." Akai masih menunggu perintah selanjutnya yang akan diberikan Akira untuknya.
Walaupun ia sudah sering kali melakukan misi yang membahayakan ini bersama Akira, tetap saja masih ada rasa gugup dalam dirinya. Berbeda dengan Akira yang selalu terlihat santai dalam melakukan apapun, ia masih memiliki rasa takut dalam dirinya. Rasa takut akan meninggalkan orang yang amat ia sayangi baru-baru ini.
Tak lama setelah Akira menyebutkan jumlah musuh yang ia perkirakan, muncullah tiga orang pria berbadan tegap dari arah reruntuhan gedung. Mereka memakai jas lengkap dengan dasinya, tak lupa dengan sepatu pentofel yang berkilau dan kaca mata hitam. Mereka bertiga maju mendekati Akira dan Akai yang masih berdiri diposisi awal mereka.
"Akai! Ingat, hitungan ketiga kita berpencar." Perintah Akira dengan suara rendah tetapi terdengar tegas.
"Hmm" Akai berdeham sebagai jawaban.
Ketiga pria itu berhenti sekitar satu meter dengan Akira. Sejak tadi Akira tidak memalingkan pandangannya dari reruntuhan gedung tersebut.
Salah satu pria dari ketiganya tersenyum menyambut kedatangannya.
"Sudah kuduga kau pasti akan datang kembali ke tempat ini, AKIRA ANDRYLAW." ucap pria yang tersenyum, ia menekankan ucapannya pada nama Akira.
Akira tidak menjawabnya ia sedari tadi hanya menatap tajam kearah tiga pria yang ada didepannya dengan ekspresi datar.
Akai yang berada dibelakang Akira memasang pendengarannya dengan sebaik mungkin, ia masih mengawasi disekitar kegelapan reruntuhan gedung sambil menunggu perintah yang Akira berikan.
"Satu" ucap Akira dengan nada rendah tetapi masih bisa didengar oleh Akai.
"Tak kusangka kau akan cepat menyadari kedatangan kami, bahkan kau sudah merobohkan salah satu dari kami." Pria yang tersenyum itu masih saja berbicara tanpa menyadari apa yang Akira ucapkan pada Akai.
"Dua"
"Apa kau tidak punya mulut untuk menjawab setiap ucapanku?" Pria itu mulai meninggikan suaranya.
"Tiga"
Salah satu dari ketiga pria itu mengangkat tangannya.
Dor.. dor.. dor.. dor..
Dengan cepat Akai segera tiarap kesamping, begitupun dengan Akira mereka saling tiarap berlawanan arah. Mereka berdua berpencar mencari tempat bersembunyi agar tidak tertembak.
Dor.. dor.. dor..
Adu tembak pun tidak dapat dihindari lagi. Dua orang lawan dua belas, bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi sepertinya lawan mereka bertambah sekitar dua puluh orang, mereka berdua menjadi terkepung.
"Sekarang!!!" Perintah Akira di alat komunikasinya yang ia pasang di balik jas yang ia pakai. Ia sudah memperkirakan kejadian seperti ini sebelum datang, maka dari itu ia sudah mempersiapkan semuanya.
Sudah sepuluh orang yang Akira tembak dan semuanya tumbang. Akira melihat Akai yang mulai kesulitan, ia melempar kerikil padanya.
Akai menoleh karena merasa ada yang menimpuknya dengan kerikil.
"Apa kau mendengar suaraku?" Ucap Akira dialat komunikasinya.
"Aku mendengarnya." Jawab Akai.
"Sebentar lagi orang-orang ku akan datang, jadi bersabarlah."
"Bagaimana bisa? Apa sebelumnya kau sudah menghubungi mereka?" Akai bingung pasalnya mereka berdua kesini tanpa membawa apapun. Alat komunikasi ini saja Akai tidak tahu kalau Akira membawanya.
"Sudah. Karena aku tahu pasti akan seperti ini jadinya." Akai mengangguk menanggapi ucapan Akira.
Dor..dor..dor..dor..dor..
Terdengar suara tembakan yang sangat kencang. Orang-orang yang mengepung Akira dan Akai satu persatu mulai jatuh.
DUAR!!!
Tak lama suara bom yang memekakkan telinga. Tempat yang awalnya sudah hancur bertambah hancur karena ledakan bom tersebut.
Akira keluar dari tempat persembunyiannya. Ia memandangi sekitanya yang sudah terbakar akibat ledakan bom tadi.
Melihat Akira yang sudah menampakkan dirinya, Akai pun ikut keluar dari tempat persembunyiannya.
"Tuan!!" Teriak seseorang menghampiri Akira.
"Bagaimana?" Tanya Akira kepada orang yang ia hubungi.
"Sesuai yang anda perintahkan." Jawab orang itu.
"Bersihkan tempat ini seperti aku baru datang, jangan sampai meninggalkan jejak apapun." Perintah Akira.
"Baik tuan." Orang itu membungkuk kan badannya.
Akira meninggalkan orang itu menuju mobilnya, Akai mengikutinya dari belakang. Tetapi tiba-tiba seseorang datang dari arah samping ingin menusuk Akira.
"Akira awas!!!" Teriak Akai berlari ingin m ncegah orang itu agar tidak menusuk Akira.
Dor..
Orang itu tumbang sebelum Akai sempat menghalanginya. Akai melihat Akira yang dengan santainya melewati tubuh seseorang yang baru saja ia tembak, bahkan tanpa ragu sedikitpun dia menginjak mayat tersebut
"Sungguh, instingnya selalu tepat sasaran." Ucap Akai diam mematung melihat apa yang baru saja ia lihat.
"Akai mengapa kau sangat lambat?" Teriak Akira yang sudah duduk didalam mobil.
"Aku datang." Akai segera berlari menyusul Akira.
Akai memasuki mobil dan menyalakan mesin mobil, ia memakai sabuk pengaman dan mulai menjalankan mobilnya.
Akira duduk disamping Akai sambil memainkan ponselnya. Sesekali Akai melirik Akira dengan ekor matanya. Tidak ada pembicaraan diantara keduanya, mereka sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Mengapa kau selalu melirikku?" Tanya Akira yang masih fokus pada layar ponselnya.
"Tidak, aku hanya heran mengapa kau bisa menebak semuanya dengan tepat sekali."
"Bukankah sudah kubilang aku sudah tahu akan begini jadinya, maka dari itu aku sudah mempersiapkan semuanya." Jawab Akira dengan santai, ia masih tidak berpaling pada layar ponselnya.
"Dan mengapa tadi kau menangis? Itu sungguh membuatku benar-benar khawatir." Ucap Akai masih mengingat bagaimana tadi Akira menangis histeris.
"Diamlah, kau fokus saja menyetir." Akira mengalihkan pembicaraan.
Akai melirik Akira yang masih fokus pada layar ponselnya. Apa Akira masih mencintai Ayumi? Lalu mengapa ia menikahi wanita lain? Dan satu hal yang membuatnya bingung, mengapa disaat genting seperti itu Akira masih bisa terlihat sangat santai?
"Ini belum seberapa Akai, baru permulaan. Setelah ini kau akan banyak menjumpai kejadian yang lebih menarik lagi." Akira memasukkan ponselnya kedalam sakunya dan memandang Akai dengan senyum smirknya.
🍁🍁🍁
I'm come back.
Maaf ya pembacaku yang setia, seharusnya aku up cerita ini hari Senin kemarin. Tapi karena ada banyak sekali kesibukan aku jadi baru up sekarang. Jangan pernah bosan untuk membaca ceritaku ya, silahkan berikan kritik dan saran kalian agar aku bisa menulis cerita ini dengan lebih baik lagi.
Tinggalkan jejak kalian di ceritaku ya 😄😄