
Tap tap tap...
Suara langkah kaki memenuhi seluruh ruangan, menciptakan irama lagu yang sangat menyeramkan bagi siapapun yang mendengarnya.
Mendengar langkah kaki yang mendekat kearahnya, pria itu mendongakkan kepalanya. Ia tersenyum miring melihat siapa yang datang.
"Akira Andrylaw"
Akira menghentikan langkah kakinya tepat dihadapan pria itu, sehingga mereka saling berhadapan. Pria yang duduk terikat memasang wajah tenang dengan senyum miringnya dan Akira yang memasang wajah datarnya. Setelah beberapa detik mereka memasang ekspresi seperti itu, Akira mengeluarkan senyum smirk dibibirnya.
"S U K I C H I H A R A D A" Akira mengeja nama pria yang berada dihadapannya.
Sedangkan Akai? Jangan lupakan keberadaannya kawan, ia hanya berdiri di sudut ruangan yang gelap memberikan ruang untuk menuntaskan hasrat sahabatnya yang menggebu-gebu.
Dengan tubuh yang ia sandarkan ke tembok, kedua tangan yang terlipat didepan dada dan salah satu kakinya yang terangkat ke belakang menyentuh tembok. Sepertinya Akai sangat menantikan pertunjukan menarik ini hingga selesai.
"Lama tak jumpa, bagaimana kabar keluarga dan perusahaan mu?" Tanya Akira dengan senyum smirk yang masih setia di bibirnya dan salah satu alisnya yang terangkat keatas.
"He he he, tanpa ku jawab pun kau pasti sudah tahu jawabannya bukan?" Jawab sukichi terkekeh.
"Ku pikir kau sudah mati karena pembantaian itu." Ucap Akira dengan entengnya, pandangannya ia alihkan pada langit-langit ruang bawah tanah dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya seperti sedang memikirkan sesuatu.
Sukichi menatap tajam Akira senyum miringnya sudah tidak ada lagi diwajahnya, diganti dengan wajah datar dengan rahangnya yang mengeras dan tangannya yang mengepal dibalik ikatan. Menandakan bahwa ia sedang menahan emosi yang meluap-luap akibat ucapan Akira.
"Ku pastikan kau akan menyesal dan membayar semuanya atas apa yang kau lakukan padaku." Ucap sukichi dingin.
Akira melirik sukichi dengan ekor matanya, melihat perubahan wajahnya membuat Akira tersenyum tipis tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya selain dirinya.
"Ha Ha Ha.." tawa Akira lepas dari mulutnya dan mengisi seluruh ruangan tersebut. Siapapun yang mendengarnya akan begidik ketakutan, kecuali dua orang yang berada di ruangan itu bersama Akira.
Akira mendekatkan wajahnya ke telinga sukichi.
"Ku pastikan aku tidak akan menyesal karena apa yang aku lakukan padamu." Bisik Akira dengan suara dingin, membuat suichi yang mendengarnya menjadi begidik ngeri.
Akira kembali berdiri tegak dengan ekspresi wajah yang datar tapi justru itu malah menambah ketampanannya.
"Itulah akibatnya jika ada yang mengusik area ku." Ucap Akira dingin sampai auranya pun mulai terasa di ruangan tersebut.
Sukichi menatap Akira dengan tatapan bencinya.
"Kau akan membayarnya Akira, akan ada orang yang akan membalas mu karena telah melakukan ini padaku." Teriak sukichi dengan emosi, amarahnya sudah mencapai puncaknya.
Ia ingat bagaimana pembantaian itu, membuat keluarganya tewas semua. Ia melihat istri dan anak-anaknya mati dengan mata kepalanya sendiri.
"Kita lihat saja nanti." Ucap Akira sambil menggoreskan pisau lipatnya di wajah sukichi, entah sejak kapan Akira mengeluarkan benda tajam itu.
Sukichi menahan sekuat mungkin rasa sakit yang diberikan Akira.
"Pertunjukan dimulai." Ucap Akai pada dirinya sendiri, ia tersenyum miring melihat Akira yang mulai menggoreskan pisau lipatnya di wajah suichi.
"Kenapa? Kenapa kau tidak berteriak? Padahal aku sangat menantikan teriakan indah yang keluar dari bibirmu ini." Akira kembali menggoreskan pisau lipatnya di bibir sukichi sehingga mengeluarkan darah segar.
Akira tersenyum melihat wajah sukichi yang mulai mengeluarkan cairan merah yang berbau amis itu, ia menghirupnya dalam-dalam sangat menyukai aroma itu.
Sedangkan sukichi? Ia masih tetap tidak mengeluarkan jeritan kesakitan, ia hanya mengeluarkannya didalam hati. Ia tahu betul siapa orang yang sedang dihadapannya, seorang psikopat berdarah dingin. Yang mana jika ia berteriak, maka itu akan membuat Akira kesenangan dan sangat menikmati apa yang dilakukannya.
"Masih belum mengeluarkan suara?" Akira membelai wajah sukichi yang sudah bermandikan darah, mencium bau darah itu di hidungnya dan menikmati setiap aroma yang memasuki Indra penciumannya.
"Untuk apa aku mengeluarkan teriakan indah ku padamu?" Sukichi memandang remeh pada Akira, walaupun ia tahu kalau nyawanya pasti akan melayang hari ini ia tidak peduli.
Akira yang sedang menikmati aroma darah ditangannya, langsung menoleh pada suichi. Ia tersenyum smirk mendengarnya.
"Untuk apa? Tentu saja untuk ku nikmati." Bisik Akira di telinga sukichi, tangannya sibuk menusuk punggung kekar suichi dengan sangat perlahan.
Sukichi memejamkan matanya menahan rasa sakit tusukan agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Kalau boleh ia memilih, lebih baik ia mati dengan ditembak oleh pistol daripada harus disiksa perlahan seperti ini. Tetapi ia tidak boleh membuat Akira senang, ia harus kuat demi anak dan istrinya.
Melihat sukichi yang memejamkan matanya menahan rasa sakit, Akira tersenyum senang. Ia semakin gencar melakukan aksinya.
"Jangan ditahan sukichi, lepaskan saja agar dirimu lebih tenang." Akira masih memancing sukichi.
Sukichi tetap teguh dengan pendiriannya, ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Darah segar keluar dari mulutnya, ia memuntahkan darah yang ada di mulutnya.
"Wow, itu pasti sangat sakit sekali." Ucap Akai disudut ruangan ia mengernyitkan wajahnya merasa ngilu, ia lebih memilih menyalakan rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam.
Lantai ruangan itu sudah kotor dengan darah sukichi yang berserakan, tubuhnya pun sudah sangat lemas akibat kekurangan banyak darah. Banyak sekali sayatan dan tusukan ditubuhnya.
Akira tersenyum puas melihat buah karyanya, melihat korbannya kesakitan dan menderita merupakan kesenangan tersendiri bagi Akira.
"Kalimat terakhir yang ingin kau ucapkan." Ucap Akira dingin, ia sudah mengeluarkan pistolnya.
Sukichi yang semula menunduk berusaha untuk mengangkat kepalanya menatap wajah Akira yang sedang memainkan pistolnya.
"K-kau ak-an mem-bayar-nya a-kir-"
Dor
Belum sempat suichi menyelesaikan ucapannya, Akira sudah menembakkan timah panasnya di kepala suichi.
"Aku bosan mendengar kalimat itu." Ucap Akira melihat sinis mayat yang sudah tergeletak dilantai.
Merasa pertunjukkannya sudah selesai, Akai menghampiri Akira yang masih setia berdiri dihadapan mayat suichi.
"Urus mayat ini Akai." Ucap Akira tanpa melihat ke arah Akai.
Akai mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu, setelah selesai ia menaruh kembali ponselnya di saku celananya.
"Butuh pendinginan?" Tawar Akai.
Akira melirik Akai, ia tersenyum tipis.
"Kurasa itu ide bagus." Jawab Akira menerima tawaran Akai.
Akira dan Akai keluar dari ruangan itu setelah mencuci tangannya terlebih dahulu. Ingat, Akira adalah orang yang resikan, ia sangat menyukai kerapihan dan kebersihan. Walaupun tadi ia memakai sarung tangan, tetap saja ia akan mencuci tangannya karena menurutnya tangannya telah kotor. Saat sudah sampai di pintu terakhir, pintu yang menghubungkan mereka langsung ke halaman rumah Akai. Beberapa bodyguard sudah berbaris menunggu kedatangan mereka.
"Urus mayat didalam!" Perintah Akai pada bodyguardnya.
"Baik." Para bodyguard itu langsung masuk ke dalam melaksanakan perintah bosnya.
Setelah itu Akira dan Akai memasuki mobilnya masing-masing menuju tempat yang biasa mereka kunjungi.
🍁🍁🍁