My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Puncak



Hari ini hari libur, setelah melaksanakan sarapan Akira ingin mengajak Reina jalan-jalan. Ia sudah siap dengan pakaian santai plus hoodie, membuat ia terlihat lebih tampan dan sedikit lebih muda. Akira mengambil kunci mobilnya di nakas lalu turun ke bawah menyusul istrinya.


"Kita ingin pergi kemana?" tanya Reina saat memasuki mobil.


"Aku tidak tahu, aku ikut kau saja sayang." jawab Akira menyalakan mesin mobil.


Akira memang tidak tahu ingin kemana, intinya ia ingin jalan-jalan ke luar rumah bersama Reina.


"Eh... jadi mas tidak tahu kita ingin kemana?" tanya Reina tak percaya.


Akira mengangguk sambil tersenyum manis. Ia memang bukan tipe laki-laki diluar sana yang bisa bersikap romantis terhadap pasangannya, ia hanya mengerti bagaimana caranya membasmi para musuhnya dan mengurus bisnis perusahaannya.


Reina menghela napas, lalu ia berpikir tempat mana yang bagus untuk dikunjungi.


"Bagaimana kalau kita ke puncak?" usul Reina dengan wajah berbinar.


Reina sudah lama tidak ke puncak, terakhir kali dua tahun yang bersama kakaknya, Kahfi.


Akira menaikkan satu alisnya mendengar usul Reina.


"Kau yakin? Tidak ingin ke pantai saja?" Akira menawarkan tempat lain, pasalnya puncak itu pasti banyak jurang dan tebing. Belum lagi jalan yang licin, ia khawatir Reina akan jatuh, terlalu berbahaya.


Reina menggeleng, ia tetap ingin ke puncak. Reina memang sangat menyukai pegunungan seperti itu, baginya pemandangan di pegunungan dan hawa sejuk disana lebih ia sukai daripada harus berjemur di bawah teriknya sinar matahari. Belum lagi ia harus melihat banyaknya wanita yang memakai pakaian kurang bahan, ia juga khawatir Akira akan melihat itu semua. Ia tidak suka suaminya melihat wanita lain selain dirinya, daripada mengambil resiko seperti itu lebih baik menghindarinya bukan?


"Katanya di pantai itu romantis untuk sepasang kekasih." jawab Akira polos.


Reina mengerutkan dahinya.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Reina heran.


"Emm... tidak tahu, aku hanya mendengar dari orang saja." jawabnya memamerkan deretan gigi yang putih dan rapih sambil menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalau mas ingin ke pantai, kenapa tadi bertanya padaku ingin ke mana?" ucap Reina kesal.


"Oke, oke, kita ke puncak." balas Akira cepat, ia mana tega menolak permintaan istrinya.


Senyum Reina kembali merekah karena permintaannya dikabulkan. Sudah dijelaskan diawal bukan? Kalau Reina itu sifatnya manja dan memang selalu dimanja oleh keluarganya. Walaupun diluar ia kelihatan cuek dan masa bodo, tetapi beda lagi jika sudah bersama orang-orang yang membuatnya nyaman.


Untuk sampai ke puncak, mereka membutuhkan waktu sekitar dua jam lebih. Reina paling malas jika berada lama-lama didalam mobil, sehingga membuat ia mulai mengantuk.


Akira melirik istrinya yang sudah masuk ke dalam alam mimpi. Sungguh ia sangat gemas dengan istrinya, bisa-bisanya ia ditinggal menyetir sendirian.


Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan.


"Sayang, ayo bangun. Kita sudah sampai." ucap Akira lembut sambil menepuk pelan pipi Reina.


Reina mengerjapakan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina. Ia pun sedikit menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya yang agak kaku.


"Kita sudah sampai?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur.


"Ya, ayo kita turun!" ajak Akira yang sudah mulai turun dari mobil, begitu pun dengan Reina.


Jika kalian berpikir Akira akan membukakan pintu untuk Reina, berarti kalian sudah salah besar. Mereka membuka pintu masing-masing tanpa ada adegan romantis seperti yang ada di novel-novel. Karena ingat, Akira bukanlah tipe laki-laki yang bisa romantis terhadap pasangannya. Kasihan kau Reina, sabar ya suamimu ini memang sangat kaku.


"Wahhh... indah sekali!!" ucap Reina kagum dengan pemandangan yang ada didepan matanya, seketika kantuk yang ia rasakan meluap entah kemana.


Akira tersenyum tipis melihat tingkah Reina.


"Ayo mas kita ke sana!" ajak Reina, ia sudah menarik tangan Akira seperti anak kecil yang sudah tidak sabar ingin menaiki wahana permainan.


Akira? Ia menurut saja, baginya senyum dan kebahagiaan Reina adalah prioritasnya.


Reina mengeluarkan handphonenya, ia mulai mengambil gambar pemandangan yang ada disana. Ya, Reina memang sangat hobi memotret pemandangan. Ia lebih menyukai itu daripada memotret dirinya sendiri, bahkan di handphonenya sendiri tidak ada foto dirinya.


Karena asik mengambil gambar, Reina jadi melupakan keberadaan Akira. Akira tentu saja kesal karena merasa terabaikan.


"Ehem.."


Reina masih asik dengan kegiatannya sehingga tidak mendengar dehaman Akira.


Merasa tidak dihiraukan, Akira pun menghampirinya.


Cekrek...


Akira menaikkan satu alisnya.


"Sini! Mas disini biar aku ambil foto mas." titah Reina.


Dan lagi-lagi Akira hanya menurut, ia tidak bergaya hanya melihat datar ke kamera.


Setelah merasa sudah puas mengambil gambar, Reina pun mendekati Akira.


"Harusnya tadi aku membawa kamera." gerutu Reina saat melihat hasil gambar.


Akira mengambil handphone Reina dan...


Cekrek...


Ia mengambil foto dirinya dan Reina. Di foto itu terlihat dirinya yang sedang tersenyum dan Reina yang kaget karena ia menarik tubuh Reina ke pelukannya.


"Mas ih... bilang dulu kek kalau mau foto." ucap Reina kesal.


Akira menyengir tanpa rasa bersalah.


"Tidak apa, kamu lucu kalau begitu." ucapnya sambil melihat foto itu.


"Ayo lagi!' ajak Akira.


Akhirnya mereka berfoto bersama. Banyak orang yang melihatnya dengan iri karena kemesraan mereka berdua.


Kruyukk...


"Kau lapar sayang?" tanya Akira.


Reina hanya mengangguk malu karena suara perutnya merusak momen mereka.


"Ayo kita cari makan!" Akira mengacak-acak kerudung Reina.


"Mas..." Reina menjauhkan tangan Akira dari kepalanya.


"Katanya kau suka jika aku mengusap kepalamu seperti tadi?"


"Itu kalau di rumah, jika diluar tidak." ketus Reina.


"Kenapa hm?"


"Lihat mas, jadi berantakan kerudung ku." dengus Reina.


Akira terkekeh mendengarnya, ia pun menarik hidung Reina gemas.


"Ini juga aku tidak suka!"


"Tapi aku suka." balas Akira dengan senyum manisnya.


"Mas ihh... jangan senyum." perintah Reina lagi-lagi, bahkan ia sudah menutup mulut Akira dengan tangannya.


Akira hanya menaikkan satu alisnya seperti bertanya.


"Nanti kalau ada perempuan lain yang lihat terus dia suka sama mas gimana?." ucapnya polos.


Akira malah tertawa mendengarnya. Istrinya ini benar-benar ya selalu bisa membuat ia semakin mencintainya.


"Kamu cemburu?" tanya Akira menggoda.


"Iya aku cemburu!" jawabnya jujur.


Cup


"Mas....." Reina sudah menyembunyikan wajahnya dibahu Akira karena malu.


🍁🍁🍁