
"Shit..." umpat Akai dengan suara lirih saat sedang memasukkan amunisi kedalam pistolnya.
DOR!!! DOR!!! DOR!!!
Suara baku tembak terdengar memekakkan di telinga, Akai masih bersembunyi dibalik mobil yang sudah meledak. Ia memposisikan dirinya agar tidak terkena serangan dari musuh.
Dilain tempat, Akira sedang berlari mencari jalan keluar di sebuah gedung yang mirip dengan labirin bawah tanah. Sudah berkali-kali ia mencari jalan keluar, tetapi ia belum juga menemukannya. Akira merasa kalau dirinya hanya berputar-putar dijalan yang ia lewati. Akira dan Akai tadi tidak sengaja berpisah karena mereka berdua terkejut dengan suara tembakan yang tiba-tiba.
Hah...hah...hah...
Akira terengah-engah, ia memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu.
Tap...tap...tap...
Derap langkah kaki beberapa orang terdengar oleh Akira, ia merapatkan tubuhnya kesamping dinding agar tidak terlihat oleh seseorang yang mulai datang. Karena penerangan dilorong itu tidak terlalu terang, Akira tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang-orang itu.
Beruntungnya orang-orang itu tidak melihat keberadaan Akira, mereka berbelok ke arah kanan. Akira mengira mereka semua adalah laki-laki karena postur tubuhnya yang tegap dan cara berjalan yang seperti seorang pria, ditambah dengan persenjataan yang lengkap.
Karena ingin mencari jalan keluar dari lorong yang menurutnya tiada ujungnya ini, diam-diam Akira mengikuti mereka walaupun resiko jika ia ketahuan akan besar.
"A-05, bagaimana kondisi disana?" tanya salah seorang yang seperti memimpin kelompok kecil itu di earphonenya.
"..."
"Teruskan serangan, sampai amunisi yang ia bawa habis."
Akira tidak tahu apa jawaban orang yang berbicara di earphone, karena jaraknya yang jauh. Tapi ia yakin yang dimaksud mereka semua adalah Akai, karena sebelumnya ia tidak sengaja berpisah dengan Akai.
Beberapa jam sebelum mereka berpisah
"Akira? Sepertinya ada yang mengikuti kita dibelakang." ucap Akai melirik kaca spion.
Akira hanya diam melirik spion tengah mobilnya, ia menambahkan kecepatan untuk memastikan mobil yang dibelakangnya mengikuti mobilnya atau tidak.
Brrrmmm....
"Ada yang ingin bermain-main dengan ku." Akira tersenyum miring.
"Sore o toritaidesu ka? (ingin menerimanya?)" tanya Akai menaik turunkan alisnya.
"Hai." jawab Akira.
Akira membelokkan mobilnya di tikungan, memasuki jalan kecil yang hanya memuat satu mobil, sisi kanan dan kirinya hanyalah pepohonan dan semak belukar. Mobil hitam dibelakangnya mengikuti mobil Akira, Akira menekan tombol dekat kemudinya dan seketika...
Duar!!!
Mobil hitam yang mengikutinya meledak hebat karena misil yang Akira luncurkan dari mobil hasil dari modifikasi buatannya dan Akai.
"Woah... Aku tidak menyangka jika ledakannya bisa sedahsyat itu!!" seru Akai terkejut.
"Yoi chīmuwāku. (Kerja sama yang bagus.)" Akira tersenyum miring.
"Sumūzu ni suberu yō ni henkō dekimasu ne? misairu o hassha suru to, kono kuruma wa sukoshi yuremasu. (kita bisa memodifikasinya agar luncurannya lebih halus, kau tahu? Mobil ini sedikit terguncang saat kau meluncurkan misilnya. )" usul Akai.
"Jikai wa henkō dekimasu. ( Lain waktu kita bisa memodifikasinya.)" balas Akira.
"Hai."
DOR.. DOR... DOR... DOR...
Rentetan peluru menyerang mobil Akira, untungnya mobil modifikasi milik Akira sudah didesain anti peluru.
"Mereka menyusul? Jadi tidak hanya satu mobil?" Akai menengok ke belakang, ternyata ada dua mobil yang menembaki mereka.
"Kau urus mereka Akai, aku akan mengemudikan mobil ini." sahut Akira.
"It's okay!"
Akai pun mulai beraksi dengan tombol-tombol yang berada didepannya, Akira menstabilkan kecepatan mobil yang ia kemudikan agar Akai dapat menembak dengan tepat sasaran.
Salah satu mobil yang paling belakang menyamakan posisi dengan mobil Akira, mobil itu menabrakkan mobilnya ke mobil Akira hingga membuat mobil Akira oleng dan hampir jatuh dari pembatas jalan.
Mobil itu menurunkan kacanya dan seseorang dari dalam melempar sesuatu ke mobil Akira, benda itu menempel di mobil dan berkedip-kedip. Setelah itu mobil yang melempar benda itu berhenti membiarkan mobil Akira melaju dengan cepat.
"Akai granat!!!" teriak Akira.
Otomatis Akira dan Akai membuka pintu mobil dan melompat keluar.
*****Duar*****!!!
Mobil modifikasi Akira meledak hebat, api besar melahap mobil tersebut dengan asap hitam yang tebal.
"Argh.."
Akira mencoba bangkit setelah jatuh terguling-guling dijalan aspal karena aksii nekatnya melompat dari dalam mobil dengan kecepatan tinggi. Akira merasa sangat sakit dibagian kepalanya. Sebelumnya ia terbentur aspal hingga berdarah, sebisa mungkin ia berusaha untuk tidak pingsan.
Akira mencari keberadaan Akai, tetapi pandangannya mulai buram. Seseorang mendatanginya.
"Akai?"
Bugh!!!
Akira jatuh pingsan.
Akai berjalan menuju jalan aspal kembali, saat ia melompat Akai beruntung karena ia terjatuh di semak-semak dan hanya mendapatkan luka goresan. Ia harus mencari Akira.
"Cepat bawa dia!!" teriak seseorang.
Akai melihat Akira dimasukkan ke mobil dalam keadaan tidak sadarkan diri, ia segera berlari menghampirinya.
DOR.. DOR
Akai menembak salah satu orang yang membawa Akira, orang yang satunya sedang merangkul Akira terkejut melihat temannya jatuh tertembak.
"Urus orang itu!! Kau cepat masukkan dia kedalam mobil dan bawa pergi dari sini secepat mungkin!!" perintah salah seorang dari mereka.
Orang yang merangkul menuruti ucapannya, ia segera memasukkan Akira ke dalam mobil dan membawanya pergi.
"Oh shit... AKIRA??" teriak Akai.
Akai ditinggalkan Akira yang dibawa entah kemana.
Mobil yang membawa Akira pergi me uji gedung yang terlihat sudah tidak terpakai, dua orang membawa Akira kedalam gedung.
Sampai saat mereka sedang naik keatas tangga, Akira terbangun. Ia terkejut ketika mendapati dirinya sudah tidak berada dijalanan, ia melihat siapa yang membopongnya. Itu bukan Akai, refleks Akira langsung menendang perut orang yang berada disebelah kirinya.
"Argh.."
Orang itu melepaskan pegangannya pada Akira, Akira juga menendang orang yang masih memegangnya. Tidak ingin kehilangan kesempatan, Akira memutar kepala orang itu hingga berbunyi.
Kreek..
Orang itu mati seketika karena lehernya patah.
"Kau?" ucap yang satunya lagi terkejut karena temannya sudah tidak bernyawa.
Akira mengangkat kerah orang itu dan membenturkannya ke dinding yang berada disamping kanannya, Akira membenturkan kepala orang itu berkali-kali hingga kepalanya pecah dan mati. Setelah itu ia melempar mayatnya begitu saja, beruntung hanya ada dua orang saja yang membawanya. Ia meraba seluruh tubuhnya pistol yang ia bawa sudah tidak ada.
Ia mendekati kedua mayat yang telah ia bunuh dan melucuti senjata mereka. Setelah itu ia pergi dari tempat itu mencari jalan keluar dari gedung ini, hingga sampailah ia disini yang sedari tadi hanya berputar-putar ditempat yang sama.
Grup kecil itu berhenti berjalan, Akira bersembunyi dibalik dinding agar tidak ketahuan. Ia mengintip dari balik dinding dan melihat salah satu dari mereka menyentuh dinding dan dinding itupun terbuka, ternyata dinding itu hanya kamuflase. Yang sebenarnya itu adalah pintu menuju ruang rahasia, mereka semua pun memasuki ruangan tersebut.
Ceklek
Akira menghentikan gerakannya, ia melirik ke samping kirinya, sebuah pistol telah menempel di kepalanya siap untuk ditembak kapanpun.
"Kau membuatku lelah Akira, aku sudah mencari mu kemana pun ternyata kau ada disini." Ucap seseorang yang menodongkan pistol kepada Akira.
Bukannya ketakutan Akira malah mengeluarkan smirknya.
"Aku tahu kau ada dibalik ini semua GARVIN!" Akira menekankan nama orang itu.
"Well, tentu saja ini semua rencanaku. Bagaimana kabar istrimu? Ku dengar dia dirawat di rumah sakit?" Garvin memanas-manasi Akira.
"Buruk, keadaannya sangat memperihatinkan. Aku sendiri sampai tidak tega melihatnya." Jawab Akira dengan santai, sama sekali tidak terpancing oleh Garvin.
Garvin tersenyum miring melihat ekspresi Akira yang seperti tidak terjadi apa-apa, padahal keadaan istrinya sedang tidak baik-baik saja dan nyawanya sedang dalam bahaya. Ia sangat menyukai ini.
"Kalau begitu aku titip salam pada istrimu, sampaikan salamku padanya bahwa aku merindukan gigitannya yang sangat manis." ucap Garvin dengan wajah tengilnya.
"Ya nanti akan kusampaikan begitu aku bertemu dengannya." Jawab Akira masih dengan wajah santainya, ia sama sekali tidak terpancing dengan ucapan Garvin.
"Coba saja jika kau berhasil lolos dari sini!"
Bugh!! Bugh!! Bugh!!
Garvin menghajar Akira dengan kuat sehingga Akira terhuyung ke belakang.
"Wow!! Kau semakin kuat Garvin." Puji Akira sambil menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Mengapa kau tidak melawan ku?" tanya Garvin curiga.
"Mengapa? Tentu saja karena aku belum siap menghadapi seranganmu yang tiba-tiba, ditambah sepertinya kau berlatih keras selama ini." jawab Akira enteng.
"Tentu saja aku berlatih keras hingga bisa sekuat ini agar aku dapat mengalahkan mu, tapi sepertinya aku salah memperkirakan. Kau menjadi lemah, bahkan kau bahkan tidak dapat menghentikan serangan ku. Aku belum mengeluarkan seluruh kemampuanku Akira." Jelas Garvin.
"Ah, kau benar. Sepertinya aku terlalu bersantai-santai dan menganggap diriku yang paling hebat, sehingga aku tidak perlu bersusah payah melatih kemampuan ku." balas Akira dengan wajah penuh penyesalan.
"Jika saja aku tahu kau akan sekuat ini, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu ku untuk bersantai-santai. Aku akan giat berlatih agar aku menjadi orang yang tak terkalahkan dan bisa membalaskan dendam ku pada orang yang telah membuat Ayumi mati." Akira menundukkan wajahnya.
"Menyesal?" tanya Garvin yang mendekati Akira.
"Sangat, jika saja aku menjadi kuat dari dulu. Ayumi tidak akan mati, ia pasti masih disini menemaniku." ujar Akira.
Bugh!!
Satu pukulan kembali mendarat diwajah Akira, tapi ia sama sekali tidak melawan.
Bugh!! Bugh!! Bugh!! Bugh!! Bugh!!
Hah...hah...hah..
Garvin benar-benar menghajar Akira sampai Akira hampir pingsan.
"Apa yang kau rencanakan hah? Mengapa kau tidak melawanku? Mengapa kau tidak membalasku?" Teriak Garvin, dadanya naik turun karena sikap Akira.
Akira berusaha mencoba untuk duduk, ia menyeka setiap darah yang mengalir diwajahnya dan mengusapnya ke seluruh wajahnya, hingga wajahnya menjadi berwarna merah karena darahnya sendiri.
"Reina pasti akan memarahiku karena darah sialan ini." gumam Akira ketika melihat darah ditangannya dengan tatapan kosong.
DOR!!
"AKIRA DAMN YOU!!!" umpat Garvin, kalau bukan karena Kevin memintanya untuk membawa Akira hidup-hidup, sudah dari tadi pelurunya bersarang di kepala Akira.
Akira memegang lengannya yang sengaja ditembak oleh Garvin, ia menatap tajam Garvin yang juga sedang menatapnya.
"Kau merusak pakaianku!" ucap Akira dingin.
Garvin merasa heran dengan Akira, harusnya Akira marah karena ia menghajarnya bukannya marah karena ia membuat pakaian yang dikenakan Akira menjadi berlubang.
"Ini adalah pakaian yang Reina sukai ketika aku memakainya." lanjut Akira masih dengan tatapan tajamnya.
Garvin menaikkan alisnya, lalu apa hubungannya?
Dengan menahan sakit ditubuhnya karena habis dihajar oleh Garvin, Akira berusaha bangkit sambil memegang lengannya yang tertembak. Ia mendekati Garvin yang masih kebingungan, tetapi Garvin sudah siaga jika sewaktu-waktu Akira akan menyerangnya.
"Jika kau ingin membawaku, bawa saja aku. Jika kau ingin menyiksaku, siksa saja aku. Dan jika kau ingin membunuhku, bunuh saja aku. Aku tidak peduli pada diriku sendiri, tapi satu hal yang tidak boleh kau lakukan." Akira menggantung kalimatnya menatap tajam Garvin yang menodongkan pistolnya pada Akira.
"Jangan pernah kau melukai istriku sekecil apapun, atau kau akan mati ditanganku dengan cara yang tidak akan pernah kau duga!" jelas Akira dengan wajah dinginnya, tidak ada lagi wajah santainya yang sebelumnya ia perlihatkan.
"Hahaha.... hahaha..." tawa Garvin terdengar menggelegar, Akira hanya menatap Garvin tanpa ekspresi.
"Kau ingin membunuhku? Membunuh diriku ini?" tunjuk Garvin pada dirinya sendiri.
"Jangan bermimpi Akira, aku tidak akan kalah denganmu lagi kali ini. Aku sudah mempunyai rencana yang benar-benar matang, jadi jangan harap kau bisa membunuhku!" Garvin memandang remeh Akira.
"Ya, aku juga melihat kau bertambah kuat untuk sekarang ini. Maka dari itu, tidak ada gunanya jika aku akan melawanmu hanya membuang-buang tenagaku saja. Aku juga tidak membawa senjata, sudah pasti hasilnya akan seperti yang kau harapkan. Lebih baik kusimpan saja tenagaku ini untuk menhobati luka-luka pukulanmu." balas Akira acuh tak acuh sambil mengangkat bahunya.
Garvin mulai merasa Akira kembali gila, entah apa yang direncanakan olehnya tetapi ia yakin Akira sudah merencanakan sesuatu. Sebelumnya saat ia melawan Akira, Akira tidak sesantai ini. Ia selalu serius jika menghadapi musuhnya, cekatan dan cepat, Akira juga tidak akan banyak bicara pada musuhnya, ia sangat cerdik hingga setiap orang yang berhadapan dengannya tidak akan bisa menang. Akira tidak akan membiarkan anggota tubuhnya terluka walaupun itu hanya goresan kecil.
Menurut perkiraannya jika Akira sudah menikah, ia akan lebih ganas dari sebelumnya. Karena ada orang yang ia cintai, dan harusnya ia tidak ingin membuat orang itu khawatir. Tetapi sepertinya Akira malah menjadi santai, lebih terkesan tidak peduli. Ia harus ekstra hati-hati, ia tidak akan dikalahkan dengan mudah oleh Akira seperti waktu itu.
"Kau menunggu apalagi Garvin? Cepat bawa aku pada orang yang menyuruhmu! Bukankah itu yang kau mau? Jadi kau bisa segera menyelesaikan tugasmu dan bersenang-senang dengan wanitamu." ujar Akira.
Garvin memicingkan matanya pada Akira.
"Kau tahu ada orang lain yang menyuruhku menangkapmu?" selidik Garvin.
Akira tersenyum tipis, sampai Garvin tidak tahu jika Akira tersenyum.
"Kau tidak membunuhku, sudah pasti ada orang lain yang memintamu untuk menangkapku. Jika kau ingin membunuhku, sejak tadi kau akan menembakkan pelurumu dikepalaku bukan dilenganku. Apakah tebakanku benar Garvin?" tanya Akira dengan wajah polosnya.
"Jangan berikan wajah seperti itu padaku, kau membuatku jijik dengan wajahmu itu."
Garvin menampar wajah Akira, tapi Akira hanya diam saja menerima apa yang Garvin lakukan padanya.
Garvin memborgol kedua tangan Akira agar Akira tidak melawannya dengan tiba-tiba, Akira tak banyak komentar. Ia menurut saja, bahkan ia sempat tersenyum manis pada Garvin. Garvin bergidik ngeri ketika Akira tersenyum padanya, ia lebih suka melihat wajah datar nan dingin dan wajah bengis milik Akira ketika berhadapan dengan musuhnya daripada melihat senyumannya itu. Maka dari itu, Garvin melakban mulut Akira agar Akira tidak dapat tersenyum lagi padanya.
Ditempat Akai yang sedang mati-matian berusaha agar tetap tidak tertangkap. Akai mulai terdesak karena amunisinya mulai menipis, sedangkan ia juga tidak tahu dimana keberadaan Akira.
"Oh tidak, bagaimana ini? Mereka terlalu banyak, aku tidak bisa mengalahkannya sendirian." gumamnya ketika bersembunyi, ia juga mulai kelelahan karena harus menyerang musuh seorang diri.
Disaat Akai sedang mencari cara, ia menemukan ide yang menurutnya kemungkinan sangat kecil untuk bebas dari tempat ini. Tetapi tidak ada salahnya jika mencoba terlebih dahulu.
Perlahan Akai menampakkan dirinya sambil mengangkat kedua tangannya tanda ia menyerah.
"Stop!! I'm surrender!!"
Beberapa orang maju mendekati Akai dengan senjata yang masih bersiaga, mereka memeriksa tubuh Akai apakah Akai masih menyimpan senjata lain atau tidak.
Setelah dipastikan Akai tidak memiliki senjata lagi, mereka mengikat tangan Akai dibelakang. Dan membawanya menuju gedung yang sudah tidak terpakai.
Akai memperhatikan setiap inci bagian dari dalam gedung, satu hal pun tidak ia lewati. Mulai dari desain, letak benda, penerangan, jumlah ruangan, ia simpan di otak cerdasnya untuk mengingat semua itu.
Hingga sampailah ia diujung lorong tersebut dimana sudah tidak ada lagi jalan, hanya ada sebuah dinding atau bisa disebut jalan buntu menurut pemikiran Akai. Salah satu dari mereka meletakkan telapak tangannya didinding tersebut, dan dinding itupun terbelah menjadi dua. Akai cukup terkejut dengan kamuflase dinding tersebut, tidak terlihat pemindai sidik jari atau apapun. Mereka kemudian masuk lebih dalam lagi dan bertemu pintu yang terbuat dari besi yang cukup kuat, orang yang tadi melakukan pemindai sidik jari mendekatkan wajahnya ke sebuah kotak disamping pintu tersebut untuk melakukan pemindai wajah, mata dan suara. Keamanan disini cukup ketat, batin Akai. Akai berpikir, tidak sembarang orang bisa memasuki tempat ini.
Setelah melakukan pemindaian, pintu itu terbuka. Mereka memasuki pintu ruangan yang lebih dalam, semua yang ada didalam ruangan terekam semua oleh penglihatan Akai. Hingga matanya membulat sempurna ketika penglihatannya tertuju pada seseorang yang duduk terikat disebuah kursi kayu dengan mulut yang dilakban.
🍁🍁🍁