My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Pelampiasan



*Votenya jangan lupa ya :)*


Setelah makan malam Akira pergi ke sebuah bar yang berada di sudut kota. Sesuai niatnya tadi sore, ia akan menuntaskan hasratnya yang kembali hadir.


Akira memilih tempat dipojok ruangan yang cahayanya agak redup. Ia tidak meminum alkohol, ia sudah berjanji pada Reina untuk tidak meminum minuman itu lagi. Sebagai gantinya ia menyalakan sebatang rokok dan mulai menghisapnya.


Akira melihat orang-orang sekitarnya yang sedang berjoget dengan suara musik yang keras. Ia mulai mencari mangsanya.


Tak lama datang seorang wanita dengan pakaian seksi mendekati Akira. Akira tersenyum miring melihat kedatangan wanita itu.


"Butuh teman tampan?" Wanita itu mulai menggoda Akira dengan membelai dagu Akira yang bersih tanpa jambang.


"Berhentilah menggodaku, aku sudah memiliki istri." Akira menyingkirkan tangan wanita itu.


"Wah, aku tidak menyangka pria tampan sepertimu sudah memiliki istri. Apa istrimu kurang memuaskanmu sehingga kau datang kesini?" Wanita itu masih menggoda Akira, membuat hasrat Akira semakin membesar.


Akira masih diam saja, ia memainkan perannya dengan sebaik mungkin agar wanita itu masuk kedalam perangkapnya. Hanya mengeluarkan senyum smirknya menanggapi wanita yang terus menggodanya itu.


"Ayolah temaniku untuk tidur, aku akan memberikannya secara percuma untukmu." Tambah wanita itu, ia mulai meraba bagian tubuh yang tertutup milik Akira. Wanita itu sangat tertarik dengan tubuh atletis Akira.


Akira berdiri dan mendorong tubuh wanita itu ke samping tembok. Membuat wanita itu terpojok dengan posisi Akira yang menghimpitnya.


"Kau yang memaksa ku, maka aku akan memuaskannya untukmu." Ucap Akira dengan senyum smirknya.


"Aku mempunyai ruangan khusus untukmu." Wanita itu melingkarkan tangannya ke leher Akira.


🍁🍁🍁


Reina menunggu Akira sehabis makan malam. Tetapi orang yang ia tunggu tak kunjung datang juga, akhirnya ia memutuskan untuk turun dari kamarnya mencari Akira.


"Akira?" Panggil Reina disetiap ruangan, tapi tak ada jawaban.


"Nyonya? Sedang apa?" Tanya Yumi yang mendengar Reina memanggil Akira.


"Apa bisa yum melihat Akira?"


Yumi bingung harus menjawab apa, pasalnya Akira tadi keluar dengan memakai baju santai. Pasti ia akan memulai aksinya di tempat lain. Yumi memang sudah tahu kelakuan majikannya yang aneh itu, bukan hanya Yumi tapi seluruh orang-orang yang dipekerjakan Akira pun sudah tahu. Mereka semua disuruh tutup mulut oleh Akira agar keluarganya tidak ada yang tahu, kalau mereka memberitahu pasti akan ada balasannya. Ia pun tak bisa menghentikan kelakuan majikannya, ia hanya berharap Akira berubah setelah menikah dengan Reina.


"BI Yum?" Panggil Reina membuyarkan lamunan Yumi.


"Ah, itu tadi tuan keluar. Sepertinya ingin ke rumah temannya." Yumi memberikan alasan.


"Ohh. Apa biasanya akan lama?"


"Ya, tuan kalau sudah ke rumah temannya akan lama." Jawab Yuni berbohong.


"Aku akan menunggunya disini." Reina duduk di sofa ruang tv.


"Apa anda butuh sesuatu nyonya?"


"Baiklah" walaupun Reina sudah berkata seperti itu, tetap saja Yumi tidak tidur. Ia mengawasi Reina dari dapur.


Malam sudah menunjukkan pukul 23.45, tetapi Akira belum pulang juga. Reina mulai gelisah, entahlah semenjak pindah rumah. Reina tidak ingin jauh dari Akira. Sebenarnya ia sudah mengantuk, tetapi ia ingin menunggu sampai Akira pulang.


Yumi yang sedari tadi mengawasi Reina, merasa kasihan kepadanya. Ia tahu Akira pasti akan pulang dini hari. Yumi pun memutuskan untuk menghampiri Reina.


"Nyonya, sebaiknya nyonya istirahat dulu. Saya yakin Yuan masih akan lama untuk kembali." Saran Yumi.


"Baiklah aku akan tidur lebih dulu." Ucap Reina yang tidak curiga sama sekali.


Yumi lega karena Reina tidak curiga sama sekali. Tapi ia juga kasihan pada Reina karena sifat Akira yang aneh itu. Semoga saja Akira bisa berubah setelah ini.


🍁🍁🍁


Wanita itu membawa Akira ke ruangan yang dimaksud. Ruangan itu kedap suara, sehingga suara dari dalam pun tidak akan terdengar dari luar.


Wanita itu mulai menanggalkan pakaiannya, Akira hanya duduk di ranjang melihat wanita itu membuka seluruh pakaiannya tanpa sehelai kain pun. Akira mengeluarkan senyum smirknya, ia tidak melepaskan pakaiannya sedikit pun.


Wanita itu mulai mendekati Akira yang berada di ranjang. Membelainya, dan mencoba melepas kancing baju Akira. Tetapi Akira menahannya.


"Ayolah, aku sudah melepas semua pakaian ku. Sekarang giliran mu." Wanita itu benar-benar sudah tergoda oleh Akira.


"Akan kulakukan sendiri." Akira menidurkan wanita itu, sehingga posisinya berada diatasnya wanita itu dengan menahan tubuhnya pada tangan. Membuat wanita itu kesenangan, karena tidak sabaran wanita itu membuka semua kancing baju Akira. Akira membiarkannya, sepertinya wanita itu sudah masuk jebakan Akira. Dan terlihatlah bentuk tubuh Akira yang sixpack.


Wanita itu tersenyum melihatnya, ia merangkul leher Akira mencoba mendekatkan tubuh Akira dengannya. Tapi Akira tak bergeming, ia hanya menatap wanita itu dengan senyum smirknya. Wanita itu memejamkan matanya menunggu Akira melepaskan semua pakaiannya.


Tapi tanpa diduga, Akira mengeluarkan pisau lipat yang ia simpan di saku celananya dan menusuknya tepat di jantung wanita tersebut. Wanita itu membuka matanya terkejut dengan apa yang dilakukan Akira. Ia teriak sekuat tenaga merasakan sakit terkena tusukan.


Akira bangun dari ranjang itu, ia menegakkan tubuhnya. Melihat wanita ******* yang sedang berteriak kesakitan. Sayangnya ruangan itu kedap suara, sehingga tak ada yang mendengar teriakan itu.


"A... a..apa yang...ka..u...lak...kukan...??" Wanita itu terbata-bata mengucapkannya.


"Kau pikir aku akan menyentuh tubuhmu itu?" Akira tersenyum smirk melihat mangsanya yang kesakitan.


"Melihatnya saja aku sudah muak, tidak ada gairahku untuk tubuhmu itu." Akira kembali menusuk tubuh wanita itu dibagian perut, lalu ia mengeluarkan bagian dalam organ wanita itu. Mensayat-sayat, dan memotong-motong bagian tersebut menjadi kecil. Bau darah tersebar ke seluruh ruangan itu, bau yang sangat ia sukai. Ia melihat hasil karyanya, tersenyum puas karena hasratnya sudah terpenuhi.


Akira membersihkan diri di kamar mandi yang ada dikamar tersebut, membersihkan sebersih dan sewangi mungkin. Tak lupa ia membersihkan pisau lipat yang ia gunakan. Akira sangat teliti saat melakukan aksinya, sebisa mungkin agar tidak ada darah yang menempel pada pakaiannya. Setelah itu ia keluar seolah seperti tidak ada kejadian apa-apa. Ia mengendarai mobilnya menuju rumahnya.


Pukul 02.50 Akira sampai di rumahnya. Ia memasuki rumahnya dan naik keatas kamarnya.


Dilihatnya Reina sedang tertidur di sofa kamarnya. Sepertinya ia sedang menunggu Akira pulang. Ia mengangkat tubuh Reina dan menidurkannya di kasur, menyelimutinya dengan pelan agar Reina tidak terbangun.


Akira mengganti pakaiannya dengan piyama. Ia mulai naik ke kasur dan berbaring di samping Reina. Memandang wajah Reina adalah hal yang disukainya. Ia sangat betah memandangnya lama-lama. Ia tersenyum melihat wajah pulas Reina saat tidur. Ia pun mencium bibir Reina pelan dan mulai memejamkan matanya.