
*Votenya guyssssss......*
Suara adzan subuh membangunkan Reina dari tidur nyenyaknya. Matanya belum terbuka sepenuhnya, ia merasakan ada sesuatu yang memeluknya. Saat ia membuka matanya betapa terkejutnya saat ia melihat Akira tidur di sampingnya sambil memeluknya, begitupun dengan dirinya yang memeluk Akira.
"Aaaaaa........ bunda....." teriak Reina sambil berlari kearah pintu, sayangnya pintunya terkunci.
Akira langsung bangun begitu mendengar teriakan Reina, ia mendekat kearah Reina yang berusaha membuka pintu kamar.
"Jangan mendekat..!!! Kenapa kau ada di kamarku?" cegah Reina yang masih didepan pintu. Ia masih syok dengan keberadaan Akira di kamarnya.
Akira mengerutkan keningnya ia tak mengerti apa yang dibicarakan oleh Reina.
"Reina kamu kenapa?" Akira tidak mengindahkan ucapannya, ia tetap mendekati Reina.
"Aku bilang jangan mendekat."
"Hey... kamu ini bicara apa? Bukankah aku ini suamimu hmm..?" ucap Akira lembut, ia mengusap kepala Reina.
Reina melihat sekeliling kamar yang didominasi dengan bunga mawar. Ia yang sepertinya mulai sadar menjadi malu sendiri. Ia lupa kalau kemarin ia sudah menikah dengan Akira.
"Selamat pagi sayang."
Cup
Akira mencium lembut kening Reina.
Reina merasakan wajahnya memanas, pasti sekarang ia sudah seperti udang rebus.
"A..aku akan mandi dulu." ucap Reina yang buru-buru pergi ke kamar mandi.
Akira tersenyum melihat tingkah Reina.
'Kenapa aku bisa lupa kalau dia suamiku? Reina... ada apa dengan dirimu??? Kau sangat bodoh.' ucap Reina saat di dalam kamar mandi.
Setelah lima belas menit Reina menyelesaikan aktivitas mandinya, ia keluar dari dalam kamar mandi. Reina tidak menemukan Akira di kamarnya, ia pergi ke balkon kamarnya tetapi di sana juga tidak ada. Akhirnya ia memutuskan untuk shalat subuh sendiri.
ceklek...
Akira memasuki kamar Reina, ia melihat Reina baru saja menyelesaikan shalat subuh. Reina yang menyadari kehadiran Akira menoleh kearahnya.
"Aku membuatkan susu untukmu." Akira meletakkan susu dan kopi yang ia buat di nakas.
"Terima kasih. Aku sudah menyiapkan air panas untukmu." Reina tidak berani melihat wajah Akira karena kejadian tadi.
"Aku akan mandi." Akira pergi meninggalkan Reina.
"Baiklah Reina ini adalah hari pertamamu menjadi istrinya. Jadi, jangan mengecewakan dia." Reina bermonolog sendiri.
🍁🍁🍁
Akira memasuki bathub yang sudah terisi air, ia memejamkan matanya menikmati air hangat yang merendam dirinya.
Ia membayangkan kejadian tadi yang membuatnya harus bangun lebih awal. Betapa lucunya wajah Reina saat ia ingin membuka pintu kamar, padahal semalam Reina sendiri yang mengunci pintu kamar dan meletakkan kuncinya di nakas.
"Mengapa kamu menggemaskan sekali?" Akira tersenyum sendiri membayangkan wajah Reina.
Akira selesai dengan aktivitas mandinya dan keluar dengan memakai kimononya. Ia melihat pakaiannya diatas kasur, sepertinya Reina yang menyiapkannya. Ia pun memakainya dan keluar untuk turun.
"Kau sudah selesai?" tanya Reina yang melihat Akira sudah berada di belakangnya.
"Ya, baru saja. Apa yang kamu masak?"
"Nasi goreng, duduklah sebentar lagi akan selesai."
Akira menurut ia pun duduk di kursi ruang makan menunggu Reina menyelesaikan masakannya. Ia hanya memperhatikan Reina yang memasak bersama ibu mertuanya.
"Wah kau sudah disini saja." ucap Kahfi yang baru keluar dari kamarnya.
Akira tersenyum sebagai jawaban.
"Dimana ayah mas?" tanya Akira.
"Beliau sedang membaca koran di ruang tv." mereka berdua pun mengobrol hingga masakan selesai dihidangkan di meja.
"Mas Fi, mana Mbak Rina?" tanya Reina yang sedang menata piring di meja.
"Ia sedang memberi susu pada Hafidz." hafidz adalah anak pertama Kahfi dan Rina.
"Coba tolong mas panggilkan, sarapannya sudah siap."
"Oke, sekalian aja mas panggil ayah juga ya." Kahfi pergi memanggil Rina dan Hanif.
Semua anggota keluarga sudah berkumpul untuk sarapan, sudah menjadi tradisi dalam keluarga Reina seorang istri mengambilkan makanan untuk suami.
"Biar aku saja." ucap Reina saat Akira ingin mengambil nasi goreng, ia pun menyerahkan piringnya pada Reina.
Mereka pun makan dengan tenang hingga selesai makan.
"Jadi apa rencana kalian setelah ini?" Hanif memulai pembicaraan setelah sarapan selesai.
Mendengar pertanyaan Hanif, Reina melihat ke arah Akira. Akira mengisyaratkan biar dia saja yang menjelaskan.
"Rencananya tiga hari lagi kami akan pindah ke rumah baru." Jawab Akira.
"Apa sebaiknya tidak tinggal disini saja?" Tanya Risa.
"Kami tidak ingin merepotkan ayah dan bunda, kami ingin mandiri." Jelas Akira.
"Itu bagus, tinggal terpisah dengan orang tua bisa membuat kalian tambah dewasa. Ayah setuju dengan rencana kalian." Tambah Hanif.
"Kalian akan tinggal di Jepang?" Sekarang Kahfi yang bertanya.
"Tidak mas, kami akan tinggal di Indonesia. Reina tidak ingin tinggal di sana, tapi sesekali kami akan main ke sana."
Dan akhirnya pagi itu diisi dengan obrolan keluarga.
🍁🍁🍁
Sekarang Reina sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Akira. Seperti saat ini, saat ia terbangun disisinya ada Akira yang masih tertidur. Reina menatap wajah Akira, kadang ia berfikir apa benar ini suaminya? Mengapa ia sangat tampan?
"Aku tahu aku sangat tampan, kamu tidak perlu menatapku seperti itu. Aku tidak akan pergi kemana pun." Ucap akira dengan mata terpejam. Reina terkejut dengan ucapan Akira.
"Kau sudah bangun?" Tanya Reina mengalihkan pembicaraan.
Akira pun bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk.
"Tentu saja sudah, karena bagiku kamu itu seperti magnet. Saat kamu bangun, aku pun ikut terbangun." Reina yang wajahnya sudah merah bertambah lagi menjadi merah seperti tomat.
Akira sangat suka jika wajah Reina sudah merona, itu sangat menggemaskan sekali.
Cup
Kebiasaan baru Akira saat bangun pagi yaitu, mengucapkan selamat pagi dan mencium kening Reina.
"Aku akan mandi dulu." Akira meninggalkan Reina yang sudah seperti udang rebus. Ia tersenyum puas telah menggoda Reina.
🍁🍁🍁
"Aku ingin jalan-jalan bersamamu." Ucap Akira.
"Jalan-jalan?"
"Ya, aku ingin melihat-lihat daerah sekitar sini."
"Kita belum sarapan, mau sarapan dulu?" Tawar Reina.
"Tidak usah, kita sarapan dijalan saja."
"Baiklah, aku akan bersiap."
Setelah bersiap, mereka berdua pun turun kebawah.
"Kalian mau kemana?" Tanya Risa yang sedang memasak di dapur bersama Rina.
"Ingin berkeliling." Jawab Akira.
"Tidak sarapan dulu?" Tanya Hanif.
"Kita akan sarapan dijalan, lagi pula besok kita akan pindah. Jadi kita ingin menikmati disini dulu sebelum pindah."
"Baiklah, hati-hati dijalan ya."
"Baik." Mereka pun pergi untuk mengelilingi komplek perumahan.
Reina dan Akira terlihat serasi saat berjalan berdua. Sepanjang perjalanan Akira tidak melepaskan genggaman tangannya pada Reina. Membuat setiap mata yang memandang menjadi iri karena mereka.
"Apa kau tidak malu?" Tanya Reina memecah keheningan diantara mereka.
"Kenapa?"
"Sejak kita keluar rumah sampai sekarang kau tidak melepaskan tanganmu."
"Apa kamu tidak suka?"
"Bukan begitu, hanya saja itu membuat orang lain memandangi kita lebih lama." Akira tersenyum melihat Reina.
"Aku sengaja tidak melepaskan genggaman tanganku padamu. Karena biar semua tahu kalau kamu adalah milikku, aku tidak ingin ada laki-laki lain yang mendekatimu kecuali aku."
Cup
Akira memberikan ciuman pada kening Reina.
"Akira ini tempat umum." Ucap Reina malu-malu.
"Tidak apa. Kamu ingin sarapan?"
"Ya"
"Kamu tahu tempatnya?"
"Kita harus keluar komplek dulu. Disana ada banyak kios, kita bisa sarapan disana."
"Apa disana ada sushi?" Jujur saja Akira sangat merindukan makanan Jepang.
Reina mengerutkan keningnya. Apa ia tidak salah dengar? Sushi?
"Akira itu hanya kios, tentu saja tidak ada. Jika kau ingin sushi itu hanya ada di restoran Jepang. Kalau kau mau kita bisa pulang, aku akan membuatkannya untukmu."
"Tidak usah kita makan disana saja. Jadi kita akan makan apa?"
"Nasi uduk di sana enak."
"Nasi uduk? Apa itu?" Akira tidak pernah mendengar nama makanan itu di Jepang.
Reina menghela nafasnya, sepertinya ia harus sabar menghadapi Akira. Karena Akira yang terbiasa dengan makanan dan budaya di negaranya sendiri.
"Nasi uduk itu nasi yang dimasak dengan campuran santan, dan dimakan dengan lauk pauk."
Akira hanya menganggukkan kepalanya.
"Dan jangan tanya disana ada sumpit atau tidak. Jelas jawabannya tidak ada." Tambah Reina.
Pertanyaan itu sempat terfikir oleh Akira.
Mereka pun sampai di kios yang dimaksud. Berhubung ini hari libur, jadi banyak orang yang datang. Ada yang habis olahraga atau hanya jalan-jalan seperti Reina dan Akira.
"Kau tunggu disini saja, aku akan pesan makanannya dulu." Ucap Reina lalu pergi untuk memesan makanan.
Akira duduk menunggu Reina yang memesan makanan. Akira tidak pernah berfikir tempatnya akan seperti ini, ramai sekali. Terbiasa dengan suasana yang tenang, membuat Akira agak tidak nyaman berada disana. Tak lama Reina kembali dan duduk bersamanya..
"Apa kau tidak suka disini?" Tanya Reina melihat Akira yang agak kikuk dengan suasana disini.
"Asalkan bersamamu aku tidak masalah." Jawab Akira dengan senyumannya.
Pesanan mereka pun datang. Nasi uduk dengan bawang goreng, tempe orek, bihun, telur balado, ayam goreng dan kerupuk, ditambah teh hangat untuk minumannya.
Reina sudah mulai memakannya, sedangkan Akira masih harus menatap makanannya terlebih dahulu. 'Ini sangat berbeda dengan sushi, Akira kau harus makan demi istrimu.' batin Akira.
Akhirnya ia pun mulai memakannya, saat suapan pertama masuk kedalam mulut Akira. Enak, itu yang ia rasakan. Ia pun menambah suapannya lagi, dan begitulah seterusnya hingga makanan yang ada di piringnya habis . Reina yang melihat Akira makan dengan lahap hanya bisa tersenyum.
Setelah menghabiskan makanan dan membayarnya, mereka pun pergi dari kios tersebut untuk pulang.
"Bagaimana makanannya?" Tanya Reina saat mereka sedang berjalan untuk pulang.
"Tidak buruk."
"Kau harus mencoba masakan Indonesia yang lain, itu sangat enak."
"Kamu juga harus mencoba masakan Jepang, aku akan membuatnya untukmu."
"Apa kau bisa memasak?"
"Tentu saja bisa, jangan meragukan kemampuan suamimu ini Reina."
Cup
Akira mencium kening Reina, yang membuat wajah Reina memanas. Ia sangat senang menggoda Reina hingga wajahnya memerah karena malu.