
*Minta vote dong.....*
Setelah semua beres, Akira memutuskan untuk ke negara asalnya. Ia ingin melihat apa saja yang sudah terjadi di sana. Tetapi tidak mengajak Reina. Ia tahu tidak akan bagus untuk mengajak Reina ke sana.
"Kazao pesankan aku penerbangan ke Jepang untuk Minggu depan." Ucap Akira saat dimobil.
"Baik tuan. Dua tiket?" Tanya Kazao, karena ia pikir Akira dan Reina akan pergi untuk berlibur.
"Tidak, satu saja."
"Baik" mau apa Akira ke sana sendiri? Batin Kazao.
"Apa saya harus ikut tuan?"
"Tidak perlu. Kau di sini saja menjaga Reina." Mobil melaju menuju tempat kerja Reina.
🍁🍁🍁
Reina masih di ruang kerjanya. Sebenarnya ia sudah selesai bekerja, tetapi ia ingin menunggu Akira disini saja. Ia tak ingin di tanya macam-macam tentang pernikahannya yang mendadak itu.
Akira masih belum menghubunginya. Reina sudah benar-benar bosan. Di ruang itu tinggal ia saja yang belum pulang, Aisyah dan yang lain sudah pulang dari tadi. Ia pun berniat mengirim pesan pada Akira.
Me
Apa masih lama?
Tak butuh waktu lama, Akira segera mengirim balasannya.
Akira
Sebentar lagi sampai kamu tunggu sebentar ya.
Rahman memasuki ruangannya, ia terkejut melihat Reina masih ada di sana. Seharusnya Reina sudah pulang dari tadi. Reina belum menyadari keberadaan Rahman, ia masih asik dengan ponselnya. Kadang ia tersenyum sendiri mendapat balasan dari Akira. Rahman yang sudah bersiap ingin pulang, menjadi bingung sendiri. Ia tak tega meninggalkan Reina seorang diri. Rahman memutuskan untuk mendekatinya.
Reina masih belum sadar Rahman sudah berada di depan mejanya. Ia masih tersenyum sendiri melihat ponselnya.
"Reina" panggil Rahman. Tetapi sepertinya Reina tidak mendengar panggilan Rahman. Sampai Reina ingin bangkit karena Akira sudah sampai di depan, ia terkejut ketika ia ingin menabrak Rahman yang sudah ada di depannya. Hampir saja ia menjatuhkan ponselnya.
"Kau membuatku terkejut." Ucap Reina.
"Dari tadi aku memanggil mu, tapi kau asik dengan ponselmu sampai tidak sadar aku sudah ada di depan mejamu." Jelas Rahman.
"Maaf, ada apa?"
"Kenapa kau belum pulang?"
"Sekarang aku mau pulang, suamiku sudah ada di depan."
Mendengar kata suami, membuat Rahman sadar kalau Reina sudah milik orang lain.
Reina yang sudah bersiap untuk pergi, kembali dipanggil oleh Rahman.
"Apalagi?"
"Kita kedepan bersama, aku juga ingin pulang." Reina mengiyakan.
Sebenarnya Rahman ingin melihat suami Reina seperti apa?
"Kau sudah lama kenal dengnnya?" Tanya Rahman. Reina paham maksud pertanyaan Rahman.
"Tidak, kami baru kenal. Dia anak teman ayahku, kami tidak sengaja bertemu ketika sedang menangkap pencopet. Aku tidak tahu kalau dia yang akan dikenalkan ayah padaku. Malamnya dia dan keluarganya datang ke rumah, kami berkenalan lalu tiga hari kemudian ia datang lagi ke rumah melamarku." Jelas Reina. Menurut Rahman itu pertemuan yang singkat sekali, tetapi mengapa Reina bisa menerimanya?
"Kau mencintainya?" Pertanyaan itu membuat Reina berpikir sejenak.
"Entahlah aku tidak tahu, tetapi ia selalu membuatku senang."
"Ku dengar dia bukan orang Indonesia."
"Ya benar, dia orang Jepang. Dia mualaf, saat kami berkenalan dia belum beragama Islam. Tetapi saat dia melamarku dia sudah beragama Islam, orang tuanya sudah cukup lama memeluk Islam. Itu pun dia tidak tahu kalau mereka sudah masuk Islam."
Rahman pikir, suami Reina orang yang pandai dalam agama. Ternyata seorang mualaf.
"Itu Kazao." Seru Reina senang melihat mobil suaminya sudah ada di depan, Kazao tersenyum pada Reina. Rahman mengikuti pandangan Reina.
"Suamimu?" Rahman melihat seorang pria yang wajahnya berbeda dengan wajah lokal. Ia pikir itu sumainya Reina.
"Bukan itu orang Akira, sepertinya ia sedang di dalam mobil."
"Tuan, anda ingin kemana?" Tanya Kazao.
Akira tak mendengarkan panggilan Kazao, ia terus berjalan mendekati Reina.
"Itu suamiku." Seru Reina senang melihat Akira keluar dari mobil. Rahman melihat seorang pria keluar dari mobil. Ia berpakaian jas rapih lengkap dengan dasinya, wajahnya seperti orang timur dengan kulit yang putih, alis yang tebal, mata sipit dan kumis tipis. Pembawaannya dingin dan berwibawa. Kalau disandingkan dengan Reina memang sangat cocok.
Rahman yang mendengar seruan Reina terlihat sedih, dari cara bicara dan menatap Reina saja ia tahu kalau wanita itu juga menyukai suaminya. Sudah tidak ada harapan untuk Rahman.
"Akira mengapa kau lama sekali? Aku sudah bosan menunggumu dari tadi." Gerutu Reina.
"Gomenasai. Ada meeting dengan klien baru, yang menghabiskan waktu lama." Jelas Akira ia mencium kening Reina. Yang otomatis membuat wajah Reina memerah.
Rahman yang sedari tadi hanya melihat, menjadi panas saat Akira mencium Reina.
"Akira aku malu." Reina menjauhkan tubuh Akira.
Akira tersenyum melihat wajah merah Reina. Ia pun menatap Rahman dengan wajah dingin.
'Sungguh seperti orang yang berkepribadian ganda.' batin Rahman. Reina yang melihat Akira menatap dingin Rahman pun sadar kalau dari tadi Rahman belum pergi dari tempatnya.
"Ah, aku lupa Rahman ini suamiku Akira. Akira ini rekan kerjaku Rahman." Reina memperkenalkan keduanya. Akira dan Rahman pun berjabat tangan, Akira masih memasang bwajah datarnya begitupun dengan Rahman.
"Maaf tidak bisa hadir di pernikahan kalian." Ucap Rahman.
"Tidak apa." Jawab Akira dingin. Mereka berdua saling menatap tajam dengan pikiran masing-masing. Membuat Reina bingung dengan keduanya.
"Bisakah kita pulang sekarang?" Reina memecah keheningan diantara mereka.
"Baik, maaf kami harus pulang. Ucap Akira dingin. Ia mendekat sedikit pada Rahman. "Terima kasih untuk menemani istriku, lain kali kau tidak perlu menemaninya." Ucap Akira berbisik pada Rahman.
"Akira.. ayo kita pulang." Ucap Reina yang sudah dulu pergi.
"Aku datang." Akira mengeluarkan senyum smirknya pada rahman, lalu pergi meninggalkannya.
Rahman tahu kalimat terakhir yang diucapkan Akira yaitu bermaksud agar dia tidak mendekati reina. Wajah Akira sangat familiar menurut Rahman. Ia masih memikirkan dimana ia pernah melihatnya.
Sekarang Rahman ingat suami Reina adalah seorang pengusaha yang sukses di manca negara. Bisnisnya sangat pesat hingga berada di urutan pertama di asia dalam dunia bisnis. Ia dikenal dengan CEO yang tak berperasaan pada lawannya, ia sangat arogan. Sepertinya ia memang harus menjauhi Reina, karena ia tak segan-segan akan melakukan sesuatu jika miliknya diganggu. Ia sadar dirinya bukan tandingan Akira, Akira akan mengalahkannya dengan mudah. Tetapi sekarang ia jadi khawatir dengan Reina, ia khawatir Reina akan disakiti olehnya.
🍁🍁🍁
Di dalam mobil Akira hanya diam saja menatap keluar jendela. Ia merasa hampa, ia akan berniat melakukannya malam ini. Sudah lama ia tak melakukannya, hasratnya kembali hadir.
Sedangkan Reina bingung dengan sikap Akira. Sebelumnya ia baik-baik saja, malah sempat bercanda saat mengirim pesan. Apa karena Rahman? Ia sungguh tak berpikir jika akan jadi seperti ini. Harusnya ia menolak ajakan Rahman untuk kedepan bersama.
Mereka sampai di rumah. Akira langsung keluar menuju kamarnya. Lagi ia tak mengajak bicara pada Reina. Reina semakin bingung dengan Akira.
"Kazao ada apa dengan Akira?" Kazao pikir ini ada hubungannya dengan pria tadi, karena saat keluar Akira sangat geram sampai mengepalkan tangannya.
"Saya tidak tahu nyonya, nyonya bisa tanya pada tuan." Kazao tersenyum dari kaca spion.
Reina akhirnya keluar dari mobil untuk bertanya langsung pada Akira. Ia memasuki kamarnya, dilihat Akira sedang melepaskan dasinya di depan cermin dengan wajah datar. Reina mendekati Akira dan memberanikan diri memeluknya dari belakang.
Akira merasa seseorang memeluknya dari belakang. Di cermin, ia melihat Reina sedang memeluknya.
"Maafkan aku, apa kau cemburu?" Ucap Reina dipelukannya.
Akira otomatis memberikan senyuman hangatnya ia berbalik untuk melihat wajah Reina. Dilihatnya wajah istrinya itu, ia sudah mendiamkan istrinya saat di mobil tadi.
"Kamu tahu? Aku tidak suka kamu dekat dengan laki-laki lain selain aku." Ucap Akira menempelkan kedua tangannya pada wajah Reina.
"Aku tidak akan melakukannya lagi." Akira kembali tersenyum pada Reina.
Ia mendekatkan bibirnya pada Reina dan menciumnya. Reina terkejut dengan Akira yang tiba-tiba. Reina mendorong sedikit tubuh Akira.
"Tahan sebentar." Ucap Akira, ia kembali mencium bibir Reina. Kali ini ia memiringkan kepalanya, ia melumatkan bibir Reina dengan lembut. Reina hanya memejamkan matanya pasrah. Ini adalah pertama kalinya untuk Reina dan Akira, Reina tidak membalas ciuman Akira karena ia tidak tahu bagaimana caranya.
Akira menghentikan ciumannya itu, ia melihat Reina yang masih memejamkan matanya. Reina menghela nafasnya. Akira tersenyum.
Reina membuka matanya, dilihat Akira sedang tersenyum padanya.
"Terima kasih" ucap Akira pada Reina. Setidaknya sikapnya barusan dapat mengurangi amarahnya.
"Aku tidak akan memintanya padamu, saat kau sudah siap, baru aku akan melakukannya." Akira menebak apa yang dipikirkan oleh Reina.
Reina malu karena pikirannya tertebak oleh Akira. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Akira. Akira hanya tersenyum melihat wajah Reina yang memerah, ia memeluk reina saat Reina menyembunyikan wajahnya.