
Besok Akira akan berangkat ke Jepang, Reina merasa sedih dengan Kepergian suaminya. Walaupun hanya seminggu, rasanya sangat berat untuk melepasnya.
Akira memasuki kamarnya, dilihatnya Reina sedang melamun didepan cermin. Ia mendekati istrinya itu.
Reina masih belum sadar Akira sudah berada dibelakangnya. Akira memeluk Reina dari belakang. Reina terkejut karena Akira memeluknya, ia melihat Akira dari cermin.
"Ada apa sayang?" Akira mencium pipi Reina dalam pelukannya.
"Tidak, ada apa-apa." Ucapannya berbeda dengan raut wajahnya.
Akira tahu apa yang dipikirkan Reina. Semua ini karena keberangkatannya ke Jepang esok.
"Aku tidak akan lama disana, hanya seminggu. Setelah itu aku akan pulang." Akira menenangkan Reina.
Wajah Reina bertambah sendu mendengar ucapan Akira. Akira mengubah posisinya menghadap Reina. Ia melihat manik mata Reina dalam.
"Aku akan kesepian saat kau pergi." Ucap Reina dengan suara parau.
"Ada Yumi dan Kazao disini, kamu tidak akan kesepian." Reina mulai meneteskan air matanya.
Akira tidak tega melihat istrinya menangis, ia menghapus air mata Reina yang mulai mengalir.
"Aku janji akan pulang dengan cepat setelah semuanya selesai." Akira meyakinkan Reina.
Reina memeluk Akira, ia menangis didalam pelukan Akira. Akira mengusap kepala Reina berusaha menenangkannya.
Setelah itu terdengar suara dengkuran halus. Reina tertidur dalam pelukan Akira.
Akira menggendong Reina dengan gaya bride style untuk dipindahkan ke tempat tidur. Ia menyelimuti Reina dan mengecup keningnya lembut. Setelah itu ia pergi keluar balkon kamar.
"Aku akan ke sana besok, siapkan helikopter ku." Ucap Akira ditelpon, setelah itu dia mematikan teleponnya.
πππ
Pukul 07.00 Akira dan Reina sudah berada di bandara. Sejak tadi Reina tak banyak bicara, ia hanya menjawab sekedarnya jika Akira mengajaknya ngobrol.
Melihat Reina yang hanya diam saja membuat Akira bertambah berat untuk meninggalkannya. Akira mengajak Reina ke mobil.
"Akira sebentar lagi pesawatmu akan berangkat, mengapa kau mengajakku kesini?" Reina bingung karena Akira mengajaknya kedalam mobil. Sekarang mereka hanya berdua didalam mobil.
Akira tidak menjawab pertanyaan Reina. Ia mulai mencium bibir Reina, melumatkannya dengan lembut. Reina terkejut karena sikap Akira yang selalu tiba-tiba. Tetapi kali ini ia tidak menolaknya, ia membalas ciuman Akira sambil memejamkan matanya, menikmati setiap sensasi yang ada pada bibirnya. Lama mereka berciuman, mereka saling mengungkapkan rasa yang ada didalam hati lewat ciuman itu.
Setelah dirasa cukup, Akira melepaskan ciumannya. Akira melihat Reina yang masih memejamkan matanya, Reina menghela nafasnya pelan, karena ciuman mereka yang cukup lama membuat Reina sulit untuk bernafas. Akira tersenyum melihat istrinya yang masih memejamkan matanya.
Reina membuka matanya, ia melihat Akira yang sedang menatapnya dengan tersenyum.
"Bagaimana perasaanmu sayang? Sudah lebih baik?" Tanya Akira. Reina hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Jangan bersedih lagi, aku akan semakin berat untuk pergi jika kamu terus-terusan bersedih." Akira menatap Reina dengan tatapan teduh.
Reina memeluk Akira.
"Cepatlah selesaikan pekerjaanmu disana, aku akan sangat merindukanmu." Ucap Reina sambil memeluk Akira.
"Aku akan segera pulang sayang." Akira mengusap kepala Reina yang dilapisi kerudung.
Mereka pun keluar dari dalam mobil, terlihat dari kejauhan Kazao menghampiri mereka.
"Maaf tuan, sebentar lagi pesawat akan lepas landas." Ucap Kazao mengingatkan Akira.
"Dimana Yumi?" Tanya Akira.
"Saya disini tuan." Jawab Yumi yang mulai menghampiri mereka.
"Aku titip istriku, tolong jaga dia dengan baik."
"Saya mengerti tuan, akan saya jaga nyonya muda dengan baik." Jawab Yumi.
"Kau juga Kazao, jangan sampai istriku terluka." Sebenarnya Akira berat untuk mengatakannya, tetapi Kazao adalah tangan kanannya jadi ia berusaha untuk percaya padanya.
"Baik tuan."
"Kau juga hati-hati disana." Ucap Reina saat Akira melihatnya.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, kamu tidak perlu khawatir sayang." Akira tersenyum pada Reina.
"Mari tuan." Kazao mempersilahkan Akira untuk berjalan didepan. Sebenarnya bisa saja Akira pergi dengan pesawat pribadinya, tetapi Reina tidak mengizinkan. Reina bilang akan bagus jika ia berbaur dengan penumpang lainnya di pesawat. Akira tidak bisa menolak permintaan Reina.
Akira dan Kazao pun pergi, Reina melihat kepergian keduanya dengan tatapan sendu.
Yumi melihat Reina. Ia sungguh terharu dengan kedua majikannya, Yumi bisa melihat kalau mereka begitu saling mencintai dengan melihat sikap mereka. Padahal sebelumnya mereka tidak saling kenal, baru setelah menikah mulai mengenal sungguh romantis. Ia teringat dengan mendiang suaminya dulu. Sebelum menikah, Yumi sempat berpacaran sangat lama dengan suaminya hingga akhirnya mereka berdua menikah. Tetapi pernikahan mereka tidak begitu lama. Suami Yumi juga bekerja pada Akira, saat itu Akira membawa orang-orangnya untuk menghabisi musuhnya. Sayangnya suami Yumi tidak selamat saat tragedi tersebut. Yumi sangat sedih atas kematian suaminya, ia terus menangis setiap hari. Hingga Kazao selalu menenangkannya, Kazao sangat sayang pada Yumi sebagai seorang kakak. Perlahan akhirnya Yumi bisa mengikhlaskan k Matian suaminya. Setelah itu, Yumi berniat untuk tidak menikah lagi, ia sangat mencintai suaminya sehingga ia tidak ingin mencintai laki-laki lain selain suaminya.
πππ
Akira dan Kazao pergi menuju pesawat. Saat mereka berjalan, tanpa sengaja seseorang menabrak Akira.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" Tanya Kazao melihat Akira ditabrak oleh seseorang.
"Sorry, I did not mean it. I'm in a hurry." Ucap seorang pria yang menabrak Akira.
"No problem." Akira pergi meninggalkan pria itu begitu saja karena sedang dikejar waktu.
Sedangkan pria yang menabrak Akira, tersenyum smirk melihat kepergian Akira.
Akira sudah duduk dengan tenang di pesawat. Ia memikirkan orang yang tadi menabraknya, sepertinya ia kenal dengan orang tersebut. Walaupun orang itu memakai topi dan kacamata, ia seperti pernah melihatnya tapi dimana? Wajahnya terasa tidak asing baginya.
πππ
Reina kembali ke rumahnya dan Akira bersama Yumi dan Kazao. Sepanjang perjalanan Reina hanya diam menatap keluar jendela.
Diam-diam Kazao melihat Reina lewat kaca spion, ia tak tega melihat Reina seperti itu. Yumi yang melihat Kazao terus memandangi Reina menepuk bahu Kazao.
"Ka zao kun, unten ni shΕ«chΕ«. (Kazao fokus menyetir)." Ucap Yumi dalam bahasa Jepang agar tidak dimengerti oleh Reina.
Kazao mengangguk sebagai jawaban. Yuni tahu Kazao juga mencintai Reina, tetapi ia juga harus membuat Kazao untuk tidak mencintainya lagi. Karena Reina adalah istri Akira, Yumi tidak ingin Akira marah karena mengetahui Kazao mencintai Reina. Ia juga merasa kasihan pada majikannya itu, majikannya juga memiliki pengalaman yang buruk tentang percintaan. Baru sekarang-sekarang ini Yumi melihat Akira sering tersenyum.
Mereka sampai di depan gerbang rumah Akira, dua orang satpam segera membuka pintu gerbang tersebut. Setelah mobil berhenti, Reina dan Yuni keluar dari mobil. Reina langsung masuk ke kamarnya. Sedangkan Yumi masih di luar bersama Kazao.
"Kak, sepertinya aku akan pergi sebentar untuk menenangkan diriku." Ucap Kazao masih didalam mobil.
"Baiklah, jangan berbuat yang macam-macam." Titah Yumi.
"Aku mengerti, aku masih waras kak." Setelah mengucapkan itu, Kazao memutar kembali mobil untuk keluar.
Setelah mobilnya m bghilang dari pandangan Yumi, Yumi segera masuk ke dalam. Ia sangat menghawatirkan Kazao, ia takut Kazao berbuat nekat. Ia berdo'a mudah-mudahan Kazao tidak berbuat hal-hal yang aneh.
πππ