My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Tugas



Reina keluar dari lift setelah sampai di lantai yang ingin ia datangi.


"Permisi?" Ucap seseorang yang membuat Reina kembali menengok ke belakang.


"Apa anda dokter Reina?" Tanya seseorang itu.


"Ya? Saya sendiri. Ada apa?" Tanya Reina. Diam-diam ia kagum pada wanita yang ada dihadapannya. Cantik, anggun, dan elegan itulah yang ada didalam pikirannya.


"Saya diminta dokter Arlan untuk menemui anda dan memintanya mengantarkan saya ke ruangan anda." Wanita itu tersenyum sangat manis setelah mengucapkannya.


"Manisnya" batin Reina.


"Oh? Benarkah? Apa kau seseorang yang mendapatkan pertukaran tugas dari rumah sakit ini?" Tanya Reina ramah. Wanita yang ada di depannya membuat ia nyaman berbicara dengannya.


Wanita itu hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Baiklah, ayo kuantar." Ajak Reina dengan senyum manisnya. Reina memutar balik arahnya dan kembali memasuki lift yang baru saja ia keluar.


"Kalau boleh kutahu, siapa namamu?" Tanya Reina saat mereka didalam lift.


"Bunga, panggil saja saya itu."


Mereka pun berbincang-bincang dengan sangat senang, hingga tak terasa mereka sudah sampai di ruangan yang dituju.


Reina membuka handle pintu mempersilahkan bunga untuk masuk.


"Ayo silahkan masuk, jangan sungkan sekarang kau adalah bagian dari kami." Ajak Reina ramah.


Semua mata yang ada di dalam ruangan menatap Reina dan bunga dengan bertanya-tanya, lebih tepatnya kepada bunga.


"Terima kasih." Bunga menatap semua orang yang ada didalam ruangan dengan senyum manisnya.


Melihat semua orang hanya menatap mereka berdua, Reina berinisiatif memperkenalkan bunga pada rekan-rekannya.


"Hai semua? Perkenalkan ini bunga, dia akan menggantikan teman kita yang dipindah tugaskan." Reina memperkenalkan.


"Oh? Hai bunga? Semoga kamu suka ya disini." Jawab salah satu rekan Reina, bunga hanya membalasnya dengan senyumannya.


"Bunga? Setelah ini kau ingin kemana? Atau kau masih mau istirahat dulu disini?" Tanya Reina.


"Aku tinggal sebentar disini, kau duluan saja." Balas bunga.


"Baiklah kalau begitu, aku duluan ya?" Pamit Reina.


Reina keluar dari ruangannya, ia berjalan menuju lift.


Drrtt... Drrtt...


"Halo?" Jawab bunga setelah sambungan terhubung, wajahnya yang semula hangat berubah menjadi dingin.


"Bagaimana? Sudah kau dekati?" Tanya seseorang disebrang.


"Sudah, sesuai permintaan. Aku sekarang satu ruangan dengannya."


"Bagus, lakukan tugasmu sesuai yang kita bicarakan sebelumnya."


"Aku mengerti." Sambungan terputus, bunga kembali memasang wajah hangatnya.


🍁🍁🍁


Ting!!


Pintu lift terbuka, Reina yang sedang memainkan ponselnya tidak menyadari siapa yang masuk ke dalam lift. Setelah orang tersebut masuk, pintu segera tertutup.


"Kita bertemu lagi." Ucap seseorang disamping Reina, membuatnya kini menoleh pada orang yang mengajaknya berbicara.


Reina memutar bola matanya malas, lagi-lagi ia harus bertemu dengan orang yang tidak sengaja bertabrakan dengannya.


"Kita belum berkenalan, perkenalkan namaku Kenzi." Kendi mengulurkan tangannya bermaksud ingin berjabat tangan.


"Reina" Reina menaruh kedua telapak tangannya didada pertanda ia tidak ingin bersalaman.


Melihat Reina yang menyatukan kedua telapak tangannya didada, Kenzi segera menarik kembali tangannya. Ia tersenyum kikuk.


Tidak ada pembicaraan diantara keduanya, Reina lebih memilih membalas pesan yang diberikan oleh pemilik rumah sakit. Sedangkan Kenzi? Ia sekali-kali melirik ke arah Reina.


Ting!!!


Pintu lift terbuka, Reina segera keluar dari lift tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Kenzi. Ia berjalan dengan terburu-buru.


Reina menyadari ada yang mengikutinya disamping, ia menoleh ke sampingnya.


"Mengapa kau mengikuti ku?" Tanya Reina dengan kesal karena merasa diikuti.


"Aku tidak mengikuti mu, kebetulan saja tujuan kita sama." Ucap Kenzi sambil tersenyum.


Reina tidak mempedulikan Kenzi, ia semakin cepat mengambil langkahnya agar cepat sampai ke ruangan dokter Arlan.


Saat sudah sampai di depan ruangan dokter Arlan, terlebih dahulu Reina mengetuk pintunya. Setelah dipersilahkan masuk, baru Reina membuka pintunya memasuki ruangan CEO itu yang sangat luas.


"Permisi pak?" Ucap Reina sopan saat memasuki ruangan.


Sedangkan pria paruh baya yang tidak lain adalah CEO sekaligus pemilik rumah sakit ini, mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca ke arah Reina.


"Silahkan duduk." Perintah CEO itu.


Reina segera duduk di kursi yang sudah disediakan.


"Tunggu sebentar ya, masih ada satu orang lagi yang harus aku tunggu kehadirannya." Ucap CEO tersebut.


Reina hanya mengangguk sambil memberikan senyumannya.


Tak lama terdengarlah suara ketukan pintu.


"Ah, itu dia orangnya. Silahkan masuk." CEO tersebut mempersilahkan masuk seseorang yang baru saja mengetuk pintu.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka, memperlihatkan seorang pria yang tak asing bagi Reina bahkan sudah membuat mood Reina jelek.


"Ck kenapa orang itu ada disini?" Batin Reina. Ia memutar bola matanya malas.


Sedangkan Kenzi ia tersenyum miring melihat ekspresi tidak suka Reina padanya.


Kenzi segera duduk di kursi yang berada disamping Reina, ia melirik Reina dengan ekor matanya.


"Baiklah karena kalian sudah berkumpul, jadi langsung saja ke intinya."


"Saya memanggil kalian berdua ke sini, karena saya ingin memberikan tugas kepada kalian berdua." Reina memasang wajah seriusnya saat mendengarkan penjelasan CEO tersebut.


"Saya ingin kalian melakukan penelitian tentang psikopat." CEO itu memberikan beberapa lembar kertas pada Reina dan Kenzi.


"Kalian akan melakukan penelitian di tahanan xxx" tambah CEO itu.


"Kami berdua pak?" Tanya Reina agak keberatan.


"Ya, kalian berdua."


"Kenapa harus saya pak?" Reina masih mengajukan pertanyaan berharap ia dapat diganti oleh orangblain.


"Karena kamu sudah berpengalaman, dan kamu Kenzi?" Kenzi seketika langsung menengok pada CEO itu.


"Saya memberi tugas ini padamu agar kamu memiliki pengalaman dalam menangani pasien, saya tidak mau tahu kalian harus menyelesaikan penelitian kalian dalam jangka waktu satu bulan." Reina sukses membulatkan matanya sempurna.


"Maaf pak? Bukankah itu terlalu cepat? Lagipula saya belum berpengalaman dalam menangani pasien psikopat?" Reina berusaha bernegosiasi.


"Baiklah dua bulan, saya kasih waktu kalian dua bulan untuk melakukan penelitian." CEO itu memberikan keputusan yang diangguki oleh Reina dan Kenzi tanda mereka menyetujuinya.


"Maaf pak, kalau saya boleh tahu mengapa bapak ingin kita melakukan penelitian tentang psikopat?" Akhirnya Kenzi bersuara setelah sekian lama hanya diam.


"Karena sekarang-sekarang ini sedang marak-maraknya tentang psikopat. Kita harus mencari tahu, apa penyebab mereka menjadi seperti itu. Karena perlakuan mereka dari orang tua atau orang-orang disekitar merka kah? Atau bawaan dari lahir kah? Atau mereka punya kecacatan mentalkah? Kita harus mencari tahu penyebabnya dan bagaimana caranya menyembuhkan kelainan tersebut." Jelas CEO itu.


"Jadi, saya minta kalian lakukanlah tugas kalian dengan baik. Gunakan waktu yang saya beri dengan sebaik mungkin. Reina?" Panggil CEO tersebut.


Reina menoleh pada CEO.


"Saya percaya sama kamu." Reina mengangguk paham.


"Kalau begitu, kalian boleh pergi. Tugas itu akan dimulai esok hari." Perintah CEO tersebut.


Reina dan Kenzi segera berdiri dan pamit pada atasan mereka. Mereka pun keluar dari ruangan tersebut.


Tanpa mereka bedua sadari, ada seseorang yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka didalam ruangan.


🍁🍁🍁