
"Nyonya, nyonya tetap disini. Saya akan keluar menghadapi mereka." ucap Kazao, lalu ia keluar dari dalam mobil tanpa menunggu jawaban Reina.
"Apa dia sudah gila? Menghadapi orang-orang itu sendirian dalam jumlah banyak?" ucap Reina pada diri sendiri.
Kazao keluar dari dalam mobil menghadapi orang-orang yang mengepungnya.
"Dimana tuan dan nyonya mu?" ucap salah seorang dari mereka.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh mereka." balas Kazao dengan wajah datar.
"Kami hanya memliki urusan dengan mereka, bukan denganmu."
"Urusan mereka juga termasuk urusanku."
"Setia sekali dirimu ini." ucap orang itu berbarengan dengan pukulan yang ia lajukan.
Beruntung Kazao bisa menghindar dengan cepat, jika telat satu detik saja bisa dipastikan wajahnya sudah lebam akibat pukulan itu.
"Boleh juga nyalimu." timpal orang itu meremehkan Kazao.
"Tidak perlu banyak bicara." balas Kazao. Kini giliran ia yang melakukan serangan, tetapi sayangnya meleset.
Orang yang Kazao hadapi lumayan kuat dan gesit, jadi ia harus ekstra hati-hati dalam menghadapinya. Kesalahan sedikit saja dapat membuatnya fatal.
Akhirnya pertempuran pun tak dapat dihindari, mereka sama-sama kuat, sehingga sulit untuk mengalahkan satu sama lain.
Kazao berusaha sekuat tenaga agar mereka tidak dapat menemukan Reina didalam mobil.
"Argh.. kurang ajar. Berani sekali kau memukulku?" teriak salah satu dari mereka.
"Nyonya?" teriak Kazao.
"Oh, jadi itu nyonyamu?" seringai orang yang tadi sedang bertarung dengan Kazao.
Orang itu segera berbalik untuk menangkap Reina.
"Nyonya hati-hati!!" teriak Kazao, ia ingin melindungi Reina. Tetapi ia sudah dihadang oleh beberapa orang.
Reina yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh ke sumber suara.
"Halo cantik." ucap orang yang tadi bersama Kazao.
Reina hanya menatap datar orang itu.
"Mengapa kau tidak membalas sapaan ku?" orang itu ingin memegang dagu Reina, dengan cepat Reina segera menangkap tangan yang mulai lancang itu dan memelintirnya.
"Argh... kau? Sialan!!" umpat orang itu setelah tangannya dipelintir. Reina tersenyum miring.
"Itu adalah balasan sapaan mu." jawab Reina dengan tenang.
Orang itu menatap Reina dengan geram, tangannya sudah mengepal dengan kuat.
"Kenapa? Kau tidak suka aku membalas sapaan mu? Ingat ya, aku ini berbeda dengan wanita lain. Jika wanita lain akan membalas dengan lembut sapaan mu, aku akan membalas dengan hal yang kau tidak akan pernah melupakannya." lanjut Reina.
Tanpa aba-aba, orang itu langsung menyerang Reina. Reina pun dengan senang hati melawan orang itu, karena sudah lama ia tidak melakukan sparing.
"Kau harus tahu, aku ini dulu pernah mendapatkan juara 1 lomba pencak silat tingkat internasional. Jadi, jangan pernah meremehkan seorang wanita seperti ku." ucap Reina ketika lawannya kesulitan menghadapinya.
Setelah berhasil membereskan orang-orang yang menghalangi Kazao untuk menemui Reina, Kazao segera berlari ke arah Reina memastikan bahwa nyonyanya itu tidak terluka.
"Nyonya anda baik-baik saja?" tanya Kazao dengan khawatir.
"Seperti yang kau lihat Kazao." jawab Reina dengan senyuman manisnya.
Muka Kazao menjadi merah karena Reina memberikannya senyuman, disaat seperti ini bisa-bisanya Reina membuat dirinya maraton jantung.
"Seharusnya anda didalam mobil saja nyonya, jangan keluar seperti ini." Kazao mengalihkan pembicaraan.
Reina menghela nafasnya.
"Lalu aku akan diam didalam menonton kau yang perlahan-lahan akan mati oleh mereka? Tidak Kazao, aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Selagi aku bisa kenapa tidak?" jelas Reina.
Kazao hanya pasrah mengikuti kemauan Reina, awalnya ia juga terkejut karena Reina bisa bela diri. Mungkin sekarang ia agak tenang, karena ia tidak perlu khawatir akan keselamatan Reina. Reina bisa menjaga dirinya sendiri.
"Ayo Kazao, kita selesaikan ini semua agar kita bisa pulang." ajak Reina, Kazao mengangguk.
"Sepertinya aku yang akan menyelesaikan ini semua." ucap seseorang dengan menodongkan pistol dibelakang kepala Reina dengan seringainya.
"Jauhkan pistolmu darinya." ucap Kazao dingin.
"Mengapa? Nyonya mu sendiri yang berkata ingin menyelesaikan ini semua, aku hanya membantunya." jawab orang itu dengan santai. Kazao bersiap untuk menyerang.
"Bergerak sedikit saja, maka nyawanya akan hilang." ancam orang itu, ia masih mengarahkan pistolnya ke arah Reina.
Reina sangat terkejut dengan kehadiran orang itu yang tiba-tiba menodongkan pistol ke arahnya. Ia sama sekali tidak sadar kapan orang itu datang.
"Kau licik." umpat Kazao.
"Hahaha... Tidak, lebih tepatnya aku ini cerdik." tawa orang itu.
Kazao sudah sangat geram, bisa saja ia mengeluarkan pistolnya dan menembaknya langsung pada orang itu. Tetapi itu tidak mungkin, karena taruhannya adalah nyawa Reina. Jika ia bergerak sedikit saja maka nyawa Reina akan hilang.
"Apa maumu?" tanya Kazao berusaha tenang.
"Sudah kukatakan diawal bukan? Aku memiliki urusan dengan tuan dan nyonya mu, jadi aku ingin membawa mereka pada tuanku." jelas orang itu.
"Urusan mereka juga termasuk urusanku." jawab Kazao.
"Menyerahlah, kau tidak diperlukan disini."
"Aku tidak akan menyerah walaupun nyawaku sebagai taruhannya."
"Benar-benar ya, apa yang Akira lakukan sampai anak buahnya menjadi setia semua?" orang itu tertawa.
"Baiklah kalau itu keinginan mu, Aku akan menyelesaikan kau terlebih dahulu." orang itu mengeluarkan pistolnya lagi dari dalam jasnya, dan mengarahkannya pada Kazao. Sekarang kedua tangan orang itu memegang pistol dan mengarahkannya pada Reina dan Kazao.
Reina sangat-sangat terkejut dengan aksi orang itu, bagaimana bisa?
"Kazao sebaiknya kau pergi selamatkan nyawamu, biarkan aku yang disini dan dibawa oleh mereka." ucap Reina dengan nada tinggi, tetapi Kazao tidak menghiraukan ucapannya.
"Kau..." ucap Kazao.
"Kenapa? Aku hanya mengikuti ucapan tuanmu."
"Apa maksudnya mengikuti ucapan tuanmu? Itu berarti dia mengikuti ucapan Akira bukan? Apa Akira pernah membunuh manusia?" batin Reina.
Kazao menatap tajam orang dibelakang Reina yang sedang mengadakan pistol padanya.
Tidak, ia belum boleh mati sekarang. Ia harus menyelamatkan Reina terlebih dahulu.
"Tidak ada? Baiklah ucapkan selamat tinggal pada nyonyamu." seringai orang itu.
DOR..
DOR..
Reina memejamkan matanya ketika suara tembakan itu berbunyi. Ia menangis karena dirinyalah Kazao harus menyerahkan nyawanya, setelah ini giliran ia yang akan mendapat tembakan itu.
Ia sudah pasrah, mungkin seperti inilah nasib akhir yang diberikan oleh Allah padanya.
"Ya Allah jika ini adalah takdir mu aku ikhlas menerimanya, tetapi hamba mohon tolong selamatkan Kazao. Ia tidak bersalah, tolong selamatkan Kazao ya Allah. Dan hamba mohon lindungilah suami hamba dari segala macam bahaya." do'a Reina didalam hati.
"Shit.. siapa lagi yang berani menghalangiku?" umpat orang itu.
Reina membuka matanya, ia melihat Kazao. Kazao masih berdiri ditempatnya, ia tidak tertembak. Lalu suara tembakan tadi menuju siapa? Reina melihat ke arah Kazao melihat. Seseorang sedang memegang pistolnya.
"Allah siapa lagi? Apakah ini bantuan atau ini musuh juga?" batin Reina.
Kazao tidak menyia-nyiakan kesempatan, dengan cepat ia menarik tubuh Reina ke pelukannya agar Reina tidak melihat. Lalu ia mengambil pistolnya dan menembaki tubuh orang yang tadi mengarahkan pistolnya pada Reina dan dirinya.
Dor
Dor
Dor
Dor
Seketika orang itu ambruk dan mati. Kazao mengarahkan pistolnya pada orang yang baru saja datang.
"Woho.. jangan terlalu terburu-buru, aku berada dipihak mu Kazao." ucap orang itu.
Kazao menurunkan pistolnya, tetapi ia masih waspada jika saja orang yang berada tidak jauh darinya melakuakn hal tak terduga.
"Siapa kau?" tanya Kazao.
"Aku tidak bisa memberi tahu identitas ku padamu sobat, karena aku hanya ingin memastikan kalau wanita yang ada di pelukanmu itu harus selamat tanpa luka sedikitpun. Nyawaku tergantung pada wanita itu." jelas orang itu.
"Aku pergi dulu, kurasa kau bisa mengatasinya setelah ini." lanjut orang itu, setelah itu ia kembali ke mobilnya dan melesat pergi.
Kazao baru sadar kalo ia masih memeluk Reina, ia segera melepas pelukannya.
"Maafkan atas kelancangan saya nyonya." ucap Kazao menunduk.
Apa yang baru saja ia lakukan? Ia memeluk Reina nyonyanya sekaligus cinta pertamanya. Entah ia harus bahagia atau sebaliknya.
"Kazao apa yang kau lakukan?" ucap Reina menatap tajam pada Kazao.
"Maafkan saya nyonya." ucap Kazao merasa bersalah, ia tahu Reina akan Semarah ini padanya karena ia telah lancang memeluknya.
"Mengapa kau membunuhnya?" tanya Reina.
Kazao mengangkat wajahnya melihat wajah Reina, ia kira Reina akan marah karena ia memeluknya.
"Itu memang sudah seharusnya nyonya." jawab Kazao tanpa beban.
"Sudah seharusnya?" tanya Reina tak percaya.
"Ini!" Kazao menyerahkan pistol yang baru saja ia ambil dari saku jasnya.
"Untuk apa? Kau ingin aku membunuh mereka?"
Karena Reina tidak kunjung mengambil pistol yang ia berikan, akhirnya Kazao menembaki semua orang yang masih hidup.
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
"Anda harus terbiasa dengan semua ini nyonya. Musuh tuan muda itu sangat banyak, nyawa anda bisa terancam jika tidak terbiasa." jelas Kazao setelah selesai menembaki semua orang.
Reina diam mematung melihat banyak mayat yang bergelimpangan, Kazao menelpon seseorang.
Reina tak habis pikir, bagaimana bisa Kazao melakukan itu? Ia menembaki manusia bagaikan menembaki hewan buruan. Ia menembaki dengan wajah tenang tanpa beban.
"Saya sudah menyuruh orang untuk membersihkan ini semua, ayo kita kembali ke rumah nyonya." ucap Kazao yang berjalan duluan untuk membukakan pintu bagi Reina.
Reina mengikuti Kazao memasuki mobil, Kazao pun sudah memasuki mobil dan menyalakannya.
Reina tidak mengira wajah yang terlihat ramah dan sopan, dibalik itu ada kekejaman yang tidak ia ketahui.
Ia masih belum bisa menerima ini semua, mereka juga manusia. Saat tadi pistol diarahkan padanya saja ia sudah ketakutan, apalagi jika ia benar-benar tertembak. Ia harus menanyakan ini semua pada Akira.
🍁🍁🍁