
"Kau bercanda kan?" Yumi bertanya sekali lagi untuk memastikan bahwa ia salah dengar.
"Aku tidak bercanda kak, aku mencintai nyonya muda!" tegas Kazao.
"Tapi itu tidak mungkin, ia majikanmu!"
"Aku tahu, tapi aku harus bagaimana? Aku sudah terlanjur mencintainya." Ucap Kazao frustasi.
Yumi ikut sedih melihat Kazao seperti itu. Tapi ia juga bingung harus bagaimana? Ia tahu betul bagaimana sikap majikannya itu kalau miliknya diganggu oleh orang lain, ia tidak ingin Kazao kenapa-kenapa.
"Kau harus melupakannya." Ucap Yumi, ia mempunyai ide, entah berhasil atau tidak setidaknya itu bisa membantu Kazao. Hanya itu yang bisa Kazao lakukan.
Kazao melihat Yumi.
"Bagaimana caranya kak?"
"Ada dua pilihan, pertama kau harus mencari wanita lain. Kedua kau harus berhenti bekerja dari sini. Aku pikir itu cukup bisa membuatmu untuk melupakan nyonya muda.
🍁🍁🍁
Reina sedang berada di kantin bersama Aisyah.
"Rein, sebentar lagi aku akan dipindah tugaskan." Ucap Aisyah saat mereka sedang makan siang.
Reina langsung menghentikan aktivitasnya.
"Pindah? Kemana?"
"Semarang. Aku akan ikut suamiku kesana." Aisyah mengucapkannya dengan santai.
"Lalu aku bagaimana?" Reina menatap makanannya dengan lesu.
"Bagaimana apanya?" Aisyah sedikit bingung dengan pertanyaan Reina.
"Aku akan sendiri disini?" Reina melihat Aisyah dengan tatapan sendu.
Aisyah terkekeh dengan keluhan Reina.
"Reina kau bukan anak SD yang harus selalu ditemani. Masih banyak teman kita yang lain disini." Ledek Aisyah.
"Tapi hanya kau yang selalu ada disaat aku sedih maupun senang."
"Percayalah padaku kau tidak akan sendiri." Ucap Aisyah menghibur Reina.
Reina masih belum merubah ekspresinya.
"Bagaimana hubunganmu? Apa kau sudah mulai menyukainya?" Reina tersipu mendapat pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Aisyah!!!" Rengek Reina.
Aisyah terkekeh melihat Reina seperti itu. Sahabatnya itu benar-benar seperti anak kecil.
"Ayo akui saja kau sudah mulai menyukainya bukan?" Goda Aisyah.
"Entahlah, aku tidak tahu. Tetapi aku senang dengan sikapnya padaku." Jujur Reina.
"Kau harus mulai mencintainya Reina."
"Aku tahu, aku sedang berusaha. Tetapi mencintai seseorang itu bukan hal yang mudah Aisyah. Kau tahu kan pengalamanku tentang percintaan itu buruk?"
"Kau harus melupakan masa lalu dan mulai memikirkan masa depan."
"Kau benar."
"Tapi kupikir kau mulai menyukainya." Aisyah menggoda Reina lagi.
"Lusa ia akan ke Jepang." Curhat Reina.
"Kau juga akan kesana?" Reina menggeleng.
"Ia bilang soal pekerjaan, aku tidak tahu apa yang akan ia kerjakan disana. Ia akan seminggu berada disana."
"Tenanglah dia akan segera kembali. Bukankah dia bilang seperti itu padamu?"
"Ya, dan aku akan kesepian. Kau pindah tugas, Akira ke Jepang."
"Kau bisa ke rumahmu." Usul Aisyah.
"Akira tidak mengizinkan, ia bilang kalau akan ke rumahku harus bersamanya."
"Sepertinya dia sangat mencintaimu. Kau beruntung Reina."
Reina tersenyum mendengar ucapan Akira. 'Ya sepertinya ia memang sangat mencintai ku.'
🍁🍁🍁
Akira melihat jalanan yang cukup padat di siang hari, lewat jendela di ruangannya. Matanya memang memandang kesana, tetapi tidak dengan pikirannya. Pikirannya melayang kemana-mana.
Akai sudah menghubunginya berkali-kali, maka dari itu ia memutuskan untuk mempercepat keberangkatannya ke Jepang. Sebenarnya ia sangat berat untuk pergi meninggalkan Reina disini, ia ingin mengajak Reina ke Jepang tetapi itu tidak mungkin. Keberangkatannya ke jepang bukan untuk pekerjaan atau bersenang-senang, melainkan untuk menghentikan aksi orang-orang yang ingin menghancurkan perusahaannya.
Ia sendiri tidak tahu apa niat sebenarnya yang orang-orang itu lakukan pada perusahaannya. Sampai mereka tidak menyerah begitu saja, walaupun ia sudah memberinya pelajaran. Ia harus secepat mungkin menghentikan mereka sebelum Reina tahu. Ia tak ingin Reina menjadi kenapa-kenapa gara-gara ulah mereka. Pernikahannya dengan Reina pun tidak dipublikasikan, hanya orang-orang yang ia percayakan saja yang diundang.
Ia juga tidak tahu apa reaksi Reina jika mengetahui bahwa suaminya ini adalah pembunuh berdarah dingin. Ia ingin memberitahunya, tetapi ia takut Reina akan pergi darinya. Ia sangat mencintai Reina, ia tidak ingin Reina meninggalkannya. Tetapi cepat atau lambat Reina pasti akan mengetahuinya. Sebenarnya ini semua juga bukan keinginannya.
Awalnya ini hanya sebagai pelampiasanya karena Ayumi terbunuh. Ya, semua ini karena seseorang yang bernama Kevin, ia ingin membunuh pria itu. Tetapi diluar dugaan ia sangat menikmati aksinya itu, sekali dua kali sampai berkali-kali. Ia sudah tidak ada rasa kasihan lagi pada korbannya. Semua ia lakukan untuk memuaskan hasratnya.
Terdengar ketukan pintu dari luar.
Terlihatlah seseorang yang menjabat sebagai sekretaris Akira masuk ke dalam ruangan dengan setumpuk dokumen.
"Maaf pak, ini dokumen-dokumen yang harus bapak tanda tangani." Ucap sekretarisnya meletakkan dokumen itu di meja Akira.
Akira memutar kursinya menghadap tumpukan dokumen itu. Ia mulai menandatangani semuanya.
"Apa ada lagi?" Tanya Akira menyerahkan kembalibtumpukqn dokumen tersebut.
"Tidak ada pak." Sekretaris Akira m ngambil kembali tumpukan dokumen tersebut.
"Maaf pak, pukul 14.00-16.00 bapak ada meeting dengan klien perusahaan pak Subroto."
"Baiklah, setelah itu?"
"Pukul 20.00 bapak ada undangan untuk menghadiri acara peresmian hotel milik pak Arif di daerah mawar."
"Apa acaranya formal?"
"Tidak juga, acaranya dibuat santai."
"Oke, sudah tidak ada lagi?"
"Ya pak, setelah itu bapak free." Jelas sekretaris itu.
"Apakah lusa saya ada meeting dengan klien?"
"Sebentar pak." Sekretaris itu mengecek jadwal Akira di layar tabnya.
"Ya ada pak, meeting dengan perusahan Antaiku, ini adalah klien baru kita."
"Saya ingin, kegiatan saya dari lusa sampai seminggu kedepan digantikan dengan kau. Karena saya akan pergi ke Jepang. Saya ada urusan yang tidak bisa ditunda disana.Jika yang keberatan batalkan saja meeting tersebut." Jelas Akira.
"Baik pak." Sekretaris itu mulai mencatat jadwal baru untuk Akira.
"Kau boleh keluar." Perintah Akira. Sekretaris itu keluar dari ruangan Akira.
Akira kembali melamun memikirkan Reina. Sepertinya ia harus mencari orang untuk menjaga Reina saat ia tak ada disini. Ia tidak ingin Reina kenapa-kenapa, entahlah firasatnya sangat tidak enak saat ia akan pergi ke Jepang. Ia khawatir sekali dengan Reina. Rencananya ini tidak boleh ada yang tahu termasuk Kazao, ia mencurigai orang itu.
🍁🍁🍁
Kazao memikirkan saran yang diberikan Yumi untuknya. Untuk pilihan pertama pasti akan sulit, karena sebelumnya ia tidak pernah jatuh cinta. Pengalamannya pertama jatuh cinta sungguh buruk, untuk pilihan kedua sepertinya ia bisa melakukannya. Karena terlalu memikirkan pilihan tersebut Kazao hampir saja menabrak seorang wanita paruh baya.
Kazao segera keluar dari mobil dan mendekati wanita itu.
"Maaf, apa ibu terluka?" Kazao bertanya dengan khawatir sekali.
"Tidak, aku hanya terkejut."
"Maaf, saya tidak fokus saat menyetir." Kazao kembali meminta maaf, ia merasa bersalah.
"Tidak apa, aku baik-baik saja." Ibu itu meyakinkan Kazao yang merasa bersalah.
"Kalau begitu sebagai permintaan maaf, saya antar ibu pulang ya?" Kazao menawarkan diri.
"Tidak usah, itu akan merepotkanmu nak." Tolak ibu itu secara halus.
"Saya tidak merasa direpotkan." Kazao tersenyum hangat.
Ibu itu pun menyetujui keinginan Kazao.
"Rumahnya di daerah mana Bu?" Tanya Kazao.
"Jalan Kamboja nomor sepuluh." Kazao hanya mengangguk.
"Kamu memikirkan apa nak sampai tidak fokus menyetir?" Ucap ibu itu memecahkan keheningan diantara keduanya.
"Ah, tidak. Hanya masalah pekerjaan." Elak Kazao.
"Tidak usah dipikirkan, kalau terus dipikirkan kau akan sakit. Biarkan saja semuanya mengalir seperti air."
'Benar juga mengalir seperti air.' batin Kazao.
"Apa kau sudah menikah?"
"Aku? Ah, belum." Kazao menjadi salah tingkah sendiri mendapat pertanyaan seperti itu.
Ibu itu tersenyum melihat Kazao salah tingkah karena pertanyaannya.
"Kau orang yang baik, aku yakin jodohmu juga akan lebih baik dari orang yang kau sukai saat ini."
Kazao terkejut dengan ucapan ibu itu, bagaimana dia bisa tahu?
"Kau tidak perlu terkejut karena aku bisa menebak pikiranmu." Kazao tambah terkejut mendengar pengakuan dari ibu itu.
"Apa ibu bisa membaca pikiranku?" Selidik Kazao.
"Tentu saja." Ucapnya santai.
Kazao jadi malu sendiri karena pikirannya dibaca oleh orang lain.
"Sebentar lagi kau akan bertemu dengan jodohmu, jadi kau tidak perlu berhenti bekerja pada majikanmu. Sebenarnya majikanmu itu orang yang sangat baik. Kau beruntung memiliki majikan yang seperti itu." Tambah ibu itu.
Ya memang, Akira sangat baik padanya. Kalau saja ia tidak bertemu keluarga Akira entah apa yang terjadi.
🍁🍁🍁