
"Bagaimana? sudah menuju kesini? tanya Daniel pada istrinya sakura.
"Seharusnya dari kemarin dia sudah sampai, tapi mengapa sampai sekarang belum datang juga? Aku khawatir terjadi sesuatu padanya." jelas sakura khawatir.
"Jangan cemas, aku akan menyelidikinya." Daniel membawa Sakura ke pelukannya agar Sakura tenang.
Kediaman Akira di Indonesia
Setelah menenangkan istrinya saat di rumah sakit, Daniel segera pergi ke kediaman Akira.
Daniel mencari dua orang kepercayaan Akira disana, tetapi ia tidak menemukannya dimanapun. Ia berhenti di ruang tamu dan melihat foto pernikahan Akira dengan Reina, nalurinya memutuskan untuk mendekati bingkai foto berukuran besar itu.
Daniel menyentuh foto itu dan tersenyum, disana ada anaknya, menantunya Reina, dirinya dan istri serta sahabatnya yang sudah menjadi bessan. Semua tampak bahagia disana, dan untuk pertama kalinya ia melihat Akira tersenyum bahagia seperti itu setelah delapan tahun yang lalu.
Daniel mengusap wajah Akira yang ada difoto dengan lembut, anak semata wayangnya itu sangat mirip dengannya ketika masih muda dulu. Sulit untuk tersenyum jika tidak ada hal yang benar-benar membuat hatinya bahagia. Daniel berharap Akira dan keluarga kecilnya bisa hidup bahagia seperti ini selamanya.
Daniel tidak ingin kehidupan Akira sama seperti dirinya dulu, hidup dalam kewaspadaan karena banyak musuh yang mengincar nyawanya. Bahkan sampai sekarang pun masih banyak yang menginginkan nyawanya walaupun ia sudah berhenti dari dunia mafia.
Daniel kembali ingat akan tujuannya datang kesini, ia pun segera pergi dari tuang tamu.
"Dimana Kazao dan Naoki?" tanya Daniel pada salah satu bodyguard yang sedang lewat.
"Sepertinya mereka berdua sedang di ruang kendali tuan." jawab bodyguard itu sopan.
"Baiklah, terima kasih." Daniel segera pergi menuju ruang kendali.
"Kazao? Naoki?" panggil Daniel yang mengejutkan kedua orang kepercayaan Akira yang sedang sibuk didepan dilayar komputer.
Spontan dua orang itu langsung berdiri dan membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
"Tuan besar selamat datang!" ucap keduanya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Daniel.
Kazao dan Naoki saling melirik bingung ingin mengatakan apa pada tuan mereka.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku?" Daniel semakin curiga dengan gerak gerik dua orang kepercayaan Akira.
"Maaf tuan, itu.."
Naoki sangat bingung untuk menjelaskannya, semua bodyguard Akira sudah berjanji tidak akan mengatakan hal apapun pada keluarga Akira jika Akira sudah terjun kedalam dunia mafia sejak lama. Dan mereka berdua yakin sekali jika saat ini Akira sedang ditangkap oleh musuhnya, walaupun mereka juga tidak yakin jika Akira ditangkap. Karena setiap Akira berhadapan dengan musuhnya, kemenangan selalu berpihak padanya.
Oleh karena itu, Akira masuk kedalam kategori mafia yang paling ditakuti. Selain selalu menang ketika berhadapan dengan para musuhnya, ia juga terkenal kejam dan tidak berbelas kasih. Jika ada yang mengusik kehidupannya, ia tak segan-segan menyiksanya tanpa ampun.
Daniel menatap Naoki dengan tatapan mengintimidasi, Naoki dibuat gugup dengan sikap tuannya. Daniel beralih kepada Kazao.
"Kazao, aku sudah merawatmu sejak kecil. Katakan padaku apa yang tidak ku ketahui tentang Akira darimu!" tekan Daniel pada Kazao.
Kazao menundukkan wajahnya, ia tahu Daniel memang sudah menolongnya ketika ia sudah tidak punya harapan untuk hidup. Tetapi, ia juga sudah berjanji pada Akira untuk tidak memberitahukannya pada Daniel. Kazao bimbang, mana yang harus ia pilih? Orang yang sudah menyelamatkannya atau mengingkari janjinya pada orang yang sudah ia anggap seperti saudara?
"Kazao!!" Daniel semakin mendesak Kazao.
Kazao menatap wajah Daniel.
"Maaf tuan, untuk kali ini saya tidak bisa memberitahukan kebenarannya pada anda. Saya sudah berjanji pada tuan muda untuk tidak memberitahu apapun pada keluarganya, kecuali jika tuan muda sudah mengizinkan." jelas Kazao dengan mantap.
Daniel mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Mengapa aku tidak boleh tahu? Apa yang anak itu berikan pada kalian?" tanya Daniel dengan nada tinggi.
"Tidak ada, tetapi kami para bodyguard tuan muda sudah berjanji dengannya untuk mengabdi pada tuan muda sampai titik darah penghabisan." sahut Naoki.
"Saya lebih baik mati daripada mengkhianati tuan muda, tolong tuan besar mengerti keadaan tuan muda." pinta Kazao dengan lirih.
"Saya berjanji akan menyelamatkan tuan muda bagaimana pun caranya, tuan tidak perlu khawatir. Saya rela jika harus menyerahkan nyawa saya demi menyelamatkan tuan muda, tuan muda akan kembali dengan selamat." lanjut Kazao sambil tersenyum.
Daniel memejamkan matanya, pikirannya kacau. Banyak prangsaka-prangsaka buruk yang ada di pikirannya tentang Akira. Ia ingin marah, tapi pada siapa? Dirinya? Apa kekhawatirannya selama ini menjadi nyata? Apa benar Akira terjun di dunia yang penuh dengan bahaya itu?
Banyak pertanyaan yang bermunculan dikepalanya, ia harus mencari tahunnya sendiri. Ia harus menghargai keputusan para bodyguard Akira yang sudah bersedia mempertaruhkan nyawanya demi Akira.
๐๐๐
Sehari sebelum Kazao dan Naoki tahu jika Akira tidak datang ke rumah sakit.
Di tempat Akai dibawa oleh orang-orang itu, Akai sangat yakin jika penglihatannya sedang salah, itu tidak mungkin orang yang selama ini selalu bersamanya ketika menghadapi musuh-musuhnya. Ia pasti salah lihat kan? Seseorang tolong katakan padanya bahwa ia salah lihat, bahwa ia hanya sedang berhalusinasi, bahwa orang yang ada disana bukanlah AKIRA!!!
Tidak, tidak mungkin! Itu pasti bukan Akira, Akira bukanlah orang yang dapat dikalahkan dengan mudah oleh musuhnya. Bahkan ketika jaraknya dengan musuh terbilang jauh pun Akira bisa mengetahuinya dan menembaknya tepat sasaran, ini pasti ada kesalahan.
"Ada apa Akai? Terkejut karena temanmu sudah tertangkap?" ucap seseorang dibalik meja yang tersedia diruangan itu, orang itu memakai topeng sehingga ia tidak dapat melihat wajahnya.
Akai masih menatap Akira tidak percaya, sedangkan Akira? Ia hanya menatap Akai dengan wajah datarnya, seolah-olah ini hanya hal kecil yang tidak perlu dipermasalahkan.
Oke Akai terlalu bodoh untuk menanyakan hal seperti itu, sudah pasti orang itu tidak akan menjawab pertanyaan bodoh yang ia lontarkan.
Orang bertopeng itu berdiri dari kursinya, ia mendekati Akai yang menatapnya dengan tajam. Hingga jarak keduanya sangat dekat, orang bertopeng itu berhenti dihadapan Akai.
"Apa aku harus menjawab pertanyaan bodoh itu?" tanyanya sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku.
Orang bertopeng itu menjentikkan jarinya, orang yang datang bersama Akai langsung mendudukkan Akai dikursi yang sudah disediakan lalu mengikatnya sama seperti Akira.
Orang bertopeng itu mendekati Akira yang terlihat santai, tidak merasa terancam sedikit pun.
"Akira, sudah lama aku tidak melihat mu. Aku tidak menyangka Garvin akan secepat ini membawamu padaku." ucapnya sambil mengelilingi Akira.
"Apa kemampuanmu menurun? Sehingga kau mudah untuk ditangkap?"
Akira hanya diam tak menjawab, membiarkan orang bertopeng itu mengoceh sesuka hatinya.
"Mengapa kau tidak menjawab pertanyaan ku? Apa kau bisu?" orang bertopeng itu menampar wajah akia dengan keras, sehingga menimbulkan bekas diwajah putih Akira.
"Hehe.. Apa kau bodoh? Bagaimana dia bisa menjawab pertanyaanmu jika mulutnya dilakban seperti itu?" Akai terkekeh karena ucapan orang bertopeng yang menurutnya lebih bodoh dari dirinya.
Kalau begitu Akai mengakui jika dirinya bodoh? Mungkin karena efek ditangkap, otak cerdasnya yang biasa ia gunakan untuk membuat alat canggih menjadi hilang entah kemana. Pembaca harap maklum :)
Orang bertopeng itu tertegun dengan ucapan Akai, ia lupa jika lakban yang ada di mulut Akira belum dilepas. Ia pun menarik paksa lakban itu dan berdeham untuk menghilangkan malunya, rasa bencinya terhadap Akira membuat ia kehilangan akal sehatnya.
Akira tersenyum miring saat orang bertopeng itu membuka lakban yang membuatnya tidak nyaman.
Orang bertopeng itu terus menatap Akira, entah apa yang ia pikirkan. Ia tidak berbicara sepatah katapun seperti sebelumnya, ia hanya diam menatap Akira.
Setelah itu ia keluar dan memerintahkan bawahannya untuk mengawasi Akira dan Akai.
Kini di ruangan itu hanya ada Akira, Akai, dan lima oang yang menjaganya.
Akira dan Akai didudukkan saling membelakangi dengan tangan yang terikat dibelakang, tidak bukan mereka berdua. Hanya Akai saja yang terikat sedangkan Akira terborgol.
"Saisho wa anatada to wa omotte imasendeshitaga, anata mo tsukamaru koto ga dekimasu. Fu fu.. (Awalnya aku tidak percaya kalau itu kau, ternyata kau bisa tertangkap juga. Hehe..") Kekeh Akai mereka berbicara menggunakan bahasa Jepang agar tidak diketahui oleh para penjaga.
Akira tersenyum miring, mendengar pengakuan Akai.
"Nakanaka tsukamaranai to omoimasuga, dลshite kon'na kaze ni natte shimatta nodesu ka? (Aku tahu kau tidak akan mudah tertangkap, jadi apa alasanmu menyerahkan dirimu seperti ini?) pancing Akai.
"Atode wakarimasu. (Kau akan mengetahuinya nanti.)" jawab Akira dengan santai, ia sama sekali tidak merasa keberatan disekap seperti ini.
"Anata no kangae o suisoku suru no wa muzukashฤซdesu. (Pemikiran mu sulit ditebak.)" kesal Akai.
"Anata no kangae o suisoku suru no wa muzukashฤซdesu. (Pemikiran mu saja yang dangkal.)" balas Akira, Akai mendengus kesal.
๐๐๐
"Kau siap?" tanya Kazao pada Naoki setelah mereka berdua melihat hasil didepan layar monitor.
"Hai!! Tanganku sudah gatal untuk menghabisi mereka, wajahku jadi seperti ini karenanya." balas Naoki geram.
"Baik, aku akan menyiapkan pasukan untuk misi ini." ucap Kazao mulai berdiri dari kursinya.
"Good luck!! Aku akan menyiapkan persenjataan." sahut Naoki yang juga ikut berdiri dari kursinya.
Mereka pun pergi untuk mempersiapkan segalanya, misi kali ini tidak boleh gagal. Mereka harus berhasil memenangkan lawan dan membawa pulang Akira, jika Akira saja bisa sampai tertangkap, besar kemungkinan lawan mereka sangat kuat. Kazao dan Naoki harus mempersiapkan segalanya dengan matang, mulai dari anggota yang akan dibawa harus yang terlatih dan berpengalaman, persenjataan dan misil harus tersedia jangan sampai saat di pertempuran mereka kehabisan senjata.
Kazao menghubungi semua mafia yang berada dalam jajaran Akira, dan mereka siap membantu dengan sukarela. Karena bagi mereka, sebuah kehormatan bisa bekerjasama dengan orang-orang Akira, sang pemimpin mafia nomor satu se-Asia.
Naoki pun sudah menyiapkan persenjataan yang terbaik beserta amunisinya, ia sudah sangat siap karena sudah tidak sabar untuk menghajar orang-orang itu.
Sekitar seratus orang anggota yang terpilih sudah siap diberangkatkan, mereka dipilih karena kemampuan yang mereka miliki. Anak buah Akira pun tidak semua ikut, ada yang harus tinggal dikediaman Akira dan rumah sakit untuk menjaga jika sewaktu-waktu musuh datang menyerang. Mereka akan bertemu dititik yang sudah Kazao beritahu, dan menunggu hingga nanti ada perintah lanjutan dari Kazao.
Kazao sudah siap dengan baju tempur dan earphone yang sudah dipasang di telinganya, begitu juga dengan Naoki.
"Tes, tes, apa kalian mendengarku?" ucap Kazao di earphonenya.
"Yes capt!" jawab para anggota yang sudah siap bertempur diberbagai tempat menuju tujuan.
"Good! Sesuai rencana, ketika kita sudah sampai disana setiap grup yang tadi sudah dibagi ambil posisi masing-masing dan tunggu aba-aba dari ku baru kita menyerang secara bersamaan. Ingat kita tidak tahu seberapa besar kekuatan musuh kita jadi hati-hati jangan ambil tindakan sendiri." ucap Kazao menjelaskan.
"Yes capt!!"
๐๐๐
Mohon dukungannya gaeessss....
Like, vote, komen, and rating ๐๐๐