My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Tragedi



Reina segera berbalik dan berlari menuju ruangan CEO, karena tidak memungkinkan jika meminta bantuan pada seseorang. Lorong itu sepi karena lantai itu hanya ada ruangan CEO dan rapat para petinggi rumah sakit, tetapi alangkah terkejutnya ia melihat pak Arlan dan Kenzi sudah terikat dengan kondisi tak sadarkan diri dan tubuh yang penuh dengan luka. Ia pun segera berbalik tetapi sialnya ia sudah dihadang oleh beberapa orang yang memegang senjata dengan menodongkan ke arahnya.


"Kau sudah terkepung nona!" ucap salah satu dari mereka memperingati.


Reina terdiam ditempatnya, ia perlahan mengangkat tangannya.


"Good!" ucap salah satu dari mereka yang sepertinya adalah pemimpinnya.


Pria yang diyakini sebagai pemimpin itu menurunkan pistolnya dan berjalan menghampiri Reina. Saat pria itu ingin memegang tangannya, dengan gerakan cepat dan kuat Reina menendang dagu pria itu hingga pria itu jatuh tersungkur. Karena tendangan yang dilakukannya itu, gamis yang Reina pakai pun jadi robek di bagian pinggirnya. Untungnya Reina selalu memakai celana training, jadi kulit putihnya tidak terekspos bebas.


"Arghh... Shit....!!!!!!" teriak pria itu, yang wajahnya sudah berdarah akibat tendangan Reina yang cukup kuat.


Melihat atasannya terjatuh, semua orang yang mengepung Reina melepaskan pelurunya ke arah Reina. Tetapi Reina sudah memperkirakan ini sebelumnya, ia segera melakukan roll depan dan menendang kaki mereka ke samping, dua orang pun terjatuh dengan kepala yang membentur lantai dengan keras karena tidak siap dengan serangan Reina yang mendadak itu dan berakhir tak sadarkan diri.


"Lemah.." sindir Reina karena tidak menyangka jika kedua pria itu langsung tak sadarkan diri.


Melihat kawannya sudah terjatuh, tiga orang yang tersisa itu bersiap menarik pelatuk pistolnya. Reina menyadari itu, ia menendang pistolnya dan pistol itu pun terjatuh. ia segera melakukan salto ke belakang dimana masih ada yang ingin membidiknya, ia menendang area sensitif pria itu dan pria itu pun menjerit kesakitan hingga pistolnya terjatuh. Pria yang tadi pistolnya ditendang oleh Reina segera berlari ke arah Reina, dengan sigap Reina menghindari pria itu. Tak berhenti disitu saja, pria itu siap memukul wajah Reina. Tetapi Reina yang memang ahli bertarung dalam jarak dekat dapat menghentikan serangannya, ia memegang tangan pria itu lalu mematahkannya. Pria itu mengerang kesakitan, Reina segera mengunci pria itu dengan tangannya.


DOR..


Pria itu tertembak oleh temannya sendiri karena Reina menjadikannya tameng saat ia tahu ada orang yang ingin membidiknya. Karena kesal, pria itu terus menembaki Reina dengan pelurunya. Reina masih menggunakan teman pria itu sebagai tamengnya, ia mengangkat pria yang satunya lagi saat ia menendang area sensitifnya sebagai pelindungnya. Tenaga Reina yang sangat kuat seperti pria, membuat semua yang berada di ruangan terkejut sekaligus geram. Reina berlari mendekati pria yang sedang menembakinya itu dengan kedua pria yang menjadi tamengnya. Karena terkejut atau kagum pada Reina, ia tidak menyadari kalau pelurunya sudah habis ia tembakkan.


Reina melihat kesempatan, ia melepaskan kedua pria yang menjadi tamengnya yang sudah banjir darah dan tak sadarkan diri itu begitu saja. Reina menendang bagian belakang kepala yang menembakinya dengan kuat, pria itu jatuh menabrak dinding didepannya dengan keras. Hidungnya patah hingga darah mengalir dengan deras dari hidung itu. Tubuh Reina yang ramping sangat menguntungkan dirinya saat bertarung, sehingga ia tidak kesulitan menghadapi orang-orang yang menyerangnya.


Pria yang Reina anggap sebagai pemimpin dari mereka bangkit karena merasa sudah tidak cukup sakit, ia ikut melawan Reina dengan tangan kosong. Mungkin karena kesal, ia sampai tidak ingat jika dipinggangnya ada pistol senjata yang paling mudah untuk menyerang seseorang yang tidak memiliki senjata. Reina yang baru saja mengalahkan empat orang dengan sendirian itu merasa kesal karena mereka tak ada henti-hentinya, ia pun melakukan split sehingga pria yang ingin menghajarnya hanya memukul angin. Reina segera menarik salah satu kaki pria itu, lagi-lagi pria itu jatuh tersungkur dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Reina bangkit dan menjatuhkan dirinya dalam posisi duduk ke tubuh pria itu, pria itu berteriak. "Ugh..!!"


"Berisik!!! Kau ini laki-laki tapi seperti perempuan, selalu berteriak." Ucap Reina kesal.


Reina mengambil pistol yang ada di pinggang pria itu, ia menodongkannya kepada pria yang baru saja bangkit.


"Berhenti disitu atau aku akan menembak kepalamu!" perintah Reina.


Pria itu terkejut dengan Reina yang menodongkan pistol ke arahnya, melihat Reina yang menyerang ia dan teman-temannya dengan seorang diri tanpa senjata saja sudah membuat mereka kewalahan. Apalagi jika Reina menyerang mereka dengan menggunakan senjata?


Akhirnya pria itu menyerah dengan mengangkat kedua tangannya. Reina segera bangkit masih dengan menodongkan pistol ke arah siapa pun yang akan menyerangnya, ia keluar dari ruangan itu dan berlari menuju tangga karena ia yakin pasti orang yang ia temui masih berada disana.


Reina membuang pistol yang ia pegang, tangannya sejak tadi gemetaran saat memegang pistol itu. Ia bersyukur karena tidak menembak seorang pun, Reina berlari menuruni tangga ia harus segera ke ruangannya memberitahukan kejadian ini pada rekannya.


Sayup-sayup Reina mendengar suara tembakan dari arah lain, ia segera waspada. Sebenarnya ada apa ini? Mengapa ada banyak sekali orang-orang yang memegang senjata api menyerang rumah sakit ini, bagaimana nasib para pasien yang sedang dirawat? Reina sangat khawatir dengan para pasiennya, ya masih sempat-sempatnya Reina memikirkan keselamatan orang lain.


Setelah menempuh jarak yang menurutnya sangat jauh dan waktu seakan berjalan sangat lambat, akhirnya Reina sampai di ruangannya. Dengan napas yang tersengal-sengal ia membuka pintu ruangannya, tetapi pemandangan yang sama sekali tidak diharapkan itu membuat ia terkejut setengah mati karena semua rekan-rekannya tak sadarkan diri semua, ia menghampiri Bunga yang tergolek dilantai.


"Bunga?" panggil Reina sambil mengguncangkan tubuhnya.


Tak ada respon dari Bunga, ia masih setia memejamkan matanya. Reina menutup mulutnya tidak percaya, ia segera pergi dari ruangan itu dan memeriksa ruangan lain.


Nihil. Hasilnya sama, semua orang pingsan, sepertinya mereka semua dibius. Ia segera turun ke lantai bawah dimana tempat para pasien dirawat. Sepertinya takdir memang tidak berpihak padanya, ia kembali bertemu dengan seseorang yang ia temui dilantai teratas.


"Nona Reina, ternyata kau disini. Aku sampai mencari mu kemana-mana." ucapnya dengan tersenyum, yang mana itu membuat Reina menjadi bergidik.


"Katakan sebenarnya apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Reina gugup, tangannya sudah gemetaran.


"Aku sudah mengatakannya sejak awal, jadi aku tidak akan mengulanginya lagi." jawabnya malas.


"Untuk apa? Untuk apa kau menyerang rumah sakit ini?" Reina ketakutan dengan Garvin.


Ya pria yang ia temui di lorong itu adalah Garvin Nicholas. Pembunuh bayaran dan seorang mafia yang kejam, jangan lupakan sisi psikopatnya itu.


"Kau sendiri yang membuatnya sulit nona, jika saja tadi kau segera menyerahkan dirimu. Semua ini tidak akan terjadi." balas Garvin enteng.


"Kenapa kau ingin membawa ku?" Reina terus menanyakan semua pertanyaan yang berasal di kepalanya, rasanya ia ingin menangis saat ini juga, tidak ada seorang pun yang bisa ia minta bantuan. Bodyguardnya? Ah, iya bagaimana nasib mereka? Reina sangat kalut dengan situasi seperti ini.


"Sesi tanya-jawab bukan dilakukan disini, ayo ikut aku!" ucapnya tidak bisa diganggu gugat.


Garvin semakin mendekati Reina yang sudah terpojok, entah kemana keberanian Reina saat ini. Ia hanya bisa melihat Garvin yang semakin dekat jaraknya.


Reina berusaha berlari dari Garvin, tetapi Garvin lebih cepat dari Reina ia sudah menangkap tangan Reina.


"Lepas!" teriak Reina.


"Tidak akan!" tegas Garvin.


Reina memberontak, tetapi tenaganya kalah dengan Garvin yang jauh lebih kuat darinya. Air matanya sudah tidak bisa ia tahan lagi, ia sangat takut. Garvin menggendong Reina dibahunya, Reina masih memberontak berusaha melepaskan diri dari Garvin. Garvin membawa Reina masuk dalam lift.


Reina mencari cara agar bisa terlepas dari Garvin, ia menggigit bahu Garvin hingga berdarah.


"Arrghh..." tangan Garvin terlepas dari gendongannya, Reina memanfaatkan situasi ia segera turun dari tubuh Garvin. Lalu ia menendang dengan kuat wajah Garvin, sebisa mungkin Reina harus bisa membuat Garvin pingsan karena ia masih berada didalam lift, ia tidak bisa kabur dengan mudah.


Garvin geram ia mendekati Reina, Reina segera berguling dan menarik kaki Garvin agar terjatuh. Tapi sia-sia, Garvin tidak jatuh seperti pria yang sebelumnya ia hadapi. Garvin tersenyum miring melihat usaha Reina untuk menjatuhkannya gagal.


"Tidak bisa ya?" tanya Garvin dengan seringainya, Reina mendongak melihat wajah Garvin.


Garvin melompat dengan tinggi hingga sebagian tubuh Reina terangkat karena masih memegang kedua kaki Garvin, setelah itu Garvin mengarahkan kakinya ke samping dinding lift hingga akhirnya tubuh Reina terbanting dengan sangat keras sampai dinding lift sedikit penyok.


"Awwh..." ringis Reina, tubuhnya seperti remuk karena habis terbanting.


Dengan cepat Garvin mengangkat tubuh Reina dan memukulnya dengan membabi buta, Reina yang belum pulih akibat terbanting tadi tidak bisa melawan serangan Garvin yang lebih kuat berkali-kali lipat darinya.


Garvin menjatuhkan Reina setelah Reina sudah tak berdaya, tetapi Reina masih sadar belum pingsan. Reina meringis akibat pukulan bertubi-tubi yang diberikan Garvin, ia meringkuk.


"Aku tidak pernah main-main dengan sikap dan ucapan ku nona, sepertinya tadi aku terlalu lembut padamu. Aku tidak pernah memandang musuhku, walaupun dia perempuan sekalipun aku tidak segan-segan menghabisinya!!!" ucap Garvin dengan dingin, aura membunuh pun terpancar didalam lift itu.


"Ya Allah... tolong aku..."


Pintu lift terbuka, dengan sisi tenaga yang ada Reina berlari keluar.


"Masih belum menyerah." ucap Garvin pada dirinya sendiri.


Keadaan didalam rumah sakit sangat kacau, banyak bekas baku tembak berada disana. Reina masih berlari terseok-seok karena menahan sakit ditubuhnya, seketika tangannya ditarik oleh seseorang. Ia menoleh dan ternyata itu Garvin yang menangkapnya dengan tatapan tajam, Reina menggelengkan kepalanya.


"Tidak, kumohon jangan!" Reina hanya bisa mengucapkan itu dalam hati, lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu.


Garvin menyeret Reina untuk keluar dari rumah sakit itu, Reina memberontak. Ia memukul-mukul Garvin dengan tangan satunya yang tidak ditarik oleh Garvin, Garvin seolah tidak peduli dengan tangisan Reina ia tetap menyeretnya baginya pukulan Reina hanya seperti toelan saja.


Reina masih tidak menyerah, ia menendang area sensitif Garvin. Berhasil, Garvin merintih terduduk langkahnya terhenti tetapi tangannya masih memegang Reina. Reina menginjak tangan Garvin yang memegang tangannya, sekali lagi Garvin meringis kesakitan pegangannya terlepas. Reina tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia segera berlari menjauhi Garvin yang kesakitan.


Garvin tersadar Reina berhasil kabur lagi darinya, ia segera bangkit dan mengejar Reina.


Reina melihat Garvin mulai mengejarnya, ia semakin ketakutan.


DOR..


"Argh.."


Reina menoleh ke belakang dimana Garvin tertembak dibagian bahunya, Reina melihat siapa yang menembaknya.


"Naoki!!!" pekik Reina bahagia.


Naoki berdiri didekat tangga memegang pistolnya yang mengarah ke Garvin. Penampilannya sangat berantakan, ditambah luka-luka yang berada diwajahnya, tidak ketinggalan pula dahinya yang masih mengalirkan darah segar.


Naoki berjalan mendekatinya dengan terpincang-pincang, sepertinya ia terkena tembak di bagian kakinya, Reina menjatuhkan lagi air matanya yang sempat berhenti tadi.


"Anda tidak apa-apa nona?" tanyanya khawatir dengan napas yang tersengal-sengal masih berusaha mendekati Reina.


Reina menganggukkan kepalanya.


"Naoki awas!!" teriak Reina ketika Garvin ingin menembakkan pelurunya ke arah Naoki.


DOR..


"NONA!!!!!!" teriak Naoki karena Garvin mengubah sasarannya ke arah Reina.


"Arghh..." teriak Reina kesakitan.


Naoki menembakkan pelurunya ke arah Garvin, Garvin dengan mudah menghindari serangan Naoki.


"SHIT!!!" umpat Naoki ketika Garvin berhasil kabur.


Segera ia menghampiri Reina yang tertembak di dadanya.


"Nona? Ayo kita segera ke rumah sakit!" ucap Naoki panik, ia sudah siap untuk menggendong Reina.


"Tidak! Aku jalan saja." tolak Reina yang masih memegang dadanya yang mengeluarkan darah dengan deras.


"Tapi nona keadaan anda-"


"Bagiku lebih baik seperti ini daripada aku harus bersentuhan dengan laki-laki yang bukan suamiku." potong Reina cepat.


Naoki pasrah, ia menuruti keinginan nonanya itu. Ia mengawasi Reina dari belakang, bukan hanya sekali Reina terjatuh dan saat itu juga Naoki tidak tega dengan kondisi nonanya ingin membantunya. Tetapi Reina tetap kekeh dengan pendiriannya, hingga wajahnya sudah semakin pucat karena kehabisan banyak darah. Akhirnya Reina dan Naoki sampai di halaman rumah sakit.


"Reina?" ucap seseorang yang tidak asing dipendengaran Reina.


Reina menoleh dan betapa bahagianya ia melihat suaminya datang dengan wajah paniknya. Akira segera berlari menghampiri istrinya yang terlihat lemah.


"Mas?" panggil Reina yang sudah berlinang air mata.


Akira tidak tega dengan kondisi istrinya, ia segera memeluknya.


"Aku takut mas, aku takut!!" lirih Reina disela-sela isak tangisnya.


Akira mengusap kepala Reina agar istrinya tenang, Reina menangis pilu dipelukan Akira dan melupakan lukanya. Siapapun yang mendengarnya akan merasa iba termasuk Kazao yang saat itu berdiri mematung melihat wanita yang dicintainya terluka, ia mengepalkan tangannya menahan emosi kepada orang yang telah membuat wanitanya seperti itu.


Pelukan Reina melemah dan perlahan terlepas, Akira melihat wajah istrinya yang sudah memejamkan matanya. Ia baru sadar jika Reina terkena tembakan di dadanya, kemeja yang Akira pakai pun berubah warna menjadi merah karena darah Reina.


"KAZAO!!!" teriak Akira panik, ia segera menggendong Reina ala bride style menuju mobilnya.


Kazao segera mengikuti Akira, begitu juga dengan Naoki yang terluka. Mereka berempat memasuki mobil Akira menuju rumah sakit diikuti para bodyguard Akira yang tadi ikut serta dengannya, karena bodyguard yang ikut dengan Reina sudah tewas semua hanya tersisa Naoki seorang.


🍁🍁🍁


Huhuhu gaesss ... author yang imut ini kembali lagi😁😁😁


Hari ini otak saya lagi sinkron, jadi bisa up cepat. πŸ˜†πŸ˜†


Part ini lumayan panjang loh menurut saya, saya juga gak tahu tumben-tumbenan ini otak bisa diajak kerja sama. Biasanya harus dipancing duluπŸ˜‘πŸ˜‘


Kalau boleh, kalau boleh loh ini mah ya. Kalau gak boleh juga gak papa, author gak maksa :v 🀭🀭


Kalau boleh author minta kritik saran, like, sama votenya ya.. syukur-syukur sama rating juga :v 😁😁


Udah itu doang kok selamat membaca semoga kalian suka, dukung author terus ya... dan terima kasih untuk kalian yang selalu nungguin kelanjutan cerita iniπŸ˜‰πŸ˜‰


Salam manis dari author


πŸ’™πŸ’™πŸ’™