
Di dalam mobil, Akira mendengar semua pembicaraan Reina dengan CEO nya di rumah sakit. Tangannya terkepal erat sekali menahan emosi yang ada pada dirinya.
Sebelumnya Akira sudah mengganti cincin pernikahan Reina dengan cincin yang lain, bentuknya memang mirip hanya saja ada fungsi lainnya yaitu merekam suara.
Akira mengambil ponselnya dan memanggil seseorang.
"Halo tuan?" Panggil seseorang disebrang setelah sambungan terhubung.
"Apa kau tahu rencana mereka selanjutnya?" Tanya Akira dengan nada dingin.
"Ya tuan. Besok mereka akan ke tahanan xxx, untuk melakukan penelitian." Jawab seseorang disebrang.
"Ikuti dan awasi mereka." Perintah Akira.
"Saya mengerti tuan."
"Dan cari tahu seseorang yang bernama Kenzi." Sambungan terputus.
Akira tidak sembarang dalam memilih seseorang untuk bekerja padanya. Seperti kali ini, ia memperkerjakan seorang agen FBI untuk mengawasi Reina selama ia tidak ada di dekat Reina.
🍁🍁🍁
Setelah keluar dari ruangan CEO nya, Reina segera pergi menuju ruangan pasien yang sedang ditanganinya.
"Reina?"
Reina enggan menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.
"Reina tunggu aku." Kenzi menarik pergelangan tangan Reina, membuat yang empunya berhenti berjalan dan menatap pria yang disampingnya tajam.
"Jangan sentuh saya." Ucap Reina menekankan intonasinya disetiap kata.
"Maaf" Kenzi segera melepas pegangannya.
"Mengapa kau selalu mengikuti ku?" Ucap Reina tak suka.
"Bukankah kita harus selalu bersama? Kita akan menjalankan tugas bersama dari dokter Arlan." Jelas Kenzi.
"Tugas itu dimulai besok, bukan sekarang." Ucap Reina dingin.
"Sebelumnya kita harus menyiapkan bahan dulu kan?"
"Itu bisa nanti, tolong jangan ganggu saya. Saya sedang sibuk." Tanpa menghiraukan ucapan Kenzi lagi, Reina langsung meninggalakannya dengan berjalan cepat.
Di belakang Reina Kenzi mengeluarkan senyum smirknya. Ia menghubungi seseorang.
"Halo?" Ucap seseorang disebrang.
"Aku ingin kau mencari tahu tentang Reina Putri Ramadhani." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Kenzi, setelah itu ia mematikan sambungan teleponnya.
"Kau semakin menarik Reina." Kenzi membetulkan kaca mata yang ia pakai.
🍁🍁🍁
Sebenarnya hari ini Reina tidak ada jadwal pasien, ia hanya beralasan saja pada Kenzi karena ia tidak suka ada pria yang mendekatinya. Kalau sebelumnya ada Aisyah yang menjadi tamengnya, sekarang ia harus mengandalkan dirinya sendiri.
Reina berjalan menuju ruang arsip, ia berniat mencari bahan informasi untuk penelitian disana.
Sesampainya disana ia mulai mencari-cari dokumen pasien yang pernah mengalami kelainan psikopat.
Sudah satu jam Reina mencari, namun dokumen yang ia cari belum juga ditemukan. Apa sebelumnya belum pernah ada pasien psikopat yang terapi disini?
Ia pun berencana untuk ke perpustakaan kota untuk mencari informasi disana.
"Halo, nona?" Panggil Kazao.
"Kazao aku membutuhkanmu." Ucap Reina.
"Apa yang nona butuhkan?"
"Jemput aku di rumah sakit, dan antarkan aku ke perpustakaan kota." Ucap Reina to the point.
"Lima belas menit saya akan sampai disana."
"Aku menunggunya." Sambungan pun diputus oleh Reina.
Reina segera bergegas keluar dari ruang arsip menuju ke depan rumah sakit.
🍁🍁🍁
Akira sedang membaca berkas-berkas di ruang kerjanya, hingga suara ketukan pintu menghentikan aktivitasnya.
"Masuk." Ucap Akira dingin.
Ceklek
Pintu terbuka memperlihatkan seorang pria yang membawa beberapa map.
"Apa yang kau bawa?" Tanya Akira melihat map yang dibawa pria tersebut.
Akira membuka satu persatu map dan membacanya. Ia sangat teliti dalam melakukan apapun, sehingga kesalahan sedikit saja bisa ia ketahui. Setelah selesai menandatangani semua berkas, ia menyerahkannya kembali pada pria dihadapannya.
"Maaf tuan, sekedar mengingatkan jam satu siang nanti anda ada meeting dengan klien."
"Hm" hanya itu yang keluar dari mulut Akira.
"Kalau begitu saya izin keluar dulu, permisi." Pria itu segera keluar dari ruangan atasannya.
Baru saja ia menyandarkan tubuhnya di kursi, panggilan masuk di ponselnya. Ia memasang earphone bloetooth nya lalu mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa?" Jawab Akira.
"Ini mengejutkan, aku sudah berhasil membuka benda yang ku temui." Jelas Akai.
"Nanti malam datang ke rumahku, kita bicarakan disana."
"Mengapa tidak sekarang?"
"Ini jam kerja Akai, aku sibuk."
"Tidak bisakah kau meluangkan sedikit waktumu?" Akai masih bernegosiasi.
"Tidak! Ingat, aku disini hanya satu minggu tidak lebih. Jika itu mendesak, baru aku akan menambahkan hari ku disini."
"Baik-baik, aku mengerti." Akai mengalah, ia tidak ingin berdebat dengan Akira. Karena percuma saja, jika ia berdebat ia tak akan menang.
"Bagaimana proyek yang kau urus?"
"Sudah berjalan 40%" jawab Akai.
"Aku akan kesana untuk melihatnya."
"Kapan kau akan ke sini?"
"Nanti sore."
"Aku tunggu." Sambungan terputus, Akira kembali pada aktivitasnya yang sempat tertunda.
Sedangkan di lain tempat, Reina sedang membaca buku mengenai informasi untuk bahan penelitiannya besok di perpustakaan kota.
Kazao dengan setia menemani nonanya itu membaca di meja yang berbeda. Karena bosan hanya berdiam diri, ia berniat mencari buku juga untuk dibacanya.
Saat sedang mencari buku, tanpa sengaja ia melihat seorang wanita yang sedang kesusahan mengambil buku di rak atas.
"Butuh bantuan?" Tawar Kazao.
Wanita itu melihat ke arah Kazao, lalu mengangguk. Kazao mengambil buku yang diminta wanita itu, lalu menyerahkannya.
"Terima kasih, em-"
"Kazao, siapa namamu?"
"Nina, salam kenal." Ucap wanita itu sambil tersenyum.
Kazao membalas dengan senyum ramah, lalu ia pergi mencari buku yang ingin ia baca. Setelah mendapatkannya, Kazao kembali ke tempatnya semula. Ia melihat ke arah nonanya, Reina masih serius membaca bukunya.
"Maaf, boleh aku bergabung dengan mu?" Tanya wanita yang tak lain adalah Nina.
"Silahkan, ini tempat umum." Ucapnya sambil tersenyum.
Nina pun duduk dihadapan Kazao. Kazao masih memperhatikan Reina, khawatir nonanya itu ingin pergi.
Nina mengikuti pandangan Kazao.
"Apa kau mengenalnya?" Tanya Nina.
Kazao mengalihkan pandangan ke Nina.
"Ya, dia majikanku." Nina hanya mengangguk.
"Kau sudah lama bekerja padanya?"
"Cukup lama, sebenarnya dia istri dari majikan ku. Aku sudah lama bekerja pada suaminya." Jelas Kazao.
"Kau sendiri bekerja dimana?" Kazao bertanya kembali menghilangkan bosan padanya.
"Aku masih kuliah semester akhir, tetapi sambil bekerja sampingan." Ucapnya tersenyum.
Mereka berdua pun mengobrol ringan menghilangkan rasa bosan yang ada pada diri mereka, sekali-kali mereka tertawa renyah.
Reina yang melihat Kazao sedang berbicara akrab dengan seorang wanita tersenyum.
"Semoga Kazao mendapat jodoh yang baik." Batin Reina.
🍁🍁🍁