
"Welcome to Japan." Sambut Akai di bandara, Akira sampai di Jepang saat hari sudah gelap.
Akira mendekati Akai, ia memeluk pria itu.
"Bagaimana perjalanan bersama orang lain? Menyenangkan?"
"Akan lebih menyenangkan jika aku menaiki pesawat ku sendiri." Akai tertawa mendengar jawaban Akira.
"Sudah kuduga, kau akan menjawab seperti itu."
"Kalau bukan karena Reina aku tidak mungkin menaikinya."
"Waw, kau jadi penurut setelah menikah." Ledek Akai.
"Dimana helikopter ku?" Akira mengalihkan pembicaraan.
"Kau ingin langsung ke markas atau tempat biasa?"
"Tempat biasa, aku butuh istirahat sejenak."
"Baiklah." Mereka berdua pergi ke tempat helikopter Akira berada.
Helikopter pun berangkat setelah mereka menaikinya. Tidak ada pembicaraan diantara keduanya, mereka sibuk dengan urusan masing-masing.
Me
Aku sudah sampai.
My love
Syukurlah, hati-hati disana.
Me
Kamu ingin dibawakan apa
Sayang?
My Love
Cukup kau pulang dengan
selamat.
Me
Baiklah, jaga dirimu disana.
Jangan dekat-dekat dengan
laki-laki lain.
My Love
Hehe, tentu saja
sayang.π
Akira tersenyum mendapat jawaban sayang dari Reina.
Me
Bisakah kamu memanggilku seperti
itu setiap hari?
My Love
Kita lihat saja nanti.
Reina langsung offline setelah membalas pesan dari Akira. Akira masih senyum-senyum melihat chattingannya dengan Reina.
"Apa kau sedang sakit?" Akai menempelkan tangannya di dahi Akira.
Akira langsung menepis tangan Akai.
"Apa yang kau lakukan?"
"Sejak tadi kau senyum-senyum sendiri, kukira kau sakit setelah perjalanan tadi."
"Aku tidak kenapa-kenapa." Ucap Akira ia langsung memasang wajah datar.
"Itu baru Akira yang ku kenal." Akai tersenyum jahil melihat Akira yang sudah memasang wajah datarnya.
Mereka sampai disebuah hotel bintang lima yang tidak lain adalah milik Akira sendiri. Mereka masuk ke hotel tersebut dan menaiki lift untuk sampai di lantai teratas hotel, tempat yang biasa mereka datangi kalau ingin membicarakan sesuatu.
Saat mereka sudah sampai, para pelayan segera menyambut kedatangan mereka berdua. Semua membungkuk hormat pada tuannya.
"YΕkoso (Selamat datang tuan)." Akira hanya mengangguk dan berjalan begitu saja melewati para pelayannya.
Dengan sigap pelayan tersebut melayani Akira dan Akai. Pelayan pria segera menuangkan wine ke dalam gelas.
"Watashi wa wain o nomanai, hoka no non'arukΕru inryΕ o ni te ni ire nasai. (Aku tidak minum wine, ambilkan minuman lain yang tidak beralkohol)." Tolak Akira saat pelayan pria tersebut ingin menuangkan wine digelasnya.
"Itsu kara o sake o yamemashita ka? (Sejak kapan kau berhenti minum alkohol?)" Tanya Akai, karena pasalnya sebelumnya Akira sangat menyukai wine. Apalagi jika Akira sedang penat, atau lelah karena urusan pekerjaan ia akan meminta wine.
"Sejak menikah. Reina tidak mengizinkan ku untuk meminum minuman alkohol." Akira mulai menyalakan rokoknya. Akira mulai menggunakan bahasa Indonesia agar para pelayan tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
"Apa yang dilakukan istrimu sampai kau bisa menjadi penurut seperti ini?" Akai menjadi heran sendiri, karena belum sebulan Akira menikah dengan Reina tetapi sikap Akira sudah berubah.
Akira mengembuskan asap rokoknya ke udara, ia menerawang langit-langit hotel.
"Apa yang dilakukan Reina padaku? Entahlah, aku tidak tahu. Setiap ia meminta sesuatu, aku selalu tidak bisa menolaknya." Akira masih melihat ke langit-langit hotel, ia membayangkan kehidupannya belakangan ini.
Akai terkekeh mendengar jawaban Akira.
"Wanita yang hebat, bisa menaklukkan seorang mafia yang cukup kejam." Puji Akai.
Akira melihat Akai malas.
"Jangan bilang kau juga sudah berhenti melakukan aksimu?" Tebak Akai.
"Tidak, Reina belum tahu soal itu." Akira menghisap rokoknya lagi.
"Apa kau berniat memberitahunya?" Akai meminum wine nya.
Akira kembali menerawang langit-langit hotel, ia mengembuskan asap rokoknya perlahan. Akira tidak tahu akan memberitahu Reina atau tidak.
"Kau harus memberitahukan padanya, cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya. Saranku akan lebih baik jika kau memberitahukannya, daripada dia tahu sikapmu lalu dia akan merasa kecewa." Akira melihat Akai yang sedang meminum wine.
"Aku tahu." Akira mematikan puntung rokoknya yang sudah pendek.
"Kau sendiri apa masih suka bermain wanita?" Tembak Akira, ia menatap tajam Akai dengan senyum smirknya.
Akai balik menatap Akira dengan senyum smirknya juga.
"Hanya seminggu diawal pernikahan ku, setelah itu aku berhenti karena istriku mulai curiga." Akai menjawabnya dengan santai.
"Kau pandai dalam menasihati seseorang, tetapi tidak pandai dalam menasihati diri sendiri." Ucap Akira lalu meminum minuman yang diberikan pelayan.
Akai hanya tersenyum mendengar ucapan Akira.
"Kau tahukan? Teori itu mudah, tapi tidak dengan praktek." Ucap Akai membela diri sendiri.
"Praktek akan jadi lebih mudah jika kita ada niat untuk bisa dan berusaha." Akira tak mau kalah, ia membalas ucapan Akai.
"Hehh..baiklah, aku mengerti. Aku tidak akan pernah bisa menang berdebat denganmu." Akai menghela nafas mengakhiri perdebatannya dengan Akira.
Akira tersenyum puas melihat Akai yang sudah menyerah berdebat dengannya.
"Sudah cukup istirahatnya, aku ingin ke sana." Akira bersiap untuk berdiri.
"Sekarang?" Tanya Akai.
"Waktu ku tidak banyak Akai, aku hanya seminggu disini." Akira sudah berdiri.
Dengan malas, Akai bangkit dari duduknya. Ia mengikuti Akira yang sudah berjalan didepannya.
πππ
Reina sedang duduk di tempat tidurnya. Baru kali ini Reina tidur sendiri setelah ia menikah dengan Akira. Padahal belum sehari ia ditinggal Akira, tetapi ia sudah merindukan suaminya itu.
"Akira kapan kau akan kembali?" Tanya Reina pada dirinya sendiri.
Ia terpikir untuk menghubungi Akira. Ia segera mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Akira.
Me
Assalamu'alaikum, Akira?
Pesannya hanya ceklis satu. Reina memutuskan untuk menunggu balasan dari Akira.
Sepuluh menit, tiga puluh menit, sampai satu jam Akira belum membalas pesannya. Ia pun mengirimkan pesan lagi pada Akira.
Me
Akira apa kau sudah tidur?
Me
Apa kau sibuk?
Berjam-jam ia menunggu balasan dari Akira, tetapi hasilnya masih sama hanya ceklis satu.
Ia pun menghubungi Akira. Tetapi panggilannya tidak diangkat-angkat, membuat Reina menjadi kesal sendiri.
"Apa dia sesibuk itukah? Mengapa panggilanku tidak diangkat-angkat?" Reina membanting ponselnya ke kasur.
Ia pun berbaring di kasurnya, baru kali ini ia ingin begitu diperhatikan oleh orang lain. Ia pun memejamkan matanya berusaha untuk tidur.
πππ
Akira dan Akai sudah sampai di markas yang sebelumnya sudah dihancurkan oleh Akai dan orang-orang Akira.
"Disini tempatnya?" Tanya Akira.
"Ya disini." Jawab Akira.
Akira seperti mengenal tempat ini, ia berusaha mengingatnya kapan ia pernah kesini. Ia berjalan kedepan sambil mengingat-ingat.
"Akira tolong aku!!"
Sedikit bayangan tentang memorinya dulu muncul di kepala Akira. Ia melangkah lebih jauh lagi. Bayangan memori itu semakin jelas, dan membentuk sebuah ingatan pada masa lalunya saat delapan tahun yang lalu.
Akira memegang kepalanya karena sakit saat mengingat kejadian tersebut. Ia jatuh terduduk disana.
Melihat Akira yang terduduk disana, Akai segera mendekati Akira.
"Akira, apa kau baik-baik saja?" Tanya Akai khawatir.
Akira masih memegang kepalanya yang terasa sangat sakit sekali. Ia menjatuhkan butiran bening dari matanya yang sipit.
"Akira!! Hey...jangan membuatku khawatir." Akai tambah panik melihat Akira yang mulai mengeluarkan air mata.
"Ayumi!!" Ucap Akira.
"Ayumi?" Akai bingung karena Akira memanggil nama Ayumi.
"Ayumi, maafkan aku." lanjut Akira.
"Akira jawablah pertanyaan ku, kau membuatku sangat khawatir."
Akira menghapus air matanya, ia mulai bangkit untuk berdiri. Ia melihat Akai yang begitu khawatir padanya.
"Akai apa kau tahu kejadian delapan tahun yang lalu?" Tanya Akira saat dirinya mulai tenang, iaasih menatap puing-puing yang ada dihadapannya.
"Delapan tahun yang lalu?" Akai mulai mengingat-ingat kejadian tersebut.
"Saat Ayumi terbakar." Tambah Akira.
"Ah, kejadian itu. Ya aku tahu, ada apa?" Akai mulai mengingat kejadian tersebut.
"Disinilah tempatnya." Ucap Akira.
Akai terkejut dengan ucapan Akira, ini tempat Ayumi tewas terbakar? Bagaimana bisa?
"Sepertinya aku mulai paham dengan ini semua."
Akai melihat Akira yang mulai diliputi oleh kemarahan, tangan Akira terkepal sangat kuat.
"Aku tahu siapa dalang dibalik ini semua. Orang itu belum mati, dia masih hidup dan berkeliaran disekitar kita." Akira semakin mengepalkan tangannya.
πππ