
Reina termenung didalam mobil. Ia masih memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh Kenzi dan Garvin. Ada apa dengan suaminya? Apa suaminya menyembunyikan sesuatu darinya? Mengapa Saat dirinya menyebut nama 'Akira' seketika seperti ada hawa permusuhan. Apa Akira mengenal mereka berdua. Memikirkan itu semua membuat Reina jadi pusing sendiri. Ia menyenderkan kepalanya di bangku mobil dan memejamkan matanya untuk merilekskan pikirannya. Sungguh hari ini benar-benar melelahkan bagi Reina, padahal hari ini ia tidak melakukan kegiatan yang berat.
Reina membuka matanya, tanpa sengaja matanya melihat ke spion. Ia heran melihat Kazao terus-menerus melihat ke spion belakang, Kazao seperti sedang mengamati sesuatu.
"Ada apa Kazao?" tanya Reina.
Kazao terlihat terkejut mendengar pertanyaan Reina. Tetapi ia dapat mengendalikannya dengan sekejap.
"Tidak nyonya." jawab Kazao singkat, wajahnya sangatlah datar tanpa menampilkan senyum sedikit pun. Berbeda dengan Kazao yang biasanya selalu menampilkan senyuman manisnya.
Reina tidak yakin dengan jawaban Kazao. Ucapannya memang menunjukkan bahwa ia baik-baik saja, tetapi lain dengan respon yang diberikan oleh tubuhnya. Seperti akan terjadi sesuatu yang sangat membahayakan.
"Apa kau yakin? Ucapan dengan gerak tubuhmu tidak menunjukkan bahwa kau baik-baik saja." Reina balik bertanya untuk menyelidik. Reina adalah seorang psikolog, jadi ia tahu jika seseorang sedang berbohong atau tidak.
Kazao terlihat gelagapan untuk menjawab pertanyaan Reina. Ia memikirkan cara bagaimana memberikan jawaban yang tepat, atau lebih baik ia jujur saja pada Reina?
"Maaf nyonya, sa-"
Belum sempat Kazao menyelesaikan ucapannya, sebuah mobil menyerempet mobil Akira yang dinaiki Kazao dan Reina.
"Astaghfirullah al-azim" Reina beristighfar karena terkejut.
"Maaf nyonya, sekarang ini kita sedang tidak baik-baik saja. Saya mohon dengan sangat nyonya tetap berada didalam mobil apapun yang akan terjadi nanti. Karena menurut perkiraan saya, mereka sudah mengincar kita sejak kita pulang dari tahanan XXX. Dan tentu saja nanti akan ada pertarungan.yang sangat berbahaya." jelas Kazao dengan dingin.
Ternyata ini rasa yang tidak baik-baik saja itu. Reina tak habis fikir, mengapa ia bisa tidak menyadari hal itu.
Brukk..
Mobil yang tadi menyerempet mobil Akira kini menabrakkan lagi ke sisi kanan mobil Akira dengan sangat kencang, sehingga membuat mobik menjadi oleng dan hampir saja berbalik jika saja Kazao tidak mengendalikan mobil itu.
Kazao menambahkan kecepatan mobil agar mobil yang berada dibelakangnya tidak dapat mengejarnya, dan sekarang terjadilah aksi kejar-kejaran.
Kazao memaksa otaknya agar berfikir cepat, kalau ia membawa Reina ke rumah Akira orang yang sedang mengejarnya pasti akan membuat kekacauan. Mau tidak mau untuk sementara ia harus membawa Reina ke tempat jauh agar Reina tidak terluka.
"Kazao, ini bukan jalan ke rumah." seru Reina.
"Maaf nyonya, ini demi kebaikan anda. Saya tidak ingin sesuatu terjadi pada anda." jawab Kazao.
Reina hanya menurut, ia fikir Kazao lebih mengetahui ini semua daripada dirinya. Sepertinya semua ini ada sangkut pautnya dengan Akira, setelah semua sudah berakhir ia akan meminta penjelasan dari Kazao.
Reina melihat ke belakang mobil, mobil yang tadi mengejarnya sudah tidak terlihat. Ia bersyukur akan hal itu, dan sepertinya ia juga sudah sangat jauh dari rumahnya.
"Kazao, dimana kita?" tanya Reina karena merasa asing dengan pemamdangan sekitarnya.
"Saya juga tidak tahu nyonya, kita akan berhenti sejenak untuk mencari informasi." balas Kazao.
Kazao pun menepikan mobil Akira dipinggir jalan. Ia membuka handphonenya untuk mencari tahu dimana keberadaan dirinya dan Reina.
Ngiittt.....
Beberapa mobil mengepung mobil yang dinaiki oleh Kazao dan Reina. Mereka semua keluar dari mobil masing-masing dengan menggunakan pakaian formal dan kaca mata hitam.
"Nyonya, kita terjebak." ucap Kazao.
πππ
Hari ini Akira akan memberikan kejutan untuk Reina, ia akan kembali ke indonesia tanpa sepengetahuan Reina.
Pekerjaannya disini sudah ia selesaikan, walaupun waktunya tidak sesuai dengan perkiraannya.
Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang meeting dengan senyuman yang tidak pernah luntur sejak tadi. Semua orang yang memandangnya heran dengan sikap Akira saat ini, ada yang senyum-senyum sendiri karena Akira terlihat lebih tampan jika tersenyum seperti itu.
Akai menghampiri Akira yang sedang berjalan menuju ruangannya. Sama seperti yang lainnya, Akai pun heran melihat Akira yang terus tersenyum.
Setelah sampai di ruangan Akira, Akira langsung duduk dikursi kebesarannya masih dengan senyumannya. Sampai-sampai Akai mengira kalau Akira tidak mengetahui keberadaannya.
Akai menyentuh dahi Akira. Akira segera menepis tangan Akai.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Akira dengan dingin, senyumannya sudah tidak berada di bibirnya.
"Kupikir kau sedang sakit karena sejak tadi kau selalu tersenyum." jawab Akai polos.
"Sepertinya kau yang sedang sakit." balas Akira acuh, ia pun mengalihkan pandangannya ke layar handphone.
Sejak memasuki kantor, Akira sengaja mematikan earphonenya agar ia tidak mendengar suara Reina. Bukannya ia tidak rindu, ia sangat-sangat rindu pada Reina. Hanya saja ia tahan sampai ia sampai di rumahnya.
"Kau sudah menyiapkan helikopter ku?" tanya Akira, pandangannya tidak beralih sedikit pun pada layar handphonenya.
"Sudah." Jawab Akai dengan singkat.
"Barang yang kuminta?" Akira kembali bertanya.
"Sudah."
"Mobil?"
"Sudah."
Akira mengalihkan pandangannya ke Akai, sekretaris sekaligus sahabatnya di Jepang. Yang dipandang malah asik melihat layar handphonenya.
"Gaji terakhir untukmu?" tanya Akira sambil memandang wajah Akai dengan lekat.
"Sud- eh?" Akai mengalihkan pandangannya pada Akira.
Akira hanya tersenyum miring sambil memandang wajah Akai dengan lekat.
"Apa maksudmu?" protes Akai.
"Apa? Aku hanya bertanya." jawab Akira pura-pura tidak tahu.
"Jangan pura-pura tidak tahu Akira, maksudmu apa dengan gaji terakhir?" ucap Akai kesal. Sekesal-kesalnya Akai dengan Akira, ia sama sekali tidak bisa marah dengannya.
"Kau pasti tahu maksudku, jika kau sudah tidak serius-" ucapan Akira terpotong oleh Akai.
"Baik-baik, aku mengerti."
Akira mengeluarkan smirknya, sedangkan Akai memutar bola matanya kesal.
Drrtt... drrtt...
Handphone Akira bergetar, Akira segera mengaktifkan earphonenya.
"Ada apa?" ucap Akira to the point.
"Berita buruk." jawab seseorang disebrang.
Seketika tubuh Akira membeku, pikirannya hanya tertuju pada satu titik. Reina, istrinya.
Akai yang melihat perubahan pada Akira segera memfokuskan dirinya pada Akira.
"Tuan? Apa anda masih berada di sana?" tanya seseorang yang berada di sebrang karena tidak mendapat jawaban dari Akira.
"Katakan!" Perintah Akira tanpa menjawab pertanyaan orang itu, nada bicaranya sudah sangat dingin. Akai yakin sesuatu sedang terjadi disana.
"Istri anda tuan." jawab orang itu, nafasnya terdengar memburu. Pikiran Akira sudah menjalar kemana-mana, ada apa dengan Reina? Ia sangat takut Reina akan pergi meninggalkannya.
"Cepat jawab ada apa dengan istriku? Jangan bilang kalau istriku pergi dan kau tidak menemukannya!" teriak Akira ia sungguh sangat-sangat takut jika Reina benar-benar pergi meninggalkannya.
"Nyonya Reina...."
πππ
Assalamu'alaikum guysss!!!!!!πππ
Author balik lagi nih, gimana ceritanya? semoga kalian suka ya.
Terima kasih untuk kalian yang selalu setia membaca cerita author.βΊοΈβΊοΈ
Author tunggu dukungan kalian. Like, komen, vote, rat, and fav.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam manis dari author
πππ