
*Votenya guys*
"Bagaimana? Sudah kau urus?"
"Semua beres." jawab Akai.
"Mereka belum menyerah ya? Menarik sekali." Akira mengeluarkan senyum smirknya.
"Tapi kurasa mereka meminta seseorang untuk membantunya. Jadi kemungkinan masih ada markas yang belum kita ketahui." jelas Akai.
"Kita tunggu saja, kurasa tidak akan lama lagi mereka akan mengadakan penyerangan lagi."
"Mengapa kau pergi mendadak sekali?"
"Aku akan menikah." balas Akira santai.
Akai yang sedang minum tersedak sendiri.
"Uhuk..uhuk.. kau bercanda?"
Akira memberikan ponsel yang diponsel itu ada foto Reina.
"She is beautiful." ucap Akai.
"Aku akan menikahinya, dia orang Indonesia." jelas Akai.
"Aku masih tak percaya kau akan menikah. Kau tidak akan mempermainkannya kan?" selidik Akai.
"Apa aku pernah memainkan wanita?"
"Bagaimana dengan Ayumi?" tanya Akai.
"Aku sudah memutuskan untuk melupakannya." Akira memandang keluar jendela.
"Itu bagus, setidaknya sekarang temanku bisa menemukan orang yang bisa membuat hidupnya berwarna." goda Akai.
Akira hanya tersenyum.
***
Reina masih penasaran sebenarnya apa yang ingin dibicarakan Akira? Mengapa tidak langsung saja, mengapa harus menunggu selama tiga hari.
"Reina dokter Rio meminta laporan yang kemarin."
Reina tak mendengar ucapan orang itu.
"Reina?" orang itu melambaikan tangannya didepan Reina.
"Ah iya? Ada apa?" tanya Reina ketika sadar.
"Kamu melamun?"
"Enggak kok, kamu tadi bilang apa Rahman?"
"Dokter Rio meminta laporan yang kemarin."
"Baik aku akan mengirim ke ruangannya." Reina mencari berkas laporan yang diminta.
"Reina kurasa dokter Rio menyukaimu."
"Aku tahu." balas Reina.
"Lalu apa kau juga menyukainya?"
"Rahman aku sudah pernah bilang padamu aku sedang tidak ingin menyukai siapapun. Aku tahu siapa saja yang menyukaiku termasuk kamu. Jadi berhentilah mengatakan tentang itu." Reina sangat kesal pada orang yang dihadapannya ini.
Reina pun pergi meninggalkan Rahman untuk memberikan berkas laporan ke dokter Rio.
tok..tok..tok..
"Siapa?" tanya seseorang dari dalam.
"Saya Reina ingin memberikan laporan yang kemarin." jawab Reina.
"Masuk"
Reina memasuki ruangan dan melihat dokter Rio yang sedang membaca laporan pasien dimejanya.
"Maaf dok, ini laporan yang anda minta." Reina menyerahkan berkas laporan yang ia bawa.
Dokter Rio menerima laporan yang diberikan Reina. Ia mulai membacanya.
"Pasien di ruangan 18, dengan skizofrenia. Apa hari ini kamu sudah kesana?"
"Sudah, kondisinya masih sama seperti kemarin."
"Sepertinya akan memerlukan waktu yang lama untuk penyembuhannya."
"Saya pikir juga begitu."
"Baiklah laporannya saya terima, terima kasih sudah mengantarkan ke ruangan saya." dokter Rio tersenyum hangat pada Reina.
"Sudah tugas saya. Kalau begitu saya keluar dulu."
"Eh, tunggu.." panggil dokter Rio saat Reina hendak beranjak.
"Ya?"
"Nanti siang bisa makan bersama?" tanya dokter Rio.
"Asalkan tidak berdua, saya bisa."
"Baiklah ajak temanmu untuk makan bersama."
"Baik, saya permisi." Reina meninggalkan ruangan itu. Rasanya kesal sekali, ia tahu apa maksud dokter Rio. Mengapa semua orang selalu ingin dengannya?
***
Akira sedang ada di ruang kerjanya memeriksa dokumen-dokumen yang sedang diteliti perusahaannya.
"Siang pak."
"Ya, ada apa?" tanya Akira.
"Saya bawa laporan keuangan yang bapak minta."
"Taruh saja disitu." ucap Akira dingin.
"Apa ada lagi yang bisa saya kerjakan?"
"Tidak, silahkan keluar."
"Baik pak"
Setelah karyawannya pergi Akira langsung memeriksa laporan tersebut. Akira sangat disiplin dan mengejar target saat bekerja. Sehingga semua pekerjaan cepat selesai. Ia tidak ingin ada karyawannya yang lambat dalam bekerja, tidak ada yang boleh santai-santai, semua harus cepat dan teliti agar hasilnya memuaskan.
Ia harus segera menyelesaikan tugasnya disini karena lusa ia harus berangkat ke Indonesia. Ya kembali ke Indonesia untuk menemui Reina. Gadis yang akhir-akhir ini sering datang dalam pikirannya.
"Akira"
"Kau mengejutkanku Akai."
"Apa? aku hanya memanggil mu. Oh aku tahu kupikir kau sedang memikirkan wanita itu kan?" goda Akai.
"Diam kau, ada apa?"
"Meminta tanda tangan mu untuk proyek yang di timur."
"Kau yakin?"
"Aku sudah pernah bilang padamu, ini akan sangat menguntungkan."
"Baiklah aku percayakan padamu. Jangan buat aku kecewa." Akira menandatangi kertas itu.
"Apa aku pernah mengecewakan mu?" Akai memutar bola matanya malas.
"Ya, kau memang yang terbaik."
"Jadi, kapan kau akan melamarnya?" masih seputar Reina.
"Secepatnya. Aku tidak ingin didahului oleh orang lain."
"Wow sepertinya temanku sudah terjebak pada pesonanya."
"Apakah kau bisa diam? Kau berisik sekali." ucap Akira kesal.
"Akui saja, itu bukan sebuah kesalahan kok. Kau mencintainya bukan?"
"Berhentilah menggodaku."
"Aku tidak menggodamu, aku hanya bertanya."
"Daripada mengurusi urusanku lebih baik kau cari wanita untuk dijadikan istri."
"Aku sudah menemukannya kau saja yang tidak update, semua orang juga tahu aku akan menikah."
Akira membulatkan matanya. "Mengapa aku tidak tahu?"
"Kau terlalu sibuk dengan urusan pribadi dan musuh-musuhmu."
"Kapan kau menikah?"
"Lusa? Yang benar saja, aku akan ke Indonesia saat itu."
"Ayolah, ini cuma sekali seumur hidup."
"Ck.. kau ini baiklah aku akan datang, tapi aku tidak akan lama."
"Aku tahu"
***
Sekarang Reina ada di kantin dengan Aisyah dan dokter Rio.
"Jadi kapan kau akan menikah?" tanya dokter Rio.
Reina yang mendapat pertanyaan itu tersedak makanannya sendiri.
"Pelan-pelan makannya." dokter Rio memberikan minum Reina.
"Kenapa dokter menanyakan itu?" tanya Reina setelah batuknya hilang.
"Ayolah jangan terlalu baku, panggil Rio saja."
Aisyah hanya mendengarkan pembicaraan Reina dan dokter Rio tanpa ingin ikut campur.
"Reina?"
"Emm.. saya belum terpikirkan untuk menikah."
"Mengapa? Umurmu sudah cukupkan."
"Belum ada yang cocok." Reina menyenggol lengan Aisyah. Aisyah yang mengetahui itu hanya tidak peduli.
"Kau ingin yang seperti apa?"
Pembicaraan ini sudah terlalu jauh, Reina tidak suka. Ia memikirkan cara agar bisa pergi dari sini. Sekali lagi ia menyenggol lengan Aisyah. Sepertinya kali ini berhasil Aisyah meliriknya. Reina memberikan tatapan memohon.
"Dokter Rio maaf, jam istirahat sebentar lagi habis saya mau pergi dulu ada pekerjaan yang belum saya selesaikan." ucap Aisyah.
"Oh begitu." Rio melihat jam tangannya.
"Aku ikut Syah. Maaf ya dokter Rio." ucap Reina langsung ikut berdiri.
"Wah sayang sekali, lain kali kita bisa ngobrol lagi kan?"
"Iya dok." jawab Reina.
"Baiklah terima kasih untuk waktunya." senyum Rio.
Reina dan Aisyah pun pergi setelah membalas senyum Rio.
"Akhirnya.. bisa pergi juga." ucap Reina.
"Kau ini aku heran denganmu. Banyak laki-laki yang ingin denganmu tapi kenapa kau selalu menghindar?" kesal Aisyah.
"Ayolah Aisyah, aku ingin menikmati masa-masa ini."
"Jangan membuat mereka menunggu, kau seperti memberi harapan pada mereka."
"Aku tidak meberikan harapan pada mereka. Merekanya saja yang tidak peka kalau aku tidak ingin dengan mereka." elak Reina.
"Dasar keras kepala."
"Aisyah aku belum cerita padamu."
"Cerita apa?"
"Aku dikenalkan dengan pria oleh ayahku. Namanya Akira dia orang Jepang. Dua hari yang lalu keluarganya datang ke rumah. Dan dia bilang lusa dia akan ke sini lagi."
"Apa dia kandidat yang akan dijodohkan denganmu?"
"Entahlah, tapi ayah dan bunda sangat berharap sekali aku menikah dengannya."
"Ikuti saja, pilihan orang tua itu selalu baik. Aku akan dukung kamu."
"Kita pernah bertemu sebelumnya, saat aku mengejar pencopet dan dia membantuku menangkap pencopet itu." jelas Reina.
"Itu bagus, mungkin sepertinya memang benar kalian itu jodoh." ucap Aisyah antusias.
"Aku tidak tahu, sebenarnya aku ingin menolak tapi aku tidak bisa menolak keinginan ayah dan bunda, apalagi mas Fi juga mendukung ini."
"Apa kau masih mencintai kak Ren?" tanya Aisyah.
"Mengapa kau bertanya seperti itu?"
"Yang aku lihat seperti itu, kau masih berharap padanya. Saranku kamu ikhlaskan dia, dia sudah punya istri tidak baik mencintai suami orang."
"Aku tahu, terima kasih Aisyah." senyum Reina.
***
Dua hari kemudian
Akira sedang berada di pesta pernikahan Akai. Akai terlihat bahagia sekali, baru kali ini Akira melihatnya sebahagia ini.
"Selamat atas pernikahan kalian." ucap Akira menyalami keduanya.
"Cepat menyusul." goda Akai.
"Kau sangat berisik." kesal Akira.
"Apa sekarang kau akan berangkat?"
"Ya, 30 menit lagi."
"Hati-hati semoga lancar."
"Tumben sekali kau perhatian denganku."
"Aku hanya kasihan pada wanitanya jika kau jatuh dari pesawat. Wanita itu tidak jadi menikah."
"Awas kau"
Akai hanya tertawa melihat ekspresi Akira.
"Aku tidak bisa lama, aku pergi dulu. Semoga kalian bisa bersama sampai maut memisahkan."
"Terima kasih." jawab keduanya.
Akira langsung pergi meninggalkan pesta Akai. Ia segera menaiki pesawat.
Entah apa yang membuatnya semangat seperti ini, yang jelas ia sangat tertarik dengan wanita bernama Reina itu. Sejak pertama kali ia bertemu dengan Reina, ia sudah tertarik dengannya.
Perjalanan yang berjam-jam itupun akhirnya selesai juga. Akira sampai di Indonesia saat sore hari. Ia segera berangkat ke kediaman orang tuanya.
"Mama" Akira memeluk sakura saat ia sudah sampai di kediaman orang tuanya. Sebenarnya ia punya rumah sendiri di sini, cuma ia lebih suka tinggal bersama orang tuanya.
"Kamu kembali lagi kesini?" tanya sakura.
"Ya, aku ingin melamar Reina." jawab Akira tanpa basa-basi
Sakura dan Daniel terkejut mendengar pernyataan Akira.
"Kamu serius? Pernikahan itu bukan sesuatu yang main-main." ucap Daniel.
"Aku serius pah, malam ini aku ingin melamarnya."
Sakura dan Daniel saling berpandangan.
"Pah, mah?"
"Baiklah kami berdua akan ikut." balas Daniel.
Akira tersenyum dan memeluk keduanya.
"Mama senang kamu mau menikah." ucap sakura.
Daniel segera menghubungi Hanif kalau ia dan keluarganya akan kerumahnya. Akira sedang mempersiapkan diri untuk berangkat ke rumah Reina.
Pukul 19.00 Akira sampai di rumah Reina. Keluarga Reina menyambut keluarga Akira dengan hangat. Mereka semua berkumpul di ruang tamu. Hingga akhirnya Daniel memulai pembicaraan serius itu.
"Baiklah jadi kedatangan kami sekeluarga kesini, ingin melamar Reina untuk menjadi pasangan hidup anak kami Akira Andrylaw."
"Kalau kami terserah dengan Reina saja, karena yang akan menjalani Reina sendiri." Balas Hanif.
"Jadi Reina apa jawabanmu nak?" tanya sakura.
Reina hanya menunduk tak berani melihat semua orang. Ia tak menduga akan secepat ini.
"Reina?" tanya Risa.
Reina masih diam tidak mengeluarkan kata-katanya.
Akira sudah keringat dingin menanti jawaban Reina. Ia sangat khawatir Reina akan menolaknya.
"Reina..." ucap Reina.
Semua orang yang ada di ruangan sudah menanti-nanti jawaban Reina. Gelisah, khawatir, semua campur aduk.
"Reina..."