My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Jawaban



*Votenya jangan lupa ya guys*


"Reina..."


"Hhhhh... Bismillahirrahmanirrahim Reina terima lamaran ini." Ucap Reina akhirnya. Spontan semua yang ada di ruangan mengucapkan hamdalah.


"Alhamdulillah, jadi bisa sekarang kita tentukan tanggalnya?" Sakura memberi usul.


"Tentu saja." Balas Risa.


Reina hanya diam melihat semuanya yang sibuk menentukan tanggal, sesekali ia hanya tersenyum. Menikah, sungguh ia tak pernah membayangkannya akan seperti ini. Menikah dengan orang yang baru saja ia kenal. Mungkin ini juga yang terbaik untuknya.


"Maaf mengganggu, tapi bolehkah aku berbicara dengan Reina?" Tanya Akira pada semua yang ada di ruangan.


"Tentu saja boleh." Jawab Hanif.


Akira pun mengajak Reina untuk keluar dari ruangan tersebut. Ia memilih tempat disamping rumah Reina yang merupakan taman.


"Aku khawatir tadi kamu akan menolakku. Terima kasih sudah percaya padaku." Akira memulai pembicaraan.


"Sama-sama" jawab Reina.


"Jadi, ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan sebelum pernikahan kita?"


Reina mencerna kalimat yang diucapkan oleh Akira. Sesuatu yang ingin ia bicarakan, banyak sekali tetapi ia bingung harus memulai darimana.


"Sebenarnya ada banyak sekali pertanyaan dalam pikiranku." Ungkap Reina.


"Tanyakan saja semua."


"Hmm... Bolehkah setelah menikah kita tinggal di Indonesia?"


"Tentu saja boleh. Asalkan itu membuatmu bahagia."


"Kalau aku boleh tahu, mengapa kau ingin menikah denganku?" Reina tak berani melihat wajah Akira dari tadi ia hanya menunduk atau melihat ke arah lain saat bicara.


"Awalnya aku menolak untuk diperkenalkan padamu. Banyak wanita yang ingin diperkenalkan padaku tapi aku selalu tidak datang. Saat mama menceritakan tentang dirimu, aku melihat mama ingin sekali aku menikah denganmu. Maka aku pun bilang pada mama kalau mama ingin aku akan menikah denganmu. Lalu saat pertemuan pertama kita, aku kagum denganmu. Dan disitu aku berpikir sepertinya aku sudah salah mengambil keputusan, karena aku tidak tahu kalau wanita yang akan mama perkenalkan padaku adalah wanita yang sama dengan yang aku temui saat menangkap pencopet. Malam saat kami akan berangkat ke rumahmu, aku sempat berpikir tidak akan datang ke rumahmu dan berniat ingin mencari wanita yang ku temui saat menangkap pencopet. Tapi ternyata takdir memihak padaku, kita dipertemukan lagi di tempat yang tak terduga." Akira menatap Reina dan tersenyum hangat padanya.


"Hanya dalam waktu beberapa menit kamu bisa membuat aku sangat tertarik padamu." Akira membayangkan pertemuan mereka saat menangkap pencopet.


"Aku masih tidak menyangka akan menikah denganmu." Jujur Reina.


"Jadi alasanmu menerimaku karena apa?"


"Aku tidak bisa menolak keinginan orang tuaku. Sebelumnya banyak pria yang ingin mengkhitbahku, tetapi aku selalu menolaknya dengan alasan aku belum siap menikah. Entahlah, bayangan masa lalu masih membuatku enggan untuk menikah. Aku khawatir akan gagal seperti waktu itu." Jelas Reina.


"Aku janji tidak akan mengecewakan mu. Percayalah padaku." Tegas Akira.


"Tidak usah berjanji, cukup kau melakukannya dengan perbuat mu dengan benar. Aku masih trauma dengan janji. Aku sendiri pun tidak tahu bisa membuat mu bahagia atau tidak. Ingatkan aku jika aku melakukan kesalahan."


'Aku akan membuatmu menjadi jatuh cinta padaku Reina. Aku pasti akan membuatmu selalu ingin denganku, tunggu saja.' batin Akira.


***


Pernikahan Reina dan Akira akan dilaksanakan seminggu dari sekarang. Dan itu bertepatan tiga hari setelah pernikahan Aisyah.


"Reina, jadi bagaimana? Apa yang dikatakan Akira padamu?" Sekarang Reina sudah berada ditempat ia bekerja bersama Aisyah.


"Dia melamarku." Balas Reina yang masih sibuk dengan laporannya.


"Kau menolaknya lagi?" Tebak Aisyah.


"Tidak, aku menerimanya."


"Alhamdulillah, akhirnya sahabatku menemukan pasangannya juga ya Allah. Jadi kapan kalian akan menikah?" Aisyah sangat antusias sekali.


"Wah... Tidak kusangka ternyata secepat ini kau akan menyusulku. Kupikir akan sangat lama melihat kau yang sangat cuek pada laki-laki."


Reina hanya tersenyum mendengar ucapan Aisyah.


"Ayolah mengapa tidak ada raut wajah gembira sedikit pun padamu. Kau akan menikah Reina, memulai hidup baru dengan pasanganmu." Hibur Aisyah.


"Siapa yang akan menikah?" Tiba-tiba dokter Rio ada dibelakang mereka berdua.


"Dokter Rio? Ada perlu apa kesini?" Tanya Reina.


"Kemarin saat saya belanja bulanan saya melihat cokelat ini, saya pikir kamu akan suka. Jadi saya belikan untukmu." Dokter Rio memberikan sekotak cokelat pada Reina.


"Seharusnya dokter tidak perlu repot-repot membelikan saya cokelat. Saya ganti dengan uang saya ya." Tawar Reina, Reina mengeluarkan uang dari tasnya.


"Tidak usah, saya sengaja membelikannya untukmu. Ngomong-ngomong, tadi saya mendengar ada yang mau menikah, siapa itu?"


"Kita berdua." Jawab Aisyah semangat empat lima.


"Hah...?" Rio kebingungan dengan jawaban Aisyah.


"Maksud saya, saya dulu yang menikah dengan orang lain, baru setelah itu Reina juga menikah dengan pilihannya." Jelas Aisyah.


"Kamu akan menikah? Kapan?" Rio sangat terkejut mendengar kabar Reina akan menikah. Kalau Aisyah ia memang sudah tahu karena Aisyah sudah menyebar undangan.


"Hmm... Insya Allah minggu depan." Dalam hati ia kesal setengah mati pada Aisyah. Mengapa Aisyah memberi tahu kalau ia akan menikah.


"Wah... Selamat ya, dengan orang mana?" Terlihat Rio sangat kecewa mendengar kabar itu.


"Orang Jepang, dia anak teman ayah." Balas Reina.


"Ternyata orang jauh, ditunggu undangannya ya." Ucap Rio mencairkan suasana.


"Ah, iya dok."


"Kalau begitu saya permisi, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam" jawab Reina dan Aisyah serempak.


Setelah Rio pergi, Reina langsung menatap tajam Aisyah.


"Ada apa?" Aisyah bertanya tanpa dosa.


"Mengapa kamu memberi tahu kalau aku akan menikah?" Kesal Reina.


"Loh, memangnya kenapa?"


"Itu sangat memalukan. Aku pasti akan terus ditanyai sama mereka semua, padahal sebelumnya aku sudah menolak mereka."


"Itu bagus Reina biar semua orang tahu, kalau kamu sudah memiliki pasangan yang kamu pilih. Aku lelah dijadikan tamengmu, dan itu juga bukan suatu hal yang memalukan." Jelas Aisyah.


"Tapi nanti aku bingung harus jawab bagaimana saat mereka menanyaiku."


"Ya kamu jawab apa adanya saja. Coba kamu lihat dokter Rio sampai membelikanmu cokelat. Terlihat jelas sekali ia ingin denganmu, Rahman yang selalu mengajakmu untuk berta'aruf? Ali yang selalu mengajakmu pulang bersama? Dan yang lain entah yang tidak kita ketahui? Banyak yang ingin denganmu, tetapi kamu menolaknya. Dengan sikapmu yang seperti ini, itu membuat mereka menaruh harapan padamu. Apa kamu tidak kasihan pada mereka?" Jelas Aisyah.


"Seharusnya kamu memberikan jawaban yang tegas pada mereka semua. Kalau begini terus bukan hanya mereka yang dosa, tetapi kamu juga karena kamulah penyebab mereka selalu membayangkanmu." Tambah Aisyah.


"Maafkan aku, kamu benar Aisyah." Reina menjadi merasa bersalah setelah mendengar penjelasan Aisyah.


"Aku maafkan, sudah seharusnya kita saling mengingatkan." Aisyah tersenyum pada Reina.


Reina pun memeluk sahabatnya itu. Hanya Aisyah yang selalu ada disampingnya disaat ia suka maupun duka.