My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Bodyguard



Reina bergegas ke bawah karena Akira sudah turun terlebih dahulu, sepanjang Reina mempersiapkan diri ia tak henti-hentinya mendumel karena Akira yang tidak membangunkannya.


Baru Lima anak tangga Reina turun, ia dikejutkan dengan banyaknya orang berjas hitam sedang berdiri berhadapan didepan Akira dan berbicara serius dengan suaminya. Tak ketinggalan pula Kazao dan yumi hadir disana mendengarkan Akira yang sedang berbicara dalam bahasa Jepang, entah apa yang mereka bicarakan Reina tidak mengerti sama sekali.


Yumi tak sengaja melihat Reina yang sedang terbengong-bengong diatas tangga, ia pun memberi kode pada Akira. Akira menoleh ke tangga melihat Reina yang berdiri disana, semua orang pun ikut melihat apa yang tuannya lihat. Akira tersenyum manis melihat istrinya yang kebijakan itu, ia pun beranjak dari sofa singel yang ia duduki dan menghampiri istri tercintanya.


"Ohayou." Ucap Akira tersenyum manis.


Reina tersadar dari lamunannya ketika Akira menyapanya.


"Mas? Kita mau syukuran atau mas lagi rapat kantor disini?" Tanya Reina bingung.


Akira hanya tersenyum dengan kebingungan istrinya, ia menggenggam tangan Reina dan mengajaknya ke bawah. Semua orang yang berada disana dibuat terpukau dengan kehadiran Reina, Reina terlihat sangat cantik dan anggun walaupun hanya memakai make up tipis.


"Ini adalah istriku, ingat apa yang ku bicarakan tadi?" Tanya Akira menatap tajam setiap orang bergantian.


Mendadak semua orang yang ada disana menjadi gugup kecuali Kazao dan yumi, mereka semua mengangguk kepala tanda mengerti. Reina tersenyum manis dan menyapa dengan ramah kepada semua orang yang berada di ruangan itu.


"Hai, saya Reina senang bisa bertemu dengan kalian semua." Sapanya diiringi senyuman manisnya walaupun ia tidak tahu siapa mereka semua, ia juga tahu kalau dari mereka semua ada yang bukan beragama Islam jadi ia tidak mengucapkan salam. Mengapa Reina bisa menyimpulkan begitu? Karena ia adalah seorang psikolog, ia bisa membaca karakter seseorang hanya dengan melihatnya.


Semua orang yang disana pun menjadi tersipu karena senyuman dan keramahan Reina dalam berbicara.


"Ehem!" Deham Akira keras memperingati mereka semua, semuanya pun paham dengan kode yang diberikan Akira dan langsung menundukkan wajahnya karena takut dengan tuan mereka.


"Sayang, mereka semua adalah orang-orang yang bekerja padaku saat di Jepang, aku sengaja membawa mereka kesini agar dapat menjaga mu selama aku tidak ada bersamamu." Jelas Akira.


"Sebanyak ini?" Tanya Reina tak percaya.


"Aku tidak mau kejadian saat aku berada di Jepang terulang lagi, aku tidak mau mengambil resiko." Jawabnya serius.


Reina masih tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, memangnya dia anak kecil yang harus selalu diawasi oleh orang tuanya.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri mas, mas tidak perlu repot-repot membawa mereka kesini." Ucapnya kesal yang mana itu malah membuatnya terlihat lucu.


"Sayang, percayalah padaku aku sangat mengkhawatirkan dirimu ketika kau tidak berada di dekatku. Aku tidak mau kau terluka sedikitpun, kumohon jangan buat aku menderita seperti itu." Ujarnya memelas.


"Huhhh.." Reina hanya menghela nafasnya.


"Aku tidak menerima penolakan!" Ucap Akira tegas dan menatap istrinya dengan tajam.


Reina terkejut dengan Akira yang menatapnya seperti itu, Akira tidak pernah seperti itu sebelumnya. Reina pun hanya menghela nafasnya lagi pasrah dan mengangguk menyetujui ucapan Akira walaupun ia terlihat tertekan, ia tidak suka dikekang.


Akira tersenyum karena Reina menyetujuinya, ia pun mencium kening Reina dengan penuh kasih sayang. Ia memegang wajah Reina dan menatapnya dengan sendu.


"Jangan pergi dan meninggalkan ku." Ucapnya lirih.


Reina tertegun dengan ucapan Akira, ia pun ikut memegang wajah Akira dengan tangan kanannya dan tersenyum manis. Ia menatap mata Akira dalam, Reina sangat suka menatap mata suaminya itu, terlihat sangat indah.


"Aku tidak akan meninggalkanmu sampai kematian memisahkan kita." Jawabnya tulus.


Semua orang yang berada disana terbengong-bengong dengan sikap tuannya, bahkan ada yang sampai menganga karena tidak percaya dengan apa yang dilakukan Akira. Akira yang dikenal sangat anti dengan wanita, bahkan mereka mengira jika Akira adalah guy karena Akira sering bersama Akai atau Kazao saja. Mereka tidak pernah melihat Akira dengan wanita, bahkan ibunya saja mereka tidak tahu.


Akira sangat bahagia mendengar jawaban Reina, ia pun langsung memeluknya.


Dan mereka yang menyaksikan menjadi tersipu malu, padahal bukan mereka yang melakukannya. Yumi tersenyum senang karena akhirnya Akira sudah mau membuka hatinya untuk wanita lain setelah kejadian delapan tahun yang lalu. Kazao memalingkan wajahnya ke arah lain agar tidak melihat momen itu, ia harus menguatkan hatinya agar tidak terlihat rapuh.


"Aku berangkat duluan dengan Kazao ya, ada meeting penting di pagi ini." Ucap Akira setelah melepaskan pelukannya, ia juga mengusap wajah Reina dengan sayang.


"Lalu aku bagaimana?" Tanyanya bingung.


"Nanti ada sopir yang mengantarmu." Balas Akira lembut.


"Tidak mau! Aku mau berangkat dengan mas!" Tegas Reina.


"Ini masih sangat pagi dan kau juga belum sarapan kan?" Akira membujuk istrinya.


"Mas sendiri memangnya sudah sarapan?" Reina balik bertanya.


"Sudah."


Reina menganga tidak percaya, biasanya ia yang bangun terlebih dahulu. Tetapi ini pagi-pagi sekali suaminya sudah bangun dan tidak membangunkannya, ia sendiri juga tidak tahu mengapa bisa tidur senyenyak itu.


"Mas curang, kenapa tidak membangunkan ku mas.." rengek Reina seperti anak kecil, ia bahkan tidak mempedulikan semua orang yang berada di ruangan itu. Dunia berasa milik mereka berdua.


Reina pun tersenyum senang, spontan ia memeluk Akira. Akira sangat senang jika istrinya memeluknya seperti itu.


"Tapi, nanti kau tidak dijemput Kazao ya." Ujar Akira saat Reina memeluknya.


"Kenapa? Lalu aku pulang jalan kaki dari rumah sakit sampai kesini?" Reina melepaskan pelukannya ia cemberut.


"Tidak, tidak, bukan begitu sayang. Mulai hari ini Kazao akan ikut denganku ke kantor, ia akan bekerja seperti sebelumnya saat berada di Jepang." Jelas Akira lembut.


Semenjak kepulangannya dari Jepang, Reina suka bermanja-manja dengannya. Ia senang Reina bermanja-manja dengannya, tetapi terkadang ia juga harus kerepotan karena sikapnya itu. Akira jadi harus ekstra sabar dalam menghadapi sikap istrinya yang belum ia ketahui.


"Nanti ada sopir dan seorang bodyguard yang menemanimu." Lanjut Akira.


Reina menaikkan satu alisnya.


"Naoki?" Panggil Akira pada salah satu bodyguard.


Laki-laki yang bernama Naoki itu maju ke depan dan membungkukkan badannya memberi hormat. Reina membulatkan matanya sempurna, ia menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut.


"Masih ingat denganku nona?" Tanyanya dengan tersenyum manis.


"Kau? Kau?" Ucap Reina terkejut sambil menunjuk-nunjuk laki-laki yang berada didepannya. Laki-laki itu hanya tersenyum manis tanpa berniat menjawabnya.


"Ya, dia yang membantu mu bersama Kazao bukan?" Sahut Akira.


"Mas tahu?" Tanya Reina tak kalah terkejutnya mendengar ucapan Akira.


"Naoki adalah orangku sayang, aku memberikan tugas padanya untuk menjagamu selama aku berada di Jepang. Kemampuan bela dirinya juga tidak diragukan lagi, bermain senjata dan mengelabui musuh. Aku percayakan dia untuk menjadi bodyguard mu." Jelas Akira panjang kali lebar.


"Mas? Sebenarnya apa maksudmu?" Tanyanya curiga, ia menatap Akira dengan tajam.


Akira menjadi gugup, tetapi ia berusaha untuk tenang agar terlihat berwibawa didepan para bodyguardnya.


"Ehem! Sayang Kau tahu? Banyak orang diluar sana yang mengincar nyawaku, kau tahu kenapa? Karena aku pemimpin perusahaan terbesar di Asia, banyak yang iri karena kesuksesan ku dan ingin menjatuhkan ku. Jika mereka tidak bisa membunuhku, maka mereka akan mencari kelemahan ku. Mereka sudah tahu kau adalah istriku, mereka ingin mengincarmu agar bisa membunuhku. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa, kau harus mengerti ya." Jelas Akira dengan lembut, ia mengusap wajah Reina dengan penuh perhatian.


"Oke." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Reina.


Sebenarnya Reina sedikit tidak percaya dengan penjelasan Akira, ia yakin ada yang disembunyikan oleh suaminya. Ia akan menunggu sampai Akira menceritakannya sendiri.


Akira tersenyum karena Reina menurut.


"Ayo kita berangkat!" Ajak Akira, ia sudah menggenggam jemari istrinya.


Kazao, Naoki, dan beberapa orang mengikuti Akira dan Reina ke mobil. Sisanya menjaga kediaman rumah Akira.


Tiga mobil keluar dari pekarangan rumah Akira, mobil pertama berisi empat orang bodyguard yang menjaga didepan. Mobil kedua berisi Akira, Reina, Kazao, dan Naoki dengan Kazao yang menyetir. Mobil ketiga berisi empat orang bodyguard yang menjaga dibelakang. Iring-iringan mobil Akira membelah jalanan yang masih sepi itu.


Akira kali ini benar-benar memperketat penjagaan, ia tidak ingin kejadian beberapa waktu yang lalu terjadi kembali. Maka dari itu, ia meminta Akai untuk mengirimkan orang-orangnya yang berada di Jepang untuk bertugas di sini.


"Mas? Banyak sekali, apa tidak masalah?" Tanya Reina khawatir rekan-rekan kerjanya mencurigainya.


Akira menghentikan aktivitasnya, ia menutup laptopnya dan tersenyum manis pada istrinya.


"Mereka akan berkamuflase sayang, tidak akan ada yang curiga." Ucap Akira menebak pikiran istrinya.


Reina kembali melihat ke luar jendela, pikirannya sedang kalut sekarang. Sebenarnya siapa Akira? Kenapa ia bisa diincar oleh orang-orang seperti itu? Kejadian beberapa waktu yang lalu saja sudah membuat ia ketakutan setengah mati, ia melihat banyak mayat yang bergelimpangan karena baku tembak. Bahkan Kazao menyuruhnya untuk menembak.


Kazao. Ia juga sebenarnya penasaran dengan sosok Kazao. Kazao menembaki orang-orang itu dengan sangat mudah tanpa kesulitan sedikit pun. Ia seperti seorang profesional yang sudah mahir menggunakan senjatanya. Reina tak habis pikir, sebenarnya siapa mereka semua ini.


Akira melihat istrinya yang sedang memandang keluar jendela seperti sedang memikirkan sesuatu, ia menggeser tubuhnya agar lebih dekat. Lalu ia meletakkan kepala Reina dibahunya dan memeluknya dari samping.


"Kau jangan khawatir sayang, semua akan baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan kau terluka apalagi sampai mereka membawamu, tidak akan." Ujar Akira menenangkan istrinya.


Reina mengubah posisinya, ia menyandarkan tubuhnya didada bidang milik Akira mencari posisi ternyaman. Akira tersenyum, ia mengusap kepala Reina yang tertutup oleh kerudung dengan sayang.


Kazao dan Naoki saling melirik, entah apa yang mereka pikirkan.


Kazao sebenarnya tidak rela jika ia digantikan dengan Naoki, tetapi ia juga sudah berjanji dengan Akira akan segera mencari pengganti Reina dan akan menjauhinya. Tidak dibunuh oleh Akira saja ia sudah bersyukur.


🍁🍁🍁