My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Pengakuan



"Aku tanya Sekali lagi, apakah kau mencintainya Kazao?"


Kazao menundukkan kepalanya, ia menghela napas untuk mengendalikan emosinya. Lalu ia menatap Akira dengan tatapan tegasnya.


"Hai, watashi wa kare ga daisukidesu!" jawab Kazao jujur tanpa ragu sedikitpun.


Hal itu sukses membuat Akira geram bukan kepalang, ia mengepalkan tangannya erat menahan emosi agar tidak langsung lepas.


"Watashi wa hontōni, hontōni kare o jibun yori mo aishiteimasu!"


"Apa kau sudah bosan bekerja padaku Kazao?" Tanya Akira dingin, sorot matanya menunjukkan bahwa ia sedang menahan amarahnya yang sewaktu-waktu akan siap meledak.


Kazao menatap Akira dengan gugup, tangannya sudah berkeringat dingin menanti tindakan yang akan dilakukan Akira.


" Gomennasai." ucap Akira dengan wajah tertunduk.


Akira bangkit dari kursinya, ia berjalan menuju lemari yang terbuat dari baja yang cukup tebal, lemari itu berada disamping meja kerjanya. Ia memasukkan kode yang tidak lain adalah sidik jarinya sendiri, setelah meletakkan telapak tangannya pintu lemari itu terbuka memperlihatkan koleksi senjata Akira. Mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar, sampai yang tercanggih pun ada didalam sana. Ia mengambil salah satu pistol disana, pistol itu merupakan pistol terbaik milik Akira. Pistol itu dapat membidik sasaran dengan cepat dan tepat tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


"Kau pilih ingin ku tembak atau ku lemparkan dengan granat agar tubuhmu hancur." ucap Akira dingin, tangannya masih sibuk meraba senjata lain yang berada di dalam lemari itu.


Sedangkan Kazao, ia sudah berkeringat dingin ditempatnya, gugup, takut, cemas, semua bercampur didalam dirinya.


"Tuan anda harus tahu, saya akui saya sudah salah dengan sikap saya yang mencintai nona Reina. Jika saya bisa memilih, saya lebih baik tidak mencintai seorang wanita pun di dunia ini. Tapi siapa yang bisa memaksakan hati, jika hati saya berlabuh di nona Reina saya bisa apa?" Kazao diam sejenak mengatur nafasnya dan jantungnya yang bergemuruh.


"Saya juga sadar tuan, jika saya tidak bisa bersama dengannya. Selain dia adalah istri tuan, ada hal lain yang tidak bisa membuat kita bersama, yaitu agama. Saya memang tidak terlalu taat dalam agama saya, tetapi saya masih nyaman dengan agama saya."


"Anda juga sudah membantu saya selama ini, jika anda dan keluarga anda tidak menolong saya saat itu, entah seperti apa nasib saya sekarang. Saya sangat berhutang budi pada keluarga anda tuan, saya tidak tahu bagaimana cara membalasnya selain mengabdi pada keluarga anda." ungkapnya dengan wajah sendu.


Akira masih diam mendengarkan penjelasan Kazao tanpa melihatnya sedikitpun.


"Saya sudah menganggap kalian seperti keluarga saya sendiri, bahkan saya rela kehilangan nyawa saya demi kalian." Kazao menahan air matanya agar tidak keluar.


Kazao Sangat menyayangi keluarga Akira, baginya melihat senyum dari mereka saja itu sudah membuatnya bahagia. Hingga saat itu, saat dimana Akira menikah dengan Reina, saat dimana ia mulai menaruh hati pada nona barunya itu. Membuat ia bimbang dan tak tahu harus bagaimana, ia sangat bingung dengan apa yang ia rasakan. Selama dua puluh tiga tahun ia hidup dengan dunianya yang gelap, melakukan bisnis gelap, penyelundupan, bahkan membunuh, itu sudah biasa baginya. Sampai nonanya itu datang di kehidupan Akira, mengubah segalanya. Hidupnya mulai berwarna, ada setitik cahaya dalam dunianya. Ia sangat senang, tetapi sepertinya kesenangan itu hanya sementara.


"Jika ketidakhadiran saya bisa membuat hidup anda bahagia, saya rela tuan selama itu dapat membuat anda bahagia." lanjutnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Klek


Kazao hanya menundukkan pandangannya, ia sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Akira nanti. Ia sudah pasrah jika Akira akan menembaknya, ia akan terima dengan lapang dada.


Akira membalikkan tubuhnya menghadap Kazao yang tertunduk, tidak ada ekspresi diwajahnya. Ia mendekati Kazao dengan menodongkan pistolnya ke arah Kazao. Hingga ia berada dibelakangnya dan menempelkannya di kepala Kazao.


Jantung Kazao berdetak lima kali lebih cepat, keringat sudah membanjiri tubuhnya, tangannya sudah dingin sejak tadi karena gugup dan takut. Ia tak berani menatap Akira, sehingga ia hanya menundukkan kepalanya. Ia sudah tahu resiko yang akan ia dapat saat berbicara pengakuannya tadi. Kazao memejamkan matanya menunggu Akira meletakkan peluru di kepalanya dan malaikat maut datang menjemputnya.


"Kalimat terakhir yang ingin kau ucapkan!" ucap Akira dingin, kalimat yang selalu ia ucapkan saat ingin menghabisi musuhnya.


Kazao menghembuskan nafasnya kasar, ia tidak tahu apa yang harus ia ucapkan pada Akira.


"Ku hitung sampai tiga, jika tidak ada yang keluar dari mulut mu maka aku akan menembak kepalamu."


Kazao terdiam mendengar ucapan Akira, ia masih memejamkan matanya.


"Satu.."


Akira mulai berhitung.


"Dua.."


Akira sudah menarik setengah pelatuk pistolnya, tetapi Kazao masih tak bergeming.


"Ti.."


"Arigatou gozaimassu!" ucap Kazao cepat sebelum Akira melanjutkan hitungannya.


Hening menyelimuti ruangan itu, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar diantara mereka berdua. Akira terdiam dengan ucapan Kazao, ia memandang kepala bagian belakang Kazao dengan tatapan tanpa ekspresinya.


"Tiga.."


DOR!!!


Suasana semakin mencekam didalam ruangan setelah Akira menarik seluruh pelatuknya. Ia masih memandang Kazao dengan tatapan tanpa ekspresinya, entah apa yang dipikirkannya.


Tak..


Kazao membuka matanya cepat ketika ia mendengar suara benda terjatuh, ia masih menunduk dan melihat pistol yang tadi Akira pegang berada dilantai.


Dengan ragu Kazao mengambil pistol itu, ia mengamatinya dengan seksama. Setelah diperiksa, ternyata dalamnya kosong. Sontak saja hal itu membuat ia terkejut, segera ia berdiri dan membalikkan badannya.


Dihadapannya, Akira sedang berdiri memandangnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Tuan?" panggil Kazao.


"Naze?" ucap Akira.


Kazao yang masih belum mengerti keadaan yang menimpanya merasa bingung dengan ucapan Akira.


"Anata ga kare o aishite iru nonara, naze anata wa somosomo sore o iwanakatta nodesu ka? (Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal jika kau mencintainya?)" lanjut Akira dengan ucapannya yang datar, tidak ada rasa kecewa, marah, senang ataupun itu dari nada bicaranya. Benar seperti apa yang dikatakan Akai pada Akira, manusia patung dari kutub Utara, Kaku dan dingin.


Kazao menundukkan wajahnya, ia semakin merasa bersalah pada Akira. Sekarang ia lebih memilih mati jika hidup dengan perasaan bersalah.


"Kenapa kau tidak menembak ku tuan?" bukannya menjawab Kazao malah balik bertanya dengan perasaan sedihnya.


"Aku tidak rela jika peluru ku harus bersarang di kepalamu Kazao." jawab Akira masih dengan nada datar.


Kazao menghela nafasnya kasar.


"Anda membuatku menjadi semakin bersalah tuan." balas Kazao dengan menundukkan wajahnya.


Bugh!


Kazao terhuyung ke belakang dan jatuh setelah mengenai meja kerja Akira akibat pukulan Akira yang mendadak. Kazao menatap Akira dengan tatapan bertanya, sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah karena serangan mendadak yang cukup keras.


"Bodoh!" ucap Akira.


Dengan santai ia duduk di sofa yang berada di ruangan itu menyilangkan kedua kakinya dan mulai menyalakan rokoknya, ia pun menghisap rokok itu dalam-dalam hingga memenuhi paru-parunya dan menghembuskannya secara perlahan menikmati setiap udara yang keluar dari mulutnya itu.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku Kazao." ucapnya sambil melirik ke arah Kazao dengan tajam.


Kazao tidak percaya dengan apa yang dilakukan Akira padanya, ia pun bangkit dan segera berdiri.


"Karena saya baru menyadarinya belakangan ini tuan, mungkin dengan saya menyembunyikannya itu akan lebih baik. Tetapi, anda sudah mengetahuinya lebih dulu." jawabnya setenang mungkin.


Akira melihat Kazao sekilas, lalu ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil menghisap rokoknya.


"Kau beruntung, karena aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri. Jika tidak, mungkin peluruku sudah bersarang di kepalamu sejak aku menyadari kau mencintai istriku."


Kazao tertegun dengan ucapan Akira, antara terharu dan senang, ia tidak dapat mendeskripsikan perasaannya saat itu. Sebisa mungkin ia menahan agar air matanya tidak jatuh karena saking bahagianya ia.


Akira menjatuhkan puntung rokok yang tinggal sedikit itu ke lantai, lalu menginjaknya hingga mati dengan sandal yang ia pakai. Ia pun bangkit dari duduknya.


"Menikahlah, dan cari wanita lain yang cocok denganmu." ucapnya sambil melangkah pergi meninggalkan ruang kerjanya.


Kazao masih berdiri tegak ditempatnya, ia masih mencerna perkataan yang barusan diucapkan tuannya.


"Aku akan segera mencari wanita itu tuan." ucapnya pada diri sendiri.


Akira membuka pintu kamarnya, dilihatnya Reina masih tertidur dengan damai. Ia segera ke kamar mandi untuk menyikat giginya karena setelah merokok tadi, ia tidak ingin istrinya tahu kalau ia habis merokok.


Setelah selesai dengan ritualnya, Akira segera menaiki kasur king sizenya dan berbaring menghadap istrinya. Ia menyingkirkan poni yang menutup wajah cantik istrinya, dan memandangnya dengan tersenyum.


"Aishiteru!" ucap Akira.


"Takkan kubiarkan siapapun mengambil mu dariku." ujar Akira seolah-olah Reina mendengarnya.


Ia pun mengecup kening Reina dan memeluknya, lalu ikut memejamkan matanya menyusul Reina ke alam mimpi.


🍁🍁🍁


Hai, hai, hai.... author balik lagi nih 😁😁😁


Author minta maaf sebelumnya karena udah seminggu gak update, karena kesibukan yang luar biasa.


Author juga mau ngucapin terima kasih untuk kalian yang selalu setia membaca novel saya yang bisa dibilang masih jauh banget dari kata sempurna. Author mohon kritik dan saran kalian ya, supaya bisa memperbaiki novel ini menjadi lebih baik lagi. ☺️☺️


Terima kasih untuk semuanya, salam manis dari author.


πŸ’™πŸ’™πŸ’™