My Husband Is Psycopath

My Husband Is Psycopath
Kazao



*Jangan pelit guyss... Minta vote bolehkan??*


Kazao sangat bingung dengan dirinya. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia tidak tahu perasaan macam apa yang sedang ia rasakan, tetapi perasaan ini membuat ia senang sekaligus gelisah.


Seperti sekarang ini, ia sedang mengantar majikannya Akira dan Reina untuk berangkat bekerja. Ia sesekali melihat majikan barunya melalui kaca spion. Wanita berhijab itu memang sangat cantik, saat memandangnya lama-lama membuat hatinya menjadi sejuk. Ia tidak tahu apakah benar ia sedang jatuh cinta pada majikannya sendiri? Tetapi, ia juga tidak bisa mencintai wanita berhijab itu. Wanita itu adalah istri dari majikannya, Akira. Keluarga Akira sudah banyak membantunya. Kalau saat itu mereka tidak ada, entah apa yang terjadi pada dirinya. Kazao hanya bisa menghela nafasnya.


Akita merasa kalau Kazao selalu melihat ke kaca spion untuk memandang Reina. Ia tak suka jika ada orang lain yang memandangi istrinya. Reina adalah miliknya, tidak ada yang boleh mengambil Reina darinya. Ia akan mempertahankan apa yang menjadi miliknya. Akira dibuat tidak fokus pada laptopnya, karena dari tadi Kazao selalu melihat kaca spion.


"Ada apa Kazao?" Tanya Akira.


Kazao yang merasa ketahuan sudah memandangi Reina pun merasa bersalah.


"Maaf tuan, tidak ada apa-apa." Jawab Kazao.


Akira semakin curiga dengan sikap Kazao. Apa benar Kazao menyukai Reina? Reina memang sangat cantik, tubuhnya yang tinggi dan ramping serta kulitnya yang putih membuat siapapun yang melihatnya akan terkesima termasuk dirinya.


Kazao memang tidak pernah merasakan jatuh cinta. Tetapi saat Akira mengajak Reina tinggal di rumah baru Akira, saat itu hati Kazao berdebar-debar. Jantungnya tidak bisa diajak kompromi dengannya, selalu mengajaknya berolahraga membuat ia menjadi salah tingkah sendiri. Wajah Kazao juga tidak terlalu jelek, ia tampan walaupun masih lebih tampan Akira. Tingginya juga rata-rata seperti pria dewasa. Ia tidak menyadari kalau sekarang ia sedang jatuh cinta pada wanita yang bernama Reina Putri Ramdhani.


Mereka pun sampai di tempat kerja Reina. Kazao memarkirkan mobil dekat pintu masuk.


"Kita sudah sampai nyonya." Reina yang sedari tadi asik memainkan ponselnya, melihat keluar.


Reina bersiap untuk turun dan pamit pada Akira. Tetapi Akira menahan tangannya.


"Ada apa?" Tanya Reina bingung karena tangannya ditahan oleh Akira.


"Beri aku ciuman." Ucap Akira tersenyum pada Reina.


"Akira aku malu, ada Kazao disini." Ucapnya malu-malu.


"Tidak apa, ayo."


"Akira..." Reina masih enggan untuk menciumnya.


"Kamu memperlambat waktumu untuk keluar sayang." Akira mulai mengeluarkan senyum smirknya.


Deg


Itu pertama kalinya Akira memanggil dirinya dengan kata itu. Dengan ragu Reina mulai mencium pipi Akira, itu pun hanya sebentar saja.


"Bukan seperti itu." Ucap Akira.


"Lalu bagaimana?" Tanya Reina bingung.


"Seperti ini."


Akira mulai meraup bibir Reina dan melumatkannya dengan lembut. Reina mendorong tubuh Akira, tapi apa daya tenaga Akira lebih kuat darinya. Ia pun pasrah dan memejamkan matanya merasakan sensasi tersebut. Sekali lagi Reina mendorong tubuh Akira dan berusaha mengeluarkan suara.


Kazao yang melihat itu, mengalihkan pandangannya keluar. Ia begitu sakit sekali melihat kejadian itu, berharap Reina segera keluar. Kazao ingin memperingati mereka, tetapi ia tidak berani. Ia tahu majikannya seperti apa kalau sedang marah. Akira tidak segan-segan melakukan sesuatu jika ada seseorang yang membuatnya marah.


"Hmmphh..."


Akira melepaskan ciumannya pada Reina. Ia tahu wanitanya itu meminta berhenti sejak tadi. Tapi ia tak mau melepaskannya, ia begitu tergoda dengan Reina.


"Akira ini di tempat umum bukan di rumah." Ucap Reina. Mengingat ini adalah bukan rumahnya.


"Apa kalau dirumah boleh lebih lama?" Akira mengeluarkan senyum smirknya dan memajukan tubuhnya pada Reina.


Reina merinding melihat Akira yang tersenyum dan mulai mendekati tubuhnya seperti itu.


"Aku akan keluar." Ucapnya menjauhi tubuh Akira dan buru-buru hendak keluar. Tapi lagi-lagi Akira mentahannya.


"Sekarang apalagi?" Ucap Reina takut Akira akan melakukannya lagi.


Cup


Akira mencium kening Reina.


Reina benar-benar bingung dengan sikap Akira saat ini. Ia tak tahu apa yang terjadi pada suaminya.


"Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan."


"Ku mohon jangan pernah pergi dariku." Akira memeluk tubuh Reina.


Reina tidak tahu ada apa dengan Akira, tetapi pelukannya ini membuatnya hangat. Reina balas memeluknya, ia mengusapkan tangannya pada punggung Akira.


Akira merasakan Reina mengusap punggungnya. Ia tersenyum, sekarang ia merasa agak tenang. Ia sangat khawatir Reina akan meninggalkannya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu." Ucap Reina dalam pelukan.


Akira melepaskan pelukannya, ia menatap Reina dengan tatapan teduh.


"Terima kasih." Ucapnya. Setelah itu Reina pun turun dari mobil.


"Pergi sekarang Kazao." Perintah Akira. Akira sengaja melakukannya didepan Kazao. Akira yakin Kazao memiliki sedikit perasaan pada Reina. Ia mengeluarkan senyuman smirknya saat menatap keluar jendela.


Kazao menjalankan mobilnya, ia masih teringat kejadian barusan. Hatinya sungguh sakit melihat wanita yang disukainya bermesraan dengan majikannya. Ia tahu, tidak seharusnya ia memiliki perasaan ini. Tapi ia sudah terlanjur jatuh cinta pada wanita berhijab itu. Ia harus bagaimana? Tidak mungkin ia mengkhianati Akira yang sudah banyak membantunya.


Setelah ia mengantar kedua majikannya ke tempat kerja, ia kembali ke rumah majikannya. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa. Apa iya ia harus membuang perasaan itu, tetapi ini adalah pertama kalinya ia merasakan jatuh cinta. Mengapa pengalaman pertamanya seperti ini?


Yumi melihat Kazao yang sedang gelisah di pinggir kolam ikan. Ia pun menghampirinya sambil membawa cokelat panas kesukaan Kazao.


"Ada apa denganmu Kazao?" Tanya Yumi saat sudah sampai di kolam.


"Ah, kak Yumi." Kazao tersenyum hangat.


"Kau terlihat gelisah." Yumi ikut duduk disamping Kazao.


Apakah ia ceritakan saja pada Yumi? Tapi ia takut Yumi akan menceritakannya pada Akira.


"Ceritakan saja padaku, bukankah setiap ada sesuatu yang membuatmu gelisah kau selalu menceritakannya padaku?"


Kazao memang selalu menceritakannya pada Yumi, apapun itu ia selalu menceritakannya. Baginya Yumi sudah seperti kakaknya sendiri, begitupun dengan Yumi ia sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri.


"Kak, aku benar-benar bingung." Ucap Kazao akhirnya.


"Kenapa?"


"Tapi kakak jangan menceritakan pada siapapun ya?"


"Apa aku pernah menceritakannya pada orang lain saat kau bercerita padaku?" Kazao tersenyum pada Yumi, yumi memang tidak pernah menceritakannya pada siapapun saat ia bercerita padanya.


"Sepertinya aku sedang jatuh cinta." Ucap Kazao memandang kolam didepannya.


"Itu bagus, seperti apa wanita itu?" Yumi terlihat senang mendengarnya. Pasalnya sampai saat ini Kazao belum pernah mengatakan itu.


"Dia cantik, pintar, baik, tetapi berbeda dengan ku. Aku tidak bisa bersamanya." Kazao kembali murung.


"Apa yang membuatnya berbeda denganmu?"


"Agama"


"Apa kau sudah berusaha untuk mendapatkannya?" Kazao menggeleng.


"Mengapa kau berkata seperti itu kalau kau belum mencobanya?"


"Karena walaupun aku berusaha juga aku tetap tidak bisa mendapatkannya." Balas Kazao.


"Jangan berkata seperti itu, kau belum mencobanya. Berusahalah agar mendapatkan hatinya." Saran Yumi.


"Tidak bisa kak, karena dia adalah istri dari majikan ku." Kazao menatap Yumi dengan tatapan putus asa.


Yumi terkejut dengan pengakuan Kazao. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Ternyata wanita yang Kazao sukai adalah majikannya sendiri.