
Dentuman musik terdengar sangat berisik di gedung mewah itu.
ya walaupun acara party diadakan di gedung tapi inilah kebiasaan Hands dimana pun harus ada musik
faresta tengah bersenda gurau dengan sang pemilik acara walau hatinya sedang dirundung galau tak melihat wajah cantik sang istri tercintanya.
"masih lama lagi ini sudah larut malam Aurellia pasti sudah tidur" batinnya.
****
jam berganti jam sampai menunjukkan pukul 3 pagi faresta tak bisa lagi menahan rasa ingin memeluk istrinya.
"Hands aku pamit ya " dingin dan terdengar datar berlalu tanpa menunggu jawaban dari sahabat nya itu.
faresta melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
tak perlu waktu lama faresta sudah sampai didepan mansion mewah miliknya.
membuka pintu yg memang tak perlu kunci membuka nya hanya dengan jejak kaki seorang faresta pintu sudah terbuka secara otomatis.
berjalan dengan sangat tergesa gesa hendak menuju kamat pandangan nya terhenti saat melihat sosok mungil sedang tertidur pulas berbantalan sofa besar miliknya
faresta berjalan menghampiri sosok mungil yg tertidur dengan pulas nya memegangi remote tv diperutnya dengan tv yg masih menyala
faresta menggeleng dengan senyum manisnya dan mematikkan tv.
mengangkat tubuh mungil Aurellia tak lah mudah baginya
membawa sang pujaan hati keatas kamar dengan hati hati faresta berjalan menaiki anak tangga agar tidak menggangu tidur istrinya.
faresta meletakkan tubuh mungil itu dengan pelan pelan
jarak yg sangat dekat membuat jantung faresta berdetak lebih cepat lagi terbesit difikiran untuk menyentuh Aurellia malam ini
baru hendak melayangkan ciuman dibibir Aurellia sekakan tau giliran faresta Aurellia memalingkan wajahnya dengan sedikit perasaan kesal faresta menghempaskan tubuhnya disamping Aurellia
"sudahlah biarkan dia pasti dia lelah kenapa harus menunggu ku coba padahal sebelumnya tidak pernah" batinnya memandangi Aurellia yg tertidur dengan sangat nyenyak nya.
faresta mengusap wajahnya dan berjalan memasuki kamar mandi setelah memberikan kecupan didahi Aurellia.
***
melemparkan tubuhnya diatas ranjang besar miliknya ditambah lagi disampingnya ada bidadari surga yg tengah tertidur dalam pelukannya.
" sudah ada raja dan ratunya tinggal putra dan putri kerajaan yg menjadi pelengkap dalam hidup kita sayang" gumam faresta yg memeluk erat tubuh Aurellia berbicara tepat di telinganya Aurellia.
Aurellia mendengar apa yg diucapkan oleh suaminya.
ya Aurellia terbangun saat tubuhnya diangkat oleh faresta ingin berontak tapi kenyamanan yg dirasakan olehnya lebih mendominasi dari pada rasa berontak nya
rasa bersalah menyelubungi hati dan pikiran Aurellia saat mendengar ucapan faresta yg bernada berharap.
" ya awalnya Aurel sangat tak ingin dekat dengannya berjalan nya waktu tubuh Aurel terbiasa disentuh olehnya Aurelsangat nyaman dan merasa kehilangan saat dia berangkat kekantor Aurel belum tau perasaan Aurel yg sebenarnya. ya Aurel tau ini haknya dan ini kewajiban Aurel tapi Aurel belum siap yatuhan jika memang dia ditakdirkan untuk Aurel semoga dia yg terbaik" batinnya mendongak menatap wajah sang suami yg sudah tertidur.
tangan Aurellia terulur mengelus rahang faresta dengan lembut.
"maaf ya aku hanya ingin memastikan perasaan ku " cicitnya dengan suara yg pelan bahkan sangking pelannya hanya dia sendiri yg dapat mendengar suara nya.