
...MY FAVORITE WIFE...
.
.
.
...****************...
Seminggu kemudian...
Di pagi hari yang begitu cerah, secerah polesan make up Moza yang terlihat begitu bersinar.
Ya, hari ini adalah hari dimana Moza akan melepas masa lajangnya untuk menjadi istri sah nya Elliot Alberntino.
Moza menatap pantulan cermin dirinya yang memakai balutan dress serta polesan make up yang semakin memperkuat daya tarik kecantikan nya.
Ia merenungi di dalam batin nya, hari ini bagaikan mimpi untuknya. Jika saja ini adalah mimpi Moza ingin sekali segera terbangun agar pernikahan ini tidak terjadi.
Perlahan pintu ruangan pengantin itu terbuka, seorang pria tampan muda menghampiri dirinya.
"Masya Allah, kakak sangat cantik sekali. Beruntung sekali aku menjadi adiknya." ucap Kevin setelah ia memasuki ruangan dengan wajah penuh kekaguman.
Moza menundukan wajahnya, menyembunyikan wajah yang menurutnya menyedihkan.
Bahkan ia menghiraukan pujian dari Kevin.
Kevin yang menatap Moza mengerutkan wajahnya langsung menghampiri.
"Iklaskan semuanya, pasrahkan urusan kakak sama Allah. Jangan pernah menyerah untuk menghadapi segala cobaan, jangan pernah terlihat lemah. Kakak adalah wanita yang tangguh." ucap Kevin menyentuh kedua pundak Moza yang tinggi badan nya sepada dengan nya.
Moza mengangkat wajahnya hingga adik kakak itu saling berpandangan.
Manik cokelat indah itu berkaca kaca seolah menahan agar air matanya tidak terjatuh.
"Jangan menangis kak, sayang make up nya sudah bagus begini." ucap Kevin menyentuh bagian kelopak mata Moza agar tidak menangis.
"Tersenyumlah, anggaplah hari ini adalah hari yang paling bahagia sepanjang hidup kakak." tutur Kevin.
Moza menyunggingkan bibirnya, adiknya begitu ngasih support mati matian padanya.
Moza menghamburkan pelukan nya pada Kevin, ia benar benar menyayangi adik satu satunya yang begitu perhatian padanya.
"Terima kasih ya Allah, engkau memberikan adik yang sangat baik dan menyayangi kakaknya sendiri." gumam Moza di dalam pelukan Kevin, yang membuat Kevin terkekeh mendengarnya.
Tak lama beberapa saat kemudian knop pintu itu kembali terbuka, kini seorang pria rentan yang datang menghampiri mereka berdua.
Membuat mereka berdua melepaskan pelukan nya.
"Putriku hari ini terlihat begitu lebih cantik dari biasanya." ucap Wijaya memuji anaknya dengan suara penuh kelembutan.
Moza terpaksa mengukir senyuman nya.
"Terima kasih ayah."
"Bismillah semoga pernikahanmu lancar nak, ayah meridhoi pernikahanmu." ucap Wijaya sambil memegang pucuk kepala Moza yang membuat Moza memejamkan matanya.
"Mari kita turun kebawah, sebentar lagi acara ijab qobul akan dilaksanakan." ucap Wijaya.
Deggg!!!
Jantung Moza berdegup dengan kencang tidak seperti biasanya, dan sepertinya aliran darah pun berubah mengalir lebih deras.
"Ada apa denganku, kenapa hatiku terasa tertimpa batu yang sangat keras, bahkan aku merasakan jantungku berdetak lebih kecang, apakah begini rasanya jika akan melakukan ijab qobul? Apakah semua orang melakukan hal yang sama?." ujar nya di dalam hatinya dengan raut wajah gelisah.
"Sudah jangan melamun, yuk kita turun kak." ucap Kevin membuyarkan lamunan nya.
Moza pun menganggukan kepalanya.
Dan mengukuti Kevin untuk turun kebawah dengan tangan yang di tuntun.
Namun di perjalanan tiba tiba ada yang menghentikan mereka.
"Izinkan aku dan Anita yang menuntun Miss Moza kepada penghulu." ucap Karin selaku manager Moza, dan anita adalah asisten Moza disaat Moza ada kegiatan event modeling saja.
Kevin dan Moza menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Kalian datang?." pekik Moza dengan wajah tidak percaya.
"Bagaimana bisa kami tidak datang Miss, saat mbak Karin mengatakan bahwa Miss akan menikah, aku langsung memesan tiket pesawat untuk balik ke Indonesia." ungkap Anita dengan senyuman manisnya.
Anita beberapa bulan ini ia tinggal di Jepang untuk melanjutkan sekolah nya, menggapai cita citanya sebagai perias make up artis.
"Terima kasih sudah mengusahakan datang." ucap Moza dengan wajah terharu.
Anita pun segera memeluk Moza.
"Ternyata kau tidak berubah, cantiknya masih tetap sama." ucapnya mengelus punggung Moza.
"Kau juga tidak berubah, selalu saja memujiku." ucap Moza membuat Anita dan Karin tertawa.
Akhirnya mereka bertiga pun turun ke bawah dengan menuntun seorang pengantin cantik yang berjalan dengan begitu anggun.
Elliot yang sejak tadi terduduk di hadapan penghulu karena menunggu kedatangan Moza.
Para keluarga Moza dan Elliot tidak berkedip melihat kedua insan itu benar benar mempunyai fisik yang sempurna.
Mereka berdua begitu sangat cocok dan serasi.
Moza menatap sekeliling nya ternyata benar hanya orang orang terdekat saja yang menghadiri pernikahan ini, dan ternyata ibunya Elliot dan juga istrinya tidak datang menghadiri pernikahan nya.
Ia hanya melihat nyonya Firdania serta ayahnya Albert yang menghadiri acara pernikahan Elliot tersebut.
"Bodo amatlah jika mereka tidak datang di acara ini, toh pasti ibunya Elliot akan cerewet dan membuat telingaku kembali berdenging." gumam nya di dalam hati.
Moza pun akhirnya duduk di sebelah Elliot, ia menatap pria itu yang tak menatap dirinya bahkan terlihat sekali Elliot tidak memperdulikan penampilan Moza yang menurut orang bak barbie hidup.
"Baiklah karena calon pengantin nya sudah hadir, sebelum kita melaksanakan ijab qobul alangkah baiknya kita berdoa." ucap penghulu itu dengan panjang lebar menjelaskan pernikahan yang baik.
Sebelum itu ustadz di samping pak penghulu memberikan sedikit ceramah tentang peran sebagai suami dan istri yang baik.
"Dengarkan itu." bisik Elliot pada Moza.
Moza melirik Elliot dengan kesal.
Namun Elliot masih tetap menatap lurus dengan wajah yang cool.
Setelah 30 menit ustadz itu memberikan ceramah, saatnya penghulu untuk membacakan ijab qobul.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Alexandria Moza Adinata dengan maskawin tersebut di bayar tunai." ucap Elliot dengan sangat fasih dan wajah yang terlihat serius.
Degg!!!
"Bagaimana para saksi, sah?."
"Sah!."
"Sah!."
"Alhamdulillah."
Kemudian penghulu pun membacakan doa doa sebelum mengakhiri ijab qobul.
"Silahkan kecup tangan suaminya, dan suaminya pula kecup kening istrinya. Karena kalian sudah sah menjadi suami istri." ucap penghulu.
Elliot membalikan badanya untuk menghadap Moza.
Mereka berdua saling menatap kuat.
terlihat dari garis matanya bahwa Moza menyimpan sebuah kekesalan pada Elliot, namun tidak dengan Elliot ia menatap dengan wajah yang begitu santai.
Dengan terpaksa Moza mencium tangan Elliot dengan tangan dan bibir yang bergetar.
Elliot pun langsung menghamburkan ciuman di keningnya dengan mata yang tertutup, membuat Moza pun menutup matanya.
"Perasaan apa ini?, kenapa tubuhku seperti ada aliran yang berdesir hebat di dalam nya." pikir Elliot di dalam hatinya.
Firdania, Albert dan juga Wijaya tersenyum berbahagia melihat keakraban mereka berdua.
"Terima kasih Wijaya, kau sudah mengabulkan keinginanku." bisik Firdania.
"Sama sama nyonya, itu sudah tugas saya." sahut Wijaya.
Kini saatnya para tamu yang menghadirkan acara pernikahan tersebut menghampiri kedua pengantin itu untuk memberikan ucapan selamat.
"Selamat atas pernikahanmu Miss semoga kalian bahagia selalu." ucap Karin sambil memeluk Moza.
"Aamiin terima kasih ibu managerku." sahut Moza.
"Selamat atas pernikahanku Miss, semoga langgeng dan segera di berikan keturunan yang sangat lucu." ucap Anita dengan antusias.
Moza pun tersenyum dengan menatap nanar.
"Amiin terima kasih Anita.." Moza menghamburkak pelukan.
Anita dan Karim memberikan sebuah kado untuk Moza.
"Tidak usah repot repot padahal." ucap Moza setelah menerima kado itu.
"Jangan melihat dari barangnya ya, tapi dari ketulusan kita untukmu." ucap Karin.
Moza pun mengangguk tersenyum namun mata menahan air matanya.
Elliot hanya terdiam dengan menatap lurus saja tanpa ekspresi.
"Selamat menempuh hidup baru, semoga kakak selalu bahagia." ucap Kevin seraya memeluk Moza dengan sangat erat.
Elliot menatap Kevin yang tiba tiba memeluk Moza dan terlihat sekali bahwa mereka berdua sangat akrab.
Siapa pria ini? Berani sekali menyentuh istrinya.
"Aku titip kakakku, jangan pernah kau sakiti dia." bisik Kevin dengan tatapan maut setelah ia melepaskan pelukan nya dengan Moza.
Elliot membalas tatapan itu dengan sorotan mata elangnya.
"Jadi pria bocah ini adiknya." gumam Elliot di dalam hati.
"Selamat atas pernikahan tuan El dan nona Moza, semoga Tuhan memberkati kalian berdua." ucap Glenn mewakili para anak buah Elliot yang berbaris di belakang.
"Terima kasih." sahut Elliot dengan datar.
Mereka berdua pun terus menyambut ucapan selamat dari kerabat dekat nya lainnya.
"Jangan pernah berharap lebih tentang pernikahan ini, aku pastikan itu akan membuatmu tersiksa karena aku tidak akan pernah memberikan hatiku padamu!." Bisik Elliot dengan tatapan maut dan nada penuh dengan intimidasi.
"Kau pikir aku akan segampang itu memberikan hatiku padamu? Jangan pernah bermimpi tuan El, aku bahkan tidak sudi jika harus jatuh cinta padamu." bisik Moza dengan suara terdengar gusar.
Elliot pun hanya memiringkan bibirnya.
.
.
.
Bersambung...
Cek! Cek!
Test! Test!
Halloo??...
Ini ada yang baca karyaku ga sih? :(
kok sepi banget yah padahal aku minta like sama komenan nya aja😭🙏
I love u para readers❤️