
Keesokan harinya siang itu Moza baru saja mengadakan pertemuan dengan CEO skincare PT Sunskin yang bernama Brian Issander.
Brian Issander adalah salah satu kategori pengusaha muda yang masih lajang dan mempunyai wajah rupawan serta terkenal murah senyum dan baik hati.
Perusahaan nya sungguh sangat maju melesat di negaranya, hingga produknya pun ia ekspor ke luar negeri.
"Terima kasih sudah menerima kerja sama dengan perusahaanku Miss Moza." tutur nya dengan suara penuh kelembutan setelah Moza baru saja selesai menanda tangani sebuah kontrak kerja sama dengan nya.
"Sama sama tuan Issander, saya turut senang sekali menjadi model brand ambassador produk anda, dan itu sebuah keberuntungan bagi semua wanita." ucap Moza dengan raut wajah manis berseringai.
Perusahaan Brian memang terkenal sebagai produk kecantikan yang cukup terkenal karena produk nya yang bagus dan terjamin.
Brian terkekeh namun gaya nya masih terlihat cool.
"Terima kasih Miss atas pujian nya." ucap Brian tersenyum.
"Sama sama tuan, semoga semakin banyak pelanggan setelah aku menjadi brand ambassador produk anda."
"Aamiin, aku yakin untuk hal itu Miss." sahut Brian.
Moza pun tertawa kecil namun masih terlihat anggun.
"Panggil saja aku Moza tuan, jangan formal begitu agar kita lebih akrab."
"Baiklah Moza jika itu kemauan mu aku tidak bisa menolak." sahut Brian dengan tatapan yang membuat Moza sedikit canggung.
Moza menundukan wajahnya untuk menyembunyikan pipi yang berubah merah merona karena malu Brian terus saja menatapnya.
"Ya Tuhan tampan sekali dia ternyata jika di jarak dekat begini, huftt jangan baper Moza please jangan baper!." gumam Moza di dalam hatinya.
"Oh ya, apa kau sibuk hari ini? Atau ada kegiatan lain?." tanya Brian memecahkan keheningan.
Moza segera menoleh lalu menggelengkan kepala setelah ia mencoba untuk mengingat bahwa sekarang dirinya sedang tidak ada job.
"Tidak ada tuan, hari ini aku sedang free." sahut Moza.
"Mau temani aku makan siang hari ini?." tanya nya dengan mengangkat sebelah alisnya.
Dari garis wajah tampan nya yang terlihat sekali penuh pengharapan.
Moza terkaku, jantungnya kini berdegup kencang seperti tak biasanya.
"Ahh... b-boleh tuan." jawab Moza sedikit terbata bata saat ia berpikir beberapa detik.
Wajah Brian begitu antusias setelah mendengar jawaban dari Moza.
Ia kembali tersenyum dengan sangat manis membuat aura wajahnya terlihat semakin kuat.
Restoran La Grace
Dimana itu adalah restoran Elite di pusat kota, dan tidak sembarang orang bisa masuk ke restoran itu karena selain tempatnya mewah harganya pun tidak terjangkau.
"Kenapa kau hanya memesan salad buah saja?." tanya Brian setelah makanan sudah tiba di atas meja.
"Aku tidak terbiasa makan nasi di siang hari, jadwal makan nasi ku pukul 7 malam tuan." jawab Moza.
"Apa kau ingin membuatku bahagia?." tanya Brian.
"Tentu saja kau adalah bosku kan, pemilik PT Sunskin. Aku yang sebagai pemasaran produknya tentu harus membuatmu bahagia."
Brian pun tersenyum.
"Kalau begitu kau harus makan nasi, katanya akan membuatku bahagia bukan?."
Tiba tiba seorang pelayan datang membawakan nampan berisi makanan di sertai nasi.
"Nahh, aku sudah memesankan nya untukmu jadi kau harus memakannya." ucap Brian senyuman nya tidak pudar dari wajah nya.
Moza terkaku melihat makanan yang membuatnya itu adalah porsi yang sangat banyak.
"Silahkan tuan dan nona, selamat menikmati." ucap seorang pelayan itu dengan rendah hati.
"Terima kasih." sahut Brian tersenyum pada pelayan itu.
Pelayan itu pun pergi meninggalkan meja.
"T-tapi tuan, menurutku ini porsi terlalu banyak. Aku tidak bisa memakan semuanya." ucapnya dengan raut sedih menatap semua makanan yang ada di hadapan nya.
Brian berseringai kecil.
"Kau pasti bisa, jangan takut berat badanmu naik."
"Aku takut pipiku cabi dan bulat." ungkap Moza
"Menurutku akan tetap sama, sama cantiknya." ucap Brian.
Mereka berdua saling menatap, entah kenapa jantung Moza kembali lagi berdegup kencang dengan darah yang berdesir setelah saling menatap dengan mata manik kecoklatan terang itu.
"Mari kita makan keburu makanan nya dingin." ucap Brian dengan masih menatap Moza.
Moza pun tersadar dari tatapan nya.
"Ah iya mari."
Mereka berdua pun kini melakukan makan siang dengan gaya yang sangat elegan.
Di kejauhan seorang pria tengah menguntit Moza dan melihat Moza dengan Brian sedang menikmati makan siang.
Seseorang itu meraih ponsel di saku nya kemudian ia mengetik sebuah pesan entah untuk siapa yang dia kirim.
Ting! (Suara nada bering pesan)
Moza yang sedang mengunyah makanan nya seketika meraih ponsel di sampingnya.
^^^'Selamat siang nona, aku tunggu di parkiran restoran La Grace sampai makan siangmu selesai. Jika nona tidak menghampiriku, aku yang akan menghampiri nona.'^^^
^^^*Glenn Immanuel*^^^
Moza mengerutkan aslinya saat ia baru selesai membaca isi pesan itu, kenapa bisa pria itu mengetahui nomor ponselnya.
Mungkin dari ayahnya.
"Ngapain sih dia mengikutiku, dasar menggangguku saja." Gerutu Moza di dalam hati dengan wajah di tekuk.
"Apa kau baik baik saja?." tanya Brian.
Moza seketika mengangkat wajahnya.
"A-aku baik baik saja, silahkan di lanjut makan nya tuan."
Brian pun kembali menarik senyuman nya.
"Duh bisa gak sih jangan terus senyum senyum begitu, aku gak kuat melihatnya." ucap Moza di dalam hati.
Contoh Visual Brian Issander
Glenn yang sedang menunggu Moza di parkiran restoran dengan bermacam gerak dan gaya yang ia lakukan karena sudah 1 jam lebih menunggu tetapi Moza belum keluar juga.
"Huft! Apa yang sedang mereka lakukan? Makan siang saja lama sekali, jika bukan perintah Elliot aku tidak sudi harus menunggunya sampai kering begini." ketus Glenn mengerutkan wajahnya.
Glenn menyalakan rokok nya entah itu yang keberapa kali hanya untuk menghilangkan sebuah penat.
Ia terus menatap arloji yang di pergelangan tangan nya yang kini sudah menunjukan pukul 15.12.
Glenn terus menghela nafasnya berkali kali.
"Aku akan mengantarkanmu pulang." ucap Brian.
"Ah tidak usah tuan jangan merepotkan, aku sudah memesan taksi." ucap Moza dengan menolak secara halus.
"Batalkan saja pesanan nya, lagian aku tidak merasa di repotkan."
"Rasanya tidak enak jika di batalkan tuan, kasian supir taksi nya sudah menunggu sejak tadi." ucap Moza.
"Tidak apa apa, aku akan membayarnya."
Moza berseringai.
"Tidak apa tuan, lebih baik aku naik taksi saja aku sungguh tidak enak seseorang tengah menungguku sejak tadi. Lagi pula jarak rumahku sangat jauh dan tuan pasti lelah."
"Sebenarnya aku sangat ingin mengantarkanmu sekalian ingin tau alamatmu, tetapi jika kau ingin naik taksi, aku tidak apa apa." ucap Brian tersenyum.
"Lain waktu saja tuan, maaf sekali." ucap Mileana mengatupkan kedua tangan nya sebagai pertanda memohon.
"Hei santai saja denganku, ya sudah dimana taksi nya? Aku akan mengantarkan mu."
Moza seketika membelalakan lagi matanya.
"Ahh, tidak usah tuan. Lebih baik anda segera pulang saja sepertinya cuaca nya akan turun hujan." Moza mencari alasan.
Brian tertawa renyah
"Menurutku langitnya cerah, tapi ya sudah aku menurutimu. Aku pulang, kau hati hati di jalan." ucap Brian dengan nada kelembutan dengan tatapan yang begitu hangat.
Moza menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Tuan juga hati hati di jalannya."
Moza menatap kepergian Brian yang sudah memasuki mobil lamborgini nya.
Tetapi sebelum memasuki mobilnya Brian menoleh ke Moza dan memberikan senyuman manisnya.
Moza pun membalas senyuman nya.
"Ya Tuhan, dia sangat peduli sekali apalagi tutur katanya begitu terdengar santun membuat telingaku sangat nyaman."
"Hei."
Glenn segera membalikan badan nya untuk mencari suara tersebut.
"Selamat sore nona, apakah makan siang nya menyenangkan?." ucap Glenn memasang mimik wajah ramah namun dalam hatinya begitu sangat kesal.
"Buang rokok mu, aku tidak suka mencium asap rokok." ucap Moza dengan wajah yang jutek.
"Ahh iya baik nona."
Glenn segera mematikan rokok nya kemudian ia buang ke tong sampah yang berada di dekatnya.
"Sedang apa kau mengikutiku?, kau tau aku sangat tidak suka." ucap Moza dengan tatapan gusar.
"Kau pikir aku suka mengikutimu sampai aku di tanam di parkiran ini sampai kering." batin Glenn berketus.
"Aku di suruh tuan Elliot untuk mengajak nona ke sebuah butik Bilblues." ucap Glenn dengan ramah.
Walaupun sebenarnya dirinya sangat kesal.
"Ngapain ke butik?." tanya Moza mengerutkan keningnya.
"Untuk fitting gaun pernikahan, karena minggu depan nona dan tuan El akan menikah bukan?."
Moza menghela nafasnya.
"Besok saja, aku lelah ingin beristirahat." ucapnya dengan nada malas.
Glenn membelalakan matanya.
"'Maaf nona, anda tidak bisa menolak karena tuan El akan menyusul ke butik dan rela membatalkan pertemuan nya dengan kolega." ucap Glenn menundukan wajahnya.
Moza terdiam beberapa saat.
"Apa apaan sih pria itu selalu saja melakukan apapun dengan mendadak dan seenaknya begini." ketus Moza di dalam hatinya.
Moza pun langsung memasuki mobil sport nya dengan langkah malas.
"Jutek sekali dia." gerutu Glenn.
Glenn pun segea menyusulnya.
"Lain kali jangan ada acara mendadak seperti ini, bilang pada bos mu karena aku wanita yang penuh dengan kegiatan." ucap Moza setelah Glenn memasuki mobil.
"Baik nona saya akan sampaikan keluh kesah anda pada tuan El." sahut Glenn.
Kemudian Glenn menginjakan gas nya untuk meninggalkan restoran La Grace.
Disisi lain Brian mengintip di dalam mobilnya pergerakan Moza yang menghampiri Glenn hingga mereka berlalu.
"Taksi? tetapi kenapa memakai jas serta membawa mobil sport. Apakah laki laki itu kekasihnya?." pikir Brian.
Selang tak lama Brian pun kembali menginjakan gas nya untuk segera pulang.
Bersambung❤️❤️❤️
Minta dukungan nya ya readers yang terhormat untuk like, komen, dan vote🙏🤗
Semoga karyaku bisa menghibur kalian, maaf bila ada salah kata author masih belajar🤗