My Favorite Wife

My Favorite Wife
Episode 32. Keberangkatan Moza



...MY FAVORITE WIFE...


.


.


.


...*❤️Happy Reading❤️*...


......................


Siang itu dimana Moza sedang membicarakan tentang lokasi iklan untuknya di perusahan Sunskin Corporation.


"Jadi lokasi tersebut ada dua pilihan, antara Labuan Bajo, dan Lombok, karena kau adalah model ambassador kami jadi kau putuskan saja." ucap Gerald.


Moza terdiam sesaat untuk berpikir.


"Menurutku sih Labuan Bajo saja, karena disana view nya sangat bagus untuk iklan body lotion." ujar Moza.


"Baiklah bagaimana pun itu keputusan anda berarti kita deal kan saja bahwa lokasi periklanan kita berada di Labuan Bajo." ucap Gerald.


"Baiklah saya setuju tuan." ucap Karin.


"Bagaimana Mr, apakah anda menyetujuinya?." tanya Gerald.


"Apapun itu keputusan nya saya akan tetap menyetujuinya." ucap Brian.


Moza pun tersenyum. "Terima kasih Mr,"


"Kami juga sudah mempersiapkan busana dan juga perias make up untuk pembuatan iklan itu, jadi kami harap kau hanya mempersiapkan diri saja." ucap Gerald.


"Baiklah tuan, terima kasih sudah mempercayakan saya untuk menjadi brand ambassador produk SunSkin."


"Tentu saja Miss, dan keberangkatan kita akan di adakan 3 hari lagi, karena lebih cepat lebih baik."


"Baiklah saya setuju."


"Besok kami akan mengadakan pengguntingan pita untuk meresmikan produk tersebut." ucap Gerald.


"Kita pasti akan menghadirinya." ucap Karin.


"Itukan pasti karena Miss Moza sudah termasuk bergabung bersama PT Sunskin." ucap Gerald selaku sekretaris Brian.


.


.


Malam itu Moza menghampiri Elliot yang sedang berada di taman belakang yang sedang mengobrol dengan Glenn.


Sebelum Moza menghampirinya, ia berdehem agar dirinya tidak canggung.


"El, aku ingin berbicara padamu." ucap Moza membuat mereka berdua membalikan badan nya.


"Selamat malam nyonya." Sapa Glenn.


"Malam Glenn, bolehkah aku berbicara dengan Elliot? Apakah kalian sedang sibuk?." tanya Moza.


"Tentu saja tidak nyonya, kalau begitu saya permisi dulu." ujar Glenn kemudian ia pergi meninggalkan mereka berdua.


Kini di taman belakang itu hanya ada Moza dan juga Elliot.


"Ada apa?." tanya Elliot dengan terbiasa memasang wajah datar.


"Aku ingin meminta izin, bahwa hari rabu aku akan berangkat ke Labuan Bajo." ucap Moza.


Beberapa saat itu tidak ada jawaban dari Elliot.


Moza menatap Elliot yang tidak menjawabnya dengan mata kesal.


"Untuk apa kesana?." tanya nya dengan datar.


"Untuk syuting iklan produk body lotion." jawab Moza.


"Syuting iklan? memangnya harus disana lokasinya?." tanya Elliot yang akhirnya menatap Moza.


"Iya, karena syuting iklan itu juga membutuhkan background yang bagus."


"Sekarang itu jaman modern, apapun background nya bisa di edit kan tidak perlu jauh jauh harus ke Labuan Bajo."


"Masalah itu aku tidak tahu karena aku hanya menuruti saja keinginan Mr Brian sebagai CEO PT Sunskin." ucap Moza.


Elliot memiringkan bibirnya. "Tentu saja kau senang mau pergi kan? Karena secara langsung kau ingin pergi liburan dengan Brian."


"Apa maksudmu?." tanya Moza memasang wajah merah kesal.


Elliot memalingkan wajahnya. "Berangkat saja." ujar Elliot sambil melenggang pergi meningggalkan Moza.


Moza yang melihat kepergian Elliot mengepalkan tangan nya.


"Cihh sabar Moza sabar.." gumam nya sambil menghela nafas.


"Tapi kenapa akhir akhir ini dia sangat dingin padaku, apa memang dia tiba tiba hangat hanya karena menginginkan sesuatu saja? Hih dasar pria menyebalkan!." gerutunya.


.


.


Singkat cerita, 3 hari kemudian...


Moza sudah berkemas untuk menyiapkan barang barang yang ia gunakan untuk di Labuan Bajo.


Ia kini menggunakan pakaian blazer dengan paduan jeans ngetat serta rambut panjang nya di ikat membuat dirinya semakin terlihat menarik.


"Nenek, Moza berangkat dulu ya."


"Hati hati di jalannya ya nak." ucap Firdania.


"Nyonya hati hati dijalannya." ucap Anna.


"Iyaa terima kasih, nanti setelah aku pulang, aku akan memberikan nenek dan Anna oleh oleh disana ya." ucap Moza.


"Tidak usah repot repot sayang, kau pulang kembali kesini pun sudah membuatku senang."


"Hati hati ya nyonya."


"Terima kasih nenek, Anna."


Moza memeluk Firdania sebelum ia pergi.


Moza berjalan menuju halaman mansion dimana Karin sudah menunggunya sejak tadi.


"Karin tolong ya nitip cucuku disana." ucap Firdania.


"Baik nyonya Firdania, serahkan saja pada saya."


"Aku berangkat ya nek, makan yang teratur. Anna aku titip nenek padamu." ujar Moza


"Iya nyonya itu sudah menjadi tugas saya." ucap Anna tersenyum.


Setelah Moza berpamitan dengan Karin, ia pun pergi meninggalkan mansion menggunakan mobil sedan milik Karin.


Di perjalanan...


"Kau sudah meminta izin pada Elliot?." tanya Karin.


Moza menganggukan kepalanya.


"Apa dia mengizinkanmu pergi?." tanya Karin sambil menyetir.


"Tentu saja." jawab Moza melipatkan kedua tangan nya di dada.


Ia tengah berpikir apa ia harus memberikan pesan pada Elliot untuk mengabari kalau dia akan berangkat.


Moza berdecak, ia harus membuang ego nya untuk sekarang.


Tak lama Moza pun segera mengirim pesan untuk Elliot.


.


.


Kantor Elliot.


Elliot baru saja selesai membaca sebuah pesan masuk dari Moza dengan wajah tanpa ekspresi.


Moza


'Aku berangkat'


Hanya pesan singkat itu saja yang Elliot baca.


Elliot segera menyimpan ponsel itu lagi ke atas meja tanpa mempedulikannya dan kembali mengerjakan pekerjaan nya.


Di sisi lain Moza membelalakan matanya.


"What!." Pekik Moza.


"Chat dariku hanya dibaca saja?." gumam nya dalam hati.


"Ada apa Moz?." tanya Karin.


"Ahh gada apa apa kok." sahutnya.


Dengan kesal ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas nya.


"Kenapa aku benar benar sangat kesal melihat tingkah dinginnya padaku, apa salahku ya?. Ehh lagi pula ngapain aku memikirkannya, ga ada faedahnya mikirin cowok so cool begitu." pikir Moza.


.


.


.


...Bersambung......