
...MY FAVORITE WIFE...
.
.
.
...Happy Reading...
......................
Mansion Luxury Palace.
"Apa! Dia akan tinggal di mansion ini?, tidak ibu tidak setuju!." pekik Winda membuat mansion itu terdengar menggeleggar.
"Nenek sangat senang jika Moza tinggal disini." ucap Firdania.
"Tapi aku tidak senang!." ucap Winda.
"Hentikan Winda, bagaimana pun Elliot yang berkuasa di mansion ini, kalo kau tidak senang lebih baik kita pulang ke mansion pribadi." ucap Albert.
Cleo mengepalkan tangan nya.
"Apa apaan ini, wanita pelakor ini akan tinggal disini? Bersamaku? Aku tidak sudi harus melihat wajah nya setiap hari." ucap Cleo di dalam hatinya.
"Dia adalah istriku ibu, jadi dia harus tinggal disini." ucap Elliot.
"Tapi ibu muak melihat wajahnya." ucap Winda membuat Cleo memiringkan bibirnya.
Deg!!!
Moza mengangkat wajahnya. "Apa apaan, kau pikir aku tidak muak melihatmu dan mendengar suaramu yang sangat melengking."
"Tidak ada bantahan apapun, jika ibu tidak senang maka ibu pulang saja ke mansion pribadi." ucap Elliot.
"El kau sudah keterlaluan pada ibumu sendiri! Kau sudah berani pada ibu demi membela wanita murahan ini?." pekik Winda dengan suara yang melengking.
"Sudahlah bu, Elliot sudah besar biarkan saja dia memilih hidupnya sendiri." ujar Albert.
Firdania menyunggingkan senyuman nya.
"Aku menang... suatu saat nanti Elliot akan melepaskan wanita rubah itu." ucap Firdania dalam hati.
"Sudah lah aku sangat lelah, jangan terus berdebat seperti ini. Keputusanku tetap mutlak, Moza akan tinggal disini."
Degg!
Cleo dan Winda membelalakan wajahnya.
"Pelayan!."
Kedua maid langsung menghampiri Elliot.
"Iya tuan?." sambil menundukan wajahnya.
"Cepat bawa barang dia ke kamar nya." perintah Elliot.
"Baik tuan laksankan."
Mereka berdua pun segera membawa koper dan juga tas milik Moza.
"Terima kasih." sahut Moza dengan wajah manis.
"Moza, istirahatlah kau pasti lelah." ucap Firdania.
"Iya nek, terima kasih."
"Elliot antar istrimu ke kamarnya, dia pasti lelah sudah menempuh perjalanan." ucap Firdania.
"Iyaa nenek, bagaimana kabarmu?." tanya Elliot.
"Nenek baik nak, apakah kau sangat betah dengan Moza sehingga jarang pulang ke mansion?." tanya Firdania.
Winda dan Cleo yang melihat itu langsung melenggang pergi meninggalkan ruang tengah.
"Kemarin aku tidur di villa rose gold selama 3 hari nek." ucap Elliot.
"Aku tau karena Hansel memberitahuku." ucap Firdania.
Firdania menatap Moza. "Kemarilah nak aku ingin memelukmu."
Moza tersenyum seraya berjalan menghampiri Firdania. Dan Firdania segera memeluknya.
"Terima kasih sudah mau menikah dengan cucuku." bisik Firdania sambil mengusap rambut panjang Moza.
Moza membalas pelukan hangat itu.
Pelukan sang wanita yang sudah rentan dan sedikit bungkuk itu masih terlihat segar.
.
.
.
Di dalam kamar.
Moza menatap interior kamar mewah itu dengan sangat intens. Ternyata kamar ini jauh lebih mewah dibandingan saat di apartemen ataupun di villa.
"Ehem!." Elliot membuyarkan lamunan Moza.
Moza seketika menoleh nya.
"Besok Hansel akan datang kesini, untuk menjagamu." ucapnya.
Moza memiringakn senyuman nya.
"Untuk apa? Kau pikir aku akan di aniaya oleh ibu dan istri pertama mu?. Tenang saja aku tidak selemah itu."
Elliot menatap bola manik cokelat itu dengan intens.
"Aku akan pergi ke Eropa." sahut Elliot dengan masih betah menatap bola manik cokelat itu.
"Untuk apa lagi?." tanya Moza terlihat sekali garis wajah bahwa ia tidak menyukainya.
"Untuk kerja sama dengan klienku disana, bersama Mr Harris." ucap Elliot.
"Kau akan tinggal lama disana?." tanya Moza.
"Hanya 3 hari saja, tapi nanti aku akan sering kesana." ucap Elliot.
Moza terdiam.
"Kau tidak apa apa menungguku disini?." tanya Elliot.
Moza mengangkat wajahnya, mereka berdua saling menatap.
Moza menganggukan kepalanya.
Elliot langsung tersenyum.
"Makanlah kau belum makan sejak pagi kan?."
"Aku tidak ingin makan." ujar Moza.
"Aku sudah menurutimu untuk tidak makan direstoran tadi, jadi sekarang kau harus makan menurutiku." ucap Elliot.
"Baiklah." ujar Moza dengan pasrah.
.
.
...****************...
Siang berganti menjadi malam...
Moza melangkahkan kakinya menuju paviliun yang ada di belakang mansion.
"Ternyata mansion ini benar benar sangat luas." ujar Moza dengan penuh kekaguman.
Tak sengaja ia melihat Cleo disana yang juga melihatnya.
Cleo segera menghampiri Moza dengan tatapan yang mencekam.
"Heh pelakor! Kau pasti senang kan tinggal disini?." ujar Cleo menghampirinya.
"Tentu saja senang, siapa yang tidak senang tinggal di mansion yang sangat mewah ini." sahut Moza dengan nada yang santai.
"Jangan pernah bermimpi bisa menjadi ratu dimansion ini!, kau tau bukan Elliot tidak akan pernah mencintaimu!."
"Oh ya?, lalu apakah Elliot mencintaimu? Tidak bukan kasian sekali ya, kau sudah bertahun tahun menikah dengannya namun hati suamimu masih tetutup untukmu."
"Hei jaga ucapanmu pelakor! Jangan seenaknya berbicara! Kau sungguh tidak malu datang kesini dengan wajah tanpa dosa!." pekik Cleo.
"Aku adalah istri sahnya tuan Elliot juga nyonya Cleo!."
"Percaya diri sekali kau, jangan pernah bermimpi untuk bisa mendapatkan hati suamiku!."
"Aku tidak peduli! Aku tidak butuh cinta dari suamimu. Tapi aku yakin suami mu yang akan terjerat oleh cintaku."
Degg!!!
"Sudah siapkah untuk menjadi sainganku?, apa kau yakin bisa menyaingi aku?, oh ya! Bahkan Elliot pun sangat menyukai buah gunungku, dan katanya punya sangat besar daripada punyamu yang kecil."
"Hei jaga bicaramu!." Cleo hendak mengangkat tangan untuk menampar Moza.
Namun dengan secepat kilat Moza menangkap tangan itu.
"Kau tidak akan pernah bisa menyentuhku Cleo!, perawatan kulitku ini sangat mahal!."
Cleo langsung menarik tangannya dengan kasar, di penuhi oleh emosi yang memuncak.
"Sombong sekali kamu!." Cleo mendorong Moza hingga ia sedikit terhenyuk menabrak sebuah dinding.
Dengan membelalakan wajahnya, Moza kembali mendorong Cleo namun Cleo bisa menahan nya.
Glenn yang sedang mengadem di taman paviliun itu melihat antara Moza dan Cleo saling dorong mendorong.
Dengan seketika Glenn langsung berlari menghampiri mereka berdua.
"Kau berani mendorongku ha!." pekik Cleo.
"Aku tidak takut walaupun kau adalah istri pertama!." pekik Moza dengan tatapan tajam nya.
Mereka kini saling menjambak rambut masing masing dengn sekuat tenaga mereka.
"Nyonya hentikan!." pekik Glenn segera memisahkan mereka berdua.
Namun mereka semakin kuat menjambaknya hingga beberapa helaian rambut mereka terjatuh.
"Nyonya hentikan semuanya atau tuan El akan marah!." pekik Glenn.
"Nyonya Cleo lepaskan tangan nya, kumohon!."
Mereka tidak mendengar perkataan Glenn seolah tidak menyadari keberadaanya.
"Nyonya lepaskan jambakan nya kumohon! Tuan El akan marah jika mengetahui ini!."
Dengan sekuat tenaga Glenn melepaskan tangan Moza dan Cleo dari jambakan nya. Dan akhirnya ia bisa memisahkan nya.
Moza langsung di seret oleh Glenn untuk memisahkan mereka berdua.
Cleo terus bekicau entar apa yang dia lontarkan karena mereka beradu saling memaki.
.
.
.
Bersambung....