My Favorite Wife

My Favorite Wife
Episode 4. Menyetujui Perjodohan



...MY FAVORITE WIFE...


.


.


.


......................


Petang hari itu dimana Moza baru saja menapaki dirinya di sebuah gedung tinggi yaitu kantor pusat perusahaan Fung Corporation.


Dengan langkah kaki yang gemulai dan mempesona Moza berjalan penuh dengan keanggunan.


Semua mata yang berada di dalam kantor itu tertuju pada nya melihat aura yang benar benar bak dewi yang turun dari langit.


Moza membenarkan kaca mata hitam nya untuk menghilangkan gugup karena saat ini dia menjadi tatapan semua orang.


Outfit Moza.



"Wow! Beautiful girl!." ucap salah satu karyawan dengan menatap Moza penuh kekaguman.


"Selamat sore nona, a-ada yang bisa saya bantu?." ucap resepsionis dengan sangat ramah namun terlihat gugup karena sosok elok itu menghampirinya.


"Hmm saya ingin bertemu dengan tuan Elliot, apakah beliau ada disini?." tanya Moza dengan suara terdengar syahdu.


"Ohh anda tamu president Elliot?, mohon maaf nona apa anda sudah membuat janji dengan beliau?." tanya pria itu.


"Belum." sahut Moza.


"Mohon tunggu nona, saya akan telepon sekretaris Jo terlebih dahulu."


"Baiklah silahkan tuan." ucap Moza tersenyum.


.


.


...----------------...


Ruangan pribadi Elliot.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!." ujar Elliot yang sedang membaca buku dengan santai di ruangannya.


Seseorang pun datang memasuki ruangan Elliot.


"Permisi presdir, ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan anda, dan dia sudah menunggu di lobby."


Elliot mengangkat wajahnya.


"Siapa dia?." tanya nya.


"Mohon maaf presdir, Dafi tidak memberitahu namanya, kalau begitu aku akan telepon Dafi terlebih dahulu" sahut Jonathan sekretaris Elliot.


"Tidak perlu." ucap Elliot menghentikan Jonathan yang enggan menekan angka telepon.


Elliot segera mengecek CCTV yang berada di laptopnya.


Setelah melihat CCTV itu Elliot menyunggingkan bibirnya.


"Suruh wanita itu masuk ke ruanganku." titah Elliot.


"Baiklah presdir." Jo membalikan badannya untuk kembali menekan tombol telepon, namun sebelum ia melangkah ia mengerutkan alisnya dengan wajah kebingungan.


Karena sangat tumben Elliot menerima tamu wanita , apalagi wanita itu di suruh masuk langsung ke ruangan nya.


Beberapa saat kemudian...


"Permisi senior, tamu presdir sudah menunggunya." ucap salah satu karyawan yang mengantarkan Moza ke lantai CEO.


"Baiklah terima kasih Feni." ucap Jonathan.


"Sama sama senior, mari nona saya harus kembali." ucap Feni


"Terima kasih sudah mengantarkanku." ucap Moza tersenyum.


"Sama sama nona." sahut Feni membalas senyuman nya kemudian pergi.


Moza yang dari tadi menatap seluruh interior kantor ini benar benar sangat mewah dan bersih.


Bangunan yang begitu elite dan rapi.


.


.


...****************...


Di ruangan Elliot.


"Ada perlu apa kau datang kemari sampai kau sudi mendatangiku hingga ke tempat kerjaku?." ucap Elliot tanpa basa basi.


Moza membuka kaca mata hitamnya dengan sangat anggun.


"Sebenarnya tidak terlalu penting dan sebenarnya aku sangat terpaksa harus datang kesini menemui." ujar Moza.


"Jujur saja aku tidak menyukai tamu yang datang menemuiku ke kantor kecuali itu masalah bisnis yang penting." ucap Elliot wajah yang datar.


"Kita harus berbicara tuan Elliot, dan aku tidak tau harus menghubungimu kemana." ujar Moza.


"Kenapa tidak lewat ayahmu jika kita harus bertemu?, tidak usah payah datang ke kantorku apa kau ingin mencoreng nama baikku di kantor ini?." pekik Elliot.


"Apa maksudmu mencoreng nama baik? Aku datang kesini dengan baik baik tuan Elliot!." pekik Moza mempertajam tatapan nya.


"Jangan basa basi katakan saja apa yang ingin kau sampaikan padaku?." tanya Elliot dengan dingin.


Moza mengepalkan tangannya menahan kekesalan pada Elliot yang begitu seenaknya padanya.


karena baru pertama kali Moza di perlakukan dingin oleh pria.


Moza menghela nafasnya untuk meredakan kekesalan nya.


"Aku datang kesini hanya memberitahumu bahwa aku menerima perjodohan ini." putus Moza.


Tik!


Tik!


Tik!


Suasa seketika hening dan hanya terdengar arah jarum jam saja.


"Hanya itu saja? Ternyata tidak terlalu penting." ujar Elliot dengan wajah masih datar.


Moza membelalakan matanya seolah tak percaya dan merasa sangat malu.


"Apa maksudmu tidak terlalu penting?, seharusnya kau berterima kasih padaku tuan Elliot Alberntino, jika saja aku tidak melihat ayahku mungkin aku sudah menolakmu." pekik Moza beranjak dari tempat duduknya dan menatap tajam.


"Apa ada lagi yang ingin kau katakan?. Waktuku sangat berharga." ucap Elliot dengan masih duduk santai.


"Aku mau menikah denganmu tapi ada syaratnya." ucap Moza.


"Katakan."


"Aku akan terus berkarier dalam bidan modelku, dan aku juga tidak ingin media tau tentang pernikahanku. Dan satu lagi, aku meminta uang perbulan 100 juta padamu karena aku ingin menikah dengan pria kaya jika memang kau sanggup, kau tau bukan aku ini selalu merawat diri dan juga hobby ku shopping setiap hari."


Moza memiringkan senyumannya dengan licik.


"Aku yakin kau pasti tidak sanggup dan akan menolak untuk menikahiku kan tuan Elliot, hahaha."


Batin Moza tertawa tawa.


"Baiklah itu tidak masalah bagiku." Elliot beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menghampiri Moza.


"Asalkan kau melayaniku dengan baik di atas ranjang dan memberiku keturunan." Bisiknya sedikit menyentuh daun telinga Moza.


Moza terhenyak membelalakan matanya, dan sedikit mundur beberapa jarak karena jarak mereka sangat dekat.


"Jangan berbicara sembarangan tuan Elliot kau sungguh tidak sopan!." pekik Moza.


Elliot menyunggingkan senyumannya.


"Kenapa? kau adalah calon istriku kan nona Moza Alberntino?." tanya nya.


Mereka berdua saling menatap kuat dengan masing masing nya menyimpan perasaan tertentu.


"Sangat menggelikan." ucap Moza kemudian melangkah pergi menuju pintu keluar.


"Bersiaplah nanti malam aku akan menjemputmu." ucap Elliot yang membuat langkah Moza terhenti.


Moza membalikan badan nya yang berbentuk gitar spanyol itu.


"Kemana?." tanya nya.


"Bertemu keluargaku." sahut Elliot.


"What! Apakah harus malam ini?." pekik Moza.


"Tentu saja lebih cepat lebih baik bukan?, aku sudah tidak tahan melihatmu." ujar Elliot menggoda Moza yang berpakaian ketat dan seksi.


Moza semakin kesal dan menggerutu di dalam hati.


"Aku tidak bisa, malam ini aku ingin istirahat karena tadi siang ada pemotretan." tolak Moza.


"Tidak ada penolakan nona Alberntino, siap atau tidak siap kau harus ikut denganku."


"Isshhh!!!." Moza kembali melangkahkan kaki jenjangnya dengan raut wajah kesal menuju pintu keluar.


"Ada apa denganku, kenapa aku malah menggodanya." pikir Elliot mengetuk keningnya.


.


.


****


"Terima kasih nona." Jonathan menyapa kepergian Moza yang menghiraukan dirinya.


Jonathan pun mengerutkan alisnya.


"Wajahnya familiar sekali, seperti pernah bertemu tapi dimana ya?." pikir nya.


"Bukan pernah bertemu, tapi dia adalah Miss Supermodel World tahun lalu, Alexandria Moza." ucap Glenn tiba tiba datang dari balik badannya.


"What! Alexandria Moza? Benarkah? Dia adalah idolaku!!." pekik Jonathan antusias.


"Cantik sekali bukan?." tany Glenn.


"Cantiknya tiada tara!, aku bahkan belum sempat meminta foto padanya."


"Tenang saja, dia adalah calon istri tuan Elliot." ucap Glenn


Jonathan yang tadinya senyum penuh keceriaan tiba tiba berubah menjadi datar tanpa ekspresi.


"Are you sure!?. " tanya Jo meyakinkan Glenn.


"Iya, dia wanita yang aku ceritakan waktu itu, bosmu keren kan mendapatkan barang grace." bisik Glenn.


"Sungguh bos kita sangat beruntung, dia sudah mau beristri 2, kita satupun belum bagaimana ini?."


"Yah mungkin kita di takdirkan jomblo."


"Kita? Sorry lu aja ya gue mah amit amit!." Ketus Jonathan sambil melenggang pergi.


"Ishhh gue juga amit amit deh." ketus Glenn mengetuk kepalanya beberapa kali.


.


.


.


Bersambung...