
...MY FAVORITE WIFE...
.
.
.
...****************...
Elliot baru saja menapaki kaki nya di mansion utama keluarga Alberntino.
Seperti biasa Elliot di sambut hangat oleh para pelayan.
"Dari mana saja kamu?." tanya Cleo dengan secara tiba tiba menghampiri Elliot.
Namun Elliot tidak menyaut, ia masih terus lurus berjalan menuju ke kamar pribadinya dengan wajah yang datar seolah tidak mendengar suara Cleo yang bertanya padanya.
Cleo sangat geram Elliot selalu saja mencuekkan dirinya setiap ia bertanya padanya.
"Aku bertanya El, kau sudah dari mana?." pekik Cleo dengan nada ia tinggikan.
Elliot langsung menoleh membalikan badan nya dengan wajah gusar.
"Apa urusanmu untuk menanyakan hal itu?." ucap Elliot dengan suara bariton nya.
"Aku adalah istrimu, istri sahmu." ucap Cleo dengan menekankan kalimatnya.
"Istri yang tidak bisa memberikan keturunan?."
"El!." bentak Cleo membulatkan matanya.
"Kecilkan suaramu Cleo!, kau menguji kesabaranku." bentak Elliot.
"Kau yang menguji kesabaranku!, aku hanya bertanya baik baik. Kau sudah dari mana? Apa salah hah?!." pekik Cleo dengan wajah geram.
Elliot menatap tajam ke arah Cleo dengan tatapan setajam silet.
"Hidupku bukan urusanmu!. Kau hanya menumpang di mansion ini, seharusnya kau duduk manis, diam dan tidak boleh banyak berulah. Itu tugasmu." ucap Elliot dengan suara berat nya.
Degg!!
Cleo mengepalkan tangan nya seolah hatinya tercabik cabik.
Elliot benar benar tidak menerima kehadiran Cleo di hidupnya. Tetapi kenapa tidak Elliot ceraikan saja jika tidak mencintai nya?, Elliot melakukan semua itu demi orang tua nya.
Orang tua Elliot tidak menginginkan Elliot ada kata bercerai dengan Cleo, meskipun Cleo tidak bisa hamil.
Selain mencoreng nama baik kelurga Alberntino, ia juga menjaga nama baik perusahaan.
Keluarga Elgort pun meminta maaf kepada Elliot dan juga keluarga Alberntino tentang masalah Cleo yang sudah membohonginya.
Albert dan Winda yang melihat kedua orang tua Cleo memohon agar Elliot tidak menceraikan Cleo merasa sangat tidak tega.
Selain itu, di dunia nyata dan dunia media mengetahui jika Elliot dan Cleo selalu harmonis karena selalu tidak ada masalah yang masuk ke dalam media.
Mereka pikir Elliot dan Cleo selalu baik baik saja.
Nyatanya mereka berdua seperti manusia asing yang dipaksa harus kenal.
Setelah beberapa detik Elliot menatap tajam ke arah Cleo, ia pun kembali melangkahkan kakinya untuk menuju kamar pribadi.
"Aku tau kau pasti habis bertemu dengan wanita pelakor itukan?." ucap Cleo membuat Elliot menghentikan langkah kakinya.
"Mau aku bertemu dengannya ataupun sekaligus dengan wanita lain, aku camkan sekali lagi. Itu semua bukan urusanmu, paham sampai disni?." ucapnya dengan suara nada yang terdengar mencekam.
Cleo membalas menatap tatapan mata elang itu.
"Kau sudah berdosa sudah memperlakukanku seperti ini El!. Bagaimanapun juga aku ini istrimu, hargai aku!."
"Berdosakah?, jika kau membicarakan soal dosa, lebih berdosa mana membohongi suaminya sendiri sampai bertahun tahun?." tanya Elliot.
Cleo tidak bergeming seolah ia kehabisan kata kata.
Dia selalu saja begitu saat berbicara dengan Elliot tentang keluh kesahnya.
Namun Elliot selalu saja menjawab yang membuat Cleo berhenti membungkam mulutnya.
Elliot pun kembali berjalan melanjutkan langkahnya dengan gaya yang sangat cool.
"Aku disini hanya sebagai istri bayanganmu saja El?." lirihnya dengan tatapan nanar.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menyerah, kau pasti akan jatuh bertekuk lutut padaku El. Aku camkan itu, kau pasti akan menyesal telah mengabaikan ku selama ini. Dan pelakor itu takan ku biarkan merebut hatimu segampang itu." ucap Cleo di dalam batin nya, serasa menatap kepergian Elliot yang semakin menjauh dengan tatapan bak pemeran antagonis.
Contoh Visual Cleo Lusiana Elgort
.
.
...****************...
Rumah Keluarga Adinata.
Moza menatap hamparan bintang di atas langit di dalam balkon kamarnya dengan mengadahkan wajahnya.
Dengan hembusan angin malam yang menggoyangkan rambut indah nya yang tergerai.
Kemudian ia menutup matanya seolah menenangkan batin dan pikiran nya.
Mencoba menerima takdir yang harus ia jalani.
Dan mencoba berdamai dengan sebuah nasib.
Ia terus berkeluh kesah kepada Tuhan nya dan berdoa agar dia selalu berbahagia selama hidupnya.
Namun saat ia tengah berdoa tiba tiba ada sebuah tangan yang menyentuh pundak nya.
Membuat dirinya tersentak segera membuka matanya.
"Kevin!.." pekik Moza dengan wajah keterkejutan.
Kevin tertawa kecil melihat wajah Moza bagaikan seperti melihat hantu.
"Malah ketawa, ketuk pintu dulu kek sebelum masuk ke kamar kakak." dengus Moza dengan wajah merengut masam.
"Lagian aku sudah berapa kali mengetuk pintunya tapi tidak ada jawaban, ya sudah aku masuk, eh ternyata kakak lagi ada di balkon." ucap Kevin menjelaskan.
"Ada apa memangnya?." tanya Moza.
"Kata mbok Ijah kakak tadi makan nya dikit banget, jadi aku bawakan kakak susu biar tubuh kakak ada nutrisinya." ucap Kevin seraya memegang secangkir gelas susu dari tadi.
"Ohh jadi susu ini untukku?, ahh makasi banget adikku tercinta ternyata perhatian juga ya." ucap Moza segera merebut gelas itu dari Kevin dan langsung meminum nya.
"Sama sama kak." sahur Kevin.
Kevin pun menduduki dirinya yang ada di bangku balkon tersebut.
"Oh ya, gimana hubungan kakak sama tuan Elliot?." tanya Kevin secara tiba tiba.
Moza pun langsung menaruh gelas itu di meja yang sudah terkuras habis ia minum.
"Tidak gimana gimana, memangnya harus bagaimana?." tanya Moza dengan menatap lurus ke bawah tanpa menoleh Kevin.
Kevin menautkan alisnya.
"Kok di tanya malah nanya balik sih, jadi kakak beneran mau nerima tuan Elliot?." tanya Kevin melipatkan kedua tangan nya di dada.
Karena menurutnya malam itu begitu sangat dingin.
Moza terdiam beberapa saat.
Tak lama kemudian ia menganggukan kepalanya dengan perlahan.
"Mungkin ini takdirku, aku harus menerimanya." ungkapnya dengan nada yang terdengar pasrah.
Kevin pun menganggukan kepalanya juga.
"Aku selalu berdoa untuk masa depan kakak. Jika pria itu macem macem pada kakak atau menyakiti hati kakak, aku tidak akan diam." ucap Kevin.
Moza membalikan badannya menatap Kevin dengan sedikit tertawa.
"Rupanya adikku ini sudah besar ya, sampai berani melindungi kakaknya dari orang orang jahat."
"Kata siapa aku masih anak kecil?, umurku sudah 18 tahun."
"Yahh tetap saja menurutku kau itu adalah anak kecil, hmm lebih tepatnya bocil hahahha."
"Wahh sembarangan ngatain aku bocil, kakak belum tau ya bahwa aku pernah berantem sama anak kuliahan bahkan sekaligus sama om om? Dan aku menang." ucap Kevin dengan membanggakan dirinya.
"Isshhh belajar yang benar jangan main berantem, ngapain kaya gitu mau jadi preman hah?." pekik Moza berkacak pinggang.
"Tapi aku hanya membela diri saja kak, dan tidak pernah membuat ulah." ucap Kevin.
"Tetap saja kamu harus fokus belajar jangan menyerah, raih cita cita kamu dan jadi anak yang membanggakan ayah dan juga kakak yah."
"Itu sudah pasti, aku akan selalu menjaga ayah dan juga kakak." ucap Kevin.
Moza pun tersenyum mendengar adiknya yang begitu berpikiran sangat dewasa.
Ia tidak seperti remaja yang sekarang kebanyakan gaya dan manja pada orang tua.
Kevin ia hidup mandiri dan tidak ingin menjadi beban ayahnya ataupun Moza.
Oh ya, Kevin juga di usia yang menginjak 18 tahun tidak terihat seusia remaja, ia memiliki badan atletis karena sering berolah raga. Semenjak Kevin menjadi kapten basket ia sangat tersohor tampan dan gagah sehingga menjadi primadona di sekolah nya.
Contoh Visual Kevin Adinata.
.
.
.
Bersambung....
Yuk minta dukungan nya boleh ga? Hehehe
Salam hangat dari author❤️🤗