My Favorite Wife

My Favorite Wife
Episode 21. Jadilah Milikku Malam ini



...MY FAVORITE WIFE...


.


.


.


...*🤍Happy Reading🤍*...


......................


Karena ini adalah episode 21, jadi di part ini author akan menceritakan mengandung unsur 21 ++


harap bocil jangan membacanya ya🙏


Villa Rose Gold.


Moza terbangun dari tidurnya karena alarm dari ponselnya.


Ia menggeliat dan menatap layar ponsel itu menunjukan pukul 04.35.


Ia segera terbangun untuk menjalankan kewajibannya sebagai muslim.


Namun saat ia hendak ke kamar mandi, ia melihat sosok Elliot yang tengah tidur di sampingnya dengan wajah yang begitu pulas.


Moza mengucekkan matanya berulang ulang kali, mencoba memastikan apa yang dia lihat.


"Apa Elliot beneran tidur disini?, sejak kapan mereka pulang." gumam Moza dengan terheran heran.


Ia pun mencoba untuk tidak memikirikan nya dan lebih memilih untuk pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


"Ya Allah, jika Elliot adalah yang terbaik untukku kumohon kokoh kan lah rumah tangga kami, dan buka kan lah pintu hati kami untuk saling mencintai. Berikanlah hamba kekuatan untuk segala cobaan yang hamba hadapi. Aamiin.."


Moza berdoa di dalam hatinya.


Elliot yang sejak tadi memperhatikan Moza yang tengah berdoa kepada Tuhan nya hanya menatap dalam diam dengan pura pura masih tertidur.


Setelah Moza membuka mukena dan membereskan sejadah nya, Elliot langsung menutup matanya agar terlihat masih tertidur.


.


.


Moza berlari jogging mengelilingi halaman Villa Rose Gold untuk membugarkan badan nya.


Karena villa itu sangat luas jadi Moza lebih memilih jogging berkeliling di sana saja agar ia tidak jauh jauh.


Moza pun menyelesaikan jogging pagi nya dengan keringat yang menetes di keningnya.


"Selamat pagi nyonya, silahkan di minum jus nya." ucap mbok Ningsing memberika segelas jus dingin untuk Moza.


"Terima kasih sekali bu, kebetulan aku sangat haus sekali." sahut Moza menerima jus itu lalu meminum nya.


"Oh ya nyonya saya mau tanya boleh?."


"Tanya apa bu?, boleh saja."


"Apa nyonya teh artis yah? soalnya mbok pernah liat di tv." ucap mbok Ningsih dengan polos.


Moza tertawa dibuatnya. "Ohh, itu bukan saya mbok salah orang.."


"Ah mana mungkin salah orang, emang bener nyonya orang nya kan?." tanya mbok Ningsih.


Moza pun hanya terkekeh menggelengkan kepalanya.


"Nyonya boleh saya meminta foto? saya akan tunjukin buat anak saya yang di kampung kalo saya teh ketemu sama bidadari." ucap mbok Ningsih.


"Boleh bu, mana ponsel nya?."


"Hehe ini nonya, maaf ponsel saya butut yang penting bisa foto bareng nyonya."


"Tidak apa apa bu, yas udah sini kita foto bareng."


Mbok Ningsih langsung antusias dengan semangat mendekati Moza.


Mereka berfoto beberapa kali mengambil gambar dengan Moza yang merangkul mbok Ningsih.


Tiba tiba pak jalal datang untuk bergabung berfoto.


"Boleh atuh saya juga ikutan nyonya.." ucap Jalal.


Moza tersenyum menganggukan kepalanya. "Sini pak gabung sama kita."


Moza terlihat begitu dekat dengan mbok Ningsih dan juga pak Jalal yang sudah tua rentan itu namun mereka masih semangat untuk bekerja.


"Wahh mbok Ningsih dan pak Jalal dapet rezeki banyak tuh bisa berfoto dengan Miss Supermodel World." ucap Toni menatap mereka bertiga di taman halaman.


.


.


...****************...


Setelah Moza menyelesaikan jogging paginya, ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Namun saat ia sedang berjalan menuju kamar nya, ia tak sengaja berpapasan dengan Glenn.


"Selamat pagi nyonya.." sapa Glenn menunduk seraya tersenyum.


"Glenn?."


"Iya nyonya?."


"Aku ingin bertanya padamu."


"Silahkan nyonya."


"Jam berapa kalian datang ke sini?." tanya Moza


"Pukul 3 dini nyonya." ujar Glenn.


Moza membelalakan matanya sepagi itukah mereka berdua balik lagi ke villa.


"Kenapa pulangnya tidak besok saja?." tanya Moza.


"Hmm soalnya tuan bilang padaku bahwa dia merindukan nyonya." ucap Glenn dengan berbohong.


"B-benarkah? jangan berbohong Glenn."


Belum sempat Glenn menjawab pertanyaan nya, ia melihat kedatangan Elliot yang turun ke bawah menuruni anak tangga.


"Selamat pagi tuan." sapa Glenn membungkukan badan nya.


Elliot pun hanya mengangguk.


Elliot menatap Moza dengan berpakaian menggunakan t-shirt pendek tanpa lengan serta celana legging yang begitu sangat ketat.


"Berjogging, aku mandi dulu." sahut Moza kemudian ia pergi menuju kamar mandi.


Ia menatap kepergian istrinya yang menggunakan pakaian ngetat.


"Berani sekali dia memakai pakaian seperti itu, segitu disini banyak pria kadal." ucap Elliot menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Moza.


.


.


...****************...


Siang telah berganti malam...


Malam itu Moza menatap bintang di atas balkon kamarnya dengan menggunakan piyama berbahan sutra yang membuat dirinya begitu terlihat seksi.


Rambut indahnya ia di biarkan tergerai agar tertiup angin yang menurutnya sangat menyejukan.


Namun tiba tiba ada sosok tinggi tegap menghampiri dirinya.


"Kau akan masuk angin." ucap Elliot membuat Moza menoleh kepadanya.


"Aku sangat gerah." sahutnya kembali menatap lurus.


"Apa kau betah disini?." tanya Elliot dengan melipatkan kedua tangan nya di dada.


Moza mengangguk. "Betah, tapi aku tidak suka karena jauh dari pemukiman warga."


"Tadinya jika kau menyukai tempat ini, aku akan membiarkanmu tinggal disini."


"Tidak, disini jauh kemana mana sulit untukku jika ada kegiatan." ucap Moza. "Tetapi jujur saja bangunan nya sangat bagus, apa kau yang menginginkan bangunan nya seperti ini?."


Elliot mengangguk kecil, "Benar.. bahkan aku mendadak menjadi arsitek saat itu."


Moza pun tekekeh. "Baguslah, kau banyak bakat berarti."


Mereka kembali saling membisu.


Elliot menatap langit itu. "Kau tau kenapa hanya ada sedikit bintang malam ini?."


Moza menggeleng sambil menatap langit. "Tidak tahu, kenapa emang?."


"Karena malam ini kau sedang cantik cantiknya."


Moza langsung menoleh menatap Elliot yang kemudian Elliot pun menatapnya.


"Apa benar?." tanya Moza dengan polos.


Bukannya menjawab, Elliot malah mengecup bibir ranum itu dengan penuh kelembutan.


Awalnya Moza memberontak agar Elliot melepaskan ciuman nya, tetapi Elliot semakin kuat untuk tidak melepaskan ciuman nya hingga membuat Moza akhirnya pasrah.


Sedikit demi sedikit Moza pun membalas permainan Elliot dan mencoba menikmatinya.


Elliot menggiring tubuh Moza untuk masuk kedalam kamarnya dengan pungutan yang tak pernah lepas.


Mereka benar benar saling memangut dengan penuh sensasi dan kenikmatan sehingga menimbulkan suara decakan.


"Jadilah milikku malam ini.." bisik Elliot.


Moza menatap mata Elliot yang begitu terlihat sangat tulus. Moza bagaikan terhipnotis oleh kata katanya.


Moza menganggukan kepalanya.


Elliot tersenyum senang dengan jawaban Moza, ia menggiring Moza untuk mendekati kasurnya.


Perlahan Elliot membuka kancing piyama itu dengan perasaan membuat Moza keadaan polos.


Ia mencium punggung bening itu kemudian Elliot melepaskan cantelan bra itu membuat dua bukit kembar yang padat menonjol sangat jelas di depan matanya..


"El.."


Elliot menatap Moza yang dengan wajah yang terlihat sexy dengan lekuk tubuh yang sempurna, inilah bodygoals yang sesungguhnya.


"Apa kau siap?." tanya Elliot menatap Moza.


Moza mengangguk.


Elliot segera melepaskan seluruh pakaian nya..


Saat Elliot mencoba menekan miliknya, dan Moza langsung menjerit.


"Aww! pelan pelan ini sakit."


Elliot menurutinya, ia mencoba untuk pelan pelan lalu menekan nya lagi membuat Moza kembali menjerit.


"Euh kenapa susah sekali." gumam Elliot.


Ia terus mencoba berusaha agar miliknya segera masuk, milik Moza sangat sempit.


"Tahan,"


Grekk!!


Aagh!!.


Grek!!


"Aww! sakit..."


Akhirnya Elliot berhasil membuat miliknya menerobos masuk ke goa lembab itu.


"Ini sudah masuk, aku akan pelan pelan ya, buka matamu dan tatap mataku, pegang tanganku."


Moza membuka matanya dan Elliot pun menggengam tangan nya dengan sangat kuat.


"Aku akan membawamu terbang ke langit.." bisik Elliot.


Elliot kembali menggoyangkan pinggulnya dengan penuh sensasi membuat Moza terus mengeluarkan erangannya.


Kini miliknya sudah benar benar Elliot bobrok hingga dalam.


Mereka berdua akhirnya benar benar terbang ke langit dengan saling menyalurkan hasratnya.


.


.


.


Bersambung....


Mohon maaf bila ada kata kurang berkenan🙏


Terima kasih sudah membaca🤗