
...MY FAVORITE WIFE...
.
.
...Happy Reading...
...****************...
"Baiklah karena semuanya sudah kumpul kita akan berangkat." ucap Brian.
Brian menatap Moza dengan wajah senang.
Beberapa mobil mengantarkan mereka ke pelabuhan.
Setelah menempuh jarak 25 menit mereka akhirnya sampai di pelabuhan.
Moza melihat sebuah kapal pesiar yang sangat besar dan juga mewah dengan tatapan penuh kekaguman.
"Wow.." gumam nya.
"Apa kita akan berangkat menggunakan kapal pesiar?." tanya Karin dengan mata terkagum.
"Sepertinya seperti itu." jawab Moza
"Benar sekali." Tiba tiba Brian datang menghampiri mereka.
Moza dan Karin langsung menoleh kearah sumber suara tersebut.
"Hallo Mr.." sapa Karin membungkukan badannya.
"Hallo Nona Karin.." sahut Brian tersenyum.
"Jadi benar kita akan menggunakan kapal ini untuk ke Labuan Bajo?." tanya Moza.
"Benar Miss, maaf sebelum nya tidak memberitahu kalian." ucap Brian.
"Tidak apa apa Mr.." sahut Moza tersenyum.
"Mari kita segera masuk kedalam kapal tersebut." ajak Brian.
"Baik Mr mari.." ucap Karin.
Mereka bertiga pun berjalan menuju kapal itu.
Moza membaca tulisan di badan kapal pesiar itu BM Issander.
"Bm Issander?, apakah ini kapal milik anda?." tanya Moza.
Brian tersenyum. "Benar, maaf jika kapalku tidak membuatmu nyaman."
"Ehh kenapa begitu, kapal ini sangat mewah, sepertinya di dalam nya pun lebih mewah lagi." ucap Moza.
Brian pun hanya tersenyum saja. "Oh ya aku tidak pernah melihat asistenmu?." tanya Brian.
"Assistenku sedang sekolah tata rias di Jepang."
"Ohh begitu ya, pantesan saja aku tidak melihat."
"Iyaa tapi aku juga tidak apa apa tidak ada asisten, aku masih bisa mengatasinya sendiri." ujar Moza.
"Kalau begitu aku akan menyewa seseorang untuk menjadi asistenmu saat di Labuan Bajo." ucap Brian.
"Ehh tidak apa apa ga usah Mr."
"Tidak ada penolakan, karena itu sebagai rasa penghormatanku kau adalah brand ambassador produkku, patut untuk di istimewakan."
Moza pun hanya tersenyum saja.
"Selamat datang Mr Issander, dan selamat datang nona." ucap seorang kapten dengan para pelayan nya membungkuk hormat menyambut kedatangan Brian dan yang lainnya.
"Terima kasih semuanya.." sahutnya.
.
.
...****************...
Kantor Elliot.
"Ohh jadi istri keduamu sedang berlibur ke Labuan Bajo ya, lalu kenapa tidak kau temani?." ucap Jonathan.
"Untuk apa?." tanya nya.
"Dia pergi bersama Brian Issander kan? Pria tampan dan lajang, hati hati saja sih apalagi Brian mengenal Moza sebagai wanita single bisa saja dia cari kesempatan untuk dekati Moza." ucap Jonathan.
Elliot menghentikan pekerjaannya entah kenapa ucapan Jonathan membuatnya terganggu, namun dia berusaha setenang mungkin.
"Dia hanya bekerja saja." singkatnya.
"Iyaa aku tau, tapi pria mana yang tidak suka dengan Moza kan?."
Elliot menatap Jonathan yang sedang berdiri menyenderkan badannya ke meja dengan kedua tangan di lipatkan kedada.
"Oh ya apakah kau sudah tau tentang Moza dan Brian di media sosial?." tanya Jonathan
"Kenapa memang?." tanya Elliot.
"Benarkah kau tak tau?, tapi mungkin menurutku para netizen hanya salah paham saja." ujar Jonathan.
"Apa yang kau maksud?." tanya Elliot seolah dirinya tidak mengerti.
"Tidak ada, nanti saja kau akan tau. Aku tidak ingin menjadi sinyal antara kalian berdua." ucap Jonathan kembali melangkah menuju keluar pintu.
"Jangan terlalu dingin pada istrimu yang satu itu El, kau harus memperhatikannya." ucap Jonathan kemudian ia pergi.
"Dasar ga jelas memangnya dia siapa, dan apa yang ingin ia sampaikan tentang Moza dan Brian?." pikir Elliot di dalam hatinya.
Tanpa memikirkan lagi Elliot pun kembali menandatangani beberapa dokumen.
.
.
...****************...
Siang berganti menjadi malam...
Malam itu dimana Moza sedang menikmati makan malam bersama para direktur dari PT Sunskin.
Malam itu ia menggunakan gaun panjang tanpa lengan dengan warna navi membuat kulit putihnya terlihat mengkilau.
Mereka semua berbincang bincang membahas random.
Saat itu Moza izin untuk pergi karena dirinya sangat bosan jika terus bergabung dengan para pria tua yang menurutnya hanya membahas yang lain.
(Biasa bapak bapak kalau lagi ngobrol suka baha apa ya)
Moza menatap menatap bulan di langit yang di penuhi oleh bintang bintang membuat malam itu terlihat semakin indah.
Ia juga menatap lamparan lautan membuat dirinya semakin tenang entah kenapa ia ingin sekali meluapkan semua pikiran nya disini.
Ia mengingat kejadian bersama Elliot, juga meratapi nasibnya yang sudah menikah menjadi istri kedua.
Entah apa yang akan ia lakukan setelah kedepan nya, karena menurutnya ia seperti wanita single yang tidak mempunyai suami.
Suami yang sangat cuek dan dingin padanya, suami yang sangat menyebalkan, suami yang random kadang hangat kadang juga dingin.
Mungkin Moza hanya akan mengikuti kemana arus air mengalir dengan tenang. Ia akan mengikuti jalan takdirnya gimana pun itu hasilnya.
Tetapi ia hanya menginginkan kebahagiaan dan ketabahan untuk menerima nya.
"Ehem." Tiba tiba ada seseorang yang datang menghampiri Moza sambil berdehem.
Moza langsung mengalihkan wajahnya untuk melihat seseorang disampingnya.
"Ehh Mr, m-maksud saya Brian." ucap Moza.
Brian tersenyum manis.
"Apakah kau tidak dingin berada disini?." tanya Brian.
"Tidak, aku sangat gerah dan juga bosan di dalam." ujarnya.
"Ohh begitu ya, aku juga sangat bosan di dalam."
Brian mengadahkan wajahnya ke atas langit.
"Langit nya sangat cantik malam ini." ujar Brian masih mengadahkan wajahnya.
"Benar sekali." ujar Moza tersenyum sambil kembali menatap langit.
"Tapi tetap saja kalah." ucap Brian.
"Hemm?." Moza menoleh ke arahnya.
"Tetap saja kalah jika dibandingkan denganmu." ucap Brian menatap Moza dengan dalam.
Degg!!
Pipi Moza tiba tiba berubah menjadi merah berwarna tomat.
Brian yang melihat itu tiba tiba saja tertawa renyah.
"Maaf aku selalu bercanda." ujar Brian berseringai.
"Hehe ia, tidak apa apa kok aku mengerti.." Moza tersenyum tersipu malu.
Brian membuka jas hitam nya, kemudian ia memberikan nya pada Moza.
"Hemm?." Moza kebingungan.
"Pakailah jika kau masih ingin berada disini, jika tidak nanti kau masuk angin dan tidak akan bisa melakukan syuting iklan." ucap Brian tersenyum manis.
Moza tersenyum. "Tapi apa kau tidak keberatan?." tanya Moza.
"Tentu saja tidak, aku kan menawarkan."
"Baiklah aku tidak bisa menolak sepertinya."
Moza menerima jas hitam itu kemudian ia memakaikan nya.
Brian tersenyum ia senang Moza memakai jas nya.
"Kalau begitu kan tidak takut untuk masuk angin." ucap Brian.
"Terima kasih ya." ucap Moza.
.
.
.
...Bersambung......