
...MY FAVORITE WIFE...
.
.
.
...****************...
Keesokan harinya langit terlihat begitu cerah.
Di sebuah cafe terdapat dua gadis yang berpakaian modis sedang bercengkrama dengan wajah mimik yang serius.
"Hanya gara gara hutang balas budi kau di jodohkan sama tuan Elliot Alberntino untuk menjadi istri keduanya?." pekik Aleta membelalakan matanya tak percaya setelah Moza menjelaskan semuanya.
Aleta adalah sahabat Moza yang sama berprofesi seorang model namun belum sekelas Moza.
"Ya begitulah, aku juga tidak mengerti kenapa ayah begitu keukeuh aku harus menikah dengan pria yang sudah beristri itu." gerutu Moza kesal memutar bola matanya kearah lain.
"Dan kau menerimanya?." Tanya Aleta meyakinkan Moza.
"Kau pikir aku mau di madu? Aku ingin menikah dengan laki laki yang memiliki satu perempuan saja di hidupnya." Pekik Moza dengan kembali meneguk minumannya.
"Aduh Moza...Moza, apa kata dunia nanti jika mereka tau kau menjadi istri kedua dari CEO Fung Corp. Rasanya sungguh tidak elit kau itu adalah primadona dunia." pekik Aleta merasa tidak terima jika Moza beneran harus menikah menjadi istri kedua.
"Aku akan membatalkan rencana pernikahan itu, ini sangat tidak adil bagiku!." ucap Moza kemudian menyandarkan dirinya ke sebuah sofa dengan tatapan terlihat banyak pikiran.
"Rencana apa memangnya yang kau buat?." tanya Aleta mengerutkan alisnya dengan wajah penasaran.
"Entahlah, mungkin aku akan berbicara padanya agar pria itu mau membatalkan perjodohan konyol ini." jelas Moza.
"Kau akan bertemu dengannya? Kapan?." tanya Aleta antusias.
"Malam ini, aku akan memutuskan bahwa aku tidak setuju dan menolak untuk menikah dengannya." ucap Moza memicingkan matanya.
"Aku juga tidak setuju kau di jadikan istri kedua, ya walaupun tuan Elliot itu sangat tampan dan bergelimang harta." cibirnya.
Moza pun menyunggingkan bibirnya.
"Banyak pria yang tampan dan kaya yang mau menjadi pendampingku, menurutku dia hanya seujung kuku saja." ketus Moza dengan percaya diri dan angkuh.
"Bagaimana jika kau sewa pacar agar perjodohan mu itu gagal."
"Sewa pacar gimana?." tanya Moza membenarkan duduknya.
"Ayahmu menjodohkanmu itu karena kamu sedang tidak punya pacar!."
"Huftt! Percuma saja sepertinya ayahku akan berusaha mencari cara untuk terus menjodohkanku dengan pria itu, aku tau karakter ayahku bagaimana."
Aleta menghela nafasnya sambil menggaruk garuk pelipisnya yang tak gatal.
Mereka berdua kini melanjutkan obrolan nya untuk menghabiskan waktu bersama karena besok Aleta akan berangkat ke Italy untuk sebuah acara Fashion Week dan akan menetap disana beberapa bulan kedepan.
.
.
...****************...
Pada malam itu di sebuah restoran elit, Moza baru saja sampai untuk menemui Elliot si pria dingin dengan sejuta pesona.
Walaupun Moza sangat berat hati datang ke restoran itu, tapi ia memaksakan agar pria itu mau menolaknya.
Dirinya kini sedang duduk berhadapan dengan seorang pria tampan dan gagah berwibawa yang menatapnya tanpa arti dengan seribu keheningan.
Glek!!!
Glenn yang tak lain asisten pribadi Elliot itu terus menelan salivannya dan tak fokus saat melihat dua tonjolan yang begitu padat, dan kedua kaki jenjang Moza yang begitu putih mulus karena ia memakai dress slim yang sebelah kanan nya terbelah hingga atas paha.
Sehingga membuat kedua pria yang sedang di hadapan nya itu berusaha kuat menahan imannya.
"Aku tau kalau aku sangat cantik." ucapnya angkuh dengan percaya diri.
Namun Elliot masih tidak bergeming dengan tatapan yang tak terbaca.
"Baiklah langsung saja pada intinya, bahwa aku datang kemari untuk menolak perjodohan denganmu." jelas Moza seketika tanpa basa basi.
"Beri alasan." sahutnya dengan wajah datar.
Karena baru pertama kali dirinya di tolak mentah oleh seorang wanita.
Diluaran sana pun masih mengantri para wanita untuk ingin menjadi pendamping hidupnya walaupun itu menjadi istri kedua sekaligus istri ketiga.
"Apakah aku harus memberikan alasannya? Seharusnya kau lebih peka tuan Elliot. Aku tidak ingin menikah dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai." Jelas Moza dengan nada penuh penekanan.
Elliot memiringkan bibir tipisnya.
"Jadi kau pikir aku ingin menikahimu karena aku mencintaimu?, jangan percaya diri nona. Aku ingin menikahimu karena sebuah alasan." sahutnya dengan suara bariton yang membuat suasana ruang VVIP itu berubah mencekam.
"Apa maksudmu?." tanya Moza memicingkan matanya.
"Aku menikahimu hanya karena untuk ingin memiliki keturunan, jika kau sudah memberiku keturunan dan setelah itu kau ingin bebas dariku aku akan membebaskan nya, tetapi hak asuh anak menjadi milikku." ucapnya.
"Istriku tidak bisa hamil." jawabnya.
"Jadi kau pikir aku mau menjadi istri untuk mengandung benihmu saja?, sampai kapanpun aku tidak sudi menjadi istrimu!. Cari saja wanita lain yang mau, maaf aku tidak minat." pekik Moza dengan wajah merajuk.
Glenn membelalakan matanya, karena baru pertama kali seorang wanita menolak tuan nya secara mentah mentah.
"Orang tuamu sudah sepakat dengan nenekku, tetapi mereka tidak tau apa tujuanku untuk menerima perjodohan ini, ku harap kau tidak memberitahu pada siapapun."
Mereka berdua saling menatap kuat, terlihat sekali mata Moza sedang memendam kesalnya, tapi beda dengan Elliot tatapanya sungguh sangat tenang.
"Kau hanya bermimpi ingin menikahiku!. Kau tau siapa aku?." ketus Moza dengan nada penekanan.
"Aku juga tau siapa Tuhanmu." ucap Elliot.
"Kita tidak bisa menikah, karena kita beda keyakinan!."
"Kita di takdirkan harus menikah." tegas Elliot.
Mereka kembali saling menatap.
Kemudian Moza beranjak dari tempat duduknya lalu melangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu keluar.
"Kau tidak bisa menolak karena semua aset perusahaan ayahmu ada di tanganku sekarang." ucap Elliot membuat langkah Moza terhenti.
"Kenapa bisa aset perusahaan ayahku ada padamu?. Jangan mencoba membodohiku!." ucap Moza membalikan badan nya.
"Ayahmu memberikan jaminan padaku, jika kau menolak menikah denganku aset ini semua akan menjadi milikku." ucap Elliot sambil memegang beberapa dokumen sertifikat perusahaan milik Wijaya dan menunjukan nya pada Moza.
Moza membelalakan matanya membuat bola mata cokelat itu terlihat sangat jelas nan indah.
"Ayah! Kenapa dia memberikan jaminan semua aset pada pria licik ini.. Huftt! Sepertinya ayah benar benar menjebakku agar aku menerima perjodohan ini." Gerutu Moza dalam hatinya.
Tanpa bergeming apapun Moza kembali melanjutkan langkah kakinya menuju pintu keluar seolah tak peduli.
Ia tetap melangkah dengan gemulai walaupun dirinya di selimuti kekesalannya.
"Kau memang pria yang sangat licik dan serakah tuan Elliot!." gerutu Moza mengepalkan tangannya saat ia sudah berada di dalam lift.
.
.
...****************...
Beberapa menit kemudian, Moza baru saja sampai di kamar pribadinya yang seketika membantingkan tas mewahnya ke atas kasur dengan raut wajah penuh amarah.
"Dasar pria licik! Dia pikir aku mau jadi istrinya hanya karena untuk melahirkan anaknya saja!." pekik nya sambil membenarkan rambut yang menghalangi wajahnya.
"Huh rasanya aku ingin sekali menonjol wajah yang so cool itu! Seenaknya sekali dia, dia pikir aku ini wanita apa?." gerutunya.
Tok!
Tok!
Tok!
Krek (Suara pintu terbuka)
"Putriku bagaimana? Apakah kau menyetujuinya menikah dengan tuan El?." tanya Wijaya yang tiba tiba saja masuk kedalam kamar dengan wajah penuh pengharapan.
"Ayah kenapa memberikan jaminan aset perusahaan pada pria licik itu?." ucap Moza dengan tidak terima.
"Memangnya kenapa? Lagi pula ayah tidak akan kehilangan aset itu karena kau pasti menyetujuinya kan?." ucap Wijaya dengan percaya diri.
"Ayah, apakah kau rela anakmu menjadi status seorang istri kedua? Ayah sangat jahat!." pekik Moza dengan mata berkaca kaca.
"Putriku.. bukan begitu maksud ayah."
"Cukup ayah, aku sudah tau jawabannya. Hanya karena hutang balas budi pada nyonya Firdania kan?."
Moza semakin menahan air matanya.
Wijaya terpaku tak menyahut dan menatap putrinya yang baru pertama kali sangat marah padanya.
"Baiklah, aku akan menuruti semua keinginan ayah agar ayah tidak kehilangan semua aset perusahaan." ucapnya dengan air mata yang sudah menetes menelusuri pipi mulusnya.
Moza segera mengusap air mata yang jatuh itu dengan kasar oleh telapak tangan nya.
Kemudian ia pergi meninggalkan Wijaya sendirian yang masih terpaku di kamar itu dengan merasa sangat bersalah.
"Maafkan ayah nak, suatu saat kau pasti tahu mengapa ayah melakukan ini semua padamu." ucap nya di dalam hati.
.
.
.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca para readers yang terhormat semoga karyaku bisa menghibur kalian❤️❤️❤️