
...MY FAVORITE WIFE...
.
.
.
...Happy Reading...
......................
Mereka berdua baru saja tiba di sebuah Cafe dengan bangunan interior yang aestetic.
'Mouz Story Cafe'
Moza membaca tulisan besar itu.
"Mari kita masuk." ucap Brian.
"Selamat datang Mr dan Miss.." ucap seorang pelayan cafe itu dengan ramah.
Moza dan Brian membalas nya tersenyum.
Moza menatap kagum setiap interior cafe itu.
"Bangunan nya sangat bagus dan unik aku suka dengan desain type nya." ucap Moza dengan berjalan mengelilingi cafe tersebut.
"Terima kasih atas pujian nya, saya sangat senang sekali mendengarnya." ucap Brian tersenyum manis.
"Jadi ini hari pertama buka?." tanya Moza.
"Belum rencananya lusa pembukaan cafe ini, jadi sebelum itu aku ingin menyuguhkan ala cafe ini."
Moza terkekeh kecil ."Baiklah.."
"Kita duduk disana sepertinya lebih nyaman." ajak Brian.
"Okayy." Moza mengikuti kemauan Brian.
Brian memberikan sebuah kode kepada para pelayan nya untuk segera menyiapkan minuman dan makanan nya.
"Jadi nama cafenya...?"
"Mouz Story Cafe." ucap Brian tersenyum.
"Bagus juga namanya, tapi kenapa namanya itu? Apa nama itu Mr yang buat sendiri atau dari kerabat?."
"Aku sendiri yang memberikan nama itu, nama cafe itu penuh dengan banyak makna dan ceritanya tidak akan pernah saya lupakan." Jelas Brian.
"Ohh begitu ya, cocok namanya dengan cafe ini." ucap Moza tersenyum.
"Terima kasih.." ujar Brian tersenyum.
"Ehh tapi kenapa Mr mengajak saya kesini? Maksudnya kenapa harus saya gitu hehe.."
"Sebenarnya menurutku hanya kau yang lebih pantas untuk menilai sesuatu."
Moza berseringai. "Begitukah?."
Beberapa menit kemudian makanan serta minuman pun datang.
Para pelayan itu menyajikan makanan dan minuman nya dengan sangat rapi dan ramah.
"Selamat menikmati makanan nya tuan dan nyonya." ucap pelayan tersebut.
"Terima kasih." sahut Moza dan Brian.
Pelayan itupun meninggalkan meja.
"Selamat makan.." ucap Brian.
"Wow keliatan nya benar benar enak semua, waahh ternyata disini buat cake juga.." ucap Moza dengan membelalakan matanya.
"Cake itu sebagai tambahan sih khusus spesial untukmu sebagai tamu pertama."
Moza pun tersenyum manis mendengarnya.
Pertama moza berdoa dulu sebelum mencicipi makanan. Ia meminum salah satu minuman khas cafe ini.
"Hmm enak sekali minuman ini, apa namanya?." tanya Moza penasaran.
"Itu avocado cheese."
"Benar benar enak sekali minumannya begitu sangat lembut dan terasa avocado nya, juga foam nya aku suka."
Brian berseringai. "Terima kasih, kalau kau suka habiskan semuanya ya." Brian terkekeh.
"Ha? Sepertinya kalau semuanya aku ga sanggup hehe.."
"Kalau sedang makan bersamaku tidak boleh takut bb kamu naik."
Moza terkaku mendengar ucapan dari Brian.
"Baiklah, asal kita berdua yang menghabiskan nya."
"Okay tentu saja." Brian kembali tersenyum.
Mereka berdua menikmati hidangan tersebut dengan berbincang bincang.
Seseorang pria pelayan cafe itu kini bernyanyi menghangatkan suasana cafe tersebut dengan musik akustik.
Sedalam samudra telah aku selami, setinggi langit di angkasa telah ku arungi.
Sepanjang kehidupanku, aku mencarimu.
Sebentuk kelembutan hati cinta sejati, oh oh..
Kini usai sudah segala penantian panjangku setelah temukan dirimu duhai kekasihku, hanya dihatimu akan ku labuhkan hidupku, karena kau lah cinta terakhirku..
Berjuta kejora terangi gelap malamku tetap tak seindah cahaya mata hatimu.
Brian tersenyum mendengar lagu itu seolah pria itu mewakili perasaan hatinya.
Namun tiba tiba Brian melihat cincin di jari manis Moza.
Degg!!
"Cincin itu?.."
Moza langsung mengangkat wajahnya.
"Kenapa?." Tanya Moza dengan sedikit terkejut.
"Cincin itu, apakah cincin tunangan?." tanya Brian.
Degg!!!
Moza terdiam beberapa saat, bagaimana mungkin ia menjawab bahwa ia sudah menikah, padahal ia menikah tanpa mengetahui publik.
"Jika aku memberitahu Brian kalau aku sudah menikah, bagaimana jika ia bertanya siapa suamiku.. aduh sial!." gerutu Moza di dalam hatinya.
"Hmm ini bukan cincin apa apa, i-ini hanya perhiasan saja." ujar Moza sedikit terbata bata.
"Ohh begitu kah, jadi kau suka perhiasan?." tanya Brian.
Moza terkekeh. "Sepertinya semua wanita menyukainya dan aku juga termasuk seperti itu."
Brian pun tersenyum. "Baiklah, lanjutkan makan nya keburu dingin nanti."
"Iyaa.." sahut Moza.
"Huftt! Untung saja dia percaya, jangan boleh ada yang tahu jika aku sudah menikah bisa turun reputasi model aku nanti apalagi menikah nya sebagai istri kedua." pikir Moza di dalam hatinya.
.
.
...****************...
"Aku akan mengantarkanmu pulang." ucap Brian.
"Ahh tidak usah aku bisa naik taksi saja."
"Aduh kalau beneran Brian mau nganterin bagaimana bisa aku kan pulang ke mansion Alberntino."
"Tidak boleh, aku tidak bisa melihat wanita pulang sendirian di malam begini."
"Tidak apa apa lagi pula ini masih jam setengah 7 malam." ucap Moza.
"Aku akan tetap mengantarkanmu. Yuk kita masuk ke mobil."
Brian membuka pintu mobil nya untuk mempersilahkan Moza masuk.
Dengan terpaksa Moza pun memasuki mobil lamborgini itu.
"Baiklah kemana aku antar kamu pulang?." tanya Brian setelah ia menghidupkan mobilnya.
"Apartemen Montana." ucap Moza.
"Kau tinggal di apartemen? Kenapa tidak di rumah?." Tanya Brian.
"Hmm karena seminggu ini aku tinggal di apartemen dulu, soalnya kalau pulang rumah aku suka males apaagi rumahku jauh ke pusat kota." ucap Moza berbohong.
"Ohh begitu ya, okay kalau gitu kita ke apartemen Montana."
Mobil lamborgini pun berjalan meninggalkan Mouz Story Cafe.
Di perjalanan Brian menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal.
"Terima kasih sudah mengajakku ke Mouz Story, tempat nya sangat bagus dan makanan nya pun sangat enak apalagi minumam nya, kurasa nanti setelah opening pasti banyak pelanggan yang datang berkunjung kesana."
"Amin aku berharap seperti itu juga, oh ya grand opening cafe itu aku mengundang Ari Lasso."
"Ohh ya? Sepertinya kau suka sekali ya sama Ari Lasso?." ucap Moza.
"Betul sekali, apalagi lirik lagu lagunya semuanya sangat mendalami."
"Aku juga sangat menyukai lagu lagunya." ucap Moza tersenyum.
"Baiklah kita mainkan lagunya Ari Lasso."
Brian pun memutarkan musik Ari Lasso yang berjudul 'Arti Cinta'
Mereka pun bernyanyi bersama sambil mengelilingi kota.
.
.
.
Bersambung...