My Favorite Wife

My Favorite Wife
Episode 17. Villa Rose Gold



...MY FAVORITE WIFE...


.


.


.


...*đź–¤Happy Readingđź–¤*...


......................


Siang itu Moza bersiap siap untuk pergi ke Villa Rose Gold karena Elliot yang terus memaksanya untuk pergi kesana.


Dengan rasa keterpaksaan akhirnya Moza menuruti keinginan nya, karena sebagi istri harus mematuhi peraturan suami bukan?


Sebelum Moza berangkat ia berpamitan pada Anna karena sudah menemaninya dan melayani saat di apartemen.


Mereka bertiga menempuh jarak yang lumayan cukup jauh dari apartemen. Hingga Moza memilih untuk tertidur di dalam mobil dengan tak sengaja ia menyandarkan kepalanya di pundak Elliot.


Elliot yang melihat itupun hanya membiarkannya saja Moza tertidur di pundaknya.


Ia menatap wajah Moza dari dekat, jujur saja ia mengakui bahwa Moza punya fisik yang sempurna. Dengan lengkungan alis yang tertata rapi serta alami, hidung mancung, mata bermanik cokelat terang, dan bentuk bibir yang indah.


Ia juga menatap warna kulit Moza yang begitu putih bersih bagaikan salju.


"Jika dilihat sedang tidur begini dia terlihat sangat imut, tapi saat ia sudah tersadar juteknya minta ampun, kadang aku merasa sesak bila melihat wajah juteknya." gumam Elliot di dalam hatinya.


Elliot pun menyunggingkan senyumannya, dan kembali menatap jalanan.


.


.


...****************...


Perusahaan Fung Corporate.


Jonathan terus saja bulak balik untuk mencari profosal yang akan di presentasikan di depan klien dengan menelepon Rio suruh datang ke ruangannya untuk membantunya.


Jonathan menghela nafasnya.


Ia sangat pusing kewalahan, apalagi Elliot yang mendadak menyuruhnya untuk menghandle pertemuan dengan kolega dari Singapura.


"Selalu saja mengabariku secara mendadak, aku kan jadi harus mencari data profosal nya satu persatu karena tidak tahu, karena dia yang menyimpannya. Aku tanya malah jawabnya cari sendiri." gerutu Jonathan dengan berbicara sendiri.


"Permisi senior.."


Rio mengetuk pintu ruangan Elliot.


"Rio kemarilah, bantu aku cari profosalnya." titah Jonathan.


Mereka berdua pun langsung mencari bersamaan.


.


.


.


...****************...


Villa Rose Gold.


Setelah menempuh jarak 2 jam perjalanan, Mereka akhirnya tiba di halaman Villa Rose Gold.


Elliot yang melihat Moza belum terbangun segera membangunkan nya dengan menggoyangkan lengan Moza secara pelan.


"Bangunlah kita sudah sampai." ucap Elliot.


Moza membukakan matanya dan mengerjap ngerjapkan untuk mengumpulkan nyawanya.


Ia menatap Elliot yang kemudian menatapnya pula.


Moza seketika membuka matanya dengan lebar.


"Apa kita sudah sampai?." tanya Moza melirik ke arahnya.


"Dari tadi kita sudah sampai 1 jam yang lalu, ternyata kau seperti kerbau yang susah dibangunkan." ucap Elliot dengan berbohong untuk mempermainkan Moza saja.


Glenn yang mendengar itu menahan tawanya.


"Apa iya? aku merasa kau hanya membangunkanku sekali." ucap Moza.


"Kau tidur jadi kau tidak tahu. Cantik cantik ternyata seperti kerbau."


"Hei jangan berkata seperti itu ya, aku tidak begitu." pekik Moza tidak terima.


"Bebaslah, terserah kau saja." sahut Elliot yang langsung keluar dari mobilnya.


Moza pun mengukuti nya untuk segera keluar.


Moza menatap bangunan Villa Rose Gold itu dengan mata penuh kekaguman. Bagaimana bisa bangunan nya semewah dan seindah ini? Apalagi halaman nya di penuhi oleh bunga bunga rose yang berbeda warna nya.


Apakah ini milik Eliot?


Seorang pria dan wanita yang sudah rentan itu menghampiri mereka bertiga.


"Selamat datang kembali tuan Elliot dan tuan Glenn, dan selamat datang nona di Villa Rose Gold." sambut kedua orang rentan itu dengan sangat ramah.


"Selamat datang juga, dan terima kasih." ucapnya masing masing.


Mereka berdua pun segera membawa koper untuk di pindahkan ke kamar tuannya.


Mereka bertiga pun memasuki Villa itu.


"Pak apakah nona yang ada di sebelah tuan El itu adalah istri keduanya?." tanya mbok Ningsih pada suaminya yang bernama pak Jalal.


"Sepertinya begitu bu, mereka sangat cocok ya." sahut pak Jalal.


"Ih itumah cantik pisan bapak, ibu juga suka melihatnya kaya bidadari atuh." ucap mbok Ningsih dengan antusias.


"Ishhh bapak kalau liat yang bening teh langsung melotot!." cibir mbok Ningsih.


"Ehh biarin atuh, tandanya mata bapak masih normal liat yang cantik teh." ujarnya.


Mbok Ningsih dan pak Jalal adalah orang yang selalu merawat Villa Rose Gold ini selama Elliot tidak ada, awalnya yang mengurus Villa Rose Gold ini bertiga bersama Anna, namun Anna di tugaskan di apartemen jadi mereka berdua yang mengurusnya.


Moza menatap setiap bangunan dan interior Villa itu, apalagi di dalam nya di penuhi barang barang antik. Ia menatap foto Elliot dan juga keluarganya saat ia kecil, tenyata Elliot begitu sangat lucu dan gemuk di foto itu.


Moza menatap figura itu seraya tersenyum.


"Apakah Villa ini milik suamiku?, apakah dia sekaya ini? bahkan Villa ini sangat luas dan terawat meskipun Elliot jarang mendatanginya." ujar Moza.


"Selamat datang di Villa Rose Gold nyonya Albentino." sambut seorang pria muda yang rapi menghampiri dirinya dengan membungkukan badannya.


Ia membalikan badannya menoleh ke arah sumber tersebut ternyata ada 3 pria yang asing memakai setelan jas rapi seperti Glenn yang menghampirinya.


"Terima kasih, siapa kalian?." tanya Moza mengerutkan alisnya.


"Perkenalkan nama saya Hansel, dan mereka berdua adalah Tino dan Toni." ucap Hansel


Tino dan Toni pun membungkukan badannya. "Salam nyonya.."


Moza mengerutkan alisnya melihat mereka berdua yang benar benar kembar dengan wajah sulit membedakan nya.


"Bagaimana bisa aku membedakan kalian berdua?." tanya Moza.


"Nyonya bisa melihat dari kulit kita, jika Tino dia sedikit lebih gelap dariku." ucap Toni.


Moza semakin kebingungan, menurutnya warna kulit mereka pun tidak jauh berbeda.


"Bodo amatlah toh aku pasti tidak akan lama mengenalnya nya lagi." pikir Moza.


"Kami bertiga adalah asisten tuan Elliot." sahut Hansel tersenyum.


Moza pun menganggukan kepalanya. "Baiklah."


"Dan mereka berdua akan menjadi bodygurd anda selama disini." ucap Hansel.


"Bodyguard? untuk apa aku tidak butuh lagi pula tidak akan wartawan kan untuk datang kemari?."


Karena wilayah Villa Rose Gold berada di pegunungan dan jauh dari pemukiman warga.


"Benar nyonya, namun tetap saja tuan El menyuruh kami untuk menjaga nyonya disini." ucap Hansel.


"Memangnya Elliot akan kemana?." tanya Moza.


"Beliau tidak akan kemana mana nyonya." sahutnya.


Moza pun merasa kebingungan dengan semua ini. Ia pun merasa tidak peduli dengan semuanya.


"Baiklah kalau begitu." ucap Moza pasrah.


"Kalau begitu selamat beristirahat nyonya, jika ada yang di butuhkan panggil saja Hansel." ucapnya seraya kembali membungkukan badannya.


"Iya terima kasih Hansel."


Mereka bertiga pun melangkahkan kakinya untuk pergi.


"Apa apaan ini, katanya dia akan honeymoon tetapi kenapa banyak orang kesini." pikir Moza.


Moza pun segera melangkahkan kaki jenjangnya untuk menuju kamar.


"El.." ucap Moza saat ia memasuki kamar dan melihat Elliot sedang memainkan ponselnya.


"Hmm?."


"Kenapa kau harus memanggil mereka bertiga untuk menjagaku?, kamu pikir aku ini tahanan apa?." ucap Moza.


"Besok aku akan pergi bersama Glenn, maka dari itu aku memanggil mereka untuk menjagamu." ucap Elliot seraya menatap layar ponselnya.


"What! Kemana lagi memang kau akan pergi?." tanya Moza.


"Aku ada urusan." sahutnya.


"Lalu apa kau akan menginap disana?." tanya Moza.


"Entahlah, lihat sikon saja." ujarnya kemudian menatap Moza.


"Kau tidak apa apakan menungguku disini?, mereka tidak akan macam macam padamu."


"Jika mereka macam macam padaku?." tanya Moza.


"Aku yang akan melenyapkan mereka." ucap Elliot dengan tatapan tak terbaca.


Mereka berdua kembali saling memandang, mata manik cokelat itu membuat Elliot terhipnotis dan terbuai olehnya.


Elliot mendekatkan wajahnya semakin ia mendekatkan bibirnya dengan bibir ranum itu mereka berdua menutup kedua matanya.


Cup!


Elliot mencium bibir ranum itu dengan rasa yang penuh sensasi, bagaimana bisa ia merasakan hal ini?.


Elliot benar benar mencium nya dengan penuh kelembutan dan kenikmatan sehingga Moza pun menikmati ciuman nya.


Elliot mengusap pinggang ramping itu agar tubuh mereka semakin mendekat dan menggiring Moza agar ia membalas ciuman nya.


Ia menghisap juga *****4* bibir berwarna merah merekah itu dengan memberikan sensasi yang kuat, sehingga Moza pun sudah bisa menyeimbangi dan menikmati permainan ciuman Elliot.


Suasana di kamar itu di penuhi suara decakan mereka yang saling terbuai dalam ciumannya.


Mereka berdua benar benar tak menyadar dengan apa yang mereka lakukan.


.


.


.


Bersambung....