
...MY FAVORITE WIFE...
.
.
.
...*đź–¤Happy Readingđź–¤*...
......................
Malam itu dimana Elliot dan para kacung kacungnya sedang mempersiapkan bahan bahan dan alat barbeque.
Satu satu kacung itu di beri tugasnya masing masing.
Hingga mereka semua pada sibuk dengan pekerjaannya yang di berikan oleh Elliot.
"Memangnya besok kau ada urusan apa jika aku boleh tau?." tanya Moza pada Elliot.
"Aku akan pergi mengecek perkebunan disini saja." ujar Elliot.
"Disini saja? berarti kalau gitu untuk apa ada bodyguard untukku, padahal kan kau akan pulang juga." ucap Moza.
"Aku sengaja memperkenalkanmu pada mereka, bahkan nanti kau pasti akan lebih banyak bertemu dengan anak buahku yang berbeda beda." ujar nya sambil menatap langit yang indah di hiasi oleh bintang dan bulan.
"Begitukah?, tetapi kelihatannya mereka semua pada akrab, bahkan seperti teman kecilnya." ucap Moza menatap mereka yang sedang bekerja dengan saling menjaili.
Elliot pun menyeringai bibirnya.
"Kau belum kenal dengan Jo kan?,."
"Ha? siapa itu Jo?." tanya Moza mengerutkan keningnya.
"Jonathan, sekretarisku. Dia orang yang menyebalkan bahkan dia lebih usil dari mereka."
"Oh ya?, lalu kenapa kau tidak mengajaknya kesini?." tanya Moza.
"Dia ku suruh untuk menggantikanku bertemu dengan klien di Singapura, jika hari tadi tidak ada pertemuan dengan klien mungkin dia sudah ada disini bergabung dengan mereka dan pastinya akan lebih berisik." jelas Elliot.
Moza tertawa mendengar penjelasan Elliot.
"Tetapi Jonathan itu sepupuku, anak dari kakak ayahku."
"Ohh berarti dia cucu dari nyonya Firdania juga dong?."
"Nenek, bukan nyonya karena dia sekarang nenekmu."
"Hmm maafkan aku.." ucap Moza.
"Oh ya, mereka semua sangat usil dan selalu bercanda, tetapi kenapa kau selalu berwajah datar tanpa ekspresi?." tanya Moza.
Elliot menolehnya, mereka berdua saling bertatapan.
"Tuan, nyonya makanan nya sudah matang." ucap Toni membuyarkan padangan mereka.
"Baiklah, langsung mainkan dj nya." ucap Elliot.
"Laksanakan tuan."
Malam itu pesta barbaque menjelang dengan sangat ramai dengan musik dj yang di mainkan oleh Hansel begitu mendentumkan telinga dan jiwa.
"Ternyata Hansel pandai memainkan dj." ucap Moza.
"Dia seorang disc jockey yang handal." sahut Elliot.
"Makanlah dagingnya."
Glenn, Toni dan Tino melahapkan daging yang mereka panggang dengan menikmatinya sambil berjoget karena musik dj itu bergema di villa.
Moza mencoba memilih beberapa menu barbaque itu yang tertata di atas meja begitu sangat banyak. Selain makanan disana juga ada minuman beralkohol rendah hanya untuk menghangatkan tubuh mereka karena malam ini begitu dingin.
Moza memilih sate daging yang ada di meja sebelah menu perikanan, namun seketika Elliot menahan nya.
"Kenapa?." tanya Moza.
"Jangan memakan daging ini." ujar Elliot menahan tangan Moza.
Membuat Glenn dan si kembar saling pandang.
"Memangnya kenapa?." Moza mengerutkan keningnya.
"Bukankah Tuhanmu melarangnya?." ucap Elliot.
Moza pun langsung mengerti dengan apa yang di katakan Elliot.
Moza tersenyum. "Terima kasih sudah memberitahuku, lalu kenapa kau tidak memakannya?." tanya Moza.
"Tidak, aku menghargaimu. Biarkan daging itu hanya untuk mereka saja." ucap Elliot.
"Tuan cobalah meminum ini." ucap Glenn memberikan segelas whisky.
Elliot pun meminumnya dengan langsung habis tak tersisa.
Moza melihat Elliot yang bergoyang gemulai dengan bergabung dengan mereka sambil menikmati musik dj itu dengan sangat lincah membuat Moza tertawa melihatnya.
Para lelaki itu begitu sangat menikmatinya, mungkin mereka menganggap bahwa di vila itu adalah Clubbing.
"Baru pertama kali aku melihat dia sekonyol ini, ternyata di balik wajah datar nya menyembunyikan tingkah konyolnya." gumam Moza dalam hati.
"Nyonya mari bergabung dengan kami dan nikmati pesta ini." pekik Toni menghampiri Moza.
Moza seperti mendapatkan teman baru disini, ia benar benar sangat bahagia dengan mereka yang sangat baik padanya.
.
.
...****************...
Mansion Luxury Palace.
Cleo mengadu kepada Winda tentang Elliot yang tidak pernah mengangkat telepon nya semenjak menikah dengan Moza, padahal sebelum menikah dengan Moza pun Elliot tidak pernah mengangkat telepon dari Cleo ataupun membalas chat pesan nya.
Ia melakukan itu agar Winda membenci Moza, dan tidak menyukai Moza.
"Coba kau telepon Elliot sekali lagi." ujar Winda menenangkan Cleo yang sedang menangis di hadapannya.
"Sudah bu, ponselnya tetap tidak aktif sejak kemarin. Bahkan aku menelpon Glenn pun dia tidak menjawab sampai sekarang hiks.." Cleo berpura pura menangis di hadapan Winda.
"Elliot benar benar keterlaluan, mentang mentang dia sudah punya istri baru dia seenaknya melupakan istri pertamanya disini."
"Bu... aku sudah mencoba menelpon anak buahnya namun jawaban mereka tidak tau. Aku bahkan tadi siang ke kantornya, dan aku tidak mendapatkan Elliot disana, yang ada hanya Jo saja." ucapnya dengan tangisan dusta.
"Apakau bertanya pada Jo?." tanya Winda.
"Sudah bu, Jo bilang bahwa dia tidak tau, mereka semua menyembunyikan nya dari aku bu hiks.."
"Sabar sayang jangan menangis, setelah Elliot pulang ke mansion ibu akan memarahinya."
Winda menghamburkan pelukan untuk menenangkan Cleo.
Di balik tembok ada Firdania menguping pembicaraan mereka berdua.
Ia menyunggingkan senyumannya dengan penuh kemenangan. "Apakah Elliot sudah jatuh cinta pada Moza?, secepat inikah? Aku benar benar bahagia.." lirihnya.
"Aku ingin Elliot bahagia dengan pernikahannya, aku ingin Elliot merasakan jatuh cinta." gumam nya di dalam hati.
.
.
...****************...
Villa Rose Gold
Pukul 11 malam acara barbaque itu sudah selesai, pak Jalal dan mbol Ningsih membereskan serta membersihkan kembali halaman nya.
"Besok saja bu, pak bereskan nya, sekarang sudah malam lebih baik istirahatlah." ucap Moza.
"Tapi nyonya kami tidak terbiasa membiarkan halaman berantakan seperti ini." ucap pak Jalal.
"Sudahlah lebih baik istirahat saja, jangan bekerja di malam hari." ucap Moza.
Akhirnya mereka berdua pun menuruti perintah majikannya.
"Baik nyonya, terima kasih." ucap pak Jalal dan mbok Ningsih.
Moza pun tersenyum lalu ia masuk kedalam untuk membersihkan diri menggunakan air hangat.
"Gusti, udah mah cantik tambah baik pisan.." puji mbok Ningsih.
"Tuan El beruntung sekali ya bu, katanya dia teh model iklan yang suka ada di tv." ujar pak Jalal.
"Yang bener pak? pantesan ibu merasa tidak asing lihat nyonya Moza teh cantik pisan atuh ibu juga suka lihatnya."
"Apalagi bapak bu mendadak bugar liatnya."
"Ahh si bapak mulai.."
.
.
...----------------...
Elliot, Glenn, Hansel dan kedua si kembar itu sedang berkumpul di ruang tengah.
"Tuan El, nyonya Cleo menelponku hingga 70x panggilan tak terjawab." ucap Glenn.
"Tidak salah tuh 70x panggilan, kenapa ga 100x aja tanggung amat kan 30x lagi." gumam Toni di dalam hatinya.
"Aku memang sengaja ponselku tidak di aktifkan, karena dia akan selalu menelponku." ucap Elliot.
"Tuan, nyonya besar juga mengirimkan pesan padaku bahwa besok anda disuruh pulang ke mansion." ucap Glenn.
Elliot hanya terdiam. "Sudah tiga hari aku tidak pulang ke mansion."
"Baiklah besok aku akan pulang ke mansion, aku tidak akan mengajak Moza dulu, kalian bertiga jaga dia disini."
"Baik tuan."
.
.
.
Bersambung...