
...MY FAVORITE WIFE...
.
.
.
...*🖤Happy Reading🖤*...
...****************...
Cleo terus saja menekan tombol ponsel nya untuk menghubungi Elliot. Namun kini jawaban nya Elliot menolak telepon itu.
"What! kenapa telepon ku di rijek?." gumam nya pada sendiri.
Ia kembali menekan berulang kali namun jawaban nya tetap sama.
"Ishh!! Elliot kenapa tidak pernah mengangkat teleponku, aku tidak paham apa kegunaan ponsel untuknya." gerutu Cleo dengan kesal.
Cleo mencoba menghubungi Glenn untuk menanyakan kabar Elliot.
Beberapa saat pun Glenn mengangkatnya.
"Selamat malam nyonya.." ucapnya di telepon.
"Apa kau sedang bersama Elliot?." tanya Cleo tanpa basa basi.
"Tuan El sudah tertidur nyonya." ucap Glenn.
"What? Jangan membohongiku, aku baru saja menelpon tapi dia merijekku."
"Hmm.. soal itu aku tidak tahu nyonya."
"Dimana kalian?, apakah Elliot bersama pelakor itu?."
"Hallo nyonya suara anda tidak jelas?."
"Hei hallo, aku sedang berbicara padamu." pekik Cleo.
"Hallo nyonya..?."
"Glenn kau jangan main main ya!."
Tut! Tut! Tut!
Sambungan telepon itu terputus begtiu saja.
"Apaan dia main tutup begitu saja!, padahal jaringanku sangat bagus." gerutunya dengan kesal.
Cleo pun berdecak membatingkan ponselnya ke atas kasur.
.
.
...****************...
Kota S
Apartemen Godrest.
Malam itu Elliot, Jonathan dan juga Glenn baru saja mengistirahatkan dirinya yang sudah menempuh jarak jauh di perjalanan. Mereka duduk di sebuah sofa sambil berbincang bincang tentang pekerjaan.
Tiba tiba ada sebuah telepon masuk dari ponsel Elliot membuat Elliot malas mengangkatnya, namun ponsel nya terus saja berdering, membuat semakin geram Elliot menolak teleponnya.
Jonathan dan juga Glenn hanya saling pandang saja melihat Elliot yang benar benar tidak mau mengangkat telepon dari Cleo.
Namun tiba tiba ponsel Glenn berbunyi dan melihat layar ponsel itu tertulis nama 'Nyonya Cleo' menelpon nya.
"Apa aku harus mengangkatnya tuan?." tanya Glenn.
"Terserah kau, jika dia menanyakanku bilang saja tidak tahu." sahut Elliot.
Glenn pun segera menekan tombol hijau untuk mengangkatnya.
"Selamat malam nyonya.."
...----------------...
"Aku sudah menutupnya dengan berpura pura tidak ada signal disini." ujar Glenn.
"Baguslah." sahut Elliot menyandarkan dirinya di sofa.
Jonathan pun terkekeh. "Aduh malang sekali Cleo, dia cantik namun sayang sifatnya yang begitu arogan."
"Dia berpura pura baik dan lugu saat di depan keluargaku, itu yang membuatku tidak suka padanya." ucap Elliot melipatkan kedua tangannya di dada.
"Kau sering berdebat dengannya?." tanya Jonathan.
Elliot menganggukan kepalanya. "Dia bahkan selalu memancing emosiku dengan kata katanya yang sok paling sedih, membuatku muak."
"Jangankan dengan nyonya Cleo, dengan nyonya Moza pun tuan El sering berdebat."
"Oh ya?." pekik Jonathan.
"Mereka selalu membuatku kesal." ucap Elliot
"Lalu apa yang akan kau lakukan untuk Cleo kedepannya?." tanya Jo.
"Entahlah aku tidak tau, belum kepikiran." ujarnya.
"Terus, apa kau yakin Moza akan tinggal di mansion utama?, apakau tidak takut adanya perkelahian antara istri pertama dan istri kedua atau mungkin bisa ada kata saling membunuh?." tanya Jo
"Pertanyaanmu sungguh tidak masuk akal!." pekik Elliot.
Glenn mendengar itu menahan tawanya.
"Ya bisa sajakan? menurutku lebih baik istri pertama dan istri kedua jangan di satu atapkan." ujar Jonathan.
"Itu tidak akan terjadi, kau saja yang terlalu lebay kebanyakan nonton sinteron." ucap Elliot.
"Sinetron aku tidak pernah nonton sinetron!." pekik Jonathan sambil menyeruput minumannya
"Tidak, untuk apa merindukan wanita jutek itu." sahut Elliot sambil menyalakan rokok nya.
"Untuk apa kau bilang?." pekik Jonathan membelalakan matanya.
Jonathan memiringkan senyumannya. "Wanita sekelas Moza saja kau abaikan, aku tidak habis pikir padamu El, apa kau benar benar normal?." tanya nya dengan mengerutkan wajahnya.
"Apa maksudmu berkata seperti itu ha?!." tanya Elliot.
"Ya kaulah buatku kesal, kedua istrimu itu cantik cantik, tapi kau tidak ada tuh sedikit aja ada rasa sama mereka berdua." ucap Jonathan kesal.
"Aku sudah katakan, bahwa di hidupku tidak mengenal cinta." ucap Elliot.
"Aku benar benar menyayangkan pada nyonya Moza, dia sangat cantik tapi kecantikan nya tidak di lirik oleh suaminya sendiri. Padahal diluar sana banyak yang menginginkannya, seharusnya tuan beruntung jadi pemiliknya." ucap Glenn.
"Benar sekali, aku juga sangat iri padamu yang mempunyai istri dua mana cantik cantik lagi, jika aku menjadi kau, mungkin sekarang aku akan menyanyikan lagu madu tiga." ucap Jonathan.
"Hah? lagu apaan itu?." tanya Elliot.
"Senangnya dalam hati, kalau beristri dua, oh seperti dunia ana yang punya. Kepada istri Cleo kanda sayang padamu, kepada istri Moza i say i love you..."
Glenn dan Jonathan menyanyikan lagi itu bersamaan, membuat mereka tertawa terbahak bahak setelah selesai menyanyikan nya.
Elliotpun hanya memutarkan matanya melihat kekonyolan mereka berdua dengan menghisap rokok nya.
.
.
...****************...
Keesokan harinya...
Pagi itu Moza sudah bersolek meriasi wajahnya. Karena hari ini ia akan bertemu dengan tuan Gerald yang mewakili tuan Brian untuk membicarakan soal kontrak kerja.
Moza turun dari atas tangga dengan bernyanyi riang membuat Anna pun tersenyum mendengarnya.
"Selamat pagi nyonya, hari ini anda sangat cantik sekali." ucap Anna memuji Moza.
"Benarkah? Apakah baju ini pantas untukku?." tanya Moza memutarkan badannya.
Moza memakai dress slim dengan menggunakan blazer dan rambut yang di biarkan tergerai membuat dirinya terlihat semakin mempesona.
"Apapun yang nyonya pakai pasti akan terlihat cocok nyonya."
Moza pun tersenyum manis. "Terima kasih Anna, oh ya tolong sampaikan pada Elliot bahwa aku akan pergi keluar untuk membicarakan kontrak brand ambassador ku."
"Baik nona akan saya sampaikan, kalau begitu lebih baik nyonya sarapan terlebih dahulu, saya sudah menyiapkannya."
"Baiklah Anna, terima kasih ya."
Moza pun menduduki bokongnya di kursi meja makan yang sudah di siapkan oleh Anna.
.
.
...****************...
Di perjalanan Jonathan sedang mengemudikan mobilnya bersama Elliot dan Glenn, ia sengaja untuk menyetir kali ini karena kemarin Glenn yang membawanya hingga ia berniat bergantian.
"Maaf tuan, Anna memberitahuku bahwa nyonya Moza meminta izin untuk pergi ke luar untuk membicarakan kontrak brand ambassador nya." ucap Glenn di dalam mobil itu.
"Memangnya dia menjadi brand ambassador produk apa?." tanya Jonathan.
"Aku tidak tahu." sahut Glenn.
"Biarkan saja, katakan padanya salkan pulang lebih awal." ucap Elliot.
"Baik tuan." sahut Glenn.
"Wahh istri yang baik, dia meminta izin pada suaminya." puji Jonathan berseringai.
"Berisik! Fokus menyetir." pekik Elliot.
Mereka pun kembali menikmati perjalanan untuk bertemu dengan kolega nya.
.
.
...----------------...
Apartemen Moonlight.
"Nyonya, tuan El mengizinkannya tetapi nona harus pulang lebih awal." ucap Anna.
"Hemm baiklah, terima kasih ya Anna." Moza pun berdiri beranjak dari duduknya.
"Kalau begitu aku pergi dulu, aku sudah selesai sarapan nya." ucap Moza.
"Baik nyonya, maaf apa anda naik taksi?." tanya Anna.
Moza menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. "Tidak, aku di jemput oleh mbak Karin, managerku."
"Syukurlah nyonya, hati hati di jalannya."
"Okay, aku pergi dulu ya.. Oh ya, kamu istirahat saja jangan capek capek, Bye!." ucap Moza melambaikan tangannya kemudian ia keluar menarik knop pintunya.
Anna pun tersenyum melihat kelakuan Moza yang sangat menggemaskan. "Nyonya Moza..." lirihnya.
.
.
.
Bersambung....
Hai hai readers apa kabar? Terima kasih ya sudah membaca karyaku, semoga terhibur ya.. big love u all🖤🤗