My Favorite Wife

My Favorite Wife
Episode 15. Istri Yang Kasar



...MY FAVORITE WIFE...


.


.


.


...*🖤Happy Reading🖤*...


...----------------...


Perusahaan PT Sunskin.


Moza dan Karin sedang membicarakan tentang kontrak kerja sama dengan tuan Gerald di sebuah ruangan meeting yang ada di kantor PT Sunskin.


"Jadi nona Moza begini, presdir Brian ingin anda melakukan syuting untuk iklan produk body lotion di pulau labuan bajo, apakah anda menyetujuinya?." ucap Gerald, seorang pria yang berusia 35 tahunan.


Moza terdiam sejenak untuk berpikir. "Pasti bisa tuan, jika itu kemauan beliau akan saya penuhi." ucap Moza menerima keputusan.


"Syukurlah, saya akan memberitahu pada presdir Brian beliau pasti akan senang mendengarnya." ujar Gerald tersenyum.


Moza pun tersenyum menganggukan kepalanya.


"Tetapi tuan Brian menginginkan anda melakukan syuting iklan itu di bulan depan, setelah presdir Brian pulang dari Canada."


"Ohh baiklah tidak masalah bagiku." sahut Moza tersenyum.


Sebenarnya Moza ingin sekali menanyakan alasan Brian pergi ke Canada untuk apa, tetapi ia mengurungkan niatnya karena mungkin itu hal yang tidak penting.


Setelah 2 jam mereka membahas kontrak kerja, akhirnya mereka menutup pembicaraan itu dengan membicarakan hal yang lain.


.


.


...****************...


Siang pun berubah jadi malam...


Di apartemen Moonlight itu, Moza sedang tertawa riang dengan Anna karena membicarakan Winda yang super cerewet hingga Anna pun pernah di marahi akibat memecahkan guci nya dan membuat pendengaran telinga Anna sakit.


"Ternyata dugaanku benar ya, akupun saat pertama kali ke mansion begitu hahaha.." ucap Moza memegang perutnya.


Anna terkekeh mendengar cerita Moza saat pertama kali ke mansion. "Tetapi sebenarnya nyonya Winda baik, cuma suaranya saja yang sangat melengking nyonya."


"Aku tidak yakin akan betah tinggal d mansion itu, huftt sebenarnya aku tidak ingin tinggal disana, lebih baik aku tinggal di apartemen ini bersamamu." ucap Moza.


"Jadi nyonya akan tinggal d mansion utama?." tanya Anna.


Moza menganggukan kepalanya. "Heem, Elliot memintaku untuk tinggal disana katanya."


Anna pun menyeringaikan bibirnya. "Wahh yang sabar nyonya semoga kuping anda baik baik saja."


Moza pun tertawa kembali terbahak bahak.


Namun saat mereka sedang tertawa, mereka di kejutkan knop pintu apartemen itu terbuka membuat mereka menghentikan tawanya dan menoleh ke arah pintu itu.


Mereka berdua melihat Glenn dan juga Elliot yang datang berdiri di ambang pintu.


Anna yang melihat keberadaan Elliot seketika terbangun dari duduknya seraya membungkukan badannya.


"Selamat datang tuan." sapa Anna menundukan wajahnya.


Anna pun segera berlari menuju dapur. "Ya Tuhan, semoga tuan El tidak melihatku duduk disana bersama nyonya." batin Anna seraya menyiapkan teh hangat untuk tuannya dengan perasaan yang gelisah.


"Selamat malam nyonya.." sapa Glenn menghampiri Moza dan langsung membungkukan badannya.


Moza enggan menjawab ia memilih mengabaikan sapaan Glenn dengan wajah kembali menonton TV


"Huftt! Entah aku punya salah apa sehingga nyonya Moza sangat jutek padaku." gerutu Glenn di dalam hatinya.


"Apakah begini caramu ketika suami baru pulang?." tanya Elliot.


Moza segera menoleh pada Elliot. "Lalu kau ingin aku melakukan apa?." tanya Moza dengan sinis.


"Melakukan kewajiban seorang istri, apa kau tidak tahu itu?."


Anna datang membawakan segelas teh hangat untuk Elliot. "Silahkan di minum tuan." ucap Anna menunduk.


"Seharusnya kau yang melalukan ini, bukan Anna." ucap Elliot.


"Untuk apa ada Anna disini jika dia tidak melayanimu?."


"Anna disini hanya mengurus kebutuhanmu, bukan kebutuhanku."


Moza memilih diam tanpa menyahutnya.


"Mulai sekarang, hanya kau yang berhak atas melayaniku bukan Anna." ucap Elliot.


"Aku bukan pembantumu!." pekik Moza.


"Kau adalah istriku!." pekik Elliot dengan wajah yang tegas.


"Jika kau menganggapku itu istrimu, lalu kenapa kau tidak memberitahuku untuk pergi ke kota S?."


"Bukankah aku sudah memberitahu lewat Anna?."


"Bukankah pagi itu kau masih tertidur?, lagi pula belajarlah bangun lebih awal dariku, kau bahkan tidak bersembahyang pada Tuhanmu."


"Hei jika aku sedang tidak berhalangan aku selalu bangun subuh, dan kenapa tidak bangunkan saja aku saat itu?." tanya Moza.


"Apa pantas aku membangunkanmu?, dimana mana seharusnya istri yang membangunkan suami." pekik Eliot.


"Sebaiknya belajarlah menjadi istri yang baik." ucap Elliot melenggang pergi menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.


Sedangkan Glenn, ia dari tadi mencari makanan di dapur untuk ia makan karena perutnya sangat lapar.


Anna menghampiri Moza yang terdiam mematung disana.


"Maafkan saya nyonya, gara gata saya nyonya jadi bertengkar dengan tuan El." ucap Anna.


Moza menolehnya. "Tidak Anna kau tidak salah apapun, aku tidak tahu cara melayani seorang suami." ucap Moza.


"Tenang nyonya, saya pasti akan memberitahu kebiasaan tuan El, walaupun saya belum berpengalaman sebagai istri." ucap Anna.


.


.


...****************...


Moza menyiapkan pakaian yang akan di pakai oleh Elliot sesuai perintah Anna yang menyuruhnya.


Sungguh sangat bermimpi bahwa Moza sudah menjadi seorang istri yang sekarang harus melayani suaminya.


Tiba tiba pintu kamar mandi pun terbuka, Elliot keluar dengan gaya rambut yang basah dan mengeksposkan tubuh sixpack nya membuat dirinya begitu terlihat sangat sexy.


Moza melihat itu segera melangkahkan kakinya menuju keluar kamar.


"Hei kenapa kau pergi?." tanya Elliot membuat Moza menghentikan langkahnya.


"Bukankah kau akan berganti pakaian?." tanya Moza masih membelakangi Elliot.


"Kenapa harus keluar? kita sudah sah kan." ucap Elliot menghampiri Moza yang mematung tanpa membalikan badan nya.


"Apa kau yang menyiapkan pakaianku?." bisik Elliot dengan bibirnya yang menyentuh daun telinga Moza, membuat Moza bergedik geli.


"Iya, bukankah kau ingin aku melakukan hal itu?." jawab nya dengan jutek.


"Terima kasih sudah menjadi istri yang baik, aku sangat merindukanmu." ujar Elliot seketika memeluk Moza dari belakang.


Membuat Moza membelalakan matanya dengan wajah penuh keterpanikan.


"Lepaskan tanganmu!." pekik Moza.


"Biarkan begini saja sebentar, aku ingin memelukmu." ucap Elliot dengan mata yang tertutup.


Perasaan Moza begitu sangat gelisah, jantungnya berdegup lebih kencang dengan darah yang mengalir hebat.


Moza terus memasang wajah yang gelisah. Bagaimana bisa pria yang selalu membuatnya muak itu berani memeluknya dengan wajah tanpa dosa.


"Sudah cukup! Aku harus kebawah." ucap Moza melepaskan pelukan Elliot.


Saat Moza hendak kembali melangkah, Elliot segera menarik tangan Moza sehingga ia membentur badan kokoh itu.


Mereka berdua saling berpandangan dengan jarak yang sangat intim.


Elliot menatap wajah istrinya yang malam ini terlihat begitu cantik dengan dress tanpa lengan roknya seatas paha yang memamerkan kulit putihnya.


Mereka berdua saling terhipnotis dengan daya tarik memikat satu sama lain.


Elliot mengelus pipi Moza yang lembut seperti bayi itu, dan Moza membiarkan hal itu.


Ia memandang bibir ranum berwarna pink merah jambu itu yang terlihat begitu menggiurkan. Ingin rasanya Elliot segera melahap bibir itu.


Namun saat Elliot mencoba untuk lebih mendekatkan wajahnya, agar ia menyentuh bibir ranum itu.


Tiba tiba Moza menginjak kakinya dengan sangat kasar, membuat Elliot tersadar dan terpincang pincang kesakitan.


"Aaghhh!!." pekik Elliot.


"Rasain, itulah akibatnya sudah berani macem macem denganku!, memangnya enak wlee!!!." Ledek Moza dengan menjulurkan lidahnya.


Tak lama Moza pun langsung keluar dari kamarnya meninggalkan Elliot yang masih merintih kesakitan.


"Dasar istri yang kasar! dia juga berani memanipulatifku, lihat saja nanti." gumam Elliot.


Kemudian ia menyunggingkan senyumannya, kenapa bisa ia terjerat dengan hawa nafsunya pada Moza.


.


.


.


Bersambung....


Hai hai para readers yang terhormat🤗


Terima kasih sudah membaca karya author ya ya semoga terhibur sama alur ceritanya...🤗


Minta dukungannya dong jangan lupa tekan like, favorite,komen, biar author semangat nih nulisnya hehehe🤗